“Konflik” by Enda Nasution (or Desmond Morris?)
Enda Nasution dalam blognya yang berjudul Konflik mengutip Desmond Morris (Zoologist):
Desmond Morris menulis bahwa CUMA ada dua jenis konflik di animal kingdom yaitu jenis konflik teritorial dan konflik hirarkikal.
Berikutnya disebutkan bahwa manusia memiliki kedua konflik tersebut:
Manusia, sebagai keluarga primata yang meninggalkan pepohonan dan hidup di dataran terbuka serta mengadopsi gaya hidup karnivor memiliki kedua jenis tipe konflik tersebut sekaligus.
Setelah membacanya beberapa kali, saya merasa ada yang kurang! Setelah merenunginya, akhirnya saya tahu kalau memang ternyata ada yang kurang! Bermula dari upaya membuat sumbu x-y terhadap masalah ini. Tulisan saya berikut ini mencoba menambahkan apa yang kurang dari artikel Konflik ini. Semoga berkenan.
Berbekal Gambar
Upaya penemuan saya bermula ketika saya mencoba membuat gambaran mengenai konflik ini. Saya menganggap bahwa konflik teritorial merupakan konflik horizontal karena berhubungan dengan masalah teritori yang sifatnya melebar/mendatar. Sedangkan konflik hirarkikal saya anggap sebagai konflik vertikal karena sifatnya yang hirarkikal atau memiliki jenjang. Kemudian saya mencoba menggambarkannya. Berikut adalah gambar yang telah saya buat.

Disebutkan bahwa manusia memiliki kedua jenis konflik ini. Tetapi sampai akhir artikel saya merasa janggal setelah berusaha menyimpulkan dengan gambar yang saya buat. Saya yakin pasti ada 1 lagi konflik. Dan konflik ini merupakan yang hakiki yang “MUNGKIN” juga terdapat pada hewan. Maklum, saya tidak tahu persis karena saya bukan zoologist atau pakar fauna.
Menambahkan Sumbu-z
Akhirnya berbekal gambar yang telah saya buat, saya membuat satu lagi sumbu yang hilang, yaitu sumbu-z. Saya belum tahu akan memberi nama sumbu-z ini dengan konflik apa. Mungkin “konflik hakiki” atau “konflik pribadi” atau “konflik internal”. Ya sudah, untuk sementara saya menuliskannya sebagai “konflik internal”.

Konflik internal ini (menurut saya) lebih bersifat ke dalam diri individu (hewan) itu sendiri. Karena sumbu ini mengarah ke dalam (ke diri sendiri) dan diapit oleh kedua sumbu yang lain, sering kali konflik ini menimbulkan “gray area” atau wilayah remang-remang. Contoh konflik internal ini misalnya: stres/depresi yang dapat mengakibatkan gila, atau yang menyebabkan gray area: waria/banci (antara pria-wanita).
Konflik ini (menurut saya) juga dapat saja merupakan konflik diri kepada Tuhan Yang Maha Esa (agama). Manifestasinya bisa saja pemeluk yang fanatik yang memahami agama secara salah dan menjadi konflik ke diri sendiri, kemudian individu tersebut menjadi seorang teroris atau pendiri/penganut aliran sesat atau bahkan ateis. Ini semua bermula dari konflik diri sendiri terhadap Ketuhanan.
Kesimpulan Sementara
Saya belum bisa menguraikan lebih lanjut mengenai teori tambahan ini karena keterbatasan pikiran (dan hati) saya, tetapi sedikit banyak telah sedikit menjawab pertanyaan hati saya untuk mengetahui: bahwa memang artikel Konflik oleh Enda memang “masih ada yang kurang.” Terutama dalam hal jenis konflik.
Penutup Sementara
Akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa buku karangan Desmond ini terbitan tahun 1967, yang berarti mungkin telah mengalami sanggahan, perbaikan atau kritikan dari masyarakat dunia. Paling tidak bolehlah saya menambah khasanah dari wawasan saya yang sederhana ini.
Mungkin para blogger ingin menyanggah tulisan saya ini? Atau malah ingin menyempurnakan dasar pemikiran saya yang sederhana ini?
wah bagus
, konflik internal [conciousness] juga kali ya yg membedakan manusia dengan binatang lainnya
enda
Januari 24, 2006 at 2:32 am
Iya betul, Bang Enda. Manusia memiliki conciousness yg akhirnya menjadi konflik internal.
dewo
Januari 24, 2006 at 4:42 am
Menurut hemat saya, jika ada internal, maka logikanya ada eksternal, dong (ini pemikiran sederhana dan saja). Dalam ranah internal, konflik personal, hierarkial, dan tauhid. Dalam ranah eksternal, konflik itu bisa timbul karena perkara teritorial, kultural (untuk menyederhanakan mahluk bernama manusia), dan environmental (untuk meyebutkan secara praktis mahluk di luar manusia).
Jadi, menurut saya sih tidak dimensi, Bapak-bapak, melainkan sangat faset. Mohon maaf bila pemikiran saya ini terlalu sederhana
Salam,
Ike
ike
April 27, 2006 at 6:50 am
Hallo Mbak Ike,
Konflik externalnya yaitu: hierarkikal & teritorial itu.
Emanuel Setio Dewo
April 29, 2006 at 4:50 pm