Kurikulum Baru 2006 Tidak Baru!

Kurikulum 2006 yang disusun oleh BSNP ternyata tidak baru! Seperti yang dikutip dari Media Indonesia Online dalam beritanya yang berjudul: “Kurikulum 2006, Nama Baru, Isi Tetap Sama” menyatakan bahwa:

Djaali mengakui, bahwa secara subtansial BSNP tidak melakukan perubahan mendasar pada kurikulum 2004. Sehingga, isi, target maupun materi kuriklum baru 2006 akan sama persis dengan KBK 2004.

Wah, ternyata tidak ada yang baru ya? Lalu apa dong isi dari Kurikulum 2006?

Berikut ini adalah beberapa fakta berkenaan dengan Kurikulum 2006 yang disarikan dari artikel tersebut:

  • Secara substansi Kurikulum 2006 sama dengan KBK 2004, tetapi tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru dan sekolah bebas mengembangkan kurikulum sendiri sesuai kondisi murid dan daerahnya.
  • Walau pun isinya sama, kurikulum ini tidak menggunakan nama KBK, tetapi mungkin menggunakan nama Kurikulum 2006.
  • Isi, target dan materi akan sama dengan KBK 2004.
  • Adanya pengakuan bahwa KBK 2004 belum dilaksanakan secara optimal. Dan Kurikulum 2006 hanyalah panduan lebih lanjut dari pelaksaksanaan KBK 2004.
  • Adanya pengakuan minimnya kualitas guru & sekolah. Guru kurang kreatif dan tidak memberikan kontribusi dalam menjabarkan KBK baik di atas kertas mau pun di kelas.
  • Minimnya sarana & prasarana penunjang, misalnya: alat peraga, laboratorium, dll.
  • Sudah banyak sekolah swasta yang menganut kurikulum berbasis kompetensi walau pun dahulu sempat dianggap tidak mematuhi dan melaksanakan kurikulum nasional 1994.

Untungnya BSNP juga menyediakan contoh penjabaran praktis sehingga sekolah yang tidak mampu menjabarkan dapat menggunakan contoh tersebut.

Tulisanku yang lalu tentang Kurikulum 2006 dapat dijumpai di: “Kurikulum Baru 2006“.

About these ads

Tentang Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Tulisan ini dipublikasikan di Opini, Pendidikan. Tandai permalink.

70 Balasan ke Kurikulum Baru 2006 Tidak Baru!

  1. nisa berkata:

    Saya masih berharap adanya niat baik pemerintah untuk melakukan perubahan ini. walau bagaimanapun sebagai ‘implementer’ sepatutnya guru dan kaum pendidikan tetap curiga dan kritis, apa rasional di balik perubahan ke K2006 dari K2004 ini. kalau secara general semua sama, lalu apa yang berbeda? jam belajar? lalu kalau jam belajar menjadi dipersempit, tidakkah jumlah kandungan pelajaran juga semestinya berubah? argumen yang mengatakan bahwa mengurangi jam belajar sekolah akan mengurangi beban pelajar, itu adalah benar. tetapi jika muatan tidak dikurangi, implikasinya akan ada beberapa,
    1. tambah PR pelajar karena di sekolah tdk sempat diajarkan
    2. Touch and Go dalam mempelajari suatu pelajaran karena tidak ada waktu untuk belajar secara mendalam.

    Michael Fullan, seorang educationist mengatakan bahwa harus dikritisi, apakah perubahan terjadi karena kepentingan politik, ataukah karena sebagai ‘problem solving’ bagi rakyat?
    dan lagi, kritis bukanlah penolakan. kritis bukan memusuhi, tetapi suatu tekanan yang membangun.

  2. agus berkata:

    saya heran dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada kurikulum pemerintah Indonesia ini, apa ini menunjukakan kekalutan yang terjadi pada perintah atau kebingungan-kebingungan dalam mencari format pendidikan yang pas bagi Indonesia ini. kalau nanti ada kurikulum 2006, apa nanti juga ada ujian model UN seperti yang terjadi sekarang ini, padahal dengan adanya ujian model UN sekarang ini, maka pemerintah dengan secara tidak langsung telah mematikan kreatifitas guru dan menjadikan proses pembinaan guru yang sudah belangsung selama 3 tahun itu hilang tanpa arti hanya karena tiga mata ujian ( Bahasa Indonesia, Matematika/Ekonomi, Bahasa Inggris ) yang seperti kitab suci saja. ditambah lagi dengan kriteria kelulusan yang tidak masuk nalar matematika, dengan nilai minimal tiap mata ujian 4,26 dan rata – rata komulatif 4,51.
    saya masih berharap pada pemerintah untuk tidak mengadopsi sistem pendidikan dari suatu negara di luar negeri dengan tanpa mempertimbangkan kondisi riil dalam negeri sendiri. kita perlu mengembalikan ujian seperti sedia kala, yang menjadikan sekolah dan guru mempunyai peranan dalam menentukan kelulusan sehingga pembinaan mental dan spiritual bisa dilakukan dengan baik oleh guru-guru dan sekolah.

  3. Agus Budiyanto berkata:

    kita harus mempunyai pandangan postive terhadap perubahan kurikulum ini. saya cermati perubahan ini merupakan suatu proses pembelajaran terhadap masyarakat pendidikan di Indonesia yang banyak orang katakan rendah mutunya. Perubahan ini saya anggap sebagai perubahan yang radikal karena melibatkan seluruh aspek yang ada dalam dunia pendidikan kita; cara pandang pemerintah terhadap masyarakat, siswa, guru, materi ajar, metoda pembelajaran, penilaian, dan sebagainya. hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah untuk menemukan cara merubah paradigma berpikir dari kita semua. maka terbitlah draft K2004 pertama yang seakan-akan mengajarkan bagaimana menggunakan kurikulum berbasis kompetensi/berbasis standar secara eksplisit. draft kedua dan seterusnya semakin memberi kebebasan kepada guru untuk mengembangkan kurikulum dengan harapan guru tidak keluar dari rel yang secara jelas dituangkan dalam draf 1 K2004; sampai akhirnya datanglah k2006. mungkin ini merupakan cara pembelajaran masal yang relatif murah. perlu diakui bahwa K1994 merupakan kurikulum yang tidak lagi sesuai dengan paradigma global dimana segala sesuatu harus dapat terukur sehingga dapat disandarkan dengan standar-standar yang ditentukan.

  4. Yudhis berkata:

    Jikapun tidak ada hal yang baru. Mudah2an dengan kembali diterapkan, mereka yang belum mengerti akan menjadi lebih paham lagi.

  5. arif berkata:

    biar bisa berkomentar juga, kirimi donk kami kami k2006 atau info situs dimana aq bisa download.

  6. fatkhur berkata:

    thanks god tidak jadi berubah.
    tapi sistem ujiannya harus dirubah donk!
    ada yang tahu isi k 21006? atau info situs untuk didownload? kasih infonya ya

  7. tuti berkata:

    Draft Kurikulum Baru 2006 kok belum dimuat di internet. Berulang kali saya cari tetapi tidak ada. Menurut informasi kurikulum tersebut akan mulai diberlakukan pada tahun ajaran baru 2006/2007, bagaimana ini ?. Draft nya saja belum disosialisasikan, sedangkan untuk mulai melaksanakan pembelajaran guru harus menyusun perangkat pembelajarannya. Sebenarnya bagaimana ini ? kami menjadi bingung.

  8. OFFIT berkata:

    Dengan adanya sistem KBK, maka pendidikan di indonesia menjadi tidak bermutu dan bahkan telah membunuh harapan setiap generasi, khususnya dalam dunia pendidikan, mengapa demikian ? karna KBK DAN ATAU SISTEM UN ini tidak RELEVAN

  9. phoeboe berkata:

    Saya dengar Kurikulum 2006 membebaskan sekolah untuk mengatur sendiri cara belajarnya, berarti pendidikan di sekolah unggulan akan lebih baik daripada sekolah biasa. Murid sekolah biasa tidak mendapatkan pendidikan yang sama baik dengan sekolah unggulan.

  10. Urip Prakoso berkata:

    Kalo dibilang tidak ada perubahan yg berarti yah tidak juga. sebab di “kurikulum 2006″ itu ada tambahan pelajaran baru (seni budaya dan pengembangan diri). Demikian juga untuk Matematika, di SMA semua jurusan semua ada matematikanya dengan jumlah jam pelajaran hampir sama (4 jp) sebelumnya tidak demikian. demikian juga pelajaran lain mengalami perubahan/pengurangan isi materi dan juga jp-nya.
    Semoga guru dengan diberikan kewenangan yang lebih bener2 dapat mengimbangi apa yang dimaui pembuat kurikulum, sehingga pendidikan jadi nyambung. Dan UN yg banyak dimanipulasi tidak perlu lagi dilakukan karena hanya pemborosan dana saja. Entah bagaimana solusinya yang dimaui itu mesti yg efektif, efisien. bagaimana?

  11. Supriadi,M.Pd berkata:

    Saya sangat bingung dengan perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia, katanya supaya siswa memiliki seperangkat kompetensi, namun menurut hemat saya justru semakin baru saya melihat semakin hilang kompetensi lulusan.
    Sebuah pertanyaan yang selalu menggelitik saya adalah : “Mana yang sebenarnya lebih kompetensi, kurikulum ’68 dengan kurikulum 2004 atau bahkan kurikulum 2006?”
    Pada kurikulum ’68 seseorang yang ingin menjadi insinyur teknik, setamat SD sudah bisa merintisnya dengan memasuki Sekolah Teknik (ST) disana siswa sudah diajarkan segala hal yang berhubungan dengan teknik, setamat ST bisa melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) yang semakin meningkatkan keilmuannya di bidang teknik, kemudian baru memasuki Fakultas Teknik, sehingga sesampainya di perguruan tinggi menjadi hal yang mudah untuk diajarkan, karena telah memiliki basic keilmuan di bidangnya, begitu juga dengan Sarjana Ekonomi, sejak SLTP sudah bisa merintis dari Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) baru ke Fakultas Ekonomi. Selanjutnya Sarjana Pertanian, dari SD sudah bisa merintis ke Sekolah Pertanian Pertama (SPP) kemudian melanjutkan ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) setelah memasuki perguruan tinggi baru memasuki Fakultas Pertanian.
    Dengan demikian pada kurikulum ‘68 kompetensi siswa sudah dapat dikembangkan sejak awal, sehingga pada jenjang pendidikan tinggi diperoleh input yang berkualitas, dan perguruan tinggi tidak perlu bekerja keras untuk memberikan pemahaman vokasional kepada mahasiswa yang berasal dari sekolah umum seperti SMA. Menurut saya tidak lucu kalau tamat STM memasuki Fakultas Kedokteran.

  12. fauzi berkata:

    jadi inget sama salah satu artikelnya Marwah Daud. di sana beliau menawarkan sebuah konsep yg mungkin bisa jadi mirip dgn pondasi dasar kurikulum 2006.
    sekolah yg mengacu pada potensi dasar tiap2 daerah. jadi jika daerah tersebut memiliki potensi besar tentang sawit, misal, maka sekolah di sana pada beberapa bagian mengambil konsentrasi tentang segala hal tentang sawit, baik pengenalan, pemanfaatan, pengembangbiakan dan sebagainya.
    jika daerah itu berpotensi tentang perikanan, maka kurang lebih diberikan perlakuan serupa dg sekolah ‘sawit’ di daerah sebelumnya. selain pelajaran umum, murid jg secara tdk langsung dididik untuk berpikir bagaimana memajukan daerahnya. bisakah? mudah2an ini menjadi salah satu kelebihan yg akan muncul dg diberlakukannya kurikulum 2006 (yg tdk mungkin tdk memiliki kekurangan)

  13. ijox'06 berkata:

    mana kurikulum 2006 nya?kok blm dimuat di internet.aku kan butuh buat ngumpulin tugas gue…cptan donks

  14. yozh berkata:

    aku juga pengen tau kurikulum 2006 utk buat tgs penelitian pendidikan, biar ga ngulang terus. oeya, buat pak pujo terhormat ” ujiannya dapat berapa neeh?, udah modal ke warnet ki lhooo”

  15. batignosa berkata:

    gonta ganti kurikulum sudah tradisi, ganti mentri ganti kebijakan, saya sebagai guru merasa prihatin. generasi kita ini mau dibawa kemana sih???……… baru di sosialisasikan ke bawah, dari atas sudah ada lagi gimana anak didik mau jadi pintar yang ada jadi bingung, keblinger, pusing, gatung diri, bunuh diri, nyesel seumur hidup, jadi generasi buangan. pemerintah harusnya berfikir dong ke arah sana. janngan bikin masyarakat didik jadi bodoh karena kebijakanmu…. semoga saja cukup kurikulum 2006 ini yang jadi kelinci percobaan.

  16. kurpetaliena berkata:

    Setiap pemerintah ingin yg terbaik untuk rakyatnya. Perubahan kurikulum tentu dilakukan melalui hasil kerja otak, bukan sembarang ganti. ini dilakukan untuk merespon perubahan yg cepat pula. Maka rakyat harus cepat pula merespon. Jangan hanya bisa dimanja tanpa mau berkeringat, setidaknya belajar untuk cepat merespon secara positif. Bagi yg lamban…ya selamat jalan..:):):)

  17. Rara berkata:

    Kurikulum 2006 itu bikin guru tambah sibuk dlm administrasi…
    Bagiku tuh yg penting guru bisa ngajar…
    Ra usah neko-neko
    081328821513

  18. mayla berkata:

    Kurikulum 2006?????? sampai kapan? terus aja diganti-ganti! Apa bisa lebih baik??????

  19. stianie berkata:

    Menurut saya, Perubahan Kurikulum boleh2 aja. Selama itu mengacuh pada kondisi Dunia Usaha dan Industri Khususnya SMK karna siswa SMK orientasinya setelah Tamat adalah bekerja bagi yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Jadi mereka dididik untuk punya skill Siap Kerja. Perubahan Kurikulum haruslah disertai dengan Upgrade terhadap Guru2 Kejuruan. Harus dipelajari Kurikulum 2006 ini, apakah uda sesuai dengan kondisi dunia kerja? Mungkin juga perubahan Kurikulum adalah untuk menyesuaikan dengan kondisi daerah yang bersangkutan (Lapangan Kerja) yang tersedia.

  20. titi berkata:

    Perubahan kurikulum yang terjadi dalam rentang waktu yang pendek menurut saya cukup menciptakan kebingungan bagi guru atau bahkan siswa.Apa memang telah dilakukan cukup evaluasi bahwa yang paling salah dalam pendidikan kita adalah hanya kurikulum saja, makanya sering diutak-atik. Atau bahkan malah SDM pendidikan yang butuh sentuhan dan pelatihan supaya kurikulum itu bisa dilaksanakan dengan lebih baik. Cuma sekarang buat para pengambil kebijakan jangan lupa sosialisasikan kurikulum itu secara luas supaya dia tidak hanya bagus secara tekstual tapi juga membawa perbaikan yang bisa diimplementasikan. Semoga……….

  21. dewo berkata:

    @titi
    Iya, benar, seharusnya tidak terburu-buru dirilis sehingga sudah benar-benar matang. Dan juga seharusnya tidak dalam waktu yang pendek masa berlakunya karena bakal bikin bingung setiap orang.

    Salam.

  22. gagan berkata:

    kumaha kurikulum teh ciga hareureuy, siswa weh jadi korban na. sudah berkali-kali ganti kurikulum tapi tidak ada perubahan anu signifikan ka guruna komo deui ka siswana nya nuakhirna hanya sekedar formalitas kita dah guna in kurikulum baru, padahal dalam kbm nya ga ada perubahan yang basicly, kumaha atuh para guru? eh pemerintahna ge ciga anu kejar proyek, nyeepkeun artos nagara sareng rakyatna. mudah2an ieu kurikulum bisa nyandak ka kasaean, tidak supel sakahayang guru ngajar. hidup ah pendidikan!!!
    tolong kalau ada yang punya link di bawah ini atau yang bermanfaat email aja ke pandawa-g2n@plasa.com:
    1. kbk 2006
    2. e book olahraga
    3. e book islami
    4. e book penelitian sikap
    5. kalau berkenan kepada para guru penjas dimanapun berada kalau berkenan ingin meminta komentar tentang kurikulum 2004 dengan kurikulum 2006″nuhun sateuacana”

  23. beni berkata:

    bingung juga dengar ada kurikulum baru. apakah kurikulum yang baru tuh cuma kelanjutan dari kurikulum sebelumnya? tolong deh kalo ada yang punya kurikulum yang katanya baru, saya minta terutama yang matematika sma?

  24. tato berkata:

    Kurikulum hanya merupakan standart materi yang disampaikan pada anak, namun yang penting sekarang implementornya ditambah kapasitasnya. Walupun kurikulum bagus tapi implementor tidak bisa ya percuma donk!!

  25. yts berkata:

    saya kira kurikulum gak usah perlu ganti-ganti melulu deh…
    para decision maker indonesia kayaknya gak mikir panjang dalam membuat sebuah keputusan, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
    mungkin mereka tidak tahu bahwa korban dari adanya kurikulum yang ganti-ganti ini adalah para siswa dan guru yang semakin rumit dengan apa yang mereka kerjakan dan semakin bingung. jadi saya kira kurikulum tetep saja satu namanya, hanya saja cukup diperbaiki yang kurang apa, jangan diubah secara mendasar, termasuk namanya. memang para decision maker ini maunya apa tho? mbok ya mikir yang baik…
    lha wong kalian itu orang-orang pintar pilihan…
    jangan hanya bisanya minterin (mbohongin) orang lain….

  26. N A N O berkata:

    Buat kurikulum pen-jas …….bisa tidak gurunya……jangan asal buat kurikulumnya saja…….liat juga dong sdm nya

  27. FIA berkata:

    gonta-ganti kurikulum terus bwt kita para pelajar jd bingung.
    Belum lg buku yang terus berganti.Harga buku kan mahal.
    Tp kalo itu smua membuat kami para pelajar jadi lebih baik,KENAPA NGA”?
    yang paling penting guru juga harus bisa mengikuti K2006.

    TP saya lihat utk menerapkan K2004 aja susah apa lagi K2006…??????
    Buat para guru terus berjuang yahhhhh…
    Km para pelajar jg akan terus berusaha menjadi lebih seperti yang anda inginkan.
    OCE…

  28. shidiq pramono berkata:

    Kurikulum appun namanya, yang penting dan utama adalah para pelaksananya di lapangan (penerap kurikulum tersebut). Para perancang memang ahli-ahli, namun pelaksana di lapangan banyak kesulitan untuk menerapkannya.
    untuk itu, hanya sederhana saja yang kita perlukan bagi peningkatan kualitas pendidikan kita yaitu :
    1. kesadaran bersama kan pentingnya pendidikan.
    2. kemauan dan realitas secara konsekuen dari pemerintah untuk ikut andil mempercepat kinerja para guru di lapangan.
    3. para pejabat dengan iklhas kencangkan ikat pinggang. OK

  29. Jeany berkata:

    Sebaiknya pelaksana dilibatkan dalam perancangan, diadakan training untuk para pelaksana, karena kualitas guru-guru di jakarta saja (ga usah ngomong di indonesia) masih sangat rendah. Sebaiknya mengajarkan hal-hal yang mereka pahami dan kuasai, jangan mengajarkan hal-hal yang mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka ajarkan.

  30. jurotun berkata:

    kurikulum 2006 tu hanya proyek saja. toh akhirnya pasti nanti akan berubah lagi jika pengambil kebijakan berganti.

  31. okah berkata:

    terus terang saja sebagai seorang yang berprofesi guru, kurikulum 2006 jelas membuat guru repot dan malah membuat proses belajar mengajar semakin tak terarah. Pola kurikulum 2006 jelas cuma copy paste dan delete dari kurikulum 2004.
    Pemerintah yang sebenarnya sudah mengetahui kualitas guru di Indonesia rendah justru meluncurkan kurikulum 2006 yang mestinya diperuntukkan bagi guru yang kreatif dan cerdas. Segala bentuk kegiatan sosialisasi di lapangan tak pernah membuat guru semakin cerdas. Kegiatan tersebut malah disalahgunakan sebagai ajang mengeruk keuntungan oleh oknum-oknum di dinas pendidikan dan departemen agama.
    Menurut pengamatan saya, banyak sekali guru yang sudah masa bodoh dengan kurikulum. Mau 2004 atau 2006 mereka tetap tidak berubah menjadi lebih baik. Hal ini jelas karena mereka sudah PNS (mengganggap kerja sejelek apapun takkan pernah dipecat atasan) atau baru honorer (gaji sedikit buat apa mikir banyak-banyak). Tidak semua guru seperti itu, namun lambat laun wabah itu akan semakin banyak menular. Pemerintah yang harus sadar, semua kurikulum sama baiknya (tentunya harus disempurnakan bukan diganti) tinggal SDM pelaksananya yang harus diprofesionalkan.
    Kurikulum baru = proyek baru = ujung-ujungnya duit

  32. MT berkata:

    Kalo nggak ganti kurikulum, berarti gak dapet proyek dong bro!

  33. lisianawati berkata:

    APA yg bisa diharapkan dengan waktu yg singkat seorang anak harus ulangan 16 mata pelajaran tiap semesternya, yg saya lihat saat ini dgn sistem yg baru anak” hanya mengejar batas nilai kelulusan klu gak sampe yg tinggal remedian. yg penting sampe target nilai buat isi raport.
    KASIAN SEKALI ANAK-ANAK SAYA.
    SAYA SANGAT TERTARIK DENGAN TULISAN YG MEMUAT KURIKULUM 68 TULISAN BPK SUPRIADI MPD,SAID TANGGAL 19 JULI 2006. SEPERTINYA ITU LEBIH BAGUS KRN ANAK” DPT LEBIH MENDALAM DLM MENERIMA DAN MENEKUNI PELAJARANNYA. BAGAIMANA KALAU KITA INGATKAN MENTERI PENDIDIKAN KITA MENGENAI KURIKULUM ITU PAK?

  34. Paijo berkata:

    Kurikulum gonta-ganti tapi masalahnya tetap sama, OVER LOAD alias terlalu banyak pelajaran yang musti dijejalkan ke siswa. Simak di negara-negara maju, jumlah pelajaran hanya 6-8 saja. Itupun sudah termasuk pilihan. Di negara kita, siswa musti mempelajari belasan pelajaran. Penentu kebijakan di negara kita kebanyakan berfikir bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan musti dengan menambah content. Mungkin ada hubungannya tapi tidak selalu linier. Menurut saya, yang lebih penting adalah bagaimana membuat siswa mau dan dapat belajar mandiri tanpa harus dikejar-kejar guru dan orangtua. Soal content tidak perlu terlalu berat. Dengan demikian , siswa akan mencari sendiri sumber informasi yang dia perlukan untuk mengembangkan diri di bidang yang diminatinya. Dengan cara seperti itu, saya yakin bahwa sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa maupun guru. Selama ini, penentu kebijakan terkesan takut menimbulkan keresahan dan pengangguran jika mengurangi jumlah mata pelajaran. Terutama guru-guru matapelajaran ‘pesan sponsor’ macam PPKn. Itu ketakutan yang berlebihan dan dapat dicari solusinya. Selama pendidikan di negara kita belum berubah secara mendasar, mutu lulusannya juga tetap terpuruk. Selama ini pendidikan kita menganut falsafah kolam, luas tapi dangkal. Siswa tahu banyak hal tapi hanya tahu sedikit atau kulit luarnya saja. Sudah saatnya untuk diganti dengan falsafah sumur, sempit tapi dalam. Siswa tahu sedikit hal tapi mendalam dan ahli betul. Kalau tidak, generasi muda kita akan termarginalkan oleh arus industrialisasi dan globalisasi yang menuntut spesialisasi bidang kerja.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  35. himawaru bae berkata:

    bagi orang awam seperti saya, walaupun saya sekarang ini sedang mempersiapkan diri menjadi guru, kurikulum apapun bentuk dan isinya sangat meresahkan guru di daerah pedesaan, karena bagi kami di pedesaaan antara das sollen dan das sain sangatlah jauh jadi yang penting adalah ada kejelasan bagi kami di daerah pedesaan untuk bisa meramaikan kancah perkurikuluman 2006 sebagai suatu panduan untuk mencerdaskan anak2 bangsa nantinya. semangat

  36. WieKz berkata:

    HaLo… Saya seOrang siswa kelas 9 di sebuah SMP di Pekanbaru – Riau. Saya membaca Kurikulum 2006. Saya juga sebenarnya bingung, kok Kurikulm sudah berganti lagi. Padahal sewaktu saya kelas 7 dulu, itu baru Kurikulm 2004, KBK. Eh, sekarang udah diganti lagi Kurikulm 2006.
    Sebenarnya imbasnya ke murid itu apa sih?? Kami jadi bingung nih. Proses belajar-mengajarnya membuat kami bingung.
    Bahkan banyak dari kami yang tidak tahu bahwa sudah ada Kurikulum 2006 yang baru ini.

  37. Isnawati Abas berkata:

    Tugas Berat untuk guru-guru di sekolah bertambah karena menjadi motor utama pelaksanaan KTSP.Banyak pihak yang ikut bergabung pada saat perancangan memang. Tapi itu tidak menjamin mereka ikut andil dalam pelaksanaan pembelajaran, Kan? ANDAI SAJA Jaminan Kesejahteraan Menurut UU Guru Dan Dosen tidak lagi menjadi angan-angan saja.

  38. Agnes Astri berkata:

    Saya siswa kelas taga SMP di sebuah SMP Negeri di Jogjakarta. Kurikulum tahun ini memberatkan saya sebagai siswa. Buku yang saya bawa ke sekolah cukup banyak, dikarenakan belum ada buku yang sesuai dengan kurikulum ini. Padahal tadi dikatakan bahwa kurikulum ini hanya berganti nama. Seharusnya, bila kurikulum ini akan dibuat didahului dengan buku pelajaran yang benar-benar sesuai dengan kurikulum. Saya tidak bisa menyalahkan guru saya karena guru saya hanya mengikuti aturan yang ada dan memberi fasilitas kepada siswa seperti yang ada pada aturan tersebut. Guru saya mengatakan bahwa kurikulum sekarang ini memiliki materi campuran dari kurikulum 1994 sampai KBK. Lalu, bagaimana pemerintah ini? Kalau saya, hanya melihat bahwa banyak teman saya yang tidak mampu dalam usaha belajar. Saya dan banyak teman saya yang lain mengikuti les tambahan, yang dalam seminggu kami hanya bisa istirahat satu hari atau bahkan seminggu penuh mereka belajar. Mungkin ini hanya pandangan saya sebagai siswa SMP. Tapi, inilah yang saya rasakan. Mohon pemerintah labih baik lagi dalam mengatur pendidikan Indonesia untuk saat ini dan seterusnya. Terima kasih.

  39. tyo nugros berkata:

    Apapun nama kurikulumnya, selama masih ada UNAS dan SPMB maka akan percuma karena tuntutan masyarakat thdp sekolah/guru adalah siswa lolos UNAS dan SPMB, siswa smp dituntut masuk sma negeri siswa sma orientasinya ke PTN, kalau banyak yg gagal masuk negeri maka sekolah tersebut dianggap gagal. Maka sekolah berlomba2 untuk nggedrill siswa demi tuntutan tsb, ortu mamaksa anak untuk ikut bimbingan belajar, kurikulum yang baik bagaimanapun akan sia2. Potensi siswa yang bagus tidak tergali karena terbebani oleh target tsb. Saya mohon ada koodinasi antara dirjen pendidkan menegah dgn pendidikan tinggi plus forum rektor PTN jangan hanya memikirkan proyek UNas dan SPMB aja! Ingat guru adalah yang paling berdosa jika siswa tidak dapat sekolah!Bukan pemerintah!

  40. ririn_uns berkata:

    kurikulim “KTSP” memang bukan kurikulum baru namun kurikulum penyempurnaan dari kurikulum 2004 “KBK”.Kalau da yang dah punya konsep kurikulum terbaru 2006 minta dong?

  41. bilal berkata:

    kalo ada yg punya silabus ato RPP pelajaran pendidikan seni ato pelajaran seni budaya!bagi dong!makasih ya sebelumnya!

  42. agus Istiqlal berkata:

    untuk temen2 guru yg punya silabus aatau RPP pelajaran pendidikan seni atau seni budaya SMA,bagi dong!thanks before ya!

  43. paku_negara berkata:

    KTSP tuh sebenarnya pemborosan tenaga bagi guru unutk menggarap rancangan pelaksanaan pembelajaran,bukankah KBK yg dulu ada sudah optimal mengingat kurikulum yg ada berbasis kompetensi?

  44. smant berkata:

    kenapa si pemerinta selalu gonta ganti kurikulum saja

  45. RUDY WIBOWO berkata:

    Kurikulum 2006 atau 2004 atau 1994 semua baik, asal yang penting siswanya dapat berubah menjadi lebih baik, gurunya juga harus lebih kreatif dan inovatif. insyaallah dunia pendidikan kita akan menjadi lebih manusiawi. r0d3o@yahoo.com

  46. beE_uW berkata:

    iyach.. gmn c.. koog kurikulumna brubah2? yang jd siswanya BinuN..
    palagi bentar lagi ujian..
    gila ajach..
    kurikulum mana yg hrs dpke..
    3 tahun skul kooq brapa kali aja ganti kurikulum..
    So, bsk ujian jadinya pake kurikulum yang mana nich?

  47. intan berkata:

    mmm,,,,Saya sbgai sorang pLajar sangat kecewa dengan sikap Pemerintah yang sLaLu menganggap kalangan Pelajar kayak “kLinci Percobaan” ato ” bahan uji coba”..Dan sampai sekarang saia belum menemukan satu titik keberhasilan dari sektor pendidikan yang diatur oleh pemerintah indonesia.
    Sebenarnya apa Yang diharapkan pemerintah yang ‘berkwasa’ tidak sePenuhnya sSuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.

    “artinya Pemerintah terlalu sering bersikap arogan dan tidak tahu menahu tentang kejadian dan fakta yang ada di lapangan”..selama saya 2 tahun di SMA saia menjalani 2 kali pergantian kurikulum, yang sama sekali belum terlihat ke-efektifannya.

    !!! pemerintah bilang KBK !! “nyatanya sosialisasi KBK aja gag runtut dan masih banyak sekolah yang tidak memakai kurikulum itu..belum runtut yang satu,eeeeeeeeeh….. pemerintah udah bilang : “KTSP!!”
    bwat apa bikin kurikulum baru kalo pelaksanaannya sLaLu NIHIL!!

    Dan pada intinya,,Pemerintah terlalu hobby “utak-atik” sistem Pendidikan_nya Indonesia..jelek banget!

  48. kire kawaii berkata:

    “knp harus ganti kurikulum sii??”
    tindakan yang sedikit Mubazir..

    “selama ini pemerintah kurang memperhatikan berbagai sektor yang mendukung pendidikan di Indonesia.klo cuma ganti kurikulum doank,bwat apa? trus sarana dan prasarana pada kenyataannya masih “pincang”! antara daerah yang satu dan yang lainnya, masih belum sama,shg dalam pelaksanaan kurikulum itu sendiri tidak dapat terlaksana dengan efektif dan menghasilkan sesuatu yang memuaskan.Seperti yang kita tahu ada beberapa kebijakan pemerintah yang akhirnya menuai banyak protes dan juga menimbulkan social rejection terutama di kalangan pelajar sendiri mengenai sist pendidikan yang dibuat oleh pemerintah. Contohnya ada standarisasi UAN,yang sebenarnya menurut saia sangat tidak efektif.Jika pemerintah mengatakan dengan standarisasi akan “meningkatkan kualitas pendidikan” buktinya apa?
    bagaimana dengan adanya usaha2 dari pihak2 sekolah untuk meluluskan siswa2nya bahkan membentuk “Team sukses” bwat atur mekanisme tempur pas perang…..
    dan menurut saia lebih baik pemerintah menyerahkan kekuasaan sepenuhnya terhadap pihak2 sekolah atas standarisasi UAN karena gurulah yang paling tau atas kemampuan dan juga totalytas siswa dalam kegiatan belajar..

    *KARENA SAIA YAKIN PEMERINTAH DAN PIHAK YANG MENJALANKAN SIST PENDIDIKAN ITU SENDIRI MENGINGINKAN YANG TERBAIK…*

    *KARENA SAIA YAKIN SISWA2 YANG LAIN JUGA BERPIKIRAN YANG SAMA DENGAN SAIA,WALAUPUN BANYAK SISWA YANG MENJALANKAN SIST PENDIDIKAN YANG SEKARANG BKN BERARTI MEREKA SETUJU.. TAPI MEREKA TIDAK DAPAT MENGUNGKAPKAN APA YANG MEREKA INGINKAN DILIHAT DARI ARROGANNYA PEMERINTAH KITA YANG SEKARANG…*

    ******

  49. link 182 berkata:

    menurut saya,standarisasi uan hrz tetap dilakukan dan kurikulum jg harus berubah sesuai perkembangan jaman!
    indonesia sudah tertinggal,apakah kita msh ingin terus tertinggal???
    Menurut saya,indonesia pelu proses ataw kurikulum baru untuk mengejar ketertinggalan tersebut!
    Namun pemerintah juga harus memperhatikan tentang sosialisasi yang menyeluruh terhadap semua sekolah agar kurikulum yang baru dapat dijalankan dengan mekanisme yang tepat dan dapat berhasil sesuai tujuan dari perubahan tersebut!
    dengan keadaan indonesia yang sekarang,qt perlu adanya perubahan yang lebih baik di berbagai sektor ,terutama di sektor pendidikan!!

    Perubahan kurikulum juga dapat diartikan sebagai perubahan gaya hidup/gaya belajar,oleh karena itu perlu proses untuk beradaptasi dengan kurikulum yang baru,jadi pemerintah harus memberikan tenggang waktu agar siswa dapat beradaptasi terlebih dahulu!

    pada intinya saya tetap ingin perubahan kurikulum tetap terjadi,karena kita harus mengikuti perkembangan jaman,akan tetapi pemerintah harus melakukan sosialisasi dan pengawasan agar sistem kurikulum yang baru dapat berjalan sesuai prosedurnya!!!

    Saya yakin bahwa pemerintah memginginkan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya,oleh karena itu kita harus terus mendukung pemerintahan yang sedang berjalan!!!

    SEMANGAT!!!!!

  50. Hanny berkata:

    Katanya kurikulum 2006 tidak beda dengan 2004? Kata siapa?
    Aku ngajar SD. Sekarang aku mau menyusun soal ujian untuk pelajaran IPS. Ternyata sekarang itu yang dipakai kurikulum 2004 dimana IPS bergabungh dengan PPKN menjadi PKPS. Biasanya ada Standar Kompetensi Lulusan yang dibagi dari Kantor Dinas setempat. Satang SKL malahan kurikulum 2006. Padahal kurikulum 2006 IPS sudah ‘cerai’ lagi dari PPKn. Jadi SKL tahun ini sama sekali berberda dengan yang diajarkan. soalnya konten kurikulum 2006 mata pelajaran PPKn beda sekali dengan PPKN kurikulum 2004.
    Sekarang aku harus bikin soal dengan kurikulum yang mana? Takutnya bikin kurikulum SKL 2006 nanti datang ijasah yang PPKN-IPS nya hjadi PKPS.
    Ah pokoknya LIEUR!! Semakin ke sini rasanya kita semakin dholim saja sama anak murid. Kurikulum terombang ambing seperti kapal di tengah samudra. Sementara anak tetap harus diurus.

  51. zahara berkata:

    jangan cuma nama kurikulumnya saja yang di ubah. perhatikan juga guru2 yang tidak mengerti akan pelaksanaan di lapangannya akan kurikulum baru

  52. Agus Ruslan berkata:

    Usaha pemerintah terhadap pengembangan kurikulum tidak pernah berhenti, tetapi dalam upaya pengembangan tersebut belum menyentuh substansial, kemudian pengimplementasian yang tidak tepat disebabkan (1) sumberdaya manusia yang memahami kurikulum di tingkat daerah sampai sekolah dalam halsangat kurang bahkan mungkin tidak ada (a) Memahami kurikulum Mulai dari landasan filosofis pendidikan, landasan teoritis pendidikan dan pola-pola pengembangan kurikulum (b) hasrat semangat dan cita-cita improvement terhadap pendidikan merupakan kata-kata manis yang tidak diekspresikan. (2) Penetapan kebijakan dalam bidang pendidikan termasuk kurikulum selalu memikul muatan politik
    maka yang terjadi adalah hanya pengerjaan proyek yang berorientasi pada keuntungan materi dan mengesampaingkan tujuan isi, mengulang-ulang kurikulum yang lama dengan merubah tema, judul saja.

  53. H I Gede Mendera berkata:

    Semestinya pemerintah tidak menghabiskan energi dan biaya untuk mengubah kurikulum setiap kurun waktu tertentu tetapi lebih pada penerapan kurikulum itu sendiri. Sebaik apapun kurikulum bila kurang mendapat perhatian dari para pelaku di lapangan yaitu “si ujung tombak, guru”, maka jangan terlalu banyak berharap terhadap prestasi yang akan meningkat. Belum lagi tuntas malasalah kurikulum berbasis kompetensi sudah disajikan hidangan baru yaitu KTSP yang sebenarnya secara substansi tidak banyak berubah, tetapi masyarakat memahaminya bahwa telah terjadi pergantian kurikulum, disibukkan lagi dengan masalah sosialisasi, dan …. tanpa terasa sudah berjalan hampir 4 tahun namun belum membawa perubahan yang berarti, ada apa dengan KTPS?

  54. sartika berkata:

    pendidikan adalah hal yang sangat komplit yang menyangkut hajat kamajuan orang banyak, jadi bapak-bapak penentu kebijakan jangan menjadikan rakyat sebagai korban coba-coba praktik bongkar pasang kurikulum dengan menghabiskan banyak uang rakyat.

  55. Anpan berkata:

    sebaiknya menteri pendidikan jangan diganti selama 20 tahun biar hasil kurikulumnya kelihatan

  56. Aam berkata:

    20 tahun cukup untuk mengajegkan ladang korupsi untuk diri dan organisasi/kelompok sang menteri. Coba lihat aja dari organisasi mana sang menteri berasal? Saya perhatikan menteri pendidikan kita selalu berasal dari organisasi yang sama. Lihat lembaga pendidikan organisasi itu, terlihat wah kan? Nggak tahu hasilnya. Komentar ini belum tentu benar lho! Tapi pesan untuk Pak menteri, kalau ada informasi penting tentang pendidikan bagi-bagi lah! Jangan hanya untuk orang-orang di organisasi Bapak. Saya merasa termasuk orang yang ketinggalan informasi dibanding teman saya. Organisasi apa ya? Pak menteri yang tahu.

  57. fendy berkata:

    MENURUT SAYA KURIKULUM INI SDAH BGUS TPI KITA KEMBALI KEINDIVIDU MASING MASING

  58. Suheng berkata:

    Kapan sih Indonesia punya kurikulum yang ajeg…jangan ganti menteri…ganti kurikulum..dari nol lagi…nol…lagi..kapan majunya Indonesia…BRAVO GURU-GURU

  59. Lukman berkata:

    Saya mungkin agak telat berkomentar, tapi baiklah, saya akan coba berikan komentar. Pertama, semua orang punya hak bicara, namun kalau saya simak, beberapa orang yang berkomentar ini terasa kurang dalam memahami permasalahan. Ada yang tidak menyadari bahwa apa yang diinginkannya itu sudah terpenuhi oleh kurikulum yang dikritiknya ini, ada pula yang tidak menyadari bahwa kritikannya tidak pas buat kurikulum. Jadi, ya… siapa pun yang membaca komentar-komentar di sini tanggapi sajalah dengan senyuman. Termasuk komentarku ini. Sebab jangan harap semua orang akan mengapresiasi sesuatu secara sama. Rekan-rekan guru akan mengapresiasi kurikulum ini berbeda dengan para siswa, dengan para orang tua, dengan para pengambil kebajakan dan dengan siapa saja yang memiliki mind set berbeda. Hanya perlu diketahui oleh semua, bahwa perubahan kurikulum itu merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa ditolak, dinegara mana pun kurikulum itu selalu diubah dan diubah.. jadi tidak usah berprasangka buruk dengan perubahan. Apa pun jadinya bangsa ini bukan hanya ditentukan oleh kurikulum tapi oleh perilaku dan komitmen semua warganya oke…?

  60. widiarti berkata:

    saya sebagai anak bangsa, merasa bingung dengan pergantian kurikulum yang tiada henti-hentinya, toh pelaksanaanya juga sama,bahkan guru yang tiada menegerti menanggap kurikulum 2006 ya kurikulum 2004. Pergantian kurikulum sih boleh saja asal perubahanya dapat memberikan pengertian dan perubahan yang jelas,seerta hal itu dapat meningkatkan pemahaman siswa atau anak didiknya.
    pesaaan sang anak bangsa :
    didiklah kami agar mudeng, bukannya tambah mubeng.
    makasih semua

  61. Adi berkata:

    Bingung juga karena kurikulum pendidikan di bangsa ini sering ganti-ganti. Kurikulum tahun 2004 yang banyak orang tahu sebagai KURIKULUM yang BERBASIS KOMPETENSI belum dikuasai sepenuhnya oleh para pendidik, kok sekarang sudah ganti lagi.

  62. Nisfi Nurfitriyah berkata:

    saya lagi nyusun skripsi tentang perbandingan kurikulum SMP dengan MTs. Adakah info tentang itu?

  63. jauharin berkata:

    Satu hal yang perlu dipikirkan adalah siapa pemakai kurikulum tersebut. Siswa di kota besar dengan siswa di kota kecil memiliki karakteristik yang tidak sama. Juga siswa dari wilayah Indonesia timur dangan siswa dari wilayah indonesia barat. Dari sisi ini tampaknya ada yang luput dari perhatian.

  64. Fa berkata:

    Saya seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Bandung. Sebagai seorang calon guru, saya merasa sangat kebingungan dengan perubahan kurikulum ini. ketika saya pelajari dengan seksama tentang kurikulum ini dan dilihat dari out put nya, perasaan ga ada perubahan. oOwh.. apa kata Dunia???
    Menurut hemat saya, seharusnya pemerintah tidak perlu repot- repot untuk merubah nama kurikulum, yang harus dirubah itu sebenarnya bukan pada nama tapi pada paradigma berfikir kita. Dari perubahan kurikulum ini, mungkin bisa dilihat seberapa besar pengaruhnya pada hasil belajar- mengajar. Seharusnya pemerintah bukan sibuk untuk merubah kurikulum yang mana yang pantas untuk Pendidikan di Indonesia, tetapi sebaiknya pemerintah melihat bagaimana SDM yang ada, sarana dan prasarana, dan kesiapan dari element- element pendidikan yang lainnya. Berantas para Koruptor pendidikan, baru pendidikan bisa maju. C’mon, weak Up..!?!?!

  65. Christien berkata:

    K2006 menunjukkan kepada dunia pendidikan bahwa betapa seriusnya pemerintah dalam menata pendidikan yang ada di Indonesia. bukan semata-mata ingin mencari sensasi tetapi karena malu kepada kondisi masyarakat yang semakin hari semakin mem prihatinkan. Banyak orang di sekitar kita yang memiliki ekonomi rendah, semua itu didasari atas miskinnya kepintaran akibat masih rendahnya etika pendidikan yang dketahui apalagi sampai dimiliki. hal inilah yang menurut saya menjadi acuan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di masa datang. Mari kita semua lapisan masyarakat bersama-sama membenahi sistem pendidikan di Indonesia dengan mempelajari apa yang inginkan pemerintah untuk kemajuan bangsa Indonesia, bukannya malah menggerutu. Bagaimana ?

  66. Pudin Saepudin berkata:

    Kurikulum yang berubah ternyata menimbulkan masalah baru bagi sekolah maupun orang tua. Selama substansi K2004 sama dengan K2006 kenapa mesti diubah. Sebaiknya realisasi dari substansi tersebut mesti diintensifkan agar berjalan maksimal sehingga sekolah dan orang tua serta siswa-siswi tidak dibebani dengan perubahan kurikulum yang tidak substantif.

  67. indah berkata:

    yang jelas!!!
    kurikulum ganti, walaupun isinya sama atau enggak nantinya, tetep aje. , ,label bukunya ganti, ,yaaah kan?
    PROYEK BESAR DOUNK???

  68. ka_bisat berkata:

    INILAH,INDONESIA!!!
    mulai dari politik sampe udelnya bangsa(pendidikan) se enaknya di gonta- ganti, gak mikir gimane nasib pendidik sama yang dididik, belum tuntas yang satu udah di ganti lagi sama yang lain!!!kayaknya bukan ustad sampe selebritis aja, yang hoby poligami???pendidikan juga. . .tuch buktinya,belum setahun??? khakha. . .coba mereka yang ganti tuch, tuker posisi, sama yang ngelaksanain nya,???puyeng – puyeng dech!!!
    maap mgomong nech…babe- babe kan dulu sekolahna, kagak pake buku yach?? tapi, pake batu. . .jadi kagak tau gimana MAHALLLLLLLLLLLLnya beli bukuuuuuuuu!!!!

  69. mushadipurwanto berkata:

    KTSP beresiko tinggi, karena membutuhkan pengetahuan dan kemauan dari guru. Pada hal LPTK sampai saat ini belum membekali materi pengembangan kurikulum pada kliennya.
    Apapun kebijakan pendidikan digulirkan selama guru tidak mau berubah kebijakan itu akan sia-sia dan kejadian lama akan terulang dan terulang lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s