Posted by: Emanuel Setio Dewo on: April 3, 2006
Beberapa waktu yang lalu aku menuliskan beberapa tulisan tentang pembangkit listrik mandiri (Swadaya Listrik). Nah, kemarin (Minggu, 02/04/2006) MetroTV dalam acaranya IptekTalk mengetengahkan pembangkit listrik tenaga hibrida, yaitu dengan menggunakan gabungan sel surya (solar cell) dengan generator diesel. Uniknya, PLTH ini telah dibangun di 25 lokasi tersebar di Indonesia.
Nara sumber acara ini adalah Dr. Aminuddin Chalid (Dir LEN Industri) dan Dr Arya Rezavidi (BPPT) yang dipandu oleh Denia A. Samad. Terbetik bahwa PLTH ini telah dibangun di 25 lokasi, salah satunya di Kabupaten Gorontalo dan Parangtritis Yogyakarta.
Sesuai dengan namanya, yaitu PLTH, maka untuk membangkitkan listrik digunakan lebih dari 1 macam pembangkit. Tetapi yang agak berbeda adalah kombinasi ini menggabungkan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable) dengan yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable). Dalam talk show tersebut sumber energi renewable diwakili oleh sel surya sedangkan yang unrenewable diwakili oleh diesel yang menggunakan bahan bakar solar.
Dari pembicaraan tersebut, di salah satu PLTH, ditengarai sel surya sanggup menghasilkan 40 KW sedangkan diesel dapat menghasilkan 125 KW. Tampak bahwa sumber energi yang terbesar masih dihasilkan oleh diesel.
Sel surya yang mengambil energi dari matahari ini hanya dapat menghasilkan listrik ketika ada matahari, yaitu pagi sampai sore. Syukurlah bahwa beban puncak penggunaan listrik adalah malam hari. Sedangkan listrik yang dihasilkan sel surya disimpan di baterai sehingga dapat dipergunakan malam harinya.
Tapi memang beban puncak melebihi kemampuan pembangkitan listrik sehingga kekurangan disuplai oleh diesel. Jadi diesel baru akan bekerja ketika beban puncak yang biasanya malam hari. Dan karena diesel tidak bekerja full-time, maka efisiensinya naik. Umur pakai diesel jadi lebih panjang, yaitu mencapai 10 tahun.
Memang operasional diesel lebih mahal walau pun investasi atau pengadaannya relatif lebih murah. Sedangkan sel surya lebih mahal pengadaannya walau pun biaya operasional amat-sangat murah. Tercatat dari pembicaraan kemarin, biaya pengadaan sel surya mencapai USD 4/W. Jadi kalau mau membangkitkan daya 40 KW, maka diperlukan dana 40,000 x USD 4 = USD 160,000. Wuih, mahal amat yak? Tapi hampir tidak memerlukan biaya operasional.
saya merancang mesin baru yaitu mesin diesel pembangkit listrik tanpa bahan bakar .tapi saya belum membuat nya saya ingin menjual rancangannya seharga 50 juta us dollar. mungkin ada yang berminat untuk memproduksinya mesin ini sangat mudah dibuat mesin ini sangat membantu karena di indonesia sangat membutuhkan cara menghemat bbm.jika ada yang berminat hub 085642855937/085729622163
yang bener aja masa sih gak pakek bahan bakar…. mana belum dibuat lagi…. tapi kalo memang bener coba kirimkan sekilas saja tentang teori anda ke alamat mail saya (suhaidi_mth@yahoo.co.id) berkebetula saya bergerak dibidang pengembangan energi alternatif kalau memang ide anda brilian kenapa harus ragu…
SAYA MEMBUTUHKAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN KAPASITAS MASING-MASING +/- 500 WATT PER SET (PER RUMAH).
MOHON RINCIAN PRODUK, PENAWARAN HARGA BERIKUT SISTEM PEMBAYARAN DAN HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN LAINNYA.
PROJECT DIMAKSUD UNTUK PEMAKAIAN DI DAERAH TERPENCIL ATAU DESA TERTINGGAL.
MOHON BANTUAN DAN KERJA-SAMANYA.
Terima Kasih.
Aril,
Hp : 085865932733
tolong minta dadtar harganya untuk menindak lanjutkan untuk kelanjutanya tolong hubungi saya di no 081806059373
September 9, 2008 pada 9:31 am
dimana saya harus mencari daftar harga dari photofoltaiknya saja beserta penggunaan dayanya