Menjadi biker yang sesungguhnya dimulai saat aku kelas 3 SMA. Maksudnya “biker sesungguhnya” adalah bahwa aku benar-benar naik motor dalam kegiatan sehari-hari. Aku sendiri sudah bisa naik motor sejak kelas 5 SD dan saat lulus SD sudah bisa nyetir mobil. Belajarnya ngumpet-ngumpet, maklum, takut dimarahi ayahku yang over protective.
Motor pertamaku ini adalah lungsuran dari kakakku. Coba tebak motornya apa? Yamaha? Salah, saudara-saudara! Motornya adalah Honda Astrea Star 1986. Dulu cuma bisa pakai, kurang bisa merawat. Entah berapa kali telat men-servis motor. Tapi boleh dibilang motor ini awet ketika aku pakai. Maklum, aku kan bukan tipe ugal-ugalan bin kebut-kebutan, jadi mesin bisa lebih awet.
(** Gambar Astrea Star diculik dari www.simplyphotography.net dengan ijin pemiliknya **)
Binter Merzy
Motor kedua adalah Binter Merzy 1985 yang memiliki kapasitas mesin 200 cc. Kali ini dapat pinjaman dari saudara dalam rangka mendukung kegiatan kuliahku. Tapi Binter Merzy ini bukan sembarang Binter Merzy. Saat dipinjamkan, motor ini telah dibekali velg racing dan ban besar. Walau pun tampilannya jadul tapi tampak kekar dibanding Merzy yang lain.
Geregetan melihat tampangnya yang culun membuat otakku melayang-layang sehingga aku memutuskan untuk membawa motor ini ke rumah modifikasi. Saat itu belum banyak rumah modifikasi, apalagi di kota Semarang tempat tinggalku. Setelah lama mencari sisik melik tentang rumah modifikasi, akhirnya kutemukan satu dan asyiknya tempat itu memang spesialis modifikasi Binter Merzy. Tapi kebanyakan Merzy yang dimodifikasi adalah bentuk Chopper atau model Harley Davidson yang lain. Sedangkan aku tidak selera dengan bentuk seperti itu. Akhirnya karena tidak ada model atau referensi yang bisa ditiru, aku cuma berpesan satu hal: modif motor ini menjadi motor sport. Simple dan pasrah.
Kurang lebih modifikasi memakan waktu 3 bulan. Cukup lama? Maklum pasiennya cukup banyak, sedangkan aku sendiri kurang telaten nongkrongin rumah modifikasi. Apa yang terjadi kemudian? Rupanya bentuknya oke bin mak nyos. Untuk ukuran tahun 1995an motor ini bisa dibilang oke. Ubahan yang dilakukan: jok (model tingkat), tangki, body samping, lampu dan spion. Ternyata klakson juga diganti punya mobil. Jadi kuenceng suaranya. Dijamin kaget karena suaranya.
Sebenarnya tidak cukup banyak ubahan yang dilakukan, tetapi yang unik adalah karena semua panel body-nya dibuat dari pelat besi yang dibentuk. Jadi kokoh, tapi menambah berat motor. Tambah berat karena tanki bensinnya yang kurang lebih bisa menampung 16-18 liter bensin. Bisa dibayangkan besarnya kan?
Dengan bangga aku memakai motor ini. Tapi saat parkir ada saja yang sirik, misalnya body jadi baret. Paling parah saat salah satu spionnya pecah. Tapi yang menjengkelkan adalah sering hilangnya helmku di kampus. Dari yang helm jelek sampai helm full face. Kalau tidak salah aku sudah kehilangan 5 helm di parkiran kampus. Eh… kok jadi ngelantur ke helm sih?
Motor ini juga setia mengantarkan aku KKN di Rembang. Sekali isi bensin full sudah bisa digunakan untuk beberapa hari. Malahan bisa seminggu. Soalnya di daerah tempat aku KKN boleh dibilang pelosok banget dan berhak menyandang gelar “desa tertinggal.” Beberapa kali pulang pergi Semarang-Rembang dengan Merzy. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Kecepatan rata-rata 60-80 km/jam. Kecepatan tertinggi yang pernah kucapai adalah 130 km/jam.
Paling berkesan adalah saat KKN selesai. Semua mahasiswa dari segala penjuru desa di Rembang dengan lega telah berkumpul di Kelurahan. Mereka dengan bahagianya telah bersiap-siap pulang. Di kelurahan mereka bercanda ria dengan teman-teman dari daerah lain sambil menunggu upacara pelepasan. Beberapa belas bis besar telah setia menanti mengantarkan mereka kembali ke Semarang.
Sedangkan aku sendiri tertinggal di rumah seorang tokoh desa tempat kami menginap selama KKN. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena aku tidak berhasil menyalakan motor. Motorku mogok! Padahal kemarinnya masih sempat dipakai jalan-jalan.
Akhirnya aku dengan pasrah hanya bisa melambaikan tangan saat melihat teman-teman pulang dengan bahagia di bis yang melaju pelan. Pokoknya mengharu biru perasaanku saat itu.
Puji Tuhan karena seorang pemuda desa teman kami mau menarik motorku ke bengkel terdekat. Walau pun namanya “bengkel terdekat”, tetapi untuk ke sana butuh waktu 1 jam lebih karena jaraknya lumayan jauh. Harap diingat bahwa kami KKN di desa tertinggal, jadi untuk menuju ke peradaban harus ke kota Rembang dulu.
Motorku ditarik seutas tali tambang kecil. Beberapa kali putus hingga akhirnya ikatan harus dirangkap beberapa kali. Saat ditarik pun motor bebek yang menarik beberapa kali terangkat roda depannya karena keberatan motor Merzyku. Perjalanan akhirnya kami lakukan dengan perlahan.
Sesampai di bengkel kecil terdekat motorku dicek sana-sini. Sang montir agak lama mendiagnosa kerusakan motor sampai pada akhirnya dia menyimpulkan kalau aki motorku soak dan butuh di-charge. Mengisi aki membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Dan rupanya memang benar karena akinya. Buktinya saat aki sudah diisi motor Merzy bisa hidup lagi.
Wah leganya hatiku karena akhirnya aku bisa pulang juga. Tapi sejak saat itu performa motor jadi kacau. Tarikannya loyo. Bensin boros. Mesin tidak bisa langsam. Di pemberhentian lampu merah mesin mati karena tidak bisa stationer.
Syukurlah aku bisa pulang dengan selamat. Keluarga khawatir. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya aku lebih khawatir dari pada mereka. Ya, aku juga khawatir kalau tidak bisa pulang. Hihihi…
Selama di Semarang Merzy kuservis di bengkel khusus Merzy. Semua distel. Performa yang drop ternyata karena penyetelan yang salah. CDI juga diganti dengan punya GL Pro supaya performanya meningkat. Setelah itu performa jadi oke lagi.
Mobiler
Hihihi… apa ya istilahnya kalau kita pengendara mobil? Sebenarnya sih driver, tetapi kok malah kayak sopir gitu? Ya sudah, maksudku adalah, setelah lulus dan bekerja, aku sempat istirahat jadi biker karena pakai mobil.
Beberapa kali gonta-ganti mobil. Sempat ngecat mobil sendiri sama Om Kelik (bukan Kelik Pelipur Lara lho!) Gonta-ganti mobil ternyata bisa untung. Akhirnya sambil kuliah S2 di UGM aku juga sempat jual beli mobil. Sejelek-jeleknya mobil yang aku dapat, rupanya bisa dijual untung juga.
Ibu sempat sewot karena beberapa kali aku beli mobil jelek. Kalau body-nya oke, ternyata mesinnya jelek. Tapi ketika kujual ternyata bisa untung juga. Ibu sempat meledek: “Kamu itu bodho. Beli mobil kok selalu jelek. Tetapi ada juga orang yang lebih bodho dari pada kamu karena mau beli mobil dari kamu.” Hihihi…
Kembali Menjadi Biker
Di Jakarta sempat punya mobil 2 kali. Tapi punya mobil di Jakarta malah sengsara karena macet. Bensin jadi boros dan biaya perawatan jadi tinggi. Apalagi aku belinya mobil second yang tentu cuma perpanjangan umur mobil.
Akhirnya mobil tukar tambah dengan motornya Wahyu. Dia ini mantan anak buah. Coba tebak kali ini motornya apa? Honda? Yamaha? Salah, saudara-saudara! Yang benar adalah: Kawasaki Kaze 1996.

Beruntung aku membelinya dari Wahyu. Sejatinya motor ini adalah motor ayahnya Wahyu. Kebetulan ayahnya bekerja di pabrik motor Suzuki. Kaze ini sangat terawat dengan baik lahir mau pun batinnya. Eh, maksudnya sangat terawat baik body mau pun mesinnya. Body-nya mulus-lus. Mesinnya juga capcay, eh… okay.
Motor Kawasaki Kaze ini cukup berjasa bagiku dalam merintis Sisfo Kampus. Motor ini selalu setia setiap saat mengantarkanku kemana saja. Jarang rusak. Paling sering sih di ban bocor. Entah berapa kali harus tersiksa menuntun motor mencari tukang tambal ban. Gara-gara tukang tambal ban yang suka menabur paku sih. Ganti komplit ban dalam-luar pun cuma bertahan sebulan. Habis itu nambal lagi. Paku lagi.

Kurang lebih 3 tahun Kaze menemaniku sampai akhirnya aku memutuskan membeli motor baru. Kali ini tebakannya harus benar. Coba tebak, kali ini motornya apa? Vespa? Eh, kok jawabnya enggak banget deh. Yang benar adalah: Yamaha MX 135LC. Cukup bangga karena saat membelinya, yaitu bulan Oktober 2005, motor ini masih merupakan produk baru Yamaha. Masih anget, fresh from the oven (** halah **).
Tadinya sempat mau beli Suzuki Satria FU150, tetapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan membeli Yamaha MX 135LC. Pilihanku tidak salah. Dan sampai sekarang belum ada masalah mesin. Paling shockbreaker saja. Yang unik adalah karena tidak pernah bocor ban karena paku. Padahal selama pakai Kaze pasti ada saja pengalaman ban bocor. Tapi semoga tidak pernah terjadi masalah ban di MX-ku ini.
Kesimpulan
Nah itulah sekilas pengalamanku bersama motor-motorku. Jangan salah sangka mengira kalau aku fanatikan Yamaha karena sebenarnya aku sudah mencoba beberapa merek, yaitu: Honda, Binter (Kawasaki?), Kawasaki dan Yamaha. Sayang aku belum pernah pakai motor Suzuki. Belum pernah pula pakai motor 2-tak. Dari dulu tidak selera dengan motor 2-tak.
Jadi biker di jalanan Jakarta adalah pilihan yang terbaik untukku, paling tidak untuk saat ini. Biaya yang dikeluarkan cukup ekonomis, terutama untuk pembelian bahan bakar. Dalam sebulan untuk pemakaian seboros-borosnya tidak sampai 200 ribu. Untuk pemakaianku sendiri rata-rata habis 100 ribu per bulan. Maklum, aku jarang keluyuran. Kalau pun bepergian untuk urusan kantor selalu pakai mobil kantor atau nebeng Bune. Hihihi…
Biaya operasional yang lain juga murah, misalnya biaya parkir. Selain itu naik motor sangat praktis. Mau cari parkir juga gampang. Mau belok atau balik arah karena salah jalan juga gampang. Mau berhenti sembarangan di pinggir jalan juga tidak dilarang. Coba kalau naik mobil, bisa-bisa diomelin orang se-Jakarta karena bikin macet.
Sebenarnya ingin beli mobil juga sih, tapi mengingat kepraktisan motor dan ketidakpraktisan mobil, untuk saat ini aku bahagia menggunakan motor. Sekarang malah kepikiran untuk ganti motor. Ganti apa ya? Bajaj Pulsar atau V-ixion?
~~~
Update:
~ Tahun 2008 menggunakan mobil, Daihatsu Xenia.
~ Tahun 2009 menggunakan motor, Suzuki Skywave 125 Night Rider.
Jadi biker memang pilihan terbaik bagi jutaan orang di Jakarta ini.. Alasannya persis yang disampaikan Bro Dewo. Walaupun aku ada mobil di rumah paling-paling kepake waktu akhir pekan atau liburan aja. Dan ternyata itu juga yang dilakukan tetangga-tetanggaku.. Ada yang punya 2 mobil di rumah tapi kekantor… tetep pake MOTOR..!!
Berbagai merek motor juga pernah aku coba SUZUKI (Bravo), HONDA (Astrea Grand & Megapro), VESPA (150PX) dan terakhir YAMAHA (V-Ixion). Paling enak ya YAMAHA inilah..
Yang paling asyik menjadi biker adalah kita hidup dengan GAYA HIDUP dibawah penghasilan kita.. Jadi kita serasa banyak duit aja.. soalnya penghasilan kita bersisa… so bisa ditabung..
Contohnya tukang duren aja nawarin ke orang bermobil ama bermotor harganya bisa beda… Biasanya kalo untuk orang bermobil ditawarkan dengan harga lebih mahal.. Soalnya aku pernah coba sendiri… Beda! Belum lagi aku harus selalau sediakan “gopek-an” untuk Pak Ogah……
Kalo lagi bawa mobil sama anak istri, pasti kalo mampir makan juga ke tempat2 yang relatif lebih mahal.. Fast Food atau ke lesehan.. Tapi kalo bawa motor agak sungkan mampir ke restoran mahal…
Untuk keluarga memang aku utamakan mobil karena bisa bawa segala keperluan anak2 dan juga mereka bisa tidur pules di bangku belakang…! Umur 33 lebih ini… anakku udah 3 Bro…!
Tapi kalo lagi sendirian pasti lebih nikmat perjalanan ketika bawa motor daripada bawa mobil… HIDUP BIKER..!
Dua motor pertama saya, maksudnya motor orang lain yang biasa saya pake sehari hari, adalah Yamaha 78(platina) punya Bapak. Dan kedua Honda 80, yang knalpotnya gede ujungnya kecil, punya Kakek. oldies never die
@Dear Ranto,
Wah, Mas Ranto ini subur banget. 33 tahun sudah 3 anaknya. Kirain kalau jadi <em>biker</em> itu kesuburannya berkurang, tetapi ternyata tidak
Salam.
@Dear Indra,
Rupanya Anda penganut aliran Vintage. Oldies deh. Bisa bikin museum dong? Hihihi…
Salam.
Sama bro…gw juga hoby offroad dan mobil classic, di rumah ada Land rover dan mercy tiger 280E, punya juga harley Davidson sportster tahun 1957…tapi…ke kantor…ya naik motor bebek revo (baru juga kredit dari koperasi di kantor….he…he…he) ternyata di jakarta banyak yang sejalan sama pikiran gw…apalagi jaman susah gini…naik motor 25 ribu bisa seminggu lebih….coba pake mobil… selisihnya bisa buat beli susu si kecil bro…apalagi anak gua juga tiga..
salam
SESIAPA BOLEH DAPATKAN AKSESORI 135LC SILA HUBUNGI AKU 0172501039….
hampir sama pengalaman gonta ganti mtr…..dulu pertama pakai honda grand 93. lalu ganti honda GL MAX 93…..kurang gedhe lagi lalu ganti Honda TIger 94…ternyata ada kelemahannya…kalau aku pakai agak ngebut tu mesin suaranya jadi kasar……so buat apa kalau suara mesin kasar jd ngrusak penampilan he he he. selanjutnya kuputuskan beli supra std 2002. lama dipakai eh kok rasanya kurang pas ….akhirnya kuputuskan berubah merk..terakhir beli Jupiter MX CW 2006…rasanya pas…mantap….bebek rasa motor batangan..he he he…..
Mo dijual gak binter merzy KZ200 nya..sapa tau dah bosen.. biar ta rawat lagi heheheh di pm aja ya bro… gw slalu menunggu…
@ Dear Yoyo,
Hehehe… Maaf, Binter Merzy-nya sudah dikembalikan ke yang punya.
Salam.
bantuin nyepetin kaze dunk…
biar bs drag di gor ma anak2.. tp tuk harian ja yachh…/
kcih tau ganti pa ja…
okrik…tanks doct kaze
Aku punya motor honda astrea star ’86. Bisa ditukar dengan Binter gak ya?
motor pertamaku yamaha alfa cuma bertahan dua tauhn trus aku ganti honda black astrea impressa sama ngga bertahan lama juga cuma 1 tahun trus aku ganti yamaha F1ZR itu cuma bertahan sampe aku lulus sma.. kuliah aku naik mobil.. lulus kuliah aku balik lagi naik motor pilihanku kali ini adalah honda astrea prima aku beli second.. maklumlah motor yang astu ini belinya pake uang sendiri bukan dari ortu.. cukup lama juga aku pake motor ini kira- kira 3 tahun.. lalu aku jual soalnya sudah mulai suka ngadat.. kurang lebih 2 tahun aku ngeteng naik angkutan kemudian aku mulai naik motor lagi.. pilihanku kali ini adalah suzuki shogun 125.. kira2 2 tahun aku pake motor ini, kemudian aku jual ke adikku dan aku ganti dengan suzuki fu150.. cukup puas juga aku setelah membeli motor ini.. tarikannya itu ngga nguatin.. pokoknya maknyus.. sampe 2 tahun kemudian honda mengeluarkan toger revolution cruiser dan aku jatuh hati pada motor ini.. sekarang motorku ada 2 fu 150 dan tiger revolution cruiser.. penggunaannya pun beda2.. untuk satria biasanya aku pakai untuk mwegnhadapi macetnya lalu lintas jakarta.. sedang tiger aku gunakan untuk touring ke luar kota.. tiger dan fu150 buatku sudah memenuhi haus dahagaku akan motor.. kini aku sedang menabung untuk membeli honda jazz.. hehehe
AQ Anggota Baru YMCI Palu….. Brorrr ingin kenalan boleh ngga…. blum lama ini qmi bentuk YMCI di Palu (Sulawesi Tengah) berjumlah 80 Unit Mtr YAMAHA MX
broo kalau cari alamat websetnya khusus honda astrea grand atau honda legenda dimana ya….!!!!salam kenal dari engkong biker jember….oye…..
saya punya binter mersi taun 80, saya modif harley n hassilnya sangat memuaskan.
cerita tentang motor saya jadi gatel ingin ikutan nimbrung. saya bisa naik motor usia kelas 3 SD. saat itu belajar pakai Yamaha V80 CDI. Motor itu termasuk motor yang keren di jamannya, perbandingannya mungkin seperti Jupiter MX kalau tahun sekarang.
Bosen naik motor bebek. saya beralih belajar motor laki. Yamaha L2G. ini motor bandel banget. setia menemani keluarga kami dari tahun 1977 – 1994. Dari saya berumur setahun sampai hampir kuliah. Tahun 1994 motor ini dijual seharga 800 ribu oleh Papa saya. Papa bilang lumayan untung, soalnya waktu beli tahun 1977 cuman seharga Rp. 130 ribu.
weleh-weleh…
Era Yamaha L2G Berganti dengan Yamaha RX King. Motor yang identik dengan motor jambret ini pualing kenceng diantara motor-motor yang pernah saya punya. Sayang diakhir tahun 2004 motor ini dijual, padahal kondisi dan performa masih sangat prima.
Kemudian saya naik Yamaha F1Z, motor yang lumayan kencang.hampir 4 tahun saya nunggang motor itu.
Ganti lagi naik Honda Supra X. Pakai motor ini cuman 3 tahunan, setelah masa kredit selesai langsung di jual.
Selanjutnya Beralih ke Honda Karisma, pakai motor 2 tahun saja. setelah itu di jual karena Om berminat membeli.
Setelah itu sempat vacum.alias gak punya motor. Hobi pindah ke Toyota Corona th 1978. Banyak suka duka dengan mobil ini. Nasibnya pun sama,karena boros akhirnya dijual. Saya mengkombinasi Corona dengan Honda Astrea Grand 1997 milik Istri. lumayan makenya hampir 2 tahunan.
Era astrea Grand digantikan dengan Honda Supra X 125 yang sekarang jadi milik Istri. Saya mencari sendiri. Sebuah honda CB 100 produksi 1978. http://www.motorlawas.blogspot.com saya pinang. Pake motor ini gak lama, gara-gara bolak balik macet. 7 bulan saja.
Nah..sekarang saya pakai Binter Merzy 1980,Platina. ada di http://www.bintermerzy.blogspot.com. sekarang motor lagi di bengkel khusus merzy di selokan mataram yogya, punya Pak Gambul. Semoga setelah rawat inap, Binter Merzy kembali menjelma menjadi muda.
Sekian sharing dari saya Om Dewo…salam (edy)
@ Dear Edy Purwaka,
Wah, terima kasih atas sharingnya. BTW, suka motor tua ya?
Salam.
Ping-balik: Kikuk Matik « Emanuel Setio Dewo
Saya juga punya Yamaha L2G Th. ’79, kalo dijual laku berapa yach? Tapi kalo ketemu temen sesama pemilik L2G kayaknya ga jadi dijual…..
hallo semua…..ada yg punya gambar modifikasi motor honda prima th 90an. thanks
pertama bisa naik motor kelas 6 SD pakai Honda CG jatah kantor dari Bapak, trus SMA kelas satu naik sepeda BMX (SMA Santo Yosep Solo 1988) karena malu sama temen merengek sama ibu minta motor,dibelkan motor buat berdua sama kakak yaitu Suzuki GP motor ini boros minta ampun mana uang saku cuma 2000 buat beli bensin 700 alhasil jajan dibosin sama teman, kelas dua GP dilego dibeliin ibu Honda Supercup th 80 (AD 3588 LB) yg setia menemaniku sampai lulus kuliah dariUNS Solo th 1993 dan masih aku bawa kerja ke Semarang sampai 1997, trus Supercub aku lego karena sudah mulai banyak masalah akhirnya pilihan jatuh ke Honda Star tahun lupa, and setelah menikah Honda Star aku lego dan dibuat beli Hijet 1985 mobil tua ini pernah dibawa ke Tanggulangin Surabaya dan pulang Oli harus ditambah 2 liter, karena terpesona mobil teman Datsun 120 Y akhirnya Hijet dilego dan beli Datsun tahun 1975, ternyata pelihara mesin tahun lama banyak susahnya dari sukanya, akhirnya ni mobil dijual karena dapat jatah mobil dari kantor mulai Katana, Carry, Kijang PU, terakhir turun grade jatahnya cuma shogun, saat ini pakai Daihatsu Espas buat harian, pengenya sih punya motor impian yaitu Binter Mercy bisa buat gantian ke kantor dengan Espasku, cuman pertimbangan ndak ada tempat buat parkir sementara Binter Mercynya masih jadi impian, Aku sayang ama Espasku karena dah tau sedikit banyak cara ngopeni.
Salam buat temen semua.
ternyata bnyk jg yg seneng mtr tua, kyk sayaYMH L2G thn 79 msh sy pelihara, dimiliki sjk sy msh bayi (1980), ampe bpk meninggal 2003, sampe skrg ttp dipelihara, barusan malah sy tune up ganti spareparts mesin hbs 800 rb, rencana mau modif pake CDI
Om Jaya,
Onderdil motor yang diganti apa aja tuh, mpe habis 800 ribu ?
mas, dulu bengkel disemarang yg spesial binter merzy dimana, kebetulan aku di ungaran..dan aku punya binter merzy th 80..udah tak bawa ke bengkel yg katanya juga spesial binter mercy diseputaran semarang juga..ganti inilah dan ganti itulah..abisin duit yg tdk dikit..maksud hati supaya binterku ini bisa diajak jalan2..tapi tetep aja mogok terus, mau ngrasain bgmana rasanya ngebut dengan bintermerzy tapi cuma bayangan aja yg didapat.aku pengin nyari bengkel yg betul2 binter merzy banget mas..kasian binterku cuma nongkrong aja dirumah..cari onderdil juga belum tau diseputar semarang.tksh..
motorku malah grand 94 kupake sampai sekarang.
1986 RX-K
1987 CB K-5
1990 Super Cup 700
1993 Astrea Prima sampai sekarang, baru sekali turun mesin tahun 2005.
Ganti dengan yang kenceng bro, teknologi motogp, V-ixion
HONDA ASTREA IMPRESSA BODINYA JELEK BANGAT KAYA BAJAJ, TVS, TORMEX TAHUN BESOK YANG SPORTI YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA