Posted by: Emanuel Setio Dewo on: Agustus 26, 2007
Aku kenal MLM sejak aku kuliah. Gara-gara teman SMA yang benar-benar gigih dan ulet. Hampir setiap kali ketemu berusaha menawarkan ikut MLM. Pokoknya setiap ketemu pasti ngajak ikutan presentasi atau pun seminar-seminar MLM. Benar-benar menyebalkan dan hampir setiap saat aku menghindarkan diri darinya demi mencari kedamaian hidup.
Yang lebih menyedihkan adalah karena pada akhirnya temanku itu sering datang ke rumah dengan dalih macam-macam tetapi pada akhirnya bicara tentang MLM. Terpaksa aku merelakan diri untuk tidak tidur siang atau tidak belajar pada malam hari (halah, padahal aku jarang banget belajar) gara-gara ocehan MLM.
Pernah juga akhirnya aku ikut sebuah presentasi MLM gara-gara tidak enak hati setelah dibaikin terus. Padahal ketika dibujuk-bujuk untuk ikutan aku malah celingak-celinguk mencari prospek cewek cantik untuk kujadikan pacar. Dan pulang presentasipun aku hanya membawa brosur setebal buku pelajaran kuliah dan formulir-formulir yang tidak pernah kuisi.
Setelah itu aku lebih sering bertemu dengan orang-orang MLM yang jauh lebih militan dari pada teman SMA-ku tadi. Dari yang banyak tadi, yang paling heboh adalah 2 orang militan MLM, yaitu kakakku dan seorang pendeta.
Kalau kakakku sih karena sayang padaku. Doi pernah prihatin ketika hidupku kacau balau. Dan doi memberikan solusi yang katanya “paling masuk akal” alias cespleng, yaitu: MLM. Wadaw… mendengar kata “MLM” aja sudah bikin males, apalagi dengar segala tetek-bengeknya. Kalau cuma teteknya saja sih aku mau, tetapi ini ada bengeknya.
Dari ditelponin setiap hari sampai dibayarin ikutan seminar Power, Best of the Best, dst dengan segala macam bujuk rayu, paksaan sampai diseret segala, hingga akhirnya dengan terpaksa aku ikutan seminar demi menghormati kakak yang sangat menyayangiku.
Tapi aku tetap kebal. Aku tetap tidak mau ikut menjadi militan MLM. Segala argumen kulontarkan walau pun segala argumenku selalu mental karena kakakku lebih jago dalam berdebat dan lebih pintar dari pada aku. Tetapi aku tetap pada pendirianku, yaitu: “tidak mau ikut.”
Akhirnya kakakku mengalah. Tetapi kakakku diam-diam telah mendaftarkan aku sebagai member MLM menjadi downline-nya. Dan kakakku bahkan bekerja mencarikan downline untukku. Betapa baiknya kakakku.
Tetapi aku adalah aku. Walau pun kartu keanggotaan di tangan, tetapi aku tidak pernah menjalankan MLM. Aku pun tidak mengambil bonus atau pun keuntungan dari MLM padahal aku telah memiliki downline hasil kerja keras kakakku.
Sampai akhirnya kakakku menyerah dan tidak memaksaku lagi.
Pertemuan paling akhir dengan militan MLM adalah dengan seorang pendeta sekitar setahun yang lalu. Tadinya telpon-telponan yang intens dengan beliau kukira berakhir dengan sebuah kontrak bisnis, tetapi ternyata berakhir dengan debat MLM. Wadaw… padahal aku sudah ge-er dengan sebuah tanda tanganku yang lucu yang akan segera tertera di surat kontrak bisnis. Maklum, pembicaraan kami sejak awal adalah mengenai sistem informasi di institusi tempat beliau bekerja.
Pembicaraan dengan beliau cukup alot. Maklum, beliau kan seorang pendeta yang notabene adalah ahli dalam agama dan tentu saja dalam Alkitab. Pada awalnya memang tampak mulia dengan pertanyaan-pertanyaan sosial yang mempertanyakan kesosialanku. Hihihi… padahal aku kan sok-sial, bukan seorang yang sosial. Hihihi…
Kemudian dilanjutkan dengan ayat-ayat suci Alkitab demi mendukung premisnya. Hehehe… semakin banyak beliau mengumbar ayat, semakin mudah kupatahkan. Maklum, ayat-ayat tersebut tidak dibuat untuk MLM.
Bukan Dewo namanya kalau tidak bisa ngeyel dan ngeles. Tetapi pembicaraan selama 2 jam lebih ini sudah membosankan dan harus segera diakhiri. Maklum, walau pun pendeta militan MLM sering aku skak-mat, tetapi beliau kan pejuang yang amat sangat gigih. Baginya aku adalah seekor domba tersesat yang harus segera di-MLM-kan.
Setelah dengan canggihnya ngeyel dan ngeles sampai berbusa-busa bibir sexy ini, akhirnya aku harus mengeluarkan jurus pamungkas, yaitu: “Maaf, saya ada acara penting sebentar lagi.” Padahal “acara penting” itu adalah belanja kebutuhan sehari-hari (coklat, roti, snack, dll).
Terus terang, dari pengalaman bertemu banyak militan MLM, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka itu menyebalkan. Ketemu sedikit langsung promosi. Ketemu sedikit langsung kenalan. Sok akrab dan sok ramah pula.
Memang sih, mereka diajarkan untuk seperti itu. Bahkan mereka mengadakan kuis dan lomba untuk bisa mendapatkan kenalan sebanyak mungkin dan pada akhirnya lomba untuk menjual dan merekrut downline sebanyak mungkin. Banyak yang antusias dan mempraktekkannya secara langsung. Maklum, iming-imingnya helicopter, mobil mewah, kapal mewah, dll. Pokoknya yang menang pasti kaya raya 7 turunan. Langsung sukses, langsung pensiun, langsung dermawan, langsung baik hati, langsung sehat, langsung langsing, dan langsung-langsung yang lain.
Tetapi hasil dari pelajaran MLM lewat seminar-seminar ini membuat para manusia-manusia tidak berdosa ini seolah tercuci otak dan mendadak menjadi militan MLM yang bersedia bekerja 25 jam sehari selama 8 hari seminggu selama 13 bulan setahun.
Hem… kalau sekarang sih para militan ini cukup terbantu dengan adanya teknologi yang konon bisa membuat kita bekerja kapan saja dan dimana saja, yaitu: internet. Mem-prospek menjadi hal yang sangat mudah. Tinggal buat situs MLM dan langsung nyepam setiap hari via email dan komentar di blog-blog lain.
Aku sendiri sempat tidak ngeh ketika sejumlah nama numpang-nampang komentar di blogku. Tetapi setelah sempat mengendus peperangan Mbelgedez versus Pengusaha K-Link, akhirnya aku baru tahu kalau sejumlah nama numpang-nampang itu adalah dari militan MLM yang memproklamirkan, mempromosikan, dan nyampah di internet.
Tadinya sempat tersentuh saat membaca nama-nama tersebut yang selalu membawa-bawa nama “cinta.” Tetapi aku semakin yakin bahwa nama mengandung kata “cinta” itu hanyalah jurus “ambil-hati” dari para militan MLM.
Terbukti sejak kami sepakat membongkar kedok MLM, blog MLM tersebut akhirnya menjadi tertutup dan hanya anggota MLM saja yang bisa komentar. Weks… betapa sedihnya hatiku karena komentarku dianggap sampah.
Ah, sudahlah. Toh sudah semakin banyak orang menyadari bahwa MLM itu menipu dan haram. Semoga semakin banyak anggota Militan MLM yang tersadarkan sebelum segalanya terlambat dan pada akhirnya mereka akan menyadari bahwa MLM hanyalah “ilusi” dan “haram.”
[...] militan mlm (Dewo) [...]
MLM itu cara pengusaha utk mendapatkan karyawan dgn cara gratis,. super super loyal,.. bahkan bkn saja gratis,. karywan itu mau bekerja dgn sangat loyal dgn cara BAyar,.. (jd anggota bayar kan?..)
bedanya GM sama anggota MLM itu sendiri (yg sebenernya karyawan gratisan itu).
klo GM datang ke semarang 3 hari utk urusan MLM nya,. dikasih SPJ, nginep di hotel dibiayain,. makan dibiayain. tapi nklo karyawan gratisan dr semarang ke jakarta/kantor pusat utk urusan MLMnya,. nginep bayar sendiri,. makan bayar sendiri,. bensin tanggung sendiri,.. alasannya ? : anggap aja investasi!’
pertemuan mingguan bayarr,.. bulanan bayar,.. nasional bayar,. dan semua tanggung sendiri,,… alasannya investasi!!… itu semua kamuflase perusahaan, pdhal itu semua harusnya ditanggung oleh perusahaan bukan ditanggung oleh karyawan gratisan.
Wajar lah ada yang ikutan MLM dan gak….
Kalau semua ikutan MLM ntar siapa yang jadi Pilot, petugas SPBU, tukang sapu dijalanan alias pasukan kuning, tukang parkir, tukang antar makanan delivery dan lain-lain.
Gak usah diperdebatkan… GITU AJA KOK REPOT…
Juli 18, 2008 pada 12:23 am
Jika Anda Bisa Mengetik dan Mengakses Internet,
Anda Sudah memiliki syarat cukup
untuk bisa mengalirkan uang melimpah
melalui internet.
Simak dan renungkan link berikut :
http://fhurl.com/b11897
Bila ada pertanyaan, anda bisa bertanya
pada link berikut :
http://fhurl.com/b12311