Posted by: Emanuel Setio Dewo on: Januari 19, 2008
Kemarin malam dalam perjalanan pulang dari Bandung kami berbincang-bincang ringan tentang bagaimana perjuangan hidup kami semasa remaja dan beranjak dewasa. Ada yang selalu berusaha menghemat pendapatannya atau kiriman orang tuanya. Ada yang menerima jasa foto copy kolektif dan lain-lain.
Kami berbincang-bincang masa-masa sulit kami karena kami melihat banyak anak masa kini yang tidak memiliki semangat dan kekuatan untuk survival. Memang sih, di masa sekarang apa-apa sudah lebih mudah. Tidak seperti dulu.
Dalam perbincangan itu saya juga mengisahkan bisnis pertama saya. Dan teman-teman tidak mengira kalau saya sudah memulai bisnis sejak SD (sekolah dasar). Mungkin waktu itu saya masih duduk di kelas 4 atau 5 SD. Dan bisnisnya pun keren karena bisa membuat tren baru di masa itu. Seringkali saat mengingatnya saya pun tersenyum-senyum sendiri.
Demikian kisahnya. Dulu saat saya masih kecil, kenaikan kelas adalah hal yang menyenangkan. Karena kami memulai tahun ajaran baru dengan banyak hal yang baru. Nah, dalam memulai tahun ajaran baru itu, kami dibelikan oleh orang tua kami buku tulis baru. Seringkali tidak tanggung-tanggung karena kami dibelikan 1 bendel yang isinya mungkin 20 buku (maaf, saya lupa tepatnya) untuk masing-masing anak. Jumlah ini cukup besar bagi kami pada masa itu.
Gambar di sampulnya pun keren-keren. Ibu memilihkan sampul sesuai dengan jenis kelamin kami. Kalau kakak-kakak dan adik sampulnya feminin, maka buku-buku saya sampulnya heroik. Gambar pahlawan-pahlawan dongeng seperti Ksatria Baja Hitam dan teman-temannya dengan pose yang ciamik rupanya dapat membuat teman-teman ngiler. Dan rupanya buku-buku tulis ini adalah buku model baru (saat itu).
(Oh ya, pada jaman saya, kami tidak begitu familier dengan pahlawan-pahlawan kebenaran dalam dongeng. Dulu hanya ada 1 stasiun TV, yaitu TVRI dan yang paling nge-tren saat itu adalah Unyil. Hanya orang-orang kaya yang pernah menonton film-film seperti ini karena filemnya masih import. Baru belakangan setelah stasiun TV swasta bertaburan, maka filem-filem ini marak dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia)
Rupanya bagi sebagian teman, buku-buku tulis saya ini dinilai sangat keren. Dan dengan terang-terangan mereka mengutarakan keinginannya untuk memilikinya. Eee… (emang Eee PC?) tunggu dulu. Enak saja minta-minta. Lha nanti saya nulisnya dimana?
Akhirnya setelah dirayu teman-teman, akhirnya saya mau menjualnya. Tentu saya harus memilih buku-buku yang gambar sampulnya double. Kalau gambarnya hanya satu-satunya, maka saya tidak menjualnya. Demikian pula jika gambarnya sangat bagus, maka saya menyimpannya.
Rupanya hari pertama tahun ajaran baru saya berhasil menjual beberapa. Kalau tidak salah laku 5, mungkin lebih, mungkin kurang. Harganya pun saya lupa. (Maaf, ceritanya tidak akurat) Saya sendiri tidak tahu berapa harga resmi buku tersebut saat itu. Jadi saya menjualnya dengan harga yang ngasal. Pokoknya lebih mahal dari penawaran teman-teman.
Bisnis pertama ini cukup menggembirakan hati. Rupanya sukses dan membuat tren baru, yaitu buku-buku bergambar pahlawan kebenaran. Tapi jadi khawatir dan takut juga. Buku-buku tulis itu kan modal saya belajar. Lha kok malah dijual? Hehehe… untung orang tua dan saudara-saudara tidak ada yang tahu. Kalau pun mereka tahu sekarang karena membaca tulisan ini, paling tidak mereka sudah terlambat kalau mau marah. Hehehehe…
Jangan khawatir, saya bukan tipe yang boros kok (tapi itu dulu sewaktu saya kecil. Kalau sekarang sih boros. Hehehe…). Uang hasil penjualan saya tabung dan bertahan beberapa lama sampai akhirnya saya pakai entah untuk membeli apa.
Lalu bagaimana bisnisnya? Oh ya, kita lanjut cerita bisnisnya.
Rupanya hari kedua tahun ajaran baru tren buku tulis bergambar pahlawan menjadi booming. Hampir setiap murid memilikinya. Ada yang mengupayakannya sendiri dan ada pula yang membeli dariku. Hehehe… Akhirnya saya sendiri yang kelimpungan karena stok buku tulis saya menipis.
Bisnis pertama saya ini memang aneh. Selain menciptakan tren, juga langsung diserap oleh pasar (teman-teman). Terima kasih pada ibu yang sangat mengasihi dan menyayangi kami dan sangat memperhatikan kebutuhan kami. Juga karena ibu mengikuti tren. Hehehe…
Maaf jika modal belajar yang seharusnya dipergunakan malah saya jual. Maklum, saya kan bisnisman yang sensitif terhadap keinginan dan kebutuhan pasar. Hehehe…
Lho harusnya ini dibikin sekuel boz jadi ada bisnis keduaku, bisnis ketigaku dst **kayak harri potter nyang haram itoo
**
**kabuuuuuuuuuuuuuuuurrrr takut ada nyang nimpuk sendal jepit**
Padahal kalau dari kecil mengaku pada ibu, mungkin malah didukung…dan ibu membelikan lagi buku yang banyak.
@ Dear Tyok (#3),
Hehehe… boleh juga tuh idenya. Soalnya aku memang sudah beberapa kali mencoba berbisnis.
~~~
@ Dear Edratna (#4),
Hehehe… mungkin bukan didukung, tetapi dimarahin. Kan itu untuk sekolah.
Salam.
Januari 19, 2008 pada 3:40 am
Hebat, ketika masih kecil udah mengenal bisnis.
Terus bisnis sekarang apa Mas?
Ajak-ajak dong!