Setiap Zaman Ada Generasinya
Seorang teman berkata:
Setiap zaman ada generasinya.
Setiap generasi ada zamannya.
Hem… sebuah pernyataan yang keren walau pun bisa saja mengundang banyak perdebatan. Tetapi saya sendiri tersenyum simpul (sampai ruwet [Jawa: bundhet]) karena pernyataan tersebut bertujuan untuk membela diri. Atau bahasa kerennya untuk mencari excuse.
Dia membela diri karena merasa ketinggalan zaman di era modern ini. Dia merasa rendah diri menyadari bahwa dia tidak menguasai teknologi modern yang kini bahkan telah menjadi barang konsumer. Dia bahkan bilang kalau anaknya lebih canggih dari pada dia. Dan seringkali beliau malah bertanya kepada anaknya.
Teman saya ini usianya masih termasuk muda. Baru kepala 4. Tapi seolah-olah sudah seperti dinosaurus masuk mesin waktu dan kesasar di abad Millenium ini.
Ada suatu hal yang kontras dengan teman saya yang lain, sebut saja tokoh ini sebagai Meneer. Usianya hampir 60 dan sebentar lagi akan mengurus KTP Seumur Hidup. Tetapi saya sangat salut ketika Meneer memutuskan kursus TIK di universitas ternama dan kini sudah hampir selesai tahun pertamanya. Bahkan Meneer berencana akan mengambil S1 di jurusan yang sama.
Alasan Meneer mengambil langkah ini adalah karena beliau sadar bahwa beliau hidup di era modern. Dan beliau sadar bahwa semua teknologi itu bertujuan untuk membantu kehidupannya. Beliau ingin meningkatkan kualitas hidupnya dengan memanfaatkan segenap teknologi yang bisa dikuasai.
Jadi, temanku, janganlah zaman atau generasi menjadi bahan pembelaan diri. Teruskan proses belajarmu. Jangan ketinggalan dengan anakmu. No excuse anymore. Teknologi diciptakan untuk kita. Pergunakanlah itu dengan bijak. Manfaatkan demi kebaikan dan peningkatan hidup.
Setiap jaman pasti ada saja orang yang jauh meninggalkan jamannya. Sebut saja orang-orang ini sebagai: visioner, dreamer, pioneer, great leader, dll.
Nah, kalau ini sih kutipan ngarang sendiri.
Salam.
Akh… Betool sekalee dikau kawan…
Tapi ndak semua hal harus sayah ikutin kan….???
Sayah kan ndak isa jadi Superman nyang bisa ngapain ajah.
Kalok sayah melihat, mana urgensinya.
Bisa jadi pak Meneer ngambil kursus TIK memang pak meneer membutuhkeunnya.
Lalu apakah dia mau untuk kursus montir nyang bukan obsesinya ??? Soal mesin, bisa jadi pak Meneer ini cukup untuk ngerti; busi, kabel busi, karburator, radiator, regulator…. enough.
Kalok sayah pribadi, ngikutin perkembangan teknologinya ajah rasanya udah cukup, ndak perlu sampe kedalem tulang sumsumnya, karena memang ituh bukan bidang sayah.
Tapi kalok ada kursus “Cara Menangani Jamaah Haji Yang Memuaskan Di Arab Saudi”, sayah pasti ikut tuh….
mbelgedez
Maret 5, 2008 at 2:27 am
Ah, nambah lagee…
Begenee boss….
Sayah perhatiin, anak-anak (kecil-remaja) jaman sekarang memang terlahir dijaman elektronik.
Mereka bisa begitu “tersihir”, sehingga betah berjam-jam duduk didepan kompie.
Sayah ngasih tau dikit ajah tentang suwatu aplikasi, dia “error and trial” sendiri, bisa melakukannya. Padahal itu aplikasi kan make boso Linggis kan ???
Termasuk dia Browsing sendiri melanglang dunia Maya….
Mereka begetoo gape ngoprek menu ponsel, nyang sayah sendiri udah males.
Mungkin memang orientasinya yang beda kalee yaa…..
mbelgedez
Maret 5, 2008 at 2:38 am
Blog walking… mampir yach ke blogku. Btw, kalo jaman berubah dan semua mengikuti perubahan, apa dong yang seharusnya tidak berubah?
brillie
Maret 5, 2008 at 5:40 am
Banyak orang di sekitarku yang masih begitu. Yang lebih parah gak ada niatan untuk belajar! Selama masih ada yang bantuin yo wis, minta tolong aja beres. Setidaknya klo mendukung pekerjaannya kan harus tau to?
chocovanilla
Maret 5, 2008 at 6:16 am
@ Dear Bro Mbelgedez (#1),
Iya betul, Bro.
Memang bisa tergantung dengan obsesi atau minat & bakat.
Wah, bisnis jemaah haji-nya beneran jadi?
~~~
@ Dear Bro Mbel (#2),
Bukankah Bro Mbel sudah sering melanglang ke luar negeri?
Berarti fasih boso Linggis dong?
Hehehe…
Tapi bisa saja orientasinya memang berbeda.
~~~
@ Dear Brillie (#3),
Yang tidak berubah adalah: perubahan itu sendiri. Hehehe…
Aku akan mampir ke blog Anda.
~~~
@ Dear Mbak Chocovanilla (#4),
Iya betul. Kalau bisa kita harus jadi agent perubahan.
Tapi emang kesel banget sih sama orang-orang yg males belajar & berubah.
Aku banyak menghadapi orang-orang seperti itu.
Salam.
Emanuel Setio Dewo
Maret 5, 2008 at 10:34 am
wah saya termasuk yang males belajar lagi. make apa yang ada, nguprek nguprek yang sudah ada. hihi, padahal otak khan harus di jaga supaya tetap bekerja ya…(tapi menghilangkan kemalasan dalam belajar itu sendiri juga perjuangan—asli seng iki ngelese wong males =P)
mei
Maret 6, 2008 at 1:49 am
Untunglah dalam hal ini saya boleh bangga dgn diriku. Ibaratnya saya adalah semut. Ketiyep..ketiyep tapi sampe juga ditempat tujuan.
Mungkin karena saya adalh type: visioner en dreamer?
Thanks utk tulisan yg mencerahkan.
Citra dewi
Maret 6, 2008 at 9:22 am