Masih Mencari Supriyadi?
Saat tugas di Bandung minggu kemarin, kami sempat menonton talk show di salah satu stasiun TV swasta yang mengundang tokoh tamu yang luar biasa, yaitu Eyang Andaryoko Wisnuprabu (88 tahun). Mengapa luar biasa? Karena Eyang Andaryoko ini mengaku bernama asli Supriyadi, Sang Shodancho Supriyadi yang memimpin pemberontakan PETA di Blitar.
Sayangnya acara talk show tidak berlangsung dengan baik. Kedua pembawa acara asal mempertanyakan benar-tidaknya Eyang Andaryoko adalah Supriyadi. Sangat kentara bahwa kedua pembawa acara tidak membaca buku yang dituliskan oleh Baskoro T. Wardaya, SJ yang seharusnya menjadi wacana utama untuk acara talk show tersebut.
Terus terang saya sangat terusik dengan talk show tersebut dan bertekad untuk mencari buku tersebut. Dan akhirnya saya pun mendapatkannya di toko buku Gramedia di Java Mall Semarang saat liburan di Semarang. Begitu sampai rumah langsung membaca buku yang sangat menarik ini. Seperti singkatan Jawa: linak-lijo, lali anak lali bojo (lupa anak lupa istri), saya membaca buku ini sampai tuntas-tas-tas-tasss sampai-sampai melupakan anak dan istri. Hehehe…
Membaca buku ini seolah membaca sebuah buku sejarah baru. Maklum, cerita sejarah Pahlawan Nasional Supriyadi ternyata berbeda dengan penuturan Eyang Andaryoko. Jika buku sejarah nasional menuliskan dua nama Supriyadi yang seolah dua orang yang berbeda, maka dalam buku ini dituturkan bahwa kedua Supriyadi tersebut adalah orang yang sama.
Sebelumnya kematian Shodancho Supriyadi adalah suatu misteri. Bahkan saat akan dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1975, kuburannya masih misteri. Pembongkaran situs kuburnya berakhir nihil. Kerangka di lokasi terdekatnya pun akhirnya teridentifikasi bukan kerangka Supriyadi. Benarkah Supriyadi telah mati?
Nama Supriyadi kemudian muncul lagi di kancah pemerintahan awal RI. Nama ini dekat dengan Bung Karno, bahkan dinobatkan sebagai Menteri Keamanan Rakyat pada Kabinet Pertama dan juga Panglima Tertinggi TKR. Walau pun secara personal tokoh Supriyadi di jabatan-jabatan tersebut nyaris absen di setiap kegiatan resmi hingga pada akhirnya digantikan oleh tokoh-tokoh lain.
Tapi ternyata kedua Supriyadi tersebut adalah orang yang sama.
Benar-benar menarik kisah hidup dari seorang Shodancho Supriyadi ini. Beliau benar-benar nyata dan ada. Dan bahkan masih hidup sampai sekarang.
Dan ketika buku ini diterbitkan, misi yang diberikan oleh Bung Karno kepada Supriyadi pun tercapai, yaitu untuk meluruskan sejarah dan memberitakan kebenaran sejarah yang sebenar-benarnya. Dan ketika itu tercapai, maka Eyang Andaryoko pun mengaku rela dipundhut (diambil) oleh Tuhan.
Opini Pribadi
(** Hehehe… saya ini sok tahu bener, pakai opini-opinian pribadi segala. Tapi biarlah, saya kan memang sok tahu. Hehehe… **)
Benar-tidaknya kisah cerita dan pengakuan Eyang Andaryoko, saya melihat ada sebuah kisah sejarah yang luar biasa di sana. Sebuah kisah alternatif dari penulisan sejarah oleh pihak “pemenang”, seperti yang dituliskan di buku tersebut. Saya setuju.
Kalau pun itu dianggap meragukan, saya lebih melihatnya sebagai satu-kesatuan cerita yang runut yang dikisahkan oleh seorang yang brilian. Saya setuju ketika Eyang Andaryoko mengalem (memuji) dirinya sendiri sebagai pemuda yang pintar saat itu. Dan rasanya itu tidak perlu diragukan. Daya rekam peristiwanya sangat baik ditambah pengolahan informasi dari segala sumber yang mendukungnya sehingga membuat alur cerita yang lengkap dengan beberapa sudut pandang yang berbeda. Jika bukan seorang yang sangat cerdas, rasanya tidak mungkin bisa sedemikian detail.
Saat membaca buku ini, kita seperti disuguhkan sebuah buku sejarah yang dituliskan oleh tim sejarahwan yang telah melakukan penelitian bertahun-tahun. Tapi kisah di buku ini bersumber dari seorang nara sumber saja, yang bahkan di usianya yang ke-88 pun masih memiliki daya ingat yang luar biasa.
Seandainya kisah ini dibuat film, alangkah hebatnya. Alangkah heroiknya. Tokoh Supriyadi ternyata tidak hanya seorang Shodancho PETA, tetapi juga sangat berpengaruh dan banyak terlibat di kelahiran Republik Indonesia.
Ah, pokoknya harus baca buku ini sendiri… Beli deh, harganya cuma Rp 50.000 kok.


@ Dear Romo Baskara,
Setuju banget. Semoga buku tersebut dapat menjadi berkat bagi masyarakat.
Salam.
Emanuel Setio Dewo
September 19, 2008 at 2:02 am
http://cahdjengkol.multiply.com/journal/item/79/MENCARI_SUPRIYADI_SANG_MERAH_PUTIH_14_FEBRUARI_1945
shodanco blitar
Februari 14, 2009 at 3:29 am
Indonesia Merdeka 14 Februari 1945!!
shodanco blitar
Februari 14, 2009 at 3:31 am