Emanuel Setio Dewo

Ingin menjadi garam dunia

Yang Ringan Di National Innovation Day 2008

with 8 comments

Hari ini daku mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar di event National Innovation Day 2008 yang digelar oleh Microsoft. Selain seminar dari beberapa pembicara, event ini sekaligus untuk mengumumkan beberapa ISV (independent software vendor) binaan yang memperoleh penghargaan bergengsi dari Microsoft.

talkshow_nid_2008

Namun kali ini daku bukan hendak meliput acara ini, tetapi daku hendak menceritakan yang ringan-ringan saja seputar keikutsertaanku di event ini. Tapi mungkin cerita ini tidak penting, jadi bagi yang ingin mencari topik yang berat seputar acara ini pasti akan kecele dan kecewa. Tapi jika memang hendak membaca yang ringan-ringan, gokil bin dekil, maka posting ini memang untuk Anda. Terutama bagi yang sudah lama tidak senyum, silakan mengikuti cerita-cerita ini. Sebelumnya, silakan ambil suara dulu: “Wakakaka…”

Sandal Jepit

Sandal jepit memang sudah sangat akrab dengan kedua kakiku. Mereka selalu menemaniku kemana saja, bahkan ketika sedang bekerja di kantor. Memang aku seharusnya bersepatu di kantor, tapi daku lebih memilih memakai sandal. Barulah ketika ada tamu atau harus ke klien, barulah daku menggunakan sepatu.

Kebiasaan jelek? Sebenarnya tidak juga sih. Kalau melihat struktur kakiku yang melebar, atau njeber dalam bahasa Jawa, maka yang perlu disalahkan memang kakiku. Nyaris sulit mencari sepatu yang nyaman membungkus kakiku. Kalau pun nekad menggunakan sepatu, maka ada 2 hal yang mungkin terjadi, yaitu kakiku yang lecet-lecet, atau sepatuku yang robek dan jebol.

Hehehe… dan ternyata yang sering terjadi adalah sepatuku yang jebol. Paling mending adalah kalau bentuk sepatunya yang jadi menonjol di ujungnya karena menyesuaikan dengan lebarnya ruas-ruas jari kakiku.

Konsumsi sepatu jadi lebih boros. Bukan itu sih yang menjadi keberatanku, tetapi terutama karena daku harus tersiksa menggunakan sepatu. Pakai sepatu membuat kakiku sakit dan jalan kaki menjadi ajang penyiksaan. Alhasil daku jadi lebih sering menggunakan sandal jepit plus kaos kaki supaya jalan kaki jadi nyaman. Selain itu kaki jadi terasa semriwing bin isis. Kaki jadi bebas bau. Aih… siapa bilang? Buktinya kaki tetap bau tuh!

Nah, itulah sedikit cerita tentang kaki, sepatu dan sandal jepitku. Lalu apa hubungannya dengan NID 2008? Lha ini yang rada ribet bin memalukan untuk diceritakan. Hihihi…

Jadi begini, kemarin pas mau pulang dari kantor, daku sudah mempersiapkan diri membawa apa-apa saja untuk acara NID keesokan harinya. Di antaranya adalah jas casual dan si sepatu itu. Saat mau pulang daku sudah mau mengganti sandal jepit yang kupakai dengan sepatu, tapi kupikir kok sengsara banget. Mendingan pakai sandal dulu dan sepatu kubawa saja di mobil. Jadi besok saat di acara saja baru kuganti kostum kaki dari sandal jepit ke sepatu.

Namun ceritanya jadi lain dengan rencana. Pas mau pulang tiba-tiba sopir kantor, sebut saja si D datang dan nebeng pulang. Hayah… asyik bener pulang disopirin.

Lantas di jalan kami koordinasi karena besok mobil akan dipakai ke Bandung oleh tim dan disopirin si D. Lalu aku bilang kalau mobil dibawa pulang ke rumah saja sama D, jadi besok paginya D tidak usah ambil mobil. Toh besok aku diantar-jemput oleh sopir yang lain.

Koordinasi beres dan semua happy. Sampai kamar baru ingat kalau sepatu lupa aku turunkan dari mobil. Hehehe… padahal itu satu-satunya sepatu yang masih layak buat urusan resmi. Memang sih sudah buluk, tapi itu sudah yang terbaik dari pada yang lain. Hiks…

Sebenarnya masih ada 1 lagi tapi setelah kulihat kok ya amat-sangat buluk, bentuknya sudah belepotan, plus sol sepatunya yang robek. Hem… menyedihkan memang.

Alhasil daku pagi ini datang ke NID 2008 dengan sandal jepit plus kaos kaki plus jas casual. Eh, tapi jangan salah loh, walau pun jejuluknya sandal jepit, tapi ini bukan sandal jepit karet warna-warni yang biasa dipakai ke pasar itu. Ini lebih bagus dan modis, walau pun jejuluknya tetap saja sandal jepit.

Malu dong?

Ah, enggak kok. Daku kan masuk dalam barisan pasukan berani malu yang bermuka tebal. Jadi cuek saja ikutan NID 2008 ini. Siapa tahu malah jadi tren mode tahun 2009: “paduan busana santai mengikuti seminar.”

Semoga media massa tidak menampangkan diriku yang bersandal jepit ini ya? Maklum, acara ini diliput beberapa media. Hehehe… pantas saja para peserta lain pakaiannya resmi-resmi.

Pindah Kamar Tidur

Kalau boleh dinilai dari gelar para pembicaranya, seharusnya acara seminar ini sangat menarik. Namun kenapa tidak begitu di benakku. Di acara seminar tersebut daku lebih banyak tidurnya dari pada meleknya.

Mohon maaf karena daku sedang terserang flu yang disertai batuk. Ini gara-gara meeting dengan tim Bandung yang kebanyakan terserang flu. Daku yang tadinya sehat wal andong, eh, wal afiat jadi ketularan.

Sebelum berangkat ke acara daku minum obat batuk plus jamu pengusir angin. Kombinasi yang sempurna yang bisa membikin seorang workaholic semacam diriku jadi seperti kebo. Bawaannya ngantuk dan pengennya tidur terus. Untung di acara tersebut tidak ada bantal dan guling. Kalau ada, pasti daku sudah ngelekar di ruang seminar yang sejuk itu. Hehehe…

Okay, sebenarnya ada beberapa pembicara yang bisa membuatku tertarik dan berupaya melek, tapi cuma 3 pembicara. Itu pun karena mata diganjal sandal jepit. Satu tentang proses pengadaan pemerintah RI, dan yang dua tentang teknologi Microsoft, yaitu tentang WPF (Windows Presentation Foundation) dan Silverlight. Sedangkan pembicara lain tidak mendapatkan perhatian dari diriku. Maklum, daku sedang tertidur.

Yang paling parah adalah ketika seorang profesor yang juga menjabat sebagai dekan dari sebuah perguruan tinggi yang membawakan topik HKI bin Haki (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Ya-ya-ya, dia seorang profesor. Seperti yang sudah kukatakan di atas, jika acara ini dinilai dari gelar pembicaranya, seharusnya acara ini sangat menarik. Tetapi kenyataannya jauh dari impian.

Seminar ini jadi mirip kuliah. Itu pun bukan kuliah modern yang kubayangkan. Ini kuliah jadul yang dosennya nyaris tidak ada interaksi dengan mahasiswanya. Dosennya tidak pernah sekalipun memandang mahasiswanya. Malah terkesan ngomong sendiri. Mungkin beliau sedang menguliahi dirinya sendiri.

Yang terparah adalah karena suaranya pelan dan tidak jelas. Lebih mirip orang kumur-kumur. Daku malah lebih jelas mendengarkan peserta di belakang yang rame bikin becandaan tentang profesor ini. Halah, daku jadi senyum-senyum sendiri mendengar gurauan peserta di belakangku ini.

Ah, tapi demi menghormati profesor, daku lebih memilih bersikap hormat dan santun. Dari pada ngomel-ngomel atau ngeledekin alias becanda, lebih baik daku tidur. Ini adalah sikap tersopan yang dapat aku lakukan.

Saat terbangun daku mendapati rekan di sebelah duduknya sudah agak bergeser menjauh. Rupanya daku pas tertidur kayaknya kebanyakan miring ke arahnya. Pantas saja beberapa cewek berulang kali menoleh ke arahku dan cekikikan. Mungkin mereka tadi melihat daku pas ketiduran dan duduknya miring-miring ga karuan. Dan mereka berharap mendapat pemandangan yang lucu lagi. Atau sebenarnya mereka naksir diriku ya? Hayah… ge-er banget sih.

Perbaikan Gizi

Yang paling asyik menurutku di acara ini adalah makan siangnya. Benar-benar mak-nyos, seperti kata Pak Bondan. Jadi benar-benar perbaikan gizi. Sebenarnya makan sehari-hari sudah bergizi kok. Tapi yang ini gizi-nya beda. Ada beberapa makanan yang untuk diucapkan lidah Jawa nan medok ini bisa bikin lidah keseleo. Hayah… lupakan namanya, rasakan enaknya saja.

Seperti biasa, daku mengambil makan secukupnya. Maksudnya cukup untuk makan 2 hari. Wakakaka… Habis itu menjelajah kue tart yang tersedia. Kebetulan ada kue tart coklat yang kusuka.

Rupanya gizi yang masuk ke tubuhku ini berlebihan. Setengah hari berikutnya bukannya jadi segar sehabis makan, malahan membuat ngantuk semakin menjadi-jadi. Tidak kuat menahan mata ini untuk melek, padahal sudah diganjel sandal jepit juga.

Seperti biasa cewek-cewek tadi menengok-nengok lagi ke arahku sambil cekikikan. Rupanya mereka sempat memergoki diriku yang beberapa kali kaget terbangun karena sms atau telpon yang masuk ke ponselku. Kini peserta di sebelahku malah sudah bergeser satu kursi dan menyediakan 1 kursi di antara kami. Hem… benar-benar penuh pengertian. Daku jadi bisa semakin menjadi-jadi tidurnya. Sekali lagi untung tidak ada bantal dan guling di sini. Kalau ada, tentu diriku sudah mapan enak sekali di kursi yang kosong ini. Hehehe…

Potong Rambut

Karena semakin tidak karuan, baik kondisiku mau pun acaranya, maka daku minta dijemput lebih awal. Syukurlah jemputan tidak lama kemudian tiba dan daku benar-benar merasa lega dari siksaan kantuk ini. Sebenarnya ngantuk itu nikmat kalau langsung dibawa tidur, tapi kalau keadaan tidak memungkinkan, jadinya malah menyiksa ya?

Sesampai di kos daku menyempatkan diri potong rambut. Maklum, rambut sudah agak panjang. Sebenarnya lebih keren kalau agak panjangan sih. Tapi daku saja yang ga betah, panas soalnya. Apalagi daku mudah keringetan, rasanya jadi tebal bin kendal. Eh, ngendal, bukan kota Kendal dekat Semarang itu loh.

Pas giliranku potong, siksaan berikutnya datang. Perutku tiba-tiba mules dan jadi kebelet. Hayah… masak mau kabur pulang dulu untuk buang-buang isi perut padahal rambut masih botak sebelah? Kontan saja daku menahan rasa itu. Duduk jadi ga bener. Miring sana, miring sini. Keringat dingin juga.

Karena kembung, daku jadi kebelet kentut juga. Wah, kalau nekad dikeluarin bisa-bisa besok masuk media massa gara-gara ada beberapa orang pingsan keracunan gas beracun. Yo wis, daku tahan dan tabah-tabahin saja.

Masalahnya si tukang cukurnya kok ya lelet banget. Kalau biasanya potong rambut cuma beberapa menit, ini jadi 30 menit. Sok rapi dan hati-hati banget sih? Padahal daku sedang tersiksa menahan-nahan sakit perut.

Syukurlah akhirnya selesai juga. Sesampai di kos langsung nongkrong. Betul-betul lega.

Habis itu mandi dan langsung tidur. “Grook-grook-grook…” suaraku sedang ngorok.

Written by Emanuel Setio Dewo

Desember 3, 2008 pada 6:39 pm

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Itu cewek-cewek pada cekikikan soale ngeliat ada yang mengalir di sudut-sudut bibir,nek miring kiri ngalir ke kiri nek miring kanan ya ngalir ke kanan.

    Sebelah pindah kursi pasti karna dah klebus wakaka….

    hoeks, cuh…cuh…

    chocovanilla

    Desember 4, 2008 at 9:31 am

  2. HWaaaa…..

    Edun suredun….!!! :lol:

    Skrinsut,… Skrinsut….

    Ndak ada Skrinsut, berarti howeks….!!!

    Mbelgedez™

    Desember 4, 2008 at 1:44 pm

  3. @ Dear Mbak Choco,

    Hehehe… jangan-jangan iya ya? Untungnya sebelahku tabah.

    ~~~

    @ Dear Bro Mbel,

    Sudah ku-upload Bos. Tapi bukan foto diriku. Soalnya malu bersandal jepit. Hehehe…

    *Kabur lagi*

    Emanuel Setio Dewo

    Desember 4, 2008 at 5:35 pm

  4. nah ini baru bisa koment…:D
    apa kabar mas..?
    semoga sedang tidak ngantuk bin ngorok hehhehe..
    ceritanya lucu juga terutama yg waktu seminar gak kebayang ya orang duduk disebelahnya tuh pasti bete banget jadi sandaran hati mas dewo …hihihi..

    salam and GBU

    mama icel

    Desember 5, 2008 at 11:57 pm

  5. @ Dear Mama Icel,

    Hallo Mama Icel, kabarku baik & sehat sekarang. Bagaimana dengan kabar Mama Icel sekeluarga? Semoga sehat & baik selalu.

    Hihihi… iya, pasti tuh sebelah bete banget. Secara aku juga kalau sebelahku begitu pasti juga bete banget. Hehehe…

    Tuhan memberkati.

    Emanuel Setio Dewo

    Desember 7, 2008 at 3:42 am

  6. Wah ini ceritanya drie in one paket. sayang ngga ada fotona yah, klo ada asyik jg melihat Mas Dewo teriler2 dan berpakaian officieel dgn sandal jepit dgn kaus kaki. Lho itu kan gayanya Professor !!!!!!!!!!.

    Citra Dewi

    Desember 8, 2008 at 3:34 pm

  7. @ Dear Mbak Citra (#6),

    Hihihi… daku jadi tersandung tersanjung disebut “profesor” sama Mbak Citra. Bisa saja nih Mbak Citra. *tersipu-sipu*

    Salam.

    Emanuel Setio Dewo

    Desember 10, 2008 at 12:16 pm

  8. [...] Yang Ringan di National Innoation Day 2008 lb_url = ‘http://yainal.web.id/entrepreneurship/driving-innovation-through-partnership-a-note-from-the-national-innovation-day-2008/’; lb_title = ‘Driving Innovation Through Partnership, A Note from The National Innovation Day 2008′; lb_topic = ”; lb_skin = ”; lb_bgcolor = ‘#000′; lb_border = ‘1′; lb_bordercolor = ‘#cccccc’; lb_width = ‘45′; lb_height = ‘18′; Powered by Lintas Berita [...]


Tinggalkan Balasan