Posted by: Emanuel Setio Dewo on: November 12, 2009
“Eh, di sini tidak ada kusir yang sedang debat.”
Begitu kurang lebih kataku saat seseorang mengomentari diskusi kami. Kenyataannya memang kami tidak sedang debat kusir. Menurutku, debat kusir itu adalah jika ada 2 pihak yang memiliki pendapat berbeda (bisa jadi bertolak belakang) yang terlibat dalam suatu diskusi tetapi dibiarkan berlarut-larut dan kemudian memanas.
Mungkin istilah ini tercipta lantaran dulu seringkali para kusir berdebat hingga berakhir panas. Daku membayangkan “akhir yang panas” ini misalnya berantem, bertengkar atau jadi saling bermusuhan. Maklum, mungkin para kusir ini diidentikkan dengan dunia yang keras.
Namun yang terjadi di antara kami tidaklah seperti itu. Karena ada seseorang yang mempunyai pendapat dan kemudian daku hadir untuk mempertanyakannya sampai ke tingkat yang detail. Yaaa, mungkin ada salah satu pihak yang panas, tapi tetap saja situasi terkendali. Minimal di diriku. Hehehe…
November 12, 2009 pada 5:00 am
@ Mas Emanuel yg baik
Bagi kita yg sudah diterangin dgn kebenaran maka tidak pernah ada kata perdebatan. Karena sia-sialah memperkatakan kebenaran kpd orang yg sudah pernah hatinya diterangin.
Yang menjadi masalah adalah menghadapin tuduhan dan fitnahan orang yg menganggap dirinya selevel dan tidak beda dgn orang yg nyata-nyata telah mengetahui hal-hal yg sebenar-benarnya.
Bagi orang-orang yg seperti ini maka tepatlah nubuatan Kristus itu ” Sekalipun mereka melihat tetapi mereka tidak mengerti dan sekalipun mereka mendengar tetapi mereka tidak memahami ”
Seperti ada orang di blog anda ini yg pengin berkenalan dan bersahabat dgn segala macam orang dgn tdk mempersoalkan agamanya dan menganggap agama adalah urusan Tuhan. Tetapi sangat risih dan marah dgn penyampaian kebenaran itu dan akhirnya melahirkan perdebatan kusir.
Salam kasih Kristus utk mas dan keluarga
November 12, 2009 pada 5:39 am
@Pak Robinson Agus Sihotang,
Benar sekali Pak.
Salam juga untuk Bapak & keluarga.