Harddisk External 2 TB

Tidak terasa harddisk Toshiba Canvio Art saya yang 1 TB sudah penuh. Apalagi semenjak pakai DSLR dan GoPro yang punya ukuran foto dan video luar biasa. Kalau ada acara seharian bisa menghabis beberapa giga byte foto/video. Itu pun yang disimpan yang bagus-bagus saja, sedangkan yang jelek atau saya nilai tidak ada manfaatnya langsung saya hapus. Dan kebanyakan foto dari ponsel tidak saya backup karena langsung saya upload di instagram atau facebook atau google photo.

Mau tidak mau saya harus beli harddisk external baru. Sebenarnya ngiler pengen beli NAS, tapi terpaksa saya urungkan karena belum lama ini saya boros banget (baca: Penantian Panjang Yamaha Silent Guitar), hehehe… Jadi sementara beli yang murah dulu, yaitu harddisk external.

Semalaman cari harddisk external 2 TB yang termurah di beberapa toko online, hingga akhirnya ketemu harddisk external toshiba Canvio Basic 2 TB. Dibandingkan dengan Seagate, Western Digital, dll, harga Toshiba Canvio Basic ini paling murah. Jadi saya beli Canvio saja. Harddisk external saya sebelumnya juga Toshiba (Canvio Art) dan sudah berumur tua tapi tidak ada masalah. Jadi saya cukup yakin dengan Toshiba Canvio ini.

2TB untuk 2018. Semoga cukup 😊 #harddisk #backup

A post shared by Emanuel Setio Dewo (@setiodewo) on

Malam ini sambil menulis blog saya memindahkan 1 TB dari harddisk lama ke yang baru. Dan ternyata lama banget, hehehe…

Kok dipindah? Ya karena harddisk lama saya mau format ulang untuk menghilangkan partisi yang sebelumnya pernah saya pakai untuk backup MacBook Air. Dan mungkin akan saya pakai untuk membuat NAS dengan Raspberry Pi. Dulu pernah sukses buat sih, tapi ternyata lambat dan tidak stabil. Mungkin perlu buat NAS dengan laptop lama yang punya prosesor lebih bagus dari pada Raspberry Pi?

Iklan

Matic ke Manual

Biasanya saya kagok saat berganti mobil dari manual ke matic. Selalu mencari pedal kopling dan yang terinjak pedal rem. Jadilah ngerem mendadak.

Tapi kemarin terbalik. Liburan panjang Natal dan Tahun Baru saya habiskan di Semarang yang berarti saya banyak menggunakan mobil matic. Dan ketika saya balik ke Tangerang, saya rada bingung ketika tidak bisa memasukkan persneling. Tuas persneling sudah saya tarik juga tapi tidak bisa masuk giginya. Beberapa detik kemudian saya teringat kalau saya belum menginjak pedal kopling. Dengan sedikit tersenyum saya pun menginjak kopling dan memindah posisi persneling.

Tapi harus diakui, mengendarai mobil matic memang lebih nyaman dan tidak capek. Kelemahannya adalah cenderung lebih boros bahan bakarnya.

Membawa Gitar Pendiam Naik Pesawat

Setelah liburan Natal dan Tahun Baru yang panjang, akhirnya saya harus kembali ke habitat saya, yaitu di Tangerang. Yang rada ribet adalah karena saya membawa tentengan baru, yaitu Silent Guitar SLG200S kado ulang tahun. Ya sebenarnya gitar ini kado ulang tahun buat saya setelah mengidamkannya bertahun-tahun, hehehe… Saya yang ogah ribet terpaksa harus mengurangi 1 tentengan, yaitu tas kamera. Kamera dan Go Pro saya masukkan ransel dan tasnya saya tinggal. Hiks…

Terus terang ini pertama kalinya saya harus membawa gitar naik pesawat. Dulu pernah beli gitar di Semarang juga tapi membawanya ke Tangerang pakai mobil (baca: Gitar Blank). Jadi saya pun googling cari informasi tentang membawa gitar di pesawat. Dan ternyata memang tergantung maskapainya. Ada yang boleh dibawa ke kabin, ada yang harus masuk bagasi dan ada yang harus beli seat tambahan supaya aman. Jadi didudukkan di seat sendiri. Kalau masuk bagasi mending pakai hardcase. Sayangnya Si Gitar Pendiam ini tidak dibekali hardcase. Dari paket pembelian cuma dibekali softcase, itu pun setengah body, hehehe…

Jadi saya pun rada ragu juga mau bawa Si Gitar Pendiam ini. Saat mengantarkan saya ke bandara, saya berpesan kepada Sisi untuk menunggu saya check-in dan nanti akan saya telfon apakah saya berhasil membawa gitar ke kabin atau tidak. Kalau tidak, maka sebaiknya gitar saya titipkan Sisi untuk dibawa pulang ke rumah.

Read More »

Penantian Panjang Yamaha Silent Guitar

Kira-kira di sekitar tahun 2010 saya mengidamkan sebuah gitar keren keluaran Yamaha, yaitu Silent Guitar SLG100. Selain “silent”, yang menurut saya lebih keren adalah bentuknya yang unik. Walau pun masuk kategori gitar akustik, tapi dia tidak punya ruang akustik selayaknya gitar akustik biasa. Coba saja lihat foto-foto yang saya sertakan, pasti Anda akan sepakat dengan saya kalau bentuknya amat-sangat unik.

Hanya saja, harganya yang mahal itu yang menahan saya untuk membelinya. Bagi saya harganya terlalu mahal, sedangkan saya main gitar hanya sekedar hobi, bukan profesi.

Bertahun-tahun kemudian berlalu dan seri SLG 110 dan SLG200 keluar. Saya masih tetap mengidamkannya dan berharap suatu saat saya dapat memiliknya.

Hingga akhirnya di penghujung 2017 ini saya merasa harus nekat, kapan lagi ya bisa punya gitar keren kalau tidak ditekati? Kebetulan Sisi dan Kirana setuju kalau saya membelinya.

Saya pun mencari toko alat musik di Semarang yang menjual SLG. Cuma toko Halmahera Musik yang punya stok SLG200S, seri tertinggi dari Silent Guitar dari Yamaha. Saya sengaja mencari seri “S” yang berarti menggunakan steel string. Saya memang kurang cocok dengan seri “N” yang menggunakan string nylon.

Yang membuat lebih bahagia adalah karena setelah 2 hari negosiasi akhirnya saya mendapat diskon 32%, wow… Dari harga resmi 8,9 juta saya cukup membayar 6 juta. Itu plus bonus 1 set senar. Benar-benar menyenangkan. Terima kasih Tuhan 🙏

Saya tidak hendak me-review gitar ini di tulisan ini. Mungkin nanti ya? Tulisan ini cuma ucapan syukur saya karena akhirnya penantian panjang saya untuk memiliki gitar unik ini akhirnya kesampaian. Benar-benar kado ultah yang indah.

Obrolan Taxi Konvensional dan Online

Ini masih cerita dengan sopir taxi konvensional tempo hari. Namun bahasannya berbeda, yaitu dari sisi Sopir taxi konvensional yang bercerita bagaimana BlueBird masih bisa survive walau digempur habis-habisan oleh taxi online. Padahal banyak taxi konvensional lain yang ambruk dan gulung tikar karena kalah bersaing dengan taxi online. Ringkasnya, dia bercerita kalau pada akhirnya konsumen kembali menggunakan jasa taxi konvensional ini.

Tak lain dan tak bukan adalah karena kualitasnya. Mobil BB termasuk bagus, bersih dan selalu dipelihara dengan baik sehingga penumpang akan merasakan kenyamanan. Sopirnya pun tidak sembarangan, tapi melalui proses perekrutan yang baik dan evaluasi yang dilakukan terus menerus. Ada rapot-nya. Tidak seperti kebanyakan taxi online yang dengan mudah menerima orang sebagai mitra asalkan punya kendaraan dan SIM.

Saya sependapat sih. Beberapa kali naik taxi online tidak nyaman. Dari mobil yang bau rokok/pengap, kotor, sopirnya ugal-ugalan sampai ke kecurangan pengemudi. Dan saya tambah sependapat ketika situasinya adalah saat harus berangkat pagi-pagi buta atau sudah larut malam, lebih baik naik taxi konvensional yang terpercaya ini. Riskan banget kalau pakai taxi online.

Itu dari sisi konsumen ya. Dan sang Sopir juga bercerita dari sisi pengemudi. Dia bercerita kalau ada temannya yang sudah 15 tahun bekerja di BB dan kemudian tergiur bergabung ke taxi online. Apa yang terjadi? Temannya itu akhirnya balik lagi ke BB dengan masa bakti mulai dari 0 lagi. Hilang sudah masa bakti 15 tahunnya.

Namun mengapa dia keluar dan kemudian balik lagi? Begini ceritanya.

Read More »

Kisah 3 Orang Sopir

Akhir pekan ini saya mendapat 3 kisah tentang sopir. Kisah pertama adalah sopir pribadi kami yang mengundurkan diri per Sabtu. Dia diterima bekerja menjadi staf administrasi di sebuah perguruan tinggi. Kisahnya bukan karena dia diterima bekerja dan mengundurkan diri, tapi karena dia termasuk yang religius. Dalam arti sangat taat sholat 5 waktu. Di satu sisi tentu bagus, namun di sisi lain tentu merepotkan kami yang kadang harus menyesuaikan diri dengan waktu sholatnya yang tidak boleh terlambat.

Cerita kedua adalah sopir penggantinya. Sebenarnya Si E (sebut saja begitu) sudah kami kenal lama dan sudah beberapa kali menjadi sopir pengganti. Dan si E ini baik sikapnya. Yang jadi masalah adalah komitmen dia terhadap waktu yang sangat buruk. Sering terlambat. Bahkan dulu pernah tidak datang sama sekali sehingga saya harus naik taxi ke bandara dengan waktu sangat mepet.

Hari ini terulang lagi. Dia terlambat 30 menit datang ke rumah padahal saya sudah panik harus segera ke bandara. Hampir saja saya pesan taxi hingga akhirnya dia datang.

Diperparah dengan macet di jalan mendekati bandara. Akhirnya saya turun dan berjalan kaki ke bandara. Dan ternyata beberapa orang juga turun dari mobil dan memilih berjalan kaki. Memang sore ini jalan ke bandara macet parah.

Cerita ketiga adalah sopir taxi konvensional BlueBird yang mengantarkan saya dari bandara ke apartemen. Sang sopir BB ini sudah 8 tahun menjadi sopir dan benar-benar menekuni pekerjaannya. Dia membuat target harian sendiri supaya bisa cukup mendapatkan komisi. Dan setelah 5 tahun di BB reguler, dia mencoba menjadi sopir bandara. Dan ternyata pilihannya benar karena order tidak pernah sepi. Dengan berjalannya usia, dia memiliki harapan untuk bisa jadi sopir SilverBird karena lebih menguntungkan.

Read More »

Perusahaan Menggunakan Grab for Work

Mulai November 2017 ini perusahaan kami menggunakan jasa Grab for Work. Grab for Work merupakan salah satu layanan dari Grab yang menyediakan jasa transportasi untuk karyawan yang perlu melakukan perjalanan bisnis.

Tentu saja, sebagai salah satu karyawan saya sangat menyambut positif langkah ini. Karena saya tidak perlu repot lagi menyetir sendiri jika ada tugas ke luar kantor. Apalagi lalu lintas Jabodetabek itu tahu sendiri kan macetnya kayak apa? Apalagi mobil saya transmisinya manual, tentu merupakan siksaan tersendiri jika harus menyetir sendiri di kemacetan berjam-jam.

Dengan Grab for Work saya tidak perlu membayar taxi-online Grab karena secara otomatis tagihan dibebankan ke perusahaan. Lebih asyiknya lagi karena Grab for Work ini juga menanggung biaya toll dan parkir (jika ada). Selama ini kami harus membuat rekap perjalanan, mengumpulkan tiket toll dan parkir untuk kemudian di-reimburse ke kantor. Ini merupakan kerepotan sendiri, hehehe…

Karena semuanya langsung ditagihkan ke perusahaan, karyawan jadi lebih praktis kalau perlu melakukan perjalanan bisnis. Tinggal pesan Grab, tentukan tujuan, masukkan kode perusahaan, tuliskan keperluan perjalanan bisnis, dan tunggu mobil grab datang menjemput dan kemudian mengantarkan ke tujuan. Setelah sampai tujuan tidak perlu bayar. Asyik ya?

Read More »