Logika Sederhana Iron Man Dari Bali

Terus terang saya gregetan banget beberapa hari ini membaca berita tentang Iron Man dari Bali. Sehingga akhirnya saya menuliskan pemikiran saya di blog yang sudah lama tidak ada aktivitasnya ini.

Konon seseorang bernama Wayan Sumardana alias Wayan Sutawan membuat lengan robot untuk membantunya bekerja sebagai tukang las. Tentu saja sangat kontroversial karena Wayan bercerita bahwa tangan robotiknya bisa digerakkan langsung dari otaknya dengan EEG.

Setelah itu banyak media yang mengulasnya. Tetapi semakin banyak juga orang yang meragukan temuannya dan menyatakan kalau kreasi Wayan adalah hoax.

Namun saya punya logika sederhana yang sekiranya bisa digunakan untuk menilai apakah tangan robot Wayan ini layak diapreasiasi atau sekedar dibilang hoax.

Membuat Tangan Robot untuk Membantunya Bekerja

Wayan bercerita asal muasal dirinya membuat tangan robot ini adalah untuk membantunya bekerja sebagai tukang las. Pekerjaan sebagai tukang las memang sangat membutuhkan keterampilan dan kekuatan di kedua tangan. Sedangkan Wayan bercerita kalau tangan kirinya lumpuh setelah menderita stroke ringan.

Dia lupa bahwa untuk menciptakan tangan robotnya itu dia juga harus bekerja dengan kedua tangannya. Bahkan untuk merakit rangkaian elektronika diperlukan keterampilan motorik halus di kedua tangannya di samping kemantapan tangan sehingga tidak bergoyang/bergetar. Tidak bisa hanya dengan 1 tangan. Kecuali jika dia dibantu oleh orang lain. Namun tidak ada cerita bahwa dia dibantu oleh orang lain.

Komponen Robot

Dalam semua berita yang saya baca, tangan robot Wayan ini cuma mengandung 2 komponen saja, yaitu mekanik dan elektronik. Dia melupakan bagian program (atau code).

Dari 2 komponen itu pun banyak orang yang kompeten di bidangnya menyatakan keraguannya. Misalnya di bagian elektronik, semua komponennya tampak usang bahkan berkarat. Wayan memang mengakui kalau semuanya diambil dari rongsokan. Sepenglihatan saya, Wayan menggunakan sebuah motherboard PC utuh yang tampak sangat usang. Ada juga board harddisk, mouse dan beberapa board lain. Jika benar itu barang rongsok yang mungkin sudah rusak, alangkah sulitnya untuk membuatnya bekerja lagi.

Percayalah, mengganti sebuah komponen yang tersolder di motherboard bukan perkara gampang. Apalagi jika harus dilakukan dengan hanya 1 tangan.

Sedangkan di bagian mekanis terjadi banyak sanggahan, mulai dari kecilnya motor yang digunakan sehingga disangsikan kekuatan dan kemampuannya menggerakkan tangan sekaligus menopang beban; gear-gear yang dengan mudah dicopot-pasang; sampai ke penggunaan pneumatik yang nampaknya tidak akan bisa bekerja sepresisi motor stepper.

Hanya Bisa Digunakan Olehnya Sendiri

Beberapa orang yang pernah mencoba tangan Tawan ini tidak berhasil membuatnya bekerja. Tawan berkata bahwa tangannya hanya bisa dikendalikan oleh otaknya saja karena setiap orang punya gelombang EEG yang berbeda-beda.

Tentu saja ini sebuah keanehan.

Secara Ekonomis

Ada 1 hal lagi yang menurut saya perlu dikedepankan, yaitu aspek ekonomis. Jika memang benar Wayan mampu membuat tangan robot, maka secara ekonomis dia bisa jadi kaya raya dengan memproduksi tangan robotnya secara masal dan dijual. Saya yakin akan banyak orang yang tertarik untuk membelinya dengan harga cukup tinggi.

Namun Wayan malah memilih meneruskan profesinya sebagai tukang las dari pada mengkomersilkan ciptaannya.

Percaya Tidak Percaya

Ketika Wayan menanggapi pendapat netizen yang menyatakan kreasinya adalah hoax, Wayan tidak mempermasalahkan hal itu sambil bilang bahwa jika ada orang yang tidak percaya silakan datang ke bengkelnya dan dia akan menjelaskan cara kerjanya karena dia bilang kalau ciptaannya itu bukan sesuatu yang canggih.

Hemmm… menurut saya alangkah lebih elegan jika Wayan membuktikan keberhasilan ciptaannya dengan membuka sedikit desainnya, misalnya skema elektronik di beberapa bagian dan sedikit kode programnya.

Penutup

Demikian pemikiran sederhana saya. Saya menuliskannya dengan sebisa mungkin netral dengan sedikit saja mengutarakan sisi teknis.

Mohon maaf jika tulisan ini menyinggung Tawan atau orang lain yang terlibat dalam penciptaan atau pemberitaannya. Dan saya membuka diri jika ada pendapat berbeda, silakan menuliskan pendapat Anda di bagian komentar.

Salam

Dipublikasi di Personal | 2 Komentar

Ide Setrika Mati Otomatis

Kemarin malam mata saya menangkap sebuah nyala lampu merah di kamar. Rupanya itu lampu setrikaan. Wah, saya lupa mematikan setrika setelah menyetrika baju kantor tadi pagi. Untung saja tidak mengakibatkan kerusakan. Hanya saja, mungkin boros listrik, hiks…

P_20151216_072234

Kemudian saya jadi punya ide untuk menambahkan sensor gerakan di setrika. Ketika setrika nyala dan tidak ada gerakan selama 5 menit, maka setrika akan membunyikan alarm. Jika selama 5 menit alarm nyala tapi tidak ada tindakan dari penggunanya, maka setrika akan mati otomatis.

Kalau menggunakan Arduino tentu bisa mudah dibuat. Tinggal tambahkan sensor gerakan, relay dan buzzer. Atau kalau mau lebih canggih bisa pakai Raspberry Pi yang bisa mengirimkan email jika kita lupa mematikan setrika. Asyik kan? Kapan-kapan deh kalau punya banyak waktu lagi untuk ngoprek.

Sebenarnya ini kali ke-2 saya lupa mematikan setrika. Peristiwa lupa pertama adalah saat saya menyetrika PCB beberapa tahun yang lalu saat masih aktif ngoprek microcontroller. Syukurlah kedua lupa ini tidak kenapa-kenapa.

Dipublikasi di Personal | Tag , , , , , | 4 Komentar

Mario Teguh Menyarankan Membuang Sahabat?

Saya membaca sebuah “Golden Ways” dari Mario Teguh. Berikut kutipannya yang saya ambil dari facebooknya:

Orang yang katanya sahabat, tapi saat ada fitnah kecil lebih mempercayai pemfitnah, harus dibuang.

Dia akan sangat merugikan saat ada fitnah yang lebih besar.

Mario Teguh

Yang nge-like banyak banget. Banyak banget yang setuju dan mengamini Sang Golden Ways ini. Sedangkan saya cuma mengelus dagu.

Menurut saya ini sadis banget… Membuang seorang sahabat? Bukankah itu berlebihan? Apalagi hanya karena sebuah “kesalahpahaman” kecil seperti yang disebutkan oleh Mario Teguh, yaitu mempercayai perkataan orang lain yang dinilai sebagai fitnah, sedangkan dari sisi lain mungkin belum tentu fitnah.

Saya hanya prihatin saja karena Sang Golden Ways ini menganjurkan membuang sahabat yang tentu saja manusia juga. Saya rasa itu bukanlah “Golden Ways”.

Jepretan Layar 2015-11-03 pada 7.30.13 PM

Dipublikasi di Personal | Tag , | 3 Komentar

Melihat Kebaikan Hati Orang

Pagi itu saat saya bersepeda, di depan saya melihat seorang bapak yang nampaknya juga sedang berolah raga sepeda menghentikan sepedanya. Dia berhenti dan memberikan sebuah bungkusan kepada seorang nenek renta di pinggir jalan. Dan sang nenek terlihat begitu gembira menerima bungkusan itu.

Bapak pesepeda yang memberikan bungkusan itu juga tampak bahagia raut wajahnya. Dia tidak mengira kalau saya memperhatikannya dan menjadi saksi kebaikan hatinya. Sampai kemudian sepeda saya melewati mereka.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Personal | Tag , | 3 Komentar

Microsoft Raspberry Pi di TechDay 2015

Salah satu sesi yang saya ikuti di Microsoft TechDay 2015 adalah “Windows for Makers: Raspberry Pi 2, Arduino and more”. Pada sesi ini didemokan bagaimana memprogram Raspberry Pi (dari komputer lain) sehingga bisa menyalakan LED Matrix dan sebuah lampu.

Windows untuk IoT

Seperti kita tahu, Microsoft menyediakan sistem operasinya untuk Raspberry Pi dalam rangka mendukung langkah IoT-nya. Masalahnya adalah ternyata sistem operasi untuk Raspberry Pi ini tidak menyertakan GUI. Bahkan tidak bisa remote ssh dan akses hanya bisa dilakukan via browser atau MVS di komputer lain via network.

Mengupload dan men-debug program pun tidak bisa dilakukan dengan mudah. Harus menggunakan Microsoft Visual Studio yang saat demo kemarin beberapa kali ngadat. Jadi terkesan rumit dan melelahkan.

Sehingga saya pun kemudian bertanya kepada pembicaranya,

“Seperti kita tahu, Raspberry Pi telah memiliki sistem operasi Raspbian (dan Linux/Android lain yang kompatibel) yang telah berjalan dengan sangat baik. Kita bisa menambahkan monitor, keyboard, mouse dan network seperti layaknya komputer biasa. Dan kita bisa langsung membuat program di Raspberry Pi, misalnya dengan Python. Pertanyaan saya adalah, mengapa Microsoft harus membuat Windows jalan di Raspberry Pi dengan segala keterbatasannya ini?”

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Gadget, Sistem Operasi | Tag , | 2 Komentar

Microsoft Lumia 950 di TechDay 2015

Hari ini di belahan dunia lain, tepatnya di New York USA (baca: Ponsel Microsoft Lumia 950 Meluncur dengan Pendingin Cair), Microsoft memperkenalkan ponsel pintar Lumia 950 dan 950 XL yang dibekali sistem operasi baru Windows 10. Beruntunglah pada saat TechDay 2015 di Balai Kartini kita sempat diperlihatkan sosok Lumia 950. Sayangnya sosok 950 XL tidak dipamerkan.

Ini loh Lumia 950

Di panggung Andreas Diantoro (Presiden Direktur Microsoft Indonesia) mendemokan fitur-fitur barunya seperti autentikasi user dengan pengenalan iris. Teknologi biometrik dengan pengenalan iris walau pun bukan teknologi baru tapi nampaknya baru diadopsi secara luas di smartphone Lumia 950. Saat didemokan pengenalan iris dapat dilakukan dengan cepat. Bisa jadi trend untuk proses otentikasi bahkan untuk pembayaran.

Didemokan pula teknologi Cortana yang konon lebih personal dan manusiawi dibanding kompetitor. Demo dilakukan dengan membuat reminder berbasis lokasi.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Gadget, Review | 2 Komentar

Laptop Hybrid Acer One 10

Laptop hybrid yang bisa berubah bentuk dari laptop ke tablet rasanya sedang nge-trend belakangan ini. Kebetulan saat saya sedang mudik ke Semarang ada pameran komputer di Java Super Mall (tgl 25-29/09/2015). Jadi saya pun menyempatkan diri melihat pameran sambil mencari laptop hybrid untuk Kirana dan mamanya.

Sebelumnya saya sudah googling mencari opsi laptop hybrid yang sekiranya terjangkau. Dari beberapa pilihan, rasanya hanya Acer One 10 yang punya harga terjangkau. Sedangkan opsi dari Asus Transformer, Lenovo Yoga dll harganya lebih tinggi. Jadi saya pun fokus mencari stand yang menjual Acer One 10 dengan harga termurah.

Keistimewaan dari Acer One 10 selain harganya yang terjangkau adalah karena dia mampu berubah bentuk dalam 4 mode, yaitu laptop, tenda, mode display dan tablet. Pelepasan dan penyatuan tablet ke keyboardnya dilakukan dengan magnet yang kuat. Karena daya rekat magnetnya cukup kuat, untuk melepaskan tablet-nya harus dari satu ujung terlebih dahulu, baru ujung berikutnya.

Penampakan Acer One 10

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Gadget, Review | 3 Komentar