Kalau Saya Jadi Seorang Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi

Saya adalah praktisi dan pengusaha teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sekaligus juga dosen di beberapa perguruan tinggi. Tetapi setelah menyimak kompetensi yang harus dipenuhi oleh seorang guru TIK, rupanya saya tidak memenuhi salah satu kompetensi yang dimaksud, yaitu kriteria ke-34. Berikut adalah petikan kompetensi yang dimaksud:

34. Dapat membuat software pembelajaran mandiri (bersifat interaktif dengan user).

Sedangkan kriteria yang lain sudah terpenuhi. Silakan baca detail kriterianya di: “Kompetensi Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi” yang dimuat di blog Mari Berbagi. Sayangnya daftar kompetensi yang dibuat oleh Prof. Dr. Basuki Wibawa dalam makalahnya yang berjudul “Urgensi Sertifikasi Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi” ini mengandung banyak kerancuan dan juga mengundang kebingungan. Mari kita simak apa saja yang membuat daku binun…

  • Urutannya tidak nyaman untuk dibaca. Lebih baik dikategorikan berdasarkan pengetahuan konsep/teori dan keterampilan praktek. Jadi lebih nyaman dibacanya karena terkelompok kompetensinya.
  • Banyak kriteria (/kompetensi) yang membingungkan, misalnya nomer 4, 5, 6 tentang kemampuan menggunakan program aplikasi tetapi kemudian disebutkan lagi beberapa aplikasi tersebut di nomer 8 dengan tambahan “untuk proses belajar mengajar.” Ya iyalah, kan guru gitu loh.
  • Sekali lagi masalah urutan. Di sana disebutkan penggunaan komputer untuk beberapa keperluan internet (no. 9, 10, 11, 12, 13, 14), tetapi pengetahuan konsep dan keterampilan praktek jaringan justru ada di bawahnya (15, 16, 17, 18, 19, 20). Duluan mana hayo? Kalau untuk pengguna awam sih tidak apa-apa, tetapi ini untuk guru bersertifikasi. Seharusnya mesin-mesin sudah terkoneksi benar baru kita bermain internet.
  • Yang sulit justru nomer 23, yaitu “Dapat membuat homepage/website interaktif untuk bahan ajar.” Maksudnya sekedar buat dan bisa tetapi hasil akhirnya berantakan? Yang jelas e-Learning memiliki konsep tersendiri, selain memiliki CMS/LCMS (course management system/ Learning Content Management System) juga memiliki LMS (Learning Management System) atau VLE (Virtual Learning Environment) yang kompleks. Tidak sekedar nulis dan templok. Lha nemploknya kemana?
  • Yang juga rancu di nomer 27: “Dapat mengimplementasikan pengetahuan dalam bidang komputer untuk mengevaluasi butir soal (validitas dan realibilitas)“. Koreksi: mungkin yang dimaksud “realibilitas” adalah “reliabilitas”. Tetapi yang rancu adalah: “mengevaluasi butir soal.” Kalau dicoba menangkap artinya, berarti yang dievaluasi itu adalah butir soalnya, bukan jawabannya. Betulkah? Terus jawabannya bagaimana dong?
  • Nah, yang paling heboh tentu nomer 34 yang membuat saya tidak dapat disertifikasi menjadi seorang guru TIK, yaitu: “Dapat membuat software pembelajaran mandiri (bersifat interaktif dengan user)“. Kalau tidak salah, berarti saya harus membuat software semacam moodle (yang dipakai Kampus Bisnis) atau sejenisnya. Mungkin yang dimaksud adalah membuat “materi belajar” ya? Kalau ini sih silakan mampir saja ke Kampus Bisnis. Lho kok jadi promosi? Biarin…

Jadi, saya bisa tersertifikasi jadi guru TIK ngga ya?

15 pemikiran pada “Kalau Saya Jadi Seorang Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi

  1. Hallo Mas Dewo…
    perkenalkan Nama saya Moh.Ningamullah, saya bekerja di perush Multi Internasional di wilayah Jababeka.

    membaca blog anda saya turut ikut semangat. insya Alloh saya bisa membantu anda untuk menciptakan software sebagai syarat sertifikasi.

    saya juga mendistribusikan CD ROM Pendidikan dengan kode BOLOPLEK. cd ini sangat bagus untuk pendidikan anak sampai remaja. CD ini didevelop oleh mahasiswa UGM, CD ini juga telah diberedar di Batam dan Kalimantan. CD ini juga berisi ratusan aplikasi yang sangat berguna.

    Harganya sangat terjangkau 25 ribu perkeping jika dalam jumlah banyak hanya 20 ribu perkeping.

  2. Saya setuju kompetensi yang 34 butir itu untuk wajib dimiliki oleh guru TIK. Kompetensi yang cukup menantang mungkin no 34 itu, namun kami mahasiswa Pendidikan Ilmu Komputer FPMIPA UPI sebagai calon guru TIK telah dibekali secara memadai dan semester ke 3 pun kami telah mengimplementasikan dan bekerjasama dengan beberapa guru di Bandung dalam pengembangan Software Pembelajaran Mandiri. Kami yakin guru TIK telah banyak yang memenuhi kompetensi yang diharapkan tersebut.

  3. nggak ada yansalah dengan komptensi di atas meski kita mungkin belum menguasai semuanya. selama ada keingingan belajar. Bahkan untuk yang tidak punya akses internet sekalipun.
    Yang penting ada keinginan dan upaya.
    Saya sangat terinspirasi oleh buku-bukunya pak Onno W. Purbo. intinya berbuat banyak dengan kondisi minim

  4. harusnya nih…
    sertifikasi guru mang sudah sepatutnya ada…
    disamping sebagai sarana pendukung guru ke arah tenaga profesional juga dapat menjadikan tolok ukur sejauh mana kemampuan masing-masing guru di bidangnya. terlebih guru TIK yang harus mengikuti perjalanan arus teknologi yang semakin pesat.
    Bagi teman-teman, tolong dong informasinya. PT/Universitas yang menyelenggarakan kuliah sertifikasi guru TIK, terutama yang lokasinya di Jawa Tengah..
    Terima Kasih……

  5. klo yg cocok jd guru TIK di SMP/SMA/SMK gelarnya/background nya apa ya. Teknik Informatika (ST) , Sistim Informasi (S.Kom) atau Teknik komputer (S.Si)

  6. kayaknya emang benar, kompetensi yang harus dilewati harus seperti itu meskipun saya sendiri masih belum bisa memenuhi standar kompetensi guru TIK yang nomor 34.
    tapi saya sebagai guru TIK yang bukan dari jurusan TIK insyaallah bisa koq penuhin standart kompetensi yang dimaksud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.