Perjalanan Penuh Keprihatinan

Kostum MudikAku pulang. Kepulanganku ke Semarang kali ini aku beri judul “Perjalanan Penuh Keprihatinan.” Tidak berlebihan jika aku memberi judul seperti itu. Aku memang sedang prihatin. Tidak hanya aku, tapi juga keluargaku. Tetapi aku rasa lebih banyak lagi keluarga Indonesia yg juga sedang prihatin, bahkan bisa jadi lebih parah daripada aku.

Perjalanan kulakukan dengan mengendarai motor seorang diri. Walaupun ortu, keluarga, saudara tidak ada yg mendukung tetapi akhirnya aku mendapat dukungan & restu dari para sahabat yang memahami makna perjuangan & perjalananku ini. Terima kasih bagi para sahabatku terkasih.

[Ditulis tanggal 21/10/06 di Semarang]

Solo Rider

Perlengkapan MudikSebelumnya berkecamuk perang batin antara jadi naik motor atau tidak. Maklum, jarak yg harus ditempuh lebih dari 500 km. Naik mobil saja cape, apalagi naik motor? Tapi aku bulatkan tekat untuk tetap pulang naik motor. Nekat? Hmm… Mungkin.

Tapi mengingat moda transportasi yg tersisa, yaitu travel yg biayanya naik menjadi 280 ribu sekali jalan (normalnya kurang lebih 120 ribu) aku lebih memilih untuk memakai uang 280 ribu (kalikan 2 untuk pergi-pulang) itu untuk program amal. Semoga Tuhan berkenan.

Berbekal restu dari para sahabat, aku berangkat hari Jumat (20/10/06) jam 6 pagi. Seharusnya aku bisa lebih pagi berangkatnya, tapi masalah perut menundaku sehingga baru bisa berangkat jam 6. Seperti sudah diulas tabloid Otomotif, sebaiknya pemudik sudah lepas Bekasi sebelum jam 6. Kalau tidak, bakalan terkena macet. Dan benar saja, jalur utama Jakarta-Bekasi cukup padat. Padatnya bukan karena pemudik, tapi para pekerja yg berangkat kerja. Hm… rupanya banyak juga yang masih bekerja. Maklum, arus mudik sesuai jadwal cuti bersama baru dimulai hari Sabtu (21/10/06). Jadi, aku sebenarnya mendahului jadwal mudik bersama. Hmm… kalau tidak mendahului bisa-bisa terjebak macet arus mudik.

Yang lebih heboh adalah sebenarnya aku tidak tahu jalan biasa (bukan tol) ke Cikampek. Maklum sebelumnya selalu lewat tol atau malah naik kereta. Jadi sok yakin saja menyusur Sungai Kalimalang. Lucunya di perempatan Bekasi sempat ditanyain pemudik lain arah ke Cikampek, “Pak, Cikampek terus ya?” Ya sudah, kujawab “Iya” plus anggukkan kepala.

Untungnya banyak pemudik bermotor yg lain sehingga aku tinggal ngikut aja. Bingung juga karena belum pernah lewat jalur biasa. Cuma aku jadi khawatir pulangnya. Maklum, belum hafal. Sampai Cikampek sih tahu, tapi jalan masuk ke Bekasi tidak tahu. Hehehe…

Perjalanan Penuh Keprihatinan menerapkan strategi 6 pitstop (** halah **). Sekali utk minum, sekali makan siang di Tegal & 4 kali isi bensin. Perbekalan yg dibawa: 2 botol Zestea, 2 botol Aqua & 3 Roti Marie. Kenyataannya 2 botol Aqua tidak terminum dan roti Marie tidak termakan. Zestea aja yang ludes.

Mangan nDingin (baca: Makan Dulu)

Di Tegal berhenti makan bakso & es kelapa muda di warung lesehan pinggir jalan. Warung dijaga seorang pensiunan preman bertato yg ngakunya polisi pelabuhan. Hiiii… serem. Setelah aku selesai makan dan bersiap berangkat, doi mendekatiku sambil berbasa-basi ngalor-ngidul bertema keperawanan, eh… kerawanan, yg tak berujung-pangkal, seolah mengintimidasi aku. Akhirnya aku bilang kalau ayahku juga polisi dengan pangkat kolonel. Akhirnya sang preman mengaku pangkatnya baru sersan & memberikan hormat beberapa kali. Akhirnya aku bilang, kalau doi ke Semarang, silakan saja kalau mau mampir. Setelah persiapan singkat langsung aja kutinggal sang preman.

Sebenarnya aku tidak suka dengan cara si preman, apalagi dia ngomong-ngomong masalah kerawanan sambil memegang-megang tasku yang terikat di tas seolah mengintimidasi. Lebih baik jika dia berlaku seperti tukang parkir yg menjagakan kendaraan. Sebenarnya aku ingin memberi dia uang, soalnya dialog kerawanan ini biasanya berujung duid (UUD = ujung-ujungnya duit). Tapi aku tambah ngeri jika aku keluarkan dompet, bisa jadi dia minta lebih atau bahkan meminta dompetku. Orang beginian tidak dapat ditebak & sebaiknya tidak usah menebak. Main aman aja.

Jadi lebih baik mengeluarkan kartu As (** bukan iklan lho! **), yaitu bilang kalau ayahku polisi juga dengan pangkat kolonel. Toh aku tidak bohong walau pun yg kolonel itu ayah mertua. Walau pun juga mertua sudah pensiun. Tapi paling tidak bisa mengeluarkan aku dari situasi yg tidak enak, tidak aman & tidak nyaman.

Perjalanan kulalui dengan kecepatan bervariasi antara 60 s/d 100 km/jam. Badan pegal-pegal, terutama kedua bahu & pantat. Sambil jalan berusaha peregangan bahu & juga berkali-kali angkat pantat memperbaiki posisi. Yg jelas pegel banget & pantat swaqiiit (baca: sakit).

Perjalanan rasanya sudah dekat ketika memasuki Batang. Di Weleri sempat lebih dari 100 km/jam. Walau jalan naik-turun, tetapi sepi & aspalnya mulus sehingga bisa mengembangkan kecepatan (** halah **). Pemandangannya bagus. Aku sempat berhenti & memotret.

Lebih asyik ketika masuk Mekarsari. Selain asri juga karena jalan mulus. Akhirnya aku mengekor sepasang motor pemudik yang sudah kutemui sejak Batang tapi kutinggal karena aku ngebut. Saat itu aku jalan santai & disalip mereka. Ya sudah kuekor saja terutama karena kecepatan rata-rata mereka 80 s/d 90 km/jam. Cocoklah. Soalnya kalau ngekor rombongan yg kecepatannya rendah bisa kemalaman. Sedangkan kalau ngekor motor kenceng ngeri. Yg lebih asyik adalah karena yg kuekor adalah MX kopling, sedangkan yg satunya Supra XX. Cuma mereka sering salah racing line (** halah **), misalnya terjebak kendaraan lebih lambat di jalur kiri sehingga sering kali harus kusalip dari jalur kanan yang legaan. Terus harus kupelanin lagi agar mereka bisa menyalip aku lagi. Namanya juga ngekor, jadi harus di belakang dong. Kalau di depan mah bukan ekor namanya (** huss… **)

Semarang Kini

Masuk Semarang kurang lebih pukul 16 & disambut kemacetan mulai dari Boja. Hmm… Jadi berpikir sebegitukah perkembangan Semarang selama aku tdk pulang? (** Halah, padahal aku cuma 3 bulan tdk pulang **). Yg jelas pasti karena bubaran kantor & pabrik. Aku memutuskan lewat Kalibanteng belok kanan untuk memangkas jarak & berpisah dengan MX yg kuekor, tapi ternyata aku dihadang kemacetan di perempatan Sampangan.

Setelah berjuang menghadapi kemacetan, akhirnya aku sampai di rumah mertua di Pedurungan jam 17 kurang. Di depan rumah kubunyikan klakson & Sisi & Axel langsung keluar dan bengong melihatku. Mereka pikir siapa pengendara motor gila yg membunyikan klakson berkali2 padahal para penghuninya sudah di depan rumah? Sampai akhirnya kubuka helm & masker sehingga mereka dpt melihat & mengenali wajah kerenku (** halah **).

Kontan Sisi & Ibu mertua kaget karena tidak menduga inilah aku, apalagi pulang bermotor. Komentar pertama: “Edan.” Hihihi… Maklumlah siangnya di jalan aku sempat sms memberi tahu Sisi kalau aku baru pulang sore ini & menanamkan opini pulang naik travel. Sedangkan Axel menyambut dengan senyum & menggandeng aku masuk rumah.

Terima kasih Tuhan karena telah melindungi & membimbing aku selama perjalanan sehingga dapat tiba di Semarang dengan selamat. Terima kasih juga bagi para sahabat yg mendoakan aku. Satu-satunya saudara yg tahu aku naik motor cuma Neti. Itu pun kuberitahu saat pitstop ke-2 di Indramayu saat berhenti minum.

21 pemikiran pada “Perjalanan Penuh Keprihatinan

  1. Wah.. biker sejati.. berapa jam sampai ke semarang Pak? kemarin aku naik mobil bareng kakakku ke jogja butuh waktu 8 jam-an. capek banget.. makanya mudik kemarin milih naik pesawat saja meskipun harga tiket mahal banget.

    kalo mau nambahin daftar blog: http://blogku.web.id

  2. he..he..he…perjalanan yang hanya aku bayang-bayangi…
    coz belum berani senekat itu, ga tau tahun depan… 🙂
    kemarin akhirnya nekat pulang (ke semarang juga) bareng kakak ipar yang bertujuan ke salatiga…
    berangkat jumat siang selepas jumatan & alhamdulillah masih lancar, walau sempat ada insiden ngaget sewaktu di tol (lupa km berapa), dua tas jatuh dari ikatannya… (untuk ga buat insiden yang lebih serius)
    sampai semarang, kalibanteng ambil arah pamularsih, dan belok kiri ke arah puspowarno, jam 2 pagi, langsung sahur bersama dan selepas subuh kakak lanjutkan perjalanan ke sala3.
    BTW, top deh buat kenekatannya….

  3. Terima kasih Bro Dwee,

    Sampai Semarang jam 2 tuh berarti berangkat dari Jakarta jam berapa?
    Iya, syukurlah insiden tas jatuh tidak menjadi insiden serius.

    Salam.

  4. dari rumah kakak di kapuk habis jumatan, sekitar 1/2 2…
    asharan di subang, buka & maghriban di indramayu, isya & lanjutin buka di pemalang 🙂
    tahun depan mudik pake motor bareng yuk?!?!? 🙂

  5. salam kenal……..

    jadi kangen semarang…….apalagi mas dewo lewat sampangan….
    aku jadi rindu ama semua yang ada di sampangan….STIKUBANK apa kabarnya???
    Tlogosari….I love U…kapan – kapan saya akan ke semarang lagi ahhhhhh

  6. Aduuuuuh, aku disms Papah jumat sore: “Adikmu dah sampe semarang, buandel buanget!” Aku langsung shock, nekat juga kamu! Katanya mo pulang Sabtu. Syukurlah semua dah berlalu, selamat pulang balik, happy ma keluarga. But, don’t do that again! Promise? God bless you!

  7. Hallo Kiki,
    Salam kenal juga. Kebetulan ayah dan ibuku di Jalan Kelud Utara, jadi aku sering lewat sampangan. Sekarang sampangan sudah ramai, tidak seperti sebelum tahun 2000an yang kala itu masih sepi. Tapi asyik juga karena kalau perlu apa-apa sudah tidak harus jauh-jauh karena di sana sudah ada beberapa mall kecil.

    Hallo Mbak Pipit,
    Iya… 😀 Kalau pamit pasti tidak boleh. Iya, semoga tahun depan lebih baik lagi. Salam buat Ryan, Dinda dan Pak Ferry.

    GBU all.

  8. […] Acara mudik kali ini tidak lagi dengan motor seperti yg kulakukan saat lebaran (baca: “Perjalanan Penuh Keprihatinan”). Kali ini aku bareng kakak sulungku sekeluarga naik mobil. Eh, minus suaminya yg sedang jadi juri di Kalimantan. Rencananya doi akan menyusul besoknya. […]

  9. […] Seperti saran pendamping, pada saat rintangan bumpy kuterabas dengan kencang. Yup… rintangan dapat kutrabas dengan oke. Selain shockbreakernya yang mumpuni (shock belakang pakai gas Nitrogen) juga didukung jok yang empuk sehingga pantat tidak sakit. Jadi sebel dengan MX-ku nih. Selain shockbreakernya lembek juga karena jok-nya keras banget. Tidak heran jika pantatku lecet saat mudik kemarin (baca: “Perjalanan Penuh Keprihatinan“). […]

  10. […] Seperti saran pendamping, pada saat rintangan bumpy kuterabas dengan kencang. Yup… rintangan dapat kutrabas dengan oke. Selain shockbreakernya yang mumpuni (shock belakang pakai gas Nitrogen) juga didukung jok yang empuk sehingga pantat tidak sakit. Jadi sebel dengan MX-ku nih. Selain shockbreakernya lembek juga karena jok-nya keras banget. Tidak heran jika pantatku lecet saat mudik kemarin (baca: “Perjalanan Penuh Keprihatinan“). […]

  11. Bravo Mas Dewo, Rupanya pernah Solo Touring juga ya. Memang seru banget kalo pergi seorang diri. mengingatkan saya solo touring ke Kudus akhir tahun 2007 dengan si Pio-Z. Bravo….

  12. Dear Pak Iwan,

    Iya Pak. Sebelumnya sih touring jarak dekat saja. Yang paling jauh dari Jakarta ke Semarang. Benar-benar seru & menguras stamina. Mungkin kapan-kapan kalau sudah punya motor gede kayak Bapak bakal turing lagi.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.