Antara Hobi dan Filosofi Dalam Memancing

Malam telah larut ketika kami bertiga meluncur ke sebuah pantai di Pulau Bangka. Kegelapan malam tidak menyurutkan semangat dan tekad kami untuk mencoba masakan sea food ala Bangka di tepi pantai. Dan kesunyian malam pecah ketika kami membahas persoalan memancing beserta segenap filosofinya. Maklum, Bos dan Faozi adalah dua orang pemancing sejati. Klop lah jika mereka berdua bertemu dan membahas hobi memancing mereka. Bagi mereka seolah seluruh novel kehidupan ini berisi cerita tentang memancing. Tetapi serunya cerita-cerita mereka tentang memancing mendadak harus berubah menjadi riuh rendah penuh canda ketika seorang Ngeyel ikut nimbrung walau pun Si Ngeyel tidak pernah tahu apa itu filosofi memancing. Siapakah si Ngeyel itu? Dia adalah aku.

Lalu apa pula filosofi memancing itu? Apa hubungannya dengan hidung manusia? Yuk kita coba bahas filosofi sumbangan Bos & Faozy. Dan tidak lupa apa komentar si Ngeyel.

Latar Belakang Memancing

Memancing itu tidak sekedar menangkap ikan. Toh menangkap ikan tidak selalu harus dengan memancing. Banyak alternatif lain untuk menangkap ikan. Misalnya dengan jala, tombak, atau bahkan dengan bom (bahan peledak). Tetapi para hobis hanya memilih satu piranti saja untuk menyalurkan hasratnya, yaitu dengan pancing.

Memancing juga tidak harus di laut. Memancing juga bisa dilakukan di sungai, empang bahkan di got. Lalu apa yang menyebabkan banyak orang menjadikan kegiatan memancing itu sebagai hobi? Bahkan hobi yang satu ini cenderung dijadikan ajang prestis. Tidak banyak orang yang mampu memancing di laut dengan kapal pesiar yang mewah. Bahkan senjata mereka yang berupa alat pancing itu harganya bisa untuk membeli motor Bajaj Pulsar (Eh… kok ngelantur ke Bajaj Pulsar sih? Rupanya masih penasaran sama pulsar ya?). Padahal para nelayan yang menjadikan penangkapan ikan itu sebagai pekerjaannya pun tidak pernah memiliki kapal pesiar yang mewah dan alat penangkap ikan yang mahal sekali.

Oh iya, tidak lupa mantan orang nomer satu di era Orba yang juga sangat menggilai hobi memancing di laut dengan kapal mewahnya. Hihihi… jadi ingat becandaan tentang beliau dan hobinya itu. Ah, tapi bukan candaan beliau yang akan dibahas kali ini. Lain kali aja dibahasnya ya? Tapi tidak janji ya? (Hehehehe…)

Banyak pula orang yang menganggap memancing sebagai suatu bentuk olah raga demi menghilangkan kesan ketidakseriusan seperti yang biasa tertangkap dari sebuah “hobi.” Bahkan demi meningkatkan harkat martabat memancing, tidak sedikit yang rela mengeluarkan banyak uang dan waktu. Padahal kalau dipikir, kita kan bisa saja membeli ikan itu di pasar atau supermarket besar hasil dari tangkapan para nelayan yang pekerjaannya memang menangkap ikan atau mungkin dari peternak ikan. Bahkan kita tidak usah repot dengan mencuci dan membuang siripnya karena seringkali ikan-ikan itu sudah dikemas dengan baik dan rapi. Ah… itu kan pemikiranku, tentu akan beda jika para hobis berargumen dan berfilosofi.

Filosofi Memancing

Nah, hasil pembicaraan ngalor-ngidul dan wetan-ngulon bersama kedua sohibku, akhirnya dapat dicatat beberapa filosofi beserta komentar-komentar ngeyelku:

1) Melatih Kesabaran. Konon poin ini yang paling diagungkan para hobis. Tapi bohong juga kalau disebut melatih kesabaran. Buktinya sekarang banyak pancing yang memiliki cabang mata pancing hingga satu tangkai bisa memiliki 5 buah mata pancing. Suatu bentuk ketidaksabaran para pemancing sehingga dalam waktu yang sama bisa mendapatkan lebih dari satu ikan? Atau hanya untuk meningkatkan probabilitas ikan yang ditangkap? Yang jelas para hobis tetap berargumen bahwa memancing itu melatih kesabaran. Yo wis, ngalah aja dari pada babak belur, lha wong 1 lawan 2.

2) Melatih Optimisme. Katanya sih selain melatih kesabaran juga untuk meningkatkan rasa optimis dalam diri. Maksudnya optimis bahwa pasti akan dapat ikan dan pulang dengan bahagia membawa ikan-ikan dan disambut istri dan anak yang tersenyum berbunga-bunga (** halah, terlalu didramatisir **). Kalau aku sih usul kalau sebaiknya memancingnya di toilet dan harus tetap optimis bahwa pasti akan ada ikan yang tertangkap. (** Tapi kok yang tertangkap bentuknya begitu ya? Bau lagi. Itu sih bukan ikan, Mas! **) Jadi harus tetap optimis walau pun itu suatu hal yang tidak mungkin. Dan jika berhasil menangkap ikan di tempat yang tidak mungkin ini, anggaplah bahwa itu suatu mukjizat dan rasa optimisme Anda yang besar itu menjadikan Anda seorang nabi.

3) Menikmati Kenikmatan Ketika Berhasil. Ya jelas saja. Setiap orang yang telah berusaha dengan susah payah bahkan sampai mempertaruhkan segalanya pasti akan bahagia jika usahanya berhasil. Demikian juga dengan memancing yang telah mengorbankan banyak uang dan tentu saja waktu walau pun yang didapat ternyata hanya sebuah ikan sebesar jari kelingking. Konon kata temanku, ikan yang didapat menentukan bagaimana kita bersyukur. Hendaknya kita bersyukur ketika dapat ikan yang besar. Dan hendaknya rasa syukur itu tidak mengecil walau yang didapat adalah ikan yang lebih kecil. Bagaimana jika tidak dapat ikan sama sekali? Ya harus tetap bersyukur gitu loh.

Filosofi Mengupil

Ah, bosan ketika teman-temanku mendominasi cerita soal pancing-memancing ini. Tentu saja aku tidak mau kalah dan mengusulkan filosofi baru karanganku dhewe, yaitu Filosofi Ngupil. Menurutku ngupil itu tidak kalah dengan memancing. Selain lebih murah karena tidak butuh modal peralatan juga karena tidak butuh waktu banyak yang harus diluangkan. Mengupil juga bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Tentu amat-sangat lebih praktis dibandingkan dengan memancing. Alhasil berikut ini adalah filosofi ngupil yang berhasil dirumuskan:

1) Melatih Kesabaran. Ya, sama halnya dengan memancing, mengupil juga dapat melatih kesabaran kita. Kita harus sabar menunggu sampai saatnya upil-upil itu jadi keras alias matang (kering) di hidung kita. Selain harus sabar dalam menunggu upil-upil itu siap dipancing juga harus sabar dalam memancingnya itu sendiri. Maklum, sesuai adat istiadat budaya Jawa, mengupil itu hendaknya tidak dilakukan di tempat umum. Jadi harus sabar menanti waktu yang tepat dan tempat yang tepat pula. Aku sih sering kali tidak sabar untuk segera mengupil. Maklum, rasanya mengganjel gitu loh. Hihihi… jadi aku gagal melatih kesabaranku ya?

2) Melatih Optimisme. Mengupil juga bisa digunakan utk melatih optimisme kita. Apalagi pas pilek dan banyak umbel (ingus)-nya. Kita tetap saja optimis untuk mengupil. Walau pun rasanya becek, tapi tetap saja kita mengupil. Tuh kan, kita bisa juga belajar optimis dari ngupil kan?

3) Menikmati Ketika Berhasil. Siapa sih yang tidak senang ketika berhasil mengeluarkan upil yang sangat mengganjal hidung itu? Apalagi jika upil yang didapat besar dan berbentuk seksi. Anak-anak kecil malah lebih bisa menikmatinya, yaitu dengan memakan upil mereka. Hihihi… Oh ya, tidak sedikit orang yang mengkoleksi upil mereka. Aku dulu malah hobi merekatkan upil setengah basah di dinding kamar tidurku. Seringkali kuwarnai pula dengan spidol. Alhasil ketika semuanya kering jadi tampak seperti karya seni abstrak yang indah dan bernilai tinggi. Tapi itu dulu waktu aku masih kecil lho! Waktu itu aku masih TK. Sekarang sih sudah tidak lagi. Sudah sadar gitu loh. Sekarang koleksi apa ya?

Ih… kok tulisannya makin lama makin jorok sih? Hihihi… namanya saja orang ngeyel. Yang jelas kedua sobatku itu semakin terbahak mendengar argumenku dan malam yang semakin larut itu menjadi semakin riuh.

Penutup

Sudahlah, dari pada semakin ngawur dan jorok, kita sudahi dulu diskusi kita tentang hobi memancing dan hobi mengupil. Yang jelas kedua-duanya memiliki penganut yang banyak. Tetapi tidak sedikit yang memiliki kedua hobi tersebut secara bersamaan. Bahkan sering kali dipergoki seorang yang memancing sekaligus juga mengupil. Jadi sebenarnya tidak perlu diperdebatkan kedua macam hobi ini. Syukur-syukur bila bisa saling bersinergi. Sambil memancing sekaligus mengupil. Demikian juga: sambil mengupil sekaligus memancing.

Halah… bisa-bisa tidak selesai-selesai bahasan kita. Ya sudah, sampai di sini saja dan sampai jumpa di banyolan berikutnya. Semoga tidak bosan dan jijik dengan tulisan-tulisanku di blog ini.

Salam.

11 pemikiran pada “Antara Hobi dan Filosofi Dalam Memancing

  1. Menjijikan… sangat!

    Btw, kalau harus memilih, saya lebih suka mengupil, karena disitu tidak ada pihak-pihak (para ikan yang tak beragama) yang dianiaya/dibantai.

  2. Memang betul bisa bersinergi, karena hasil ngupil bisa jadi campuran umpan yang menggugah selera makan ikan.

    Bagi saya yang juga hobi mancing, yang bikin ketagihan adalah ketegangan saat baku tarik dengan ikan. Meskipun saya hanya mancing di sungai dan danau, tapi tidak kalah seru dengan yang di laut. Ikan gabus ( kutuk ) sebesar betis sepanjang kira-kira setengah meteran baru bisa ditaklukkan dalam waktu sekitar 15-20 menit yang penuh perjuangan karena banyak sangkrah yang menghalangi. Apalagi waktu itu mancingnya di rawa-rawa yang ada buayanya. Belum lagi lumpur rawa yang dalamnya melebihi lumpur lapindo, karena sebatang bambu panjang utuh yang coba ditusukkan ke dalam lumpur ternyata belum juga menyentuh dasarnya.

    Teman saya mancing pernah dapat ikan mas ( karper kuning ) seberat 19 kg di danau dekat rumah saya. Sayang sekali waktu itu saya tidak sama-sama mancing di sana. Saya cuma dapat ceritanya begini :
    Paijo : “Katanya minggu lalu dapat ikan besar, bagaimana ceritanya?”
    SG : “Besaaaaar sekali, tarikannya saja kayak kereta api. Saya lihat teman-temanku sampai pada pucat pasi semua, takut ikanku lepas”
    Paijo : “Kalau temanmu pucat, kamu sendiri bagimana ?”
    SG : “Saya sendiri sampai nyaris pingsan”
    Paijo : “Ha … ha ….ha….ha….”
    Akhirnya ikan tersebut berhasil juga ditaklukkan setelah baku tarik hampir satu jam, itupun dibantu banyak teman beramai-ramai.

    Terimaksih.

  3. Dear Pak Paijo,

    Wah, pasti alam di Sulawesi sana masih sangat asri ya? Lebih asyik karena dekat rumah Pak Paijo ada danau-nya. Sudah begitu ikannya besar-besar. Cuma ngeri karena ada buayanya ya?

    Kalau di sini banyak “buaya darat”-nya 😀

    Salam.

  4. Kalau di danau dekat rumah saya tidak ada buayanya Pak, yang banyak berkeliaran di situ ya buaya darat juga karena merupakan tempat rekreasi untuk umum ( namanya PANTAI IMPIAN ). Pemandangannya memang luar biasa bagus. Suatu saat kalau tidak terlalu sibuk, saya akan pasang beberapa fotonya di blog saya.
    Yang ada buayanya adalah rawa-rawa di hutan tempat habitatnya ikan gabus ( jauh dari pemukiman ), hanya orang nekat yang berani mancing di situ. Terimakasih dan salam.

  5. Saya juga hobi memancing tapi melihat kondisi yg tidak mengizinkan jadi untuk sementara ya terpaksa di tunda dulu hobinya. tapi sohibku atan panai, om ijon berek obama, ustad ijuh, yeti landak tak pernah absen hampir tiap minggu turun memancing kata mereka memancing ikan bukan sekedar pleasure, kesenangan, atau hiburan semesta, tapi memancing lebih melatih bagaimana kita mengaktualisasi diri dengan disiplin kesabaran dan merenungi keindahan alam semesta serta mempertebal keimanan terhadap ciptaan yg kuasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.