Fong Sai Yuk Pun Poligami

Selasa malam ini (05/12/2006) aku menonton film The Legend of Fong Sai Yuk 2 yang diperankan oleh Jet Li (temannya Jet pump, hihihi…). Sebenarnya film ini sudah beberapa kali tayang dan beberapa kali pula aku menontonnya. Mungkin ceritanya tidak sebaik versi pertamanya. Tetapi ada sesuatu yang membuatku tetap berusaha menontonnya walau pun mataku sudah 5 watt. Terutama karena bersinggungan dengan kasus sang tokoh yang sedang aktual. Apakah itu?

Demi Tugas Negara

Dalam cerita ini dikisahkan bahwa Fong Sai Yuk harus menikah lagi dengan seorang putri bangsawan demi mendapatkan sebuah kotak rahasia ketua partainya yang ternyata adalah seorang putra kaisar. Maklum, bangsawan tersebut memiliki kotak rahasia yang telah jatuh ke tangan musuh kaisar. Nah, jalan satu-satunya adalah dengan mendekati sang putri dan menikahinya. Padahal Fong Sai Yuk telah menikah dengan Ting ting yang cantik.

Dan ketika strategi ini di jalankan, sang putri pun akhirnya jatuh cinta pada Fong Sai Yuk. Dan rela menyerahkan segala-galanya demi Fong Sai Yuk walau pun dia tahu kalau sebenarnya Fong Sai Yuk tidak mencintai sang putri. Dan sang putri pun mengetahui bahwa motivasi Fong Sai Yuk mau menikahinya hanya karena ingin mendapatkan kotak rahasia saja. Akhirnya dibuatlah perlombaan agar Fong Sai Yuk tidak dengan mudah dapat menikahi sang putri dan mendapatkan kotak rahasia. Perlombaan itu adalah perlombaan untuk mengalahkan para pesaing dan mengambil rangkaian bunga di atas menara. Jika menang, maka Fong Sai Yuk harus meneriakkan kata cinta pada sang putri dan dinobatkan menjadi suami sang putri.

Sudah sewajarnya kalau lakon bakal menang. Yap, pendek kalimat (dan paragraf) akhirnya Fong Sai Yuk dapat mengalahkan para pesaingnya. Tetapi itu belum seru. Yang bikin tambah seru adalah karena istri pertama Fong Sai Yuk tiba-tiba datang dan turut bertempur. Kali ini motivasinya adalah untuk menggagalkan upaya Fong Sai Yuk menikahi sang putri.

Tentu saja perjuangan sang istri tidak mudah. Selain mendapat tentangan dari sang putri yang mencintai Fong Sai Yuk, dia juga harus menghadapi bujukan mertuanya yang berusaha menjelaskan makna dari perjuangan Fong Sai Yuk. Sedangkan Fong Sai Yuk sendiri bimbang dengan pilihannya, apakah harus mempertahankan istrinya yang dia cintai atau tetap mengemban tugas negara.

Peperangan Batin Sang Istri dan Suami

Yang menarik dari fragmen ini adalah karena adanya peperangan batin pada Fong Sai Yuk (sang suami) dan Ting Ting (sang istri) yang digambarkan dengan baik sekali dalam film ini. Fong Sai Yuk harus memenangkan perlombaan dan menikahi sang putri padahal dia tidak mencintai sang putri demi negara. Padahal Fong Sai Yuk sangat mencintai Ting Ting.

Sedangkan Ting Ting sebagai istri sah pertama tidak mau dimadu terutama karena dia sangat mencintai Fong Sai Yuk. Tapi pada akhirnya pengarang ceritanyalah yang menang. Ya, sang pengarang berhasil menentukan penyelesaian yang indah dan mengharukan. Fong Sai Yuk menang dan Ting Ting walau pun dengan berat hati mau menerima kenyataan setelah dibujuk oleh sang mertuanya.

Dan sang putri pun sudah ditentukan memiliki jiwa besar. Dia hanya menepati janjinya, yaitu jika Fong Sai Yuk mau menikahinya dan meneriakkan kata cinta, maka dia mau menyerahkan kotak rahasia tersebut. Tetapi yang lebih melegakan adalah karena sang putri tidak mewajibkan sex walau pun mereka telah resmi menjadi suami istri. (Dasar sutradaranya… Jadi tidak ada adegan hot dong?)

Malahan sang putri membela Fong Sai Yuk dan rombongan ketika akan meninggalkan istana ayahnya setelah misinya berhasil saat sang ayah memergoki mereka dan mencegat kepergian mereka dengan meriam besar yang menyala. Hanya karena pembelaan sang putri dan karena ungkapan cintanya pada Fong Sai Yuk, akhirnya sang bangsawan merelakan rombongan pergi bersama sang putri. Yang lebih mengharukan adalah akhirnya sang putri memilih berpisah dengan rombongan demi menghormati dan menjaga keutuhan keluarga Fong Sai Yuk.

Kok aku jadi cerita panjang-lebar tinggi-rendah sih? Cerita selengkapnya silakan nonton film berjudul “The Legend of Fong Sai Yuk 2.” Dijamin tidak menyesal. Bagus lho. Jangan lupa nonton sekuel pertamanya yang lebih bagus, romantis dan lucu ceritanya.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik

Memang benar bahwa film ini tentu akan berbeda banyak dengan adat istiadat orang Indonesia apalagi dengan agama tertentu. Tetapi kita juga wajib memetik pelajaran yang sangat indah yang tersurat (tertonton) dari film ini. Apa saja sih?

1) Cinta itu Segalanya. Indah sekali gambaran cinta pasangan suami-istri Fong Sai Yuk dengan Ting Ting. Cintalah yang merekatkan keduanya. Cintalah yang membuat mereka saling bahu membahu di setiap situasi dan kondisi.

Tetapi cinta itu juga menuntut pengorbanan dan jiwa besar. Dan untuk cinta mereka harus mau menderita. Itulah yang harus dijalani Fong Sai Yuk dan Ting Ting ketika Fong Sai Yuk harus mengemban amanat negara.

Dan cinta itu juga harus diperjuangkan. Lihat saja sang putri yang demi cintanya mau berjuang demi mendapatkan pengakuan cinta dari pujaannya. Tetapi sekali lagi cinta itu juga harus berjiwa besar. Tapi syukurlah di akhir cerita, cinta segitiga mereka berakhir indah. Akhirnya kedua istri itu dapat berkumpul dan dengan suka-cita dan kerelaan hati berbagi penis suami (kata-kata terakhir ini mirip tulisan di blog siapa ya? Halah, sok lupa. Padahal sering ngomen di sana.)

2) Cinta itu Universal. Setiap bangsa akan memiliki cerita cinta yang hampir seragam. Tetapi jika kita tarik garis merahnya, maka hanya ada kata “cinta” saja di sana. Dan cerita cinta selalu laku dan dapat diterima oleh siapa saja. Tidak hanya film atau cerita cinta saja yang laku, lagu cinta juga laku keras.

3) Penderitaan Ketika Cinta Harus Dibagi. Memang sangat menyakitkan bagi pihak yang diduakan ketika cinta itu harus dibagi. Banyak sekali bahan baku yang membuat pihak yang diduakan itu sangat menderita. Pokoknya dari banyaknya bahan baku itu, jika diolah dengan kurang baik, maka hasilnya akan membuat orang amat sangat menderita.

Tetapi bagaimana jika dapat mengolahnya dengan baik? Ya seperti dalam cerita film ini. Ketika mengolahnya baik, maka cerita akan berakhir bahagia. Happy ending gitu loh. Hmm… legitimasi poligami? Besok-besok semoga sempat menonton filem atau membaca cerita tentang poliandri deh. Ingin tahu jika yang diduakan adalah suami. Eh… di agama Anda boleh tidak sih poliandri itu?

Penutup

Catatan di atas itu hasil pemikiran dalam kantuk. Maklum, ditulis jam 00:00. Jadi kalau ada yang ngaco harap dimaklumi. Jika ada koreksi, silakan tinggalkan pesan di bagian bawah page ini. Syukur-syukur pesannya membangun semangatku supaya lebih giat menulis ngawur lagi.

Tetapi yang jelas, pelajaran yang dapat ditarik di atas belum tentu sesuai dengan ajaran agama. Tentu saja dengan agamaku. Banyak sekali pertentangan dengan agama. Pertentangan ini misalnya: poligami, kekerasan, tugas negara, dll. Tapi paling tidak pelajaran di atas ditarik berdasarkan kisah dunia manusia. Mungkin benar-benar terjadi, mungkin hanya fiksi belaka.

Ya sudah, aku bobok dulu ya? Sudah 4,5 watt nih. Selamat malam. GBU.

3 pemikiran pada “Fong Sai Yuk Pun Poligami

  1. […] Setelah Fong Sai Yuk berpoligami (baca: “Fong Sai Yuk Pun Poligami“), kini giliran Dewo yang berpoligami. Eits… tunggu dulu. Poligaminya Dewo bukan mengawini janda cantik nan cendekia seperti Sang Tokoh kita itu (Baca: “Poligami Menjadi Senjata Para Suami?“), tetapi tentang sistem operasi. Lha wong Dewo ini kerjanya di dunia TIK ya tentu saja poligaminya juga di dunia TIK. […]

  2. hahaha… iya lucu banget nih film, gue juga suka. mungkin karena gue suka sama Jet Li. Fong Sai Yuk nya terlalu naif hehe.. ibunya gokil abies… akur banget, gak bisa kepisah kayaknya tuh. gue rasa dia lebih sayang ibunya dibanding istri2nya…

    Btw emang banyak banget point yang dapat dipetik di Film ini, misalnya meskipun didepan wanita cantik, Fong Sai Yuk tidak terjebak untuk mengambil keuntungan dengan sang wanita… bisa dilihat di saat Fong Sai Yuk berusaha menolong putri gubernur itu waktu disungai, waktu putri itu kena totok syaraf sama si jepang (meskipun itu temennya si putri sendiri), Fong Sai Yuk berusaha membebaskan totokan itu, tapi begitu syaraf vital sang putri juga kena, Fong Sai Yuk enggan untuk menyentuhnya… hahaha, dia bilang “Ibu ku belum mengajarkan yang itu” bilangnya polos…

    Coba kalau cowok lain pasti berusaha cari kesempatan deh… seandainya bener ada cowok kayak gitu, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.