Attitude itu Penting

Aku sering kali bertemu rekan kerja yg selalu mengeluh, mengomel, dan juga tidak puas dengan kondisi kerjanya. Tidak hanya itu, mereka sulit sekali diajak bekerja sama. Lebih parah dari itu, mereka selalu merasa gajinya tidak pernah cukup. Bahkan mereka berkata: “Jika gaji dinaikkan, saya akan bekerja lebih baik & lebih giat.” Jadi mereka saat ini bekerja tidak dengan kapasitas maksimum. Hanya sekedar absen dan bekerja apa adanya.

Ironisnya, mereka biasanya justru orang-orang yg pandai di bidangnya. Kemampuan atau keterampilan mereka di bidangnya tidak perlu diragukan. Dan kebanyakan dari mereka kedudukannya atau jabatannya justru tidak pernah berkembang.


Dari statistik yg ada di blog Pak Riri, rupanya faktor penentu terbesar dalam kegagalan bekerja adalah attitude yg negatif. Dan attitude yg negatif ini mengambil bagian 50% dari faktor kegagalan. Berikut adalah cuplikan dari statistik tersebut seperti yg dimuat di “Why People Fails on The Job?“:

20% improper training, poor job skills.
15% poor verbal and written communications skills.
15% poor or problematic boss or management.
50% negative attitude.

Ingin Sukses?

Belajar dari statistik di atas, maka kita bisa belajar untuk dapat sukses dengan mengurangi faktor penyebab kegagalan. Tetapi harap diperhatikan bahwa attitude (sikap)-lah yang paling menentukan kesuksesan atau kegagalan kita. Dan jika kita berhasil mengatasinya, maka paling tidak 50% kesuksesan sudah di depan mata. Dan memang inilah yg paling sulit. Tetapi jika kita bisa mengatasinya, maka sebenarnya faktor penentu lainnya tidak terlalu sulit. Atau bahkan faktor penentu lain itu sudah Anda miliki.

Semoga sukses.

7 pemikiran pada “Attitude itu Penting

  1. Memang sulit memperbaiki attitude kerja. Contoh: dua orang dengan posisi sama, gaji sama, dept. sama, sama smuanya, deh! Kecuali kualitas kerja. Yang satu benar-benar kerja dan berprestasi sementara yang satu mengandalkan koneksi. Yang satu gak bisa apa-apa sementara yang satu kreatif, bahkan terus mengembangkan perush sehingga maju dan makin dikenal. Nah, si orang yang tidak berprestasi ini akhirnya tercover oleh si aktif kreatif tsb. Padahal ketika banyak kerjaan si pasif gak ngapa-ngapain sementara si aktif karena tanggung jawab mengkoordinir semuanya.

    Akhir cerita, ketika kenaikan gaji, yang terjadi keduanya memperoleh gaji sama, pujian yang sama, promosi yang sama. Bahkan si pasif tanpa malu-malu dan bangga mengakui dia juga bekerja sangat keras, gembar-gembor ke sana ke mari bahwa kemajuan perusahaan berkat usahanya juga.

    Nek sudah begitu piye? Salahkah kalo akhirnya si aktif kesal dan turun prestasinya? Toh gak ngapa-ngapain juga dapat fasilitas yang sama? Kalo dah begini kahirnya attitude siapa yang harus diperbaiki?

    Singkat cerita, si aktif akhirnya sering jerawatan karena memikirkan gimana supaya hatinya ikhlas dan rela berbagi segala-galanya padahal dia sendiri yang mengusahakan segala-galanya.

    Du..dudu..dudu…
    (*nyanyi lagunya Ebiet sambil merem melek memelas*)

  2. Kita harus berpikiran positif supaya hasilnya positif. Tapi sayang kalau terlalu positif kita sering dikatakan :”Mimpi loe!” atau “Gadis Pemimpi”,…
    Kalo pikirannya negatif = hasilnya ya negatif aja.

    Ini terbukti dr pengalaman pribadi/org2 disekitar saya, tak perlu pakai referensi para ahli managemen.
    Mis:
    * Waktu kuliah: sering kita makan di warteg, saya selalu pesan sup pakai kepala ayam, sayap & ceker. Krn teman-teman pd ketawa, saya terangkan filosofi saya:

    * kepala=jadi pemimpin, sayap=bisa terbang, ceker=nyeker-nyeker informasi/lari kayak ayam & hidup kayak ayam alias cuek diusir berkali-kali tetap datang juga.
    Dan yg mengherankan hal ini semua pernah terjadi.

    * Jadi pemimpin: kerja di perusahan orang hanya 2-3th saja, yg lain kerja utk diri sendiri.

    * Bisa terbang: kerjanya yg hrs naik pesawat terbang, semua pesawat sudah pernah dicoba (yg jelek spt Wing Air pernah saya naik) sampai kegiatan terjun payung pernah saya coba.

    * Nyeker-nyeker informasi: Pernah diminta utk membantu riset Harimau Sumatera (padahal bukan bidangnya), ternyata pekerjaan ini berjalan mulus. Yg namanya Way Kanan, Leuser, Bukit Barisan, belum pernah saya kesana, koq saya berani-beraninya bawa ekspedisi sampai ke sana. Sampai saya nemuin alamat rumahnya Neil Franklin, pimpinan konservasi harimau.

    * Seperti kembali ke Perancis (kampung orang) setelah bangkrut ke-2 Xnya, bermodal 0Euros & tiket pesawat utang lagi. Ternyata seiring waktu berlalu, utang-utang terlunasi, dan kita hidup layak. Padahal yg kami tinggalkan di Indonesia pada ketir-ketir.

    Ini hanya beberapa dr pengalaman saya saja, masih banyak lagi.

    (Waktu di SMA St. Yosef Pangudi Luhur, Solo, semua teman termasuk beberapa guru bilang kalo saya ini wong edan/cewek gendeng. Waktu itu sering sakit hati, tapi sekarang cuek. Lha wong itu modalnya hidup).

    Yok berpikiran positif yok!!!

  3. @Mbak Pipit,

    Hihihi… sekali lagi attitude. Jangan karena masalah tersebut malah sikap kita terpengaruh dan menjadi negatif. Betul seperti Juliach bilang, kita harus berpikiran positif.

    @Juliach,

    Betul-betul perjuangan yg luar bagus. Sharing yg bagus.

    Salam. Semoga sukses.

  4. Nggak semua active creative mendapat feedback yang baik selama kita kerja dilingkungan perusahaan terlebih perusahaan swasta, meski kita pinter dalam bidangnya tapi kurang pinter cari posisi dihadapan bos, percuma! kita hanya akan sakit hati aja sama temen yang bisanya cuma cari muka. Akhirnya hanya orang-orang carmuk yang mendapatkan promosi jabatan. Nah ini yang nggak ada dalam mata kuliah di pendidikan tinggi kita, perlukah ini dimasukkan dalam mata kuliah atau at least kegiatan ekstra di luar kuliah.

  5. sudah saatnya buat mahasiswa jangan hanya mengandalkan pendidikannya dunk. JANGAN HANYA TARGET JADI PNS PAS BUTUH PAS GAK ADA heeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    bener tho!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. WIRAUSAHA BUTUH MODAL KAN???
    MAHASISWA HARUS SEMANGAT JANGAN HANYA MENGANDALKAN DUIT DARI ORTU KALIAN KAN PUNYA KREATIFTAS NGAPA LAH APA NGAJAR LES, BISNIS TANAMAN, BISNIS BUKU. BISNIS KERAJINAN DAERAH , SEKARANG LAGI DICARI BISNIS MAKALAH KESEHATAN HO LAGI LAKUUUUUUU ABIZ. KAN LUMAYAN BISA BUAT TAMBAHAN MAKAN N JAJAN GITUUUUUUUUU OR BUAT BELI BUKU KULIAH GITCUUU
    JANGAN JADI PNS PAS BUTUH PAS GAK ADA HEE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.