Pembalap Terbaik versus Motor Tercepat

Bagaimana jika seorang pembalap terbaik diadu dengan motor tercepat? Hasilnya bisa dilihat di balap MotoGP seri pertama di Qatar. Eh, Dewo sedang ngomongin apa dan siapa sih?

Hm… Balap MotoGP pertama di tahun 2007 ini sangat menarik. Pertarungan antar pembalap sangat seru, terutama antara Casey Stoner, Valentino Rossi, Daniel Pedrosa dan John Hopkins. Pertarungan ini melibatkan 4 motor terbaik, yaitu Ducati, Yamaha, Honda dan Suzuki. Sayang Randy De Puniet yg menggenjot Kawasaki terjatuh. Demikian juga dengan Loris Capirossi yg menggenjot Ducati.

Tapi balapan ini lebih seru karena mewakili pertarungan antara “Motor Tercepat” (Ducati) melawan “Pembalap Terbaik” (Valentino Rossi). Ducati memang terkenal sebagai motor terbaik dan tercepat. Ducati merajai kancah balap Superbike dengan beberapa kali menjuarai balapan ini. Dan musim 2006 lalu beberapa kali Ducati menang lewat Loris Capirossi dan Troy Bayliss. Sedangkan Valentino Rossi, kita semua sudah tahu kalau doi memegang gelar 7 kali juara dunia, terdiri dari sekali di 125 cc, sekali di 250 cc dan 5 kali di Moto GP.


Duduk di jok motor tercepat adalah Casey Stoner. Walau pun kapasitas mesin MotoGP diturunkan dari 990 cc ke 800 cc, tapi ternyata tidak menurunkan kecepatan motor. Apa pasalnya?

Penurunan kapasitas ini membuat bobot mesin menjadi lebih ringan. Konstruksi kerangka motor pun lebih ringkas dan bobot keseluruhan menurun. Ditambah aturan baru pengurangan volume bahan bakar yg diturunkan 1 liter, dari 22 menjadi 21 liter. Bobot keseluruhan pun menjadi berkurang banyak.

Tetapi dampaknya jadi signifikan. Tenaga besar Ducati hanya dibebani bobot yg ringan, akhirnya rasio tenaga banding bobot menjadi besar. Alhasil motor Ducati malah menjadi lebih cepat dari pada motor 990 cc yg dipakai di tahun 2006. Tengok saja rekor lap dipecahkan Casey Stoner yg memiliki waktu tercepat 1:56.528. Waktu ini memecahkan rekor yg dipegang Valentino Rossi pada tahun 2006 dengan mesin 990 cc-nya.

Kalau hanya mengacu pada mesin tercepat, maka sebenarnya urutan motor tercepat adalah Ducati, Honda dan baru kemudian menyusul Yamaha. Ini bisa terlihat saat balapan terjadi di straight line. Motor Yamaha selalu dipecundangi oleh Ducati dan Honda. Pada jalur lurus ini Rossi dengan mudah disalip oleh Casey Stoner dan Daniel Pedrosa.

Tapi bukan Rossi namanya jika tidak mampu mengatasi segala kekurangan motornya. Seperti kita tahu, motor Yamaha-nya bukanlah motor terbaik. Tahun 2006 lalu motornya kerap bermasalah. Dari mesin yg jebol, masalah getaran yg tidak kunjung terpecahkan sampai masalah ban yg tidak mendukung gaya balap Rossi.

Syukurlah Rossi yg memiliki pengalaman luar biasa sehingga segala handicap motornya ini tidak membuatnya terpuruk di musim 2006. Cukuplah gelar Runner Up baginya di musim 2006 mengingat segala kekurangan motornya. Sedangkan juara dunia 2006, yaitu Nicky Hayden dianggap masyarakat dunia sebagai juara yg tidak pantas juara. Seperti kita tahu, di musim 2006 lalu Nicky Hayden hanya bermain aman. Jumlah juara 1 seri saja masih kalah dibanding Rossi. Sayang Rossi beberapa kali gagal finish dan gagal mendulang poin. Sedangkan Hayden hanya sekali gagal memperoleh poin.

Kalau kita lihat balapan seri pertama ini, tampak indikator Brake dan Throttle dari Stoner dan Rossi disandingkan. Terlihat bahwa Stoner lebih sering mengerem secara ekstrim dan juga mengegas dengan cepat. Berbeda dengan Rossi yg tidak pernah mengerem secara full. Demikian juga dengan putaran gasnya yg tidak dibuka cepat.

Ini menunjukkan 2 gaya yg berbeda. Gaya ini tentu merupakan adaptasi dari 2 motor yg beda karakteristik. Seperti kita tahu, mesin Ducati mengadopsi konfigurasi V4 sedangkan Yamaha mengadopsi konfigurasi 4 silinder inline alias segaris. Dan rupanya mesin 4 silinder sejajar Yamaha ini harus berhadapan dengan mesin V4 dari semua pabrikan, yaitu Honda, Ducati, Suzuki, Ilmor dan Kawasaki.

Karakteristik V4 memang sangat bengis. Putaran mesin tinggi didapat dalam waktu yg sangat singkat. Alhasil tenaga maksimum dapat dengan cepat didulang pembalap.

Sedangkan mesin inline Yamaha lebih lembut tetapi kurang bertenaga. Motor jadi mudah dikendalikan dan enak diajak melahap trek dengan banyak tikungan. Tapi ternyata tikungan di sirkuit Losail Qatar ini lebih banyak trek lurus dan panjangnya. Alhasil beberapa kali Rossi disalip Stoner dan Pedrosa dengan mudah. Dan berkali-kali pula Rossi harus berjuang mengejar Stoner dan menyalipnya di tikungan.

Ah… balapan ini memang seru. Sekaligus membuat capek karena harus menyemangati Rossi setiap kali doi disalip dan mulai ketinggalan jauh.

Well, akhirnya balapan dimenangkan oleh Casey Stoner. Sebenarnya Rossi sempat mencuri posisi pertama, tetapi segera disalip Stoner lagi dan pada lap terakhir Stoner bagai kesetanan dan mulai meninggalkan Rossi.

Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pertarungan Motor Tercepat lawan Pembalap Terbaik dimenangkan oleh Motor Tercepat karena kemenangan motor tercepat ini baru terjadi sekali. Dan kesempatan pembuktian gelar Pembalap Terbaik masih terbuka lebar.

Menurut Anda, siapakah yg akan memenangi balap Moto GP 2007 ini? Motor Tercepat atau Pembalap Terbaik?

13 pemikiran pada “Pembalap Terbaik versus Motor Tercepat

  1. pembalap satu ini memeng memeiliki kemampuan yang mengjubkan memeng musim lalu dia hnya menempati 8besar,itu karena dia tidak di suport oleh pabrikan diaq hanya brmain di tim satelite LCR HONDA dia selalu di nomor duakan tetapi sekarang dia berada di asuhan team inti, dia adalah pembalap pemberani dan bertalenta luar biasa mudah mudahan dia mengulangi seniornya om doohan sekarang saatnya tunjukan kpda rossy bahwa kamu pembalap tercepat saat ini.perfect for casey stoner……..full trotlle…and gggooooooooooo…….

  2. Koreksi dikit bung Dewo, bobot motor tahun ini kurang lebih sama dengan bobot motor tahun lalu. Memang benar kapasitas bahan bakar dan kapasitas mesin yang lebih kecil seharusnya menyebabkan motor menjadi lebih ringan. Tapi regulasi MotoGP mengharuskan bobot minimal motor dengan mesin 4 silinder memiliki bobot yang sama dengan tahun lalu. Kalau tidak salah 145 kg, tolong dikoreksi. Yang lebih cepat adalah waktu tempuh 1 putaran circuit. Kenapa bisa begitu? Karena pengurangan kapasitas mesin memungkinkan dimensi motor lebih kecil sehingga lebih gesit. Yang lebih penting lagi, dengan kapasitas lebih kecil power motor berkurang sehingga kontrol motor di tikungan menjadi lebih mudah. Keuntungannya pembalap tidak perlu mengerem keras dan menutup habis throtle seperti kalau mengendarai motor 990cc. Kerugiannya, dengan power yang lebih rendah, top speed berkurang. Mengakalinya dengan mempertinggi putaran mesin.
    Untuk mempertinggi putaran mesin inilah yang membuat berbeda mesin V dan inline. Agar putaran mesin lebih tinggi, langkah piston diperpendek. Kenapa demikian? Kalau langkah piston tetap sedangkan putaran ditingkatkan maka kecepatan piston terhadap dinding silinder meningkat. Akibatnya kerugian gesek juga bertambah. Efek lainnya, dengan langkah panjang dan putaran mesin yang tinggi, aliran fluida di ruang bakar akan terganggu. Langkah piston yang diperpendek ini memaksa bore/diameter piston diperbesar agar volume mesin tetap. Dengan makin lebarnya piston maka lebar mesin juga bertambah.
    Konfigurasi mesin V-4 menempatkan 2 silinder berdampingan di depan dan dua lainnya di belakang. Akibatnya lebar mesin (dilihat dari arah depan motor) juga lebih kecil dibandingkan dengan mesin inline-4 yang menempatkan 4 silinder berjejer melintang dengan arah motor. Dari sini saja dapat kelihatan bahwa potensi untuk memperbesar diameter pistorn agar mengecilkan langkah piston pada mesin V-4 lebih besar dari pada mesin inline-4. Pertanyaan lanjutan, kenapa lebar mesin menjadi penting? Tentu saja, sebab lebar mesin mempengaruhi lebar motor secara keseluruhan. Makin lebar motor maka makin tidak gesitlah motor tersebut dan hambatan angin juga makin tinggi. Itulah mengapa pada lintasan lurus, mesin V-4 milik Ducati dan Honda bisa berlari lebih kencang dibandingkan milik Yamaha. Yang perlu dicatat, V-4 memiliki kerugian dimensinya yang lebih panjang diukur dari depan motor ke belakang dibandingkan mesin inline-4. Akibatnya centralisasi massa yang sangat mempengaruhi kegesitan motor lebih baik pada mesin inline-4. Selain itu, wheel base motor pada mesin inline-4 juga bisa lebih pendek. Wheelbase yang lebih pendek ini membuat motor lebih gesit di tikungan.
    Pemilihan mesin V-4 ataupun inline-4 bukan hanya ditentukan dari hal-hal diatas saja. Konfigurasi keduanya juga membuat perbedaan pada mekanisme pengaturan valve, saluran masuk bahan bakar dan saluran knalpot. Tiap pabrikan sudah mempertimbangkan dengan baik sebelum menentukan akan memilih konfigurasi mesinnya. Buat Ducati, terutama Yamaha dan Kawasaki menurut saya diuntungkan dengan pemilihan mesinnya masing-masing. Saya yakin, pabrikan motor mengikuti seri MotoGP punya 2 tujuan utama. Pertama, sebagai sarana promosi produknya. Dengan memenangkan seri MotoGP produknya akan terkenal. Dengan ikut saja setidaknya dikenal. Kedua, seri MotoGP bisa dijadikan laboratorium dalam mengembangkan teknologi motor produk massalnya. Alasan kedua inilah yang saya katakan menguntungkan Ducati, Yamaha dan Kawasaki. Seperti kita ketahui produk massal motor-motor Jepang untuk tipe-tipe supersportnya sebagian besar berkonfigurasi inline-4. Sedangkan Ducati terkenal dengan motor V-2 nya. Sehingga dengan mengikuti MotoGP, dua tujuan dapat dicapai sekaligus. Bandingkan dengan Honda dan Suzuki yang cuma menikmati keuntungan promosi (alasan pertama). Untuk dijadikan laboratorium teknologi, masih harus disesuaikan lagi sebab tidak dapat mentah-mentah diterapkan ke teknologi inline-4

  3. stoner is the best n rossi is be thes!!!stoner emg g mnunjukkan prforma terbaikx taun lalu cz dy sdg dlm ms ”peralihan” n prforma motor yg g memungkinkan bgt buat blp juga sbg anak ”tiri” di honda liat ja checa yg skrg di lcr,,emg lcr-x yg hang msnx bkn stonerx!!n skrg dy udh ke jln hidup yg sbnry!!!tiap blp aq kan dkg stoner n Braoo,Go,,Viva,,for My love……Stoner!!!stoner comes for WIN

  4. gw rasa kesialan dan kekalahan rosi kali ini…asli karena pemelihan ban yg ga bagus…..bebrapa kali rossi selalu gagal karena masalah ban….emang harus di akui motor ducati itu adalah motor tercepat….yg mungkin kecepatannya selisih 20 km dengan kecepatan motor yamaha…tapi gw yakin ini semua bisa di akalin ama yamaha..dengan rosinya asal semua mendukung….seperti ban misalnya…apa itu merek nya ngeselin yach….itu jelas ban kalah jauh…dengan dunlop….

  5. w tahu ducati emang terkenal cepat,but kecepatan motor yamaha yang kalah dengan ducati ini bukan karena faktor mesin, emang dalam balap motor per bandingan nya 50% mesin,50% jokey, tetapi berbedaan kecepatan ke-2 motor ini karena perbedaan pendapat para insinyur jepang dan itali.

    para insinyur itali untuk ducati lebih mementingkan speed dari pada handling, soal handling biar pembalap itu yang mengatasinya, jadi semua body motor ducati dibuat lebih aerodinamis dan mesinnya juga dibuat lebih bertenaga,terutama di max power dan max torque,sedangkan

    para insinyur jepang untuk yamaha lebih mementingkan handling dari pada speed, maka-nya motor dibuat lebih balance, terutama pada chicken ( tikungan 2 kali yang tdk jauh jaraknya) motor yamaha terlihat seimbang sekali. seperti di sirkuit mugello 3 juni 2007 terlihat sekali keseimbangan motor tsb.
    memang ini tidak berlaku untuk honda yang merupakan pabrikan jepang karena ia menggunakan insinyur dari eropa

    saya yakin insinyur yamaha ini melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, mungkin ia melakukan itu untuk menunjang kemampuan rossi di tikungan. tapi mesin yamaha tidak kalah kuat dgn mesin ducati sebab, coba saja lihat ajang balap di sirkuit mugello motor rossi melahap lintasan lurus dg sangat cepat, dibandingkan balapan yang sebelumnya.

  6. Hmm, menurut gw Rossi dan Stoner imbang dalam skill.
    Liat waktu awal2 Rossi dan Stoner maen dulu.
    Debut Stoner Maret 2006, dia finis 8 dunia dengan team kacangan dan bandingkan dengan Rossi, debut dia runner up dunia, dengan catatan dia memiliki The Dream Team.
    Sekarang tahun kedua dia di motogp, dan dia memiliki The Dream Machine.

  7. Hmm..kalo masalah skill menurut gw dua2xnya seimbang, tapi pengalaman bertanding jelas Rossi…

    Masalah Motor ya jelas, Ducati memang motor tercepat, tapi kalo pembalapnya juga bukan pembalap terbaik ya pasti tuw motor di belakang juga, liat aja Capirossi dan Tim Satelit Ducati…sangat jarang didepan bukan???

    Masalah Rossi tahun ini, selain masalah tehnis yg sering dia gembar-gemborkan adalh :Makin matengnya Young Guns dengan talenta yang sangat menajubkan, makin cueknya pembalap muda pada nama besar Rossi serta mental rossi yang down menghadapi kompetitor…ditambah masalah pajak ,serta ini mungkin sedikit obyektif..umur. Lawan dia skr rata2x adalah “anak kecil” yang berangasan, bandingkan pas dia yg jadi anak kecil, lawannya adalah “sesepuh” yang gampang disalip..

    Jadi menurut gw tahun 2007 ini, Stonner adalah:”the right man on the right bike”, sedangkan Rossi adalah: The great racer fighting till the end”…

  8. stoner memang huebat. dia bukan pembalap sembarangan. nyatanya bisa ngendalikin motor ducati yang super liar dengan mudahnya. coba kalo pembalap lain, pasti jarang ada yang bisa. tapi kalo rossi yang naek ducati malah persaingan motogp gax seru lagi karena dah bisa dipastikan pemenangnya adalah rossi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.