Memindahkan Korban Mutilasi

Kantong Plastik SampahMinggu kemarin saya harus memindahkan korban mutilasi yang sudah saya lakukan beberapa tahun silam. Potongan-potongan tubuh itu saya masukkan ke dalam plastik sampah berwarna hitam supaya tidak mudah tampak isinya. Tentu saja harus saya ikat agar isinya tidak keluar ketika saya letakkan di dalam mobil. Maklum, jika melewati jalan jelek yang kini semakin banyak di ibu kota, bisa-bisa isinya terburai berantakan.

Syukurlah perjalanan kembali ke kos berlangsung dengan aman dan lancar. Saya lihat tidak ada perubahan atau kerusakan di plastik pembungkus. Ini artinya pemindahan nyaris berhasil. Tinggal membawa potongan-potongan tersebut masuk ke kos yang ada di lantai 3 tanpa mengundang perhatian orang banyak. Soalnya plastik ini cukup besar dan berat. Dan lagi di daerah situ banyak orang yang jika kita salah tingkah sedikit, maka dengan mudah dapat menarik perhatian orang sekampung.

Perjalanan ke kos juga lancar tanpa mengundang perhatian banyak orang. Tentu saja tampang harus distel supaya tidak mencurigakan. Tentu juga saya tidak boleh salah tingkah atau pun gugup.

Menaiki tangga ke lantai 3 juga lancar. Kebetulan tidak ada orang-orang kos yang lalu lalang di situ. Begitu pun di lorong kos juga sepi. Biasanya jam segitu ibu tukang cuci sibuk menyetrika di ruang setrika. Tetapi syukurlah beliau tidak ada. Tampaknya tugasnya sudah selesai sehingga saya bisa melenggang dengan leluasa masuk kamar.

Begitu masuk kamar, pintu langsung saya kunci. Supaya segala bebunyian dan kegaduhan yang ditimbulkan tidak terdengar. Juga supaya segala kesibukan saya membongkar korban mutilasi tidak terlihat oleh orang lain.

Korban MutilasiSeketika saya buka ikatan kantong plastik itu dan saya keluarkan satu per satu bagian tubuhnya. Dimulai dari lehernya yang jenjang. Kemudian body-nya yang telah terburai. Buraian anggota tubuhnya saya simpan tersendiri di plastik kecil supaya buraiannya tetap lengkap.

Ini dia foto korban mutilasi saya. Saya berharap suatu saat nanti dapat merakitnya kembali menjadi body yang sexy seperti sedia kala saat kami masih sering bersama melantunkan lagu-lagu metal.

~~~
Terkait:
“Menyia-nyiakan Bakat”
“Talenta = Bakat ???”

16 pemikiran pada “Memindahkan Korban Mutilasi

  1. Walah korbannya si bohay toh, dilihat dari gagangnya tak pikir fender je jebul bukan hehehe, tak pelototi bentuk tremolonya tapi ngumpet cuma nampak sebagian jd ga jelas.

    Bos mari ngerooooooccccccckkkk…………

    **balik lagi ke Def Leppard**

  2. Hik.. hik.. hik..
    Jadi inget dulu pas kul pernah punya cita2 beli gitarbass elektrik & sayang belum tercapai sampai sekarang… 😦
    Nabung lagi aahhh…
    GBU.

    PS. Bos Dewo, itu gitar cepetan dirakit lagi gih… kasihan protolan gitu….

  3. Belum terungkap, apa motivasi anda melakukan mutilasi. Apa karena ada pihak ketiga sehingga anda cemburu lalu gelap mata maka anda lakukan mutilasi?? atau apakah karena anda tersinggung sehingga anda gemes dan akhirnya terjadi mutilasi itu .. atau apa?? mesti diungkap nih.

    *manggil team forensik*

    Trus modus operandinya juga belum terungkap jelas. Kapan dan dimana proses mutilasi itu dilakukan. Dan apa alat untuk melakukan mutilasi. Tapi kalo dilihat dari korban sih, kaya’nya anda menggunakan tangan anda sendiri. Jadi sebagai barang bukti, tangan anda akan disita.

    *langsung pasang police line*

    Hwakakaka 😆 .. pak, pak e .. aya aya ae postingannya. Tapi .. suer, seru. Bikin jadi mampir lagi kesini setelah lama absen. Dan saya bahkan baru ngeh, kalo ternyata pak Dewo ini adalah dedengkot-nya musik.

  4. @ Dear Tyok (#1),

    Hehehe… ayo nge-rock…
    Hayo tebak, itu gitarnya apa?
    ~~~

    @ Dear Cabe Rawit (#2),

    Hehehe… iya, dulu banyak mainkan lagu2 metal.
    Dari Metallica, Helloween, dll.
    Tapi yang lembut-lembut seperti Europe kami mainkan juga 😀
    ~~~

    @ Dear j4p (#3),

    Ayo nabung. Terus kita nge-rock 😀
    Semoga kesampaian.
    GBU2.
    ~~~

    @ Dear Mbak Choco (#4),

    Emang dipilih kata-kata yang nggilani.
    Hehehe…
    ~~~

    @ Dear Mama Icel (#5),

    Iya, aku dulu mau bikin bengkel:
    “Terima bongkar tidak terima pasang.”
    Hehehe…
    ~~~

    @ Dear Mbak Citra Dewi (#6),

    Hayo, dikira apaan?
    Mirip apa ya? Maklum, aku kan telmi.
    ~~~

    @ Dear Mas Erander (#7),

    Hehehe…
    Ayo diselidiki bareng.
    Terima kasih telah kembali ke blog saya.

    Salam.

  5. pakde? main gitar? metal? enggak cocok banget deeeehh…

    pakde tuh cocoknya main ketipung dengan lagu dangdut.. goyang dikit makin seeerrr… seerr…

  6. well, pantesan om dewo sudah ngak pernah keliatan di KRL lagi, jebule gitarnya jadi korban multilasi toh?? 😀

    Lam nal om dewo, dari Bloezoek Jogja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.