Menginstal Ubuntu 8.04 Di Acer TM 3045

“You’ll never go back”

Demikian tag line dari Ubuntu 8.04 LTS for desktops (Hardy Heron). Tentu kita semua tahu maksud dari kalimat ini, yaitu jika kita sudah mencoba Ubuntu, maka kita tidak akan ingin kembali ke MS Windows. Tapi benarkah Ubuntu dapat membuat kita tidak pernah kembali lagi ke Windows?

Untuk mendownload Ubuntu 8.04 dibutuhkan upaya yang sangat berat. Maklum, sebagai fakir benwit tentu tidak bisa dengan mudah dan cepat mendownload file yang besarnya 1 CD ROM ini. Pertama kali mencoba mendownload di situs resminya (download) tapi berkali-kali gagal walau pun sudah pakai download manager. Untung ingat kalau UI punya mirror software open source, yaitu kambing.vlsm.org. Tapi tidak bisa juga karena katanya terlalu banyak user yang terkoneksi. Langsung aja nyari di link alternatif dan nemu di ftp.kambing.ui.edu. Hehehe… nemunya di kambing juga.

Karena disambi macem-macem dan kemana-mana, akhirnya download baru selesai 2 hari. Kali ini biar cepet downloadnya di kantor dengan memanfaatkan jam-jam sepi.

Yang heboh adalah karena saya menginstalnya di Acer TM 3045, bukan di Lenovo yang memang notebook untuk experimen. Ini benar-benar mempertaruhkan segalanya karena ini adalah notebook kantor yang isinya semua pekerjaan. Hehehe… tentu saja saya tidak seceroboh itu. Sebelumnya saya sudah membackup data penting. Sedangkan Lenovo tetap saya pertahankan pakai Linux Mint 4.0 Xfce.

Yang bikin kebat-kebit adalah karena saya menggunakan Wubi Installer versi 8.04 (utk Ubuntu 8.04). Wubi adalah sebuah utility installer Ubuntu di lingkungan Windows. Artinya kita tidak perlu membuat partisi khusus untuk Ubuntu melainkan memanfaatkan sebagian spasi yang dialokasikan untuk menjadi area kerja Ubuntu. Asyiknya adalah karena kita tidak perlu memusingkan masalah teknis alokasi spasi partisi dan pemformatannya, tetapi cukup pilih berapa besar spasi harddisk yang kita alokasikan. Semuanya akan diatur oleh Wubi. Wubi yang akan membuat drive virtual untuk Ubuntu.

Lebih asyik adalah Wubi tidak mengambil alih boot manager bawaan Windows seperti Linux kebanyakan (biasanya diambil alih oleh Grub atau pun Lilo). Tetapi menjadi bagian dari boot manager Windows sehingga untuk masuk ke Ubuntu cukup memilih opsi sistem operasi di boot manager Windows. Benar-benar menyenangkan.

Tidak kalah asyik adalah saat meng-uninstal Wubi & Ubuntu. Jalankan saja unistaller-nya, maka dengan cepat Ubuntu akan dihapus dari hard disk. Kalau mau nekat, hapus saja direktori Ubuntu dari harddisk, maka Ubuntu langsung menghilang dari hard disk. Tapi kalau dengan cara nekat, tentu kita harus menghapus pilihan boot ke Ubuntu dari boot manager Windows secara manual. Caranya mudah, jalankan saja msconfig.

Urusan instalasi Wubi dan Ubuntu ini sempat membuat saya ketar-ketir. Maklum, saat saya tahu mengenai Wubi 7.10 dari majalah InfoLinux, Wubi baru diperuntukkan bagi Windows XP. Tapi waktu melihat bahwa Wubi 8.04 bisa dijalankan di Vista, maka saya nekat menginstalasi.

Instalasinya gampang banget. Sebelumnya saya mematikan wifi supaya notebook tidak terkoneksi ke internet. Soalnya kalau terkoneksi ke internet, maka Wubi akan mencoba men-download Ubuntu. Jalankan aplikasi Wubi, pilih drive di mana akan diinstal Ubuntu, pilih besar spasi yang dialokasikan, masukkan password (2 kali) dan tekan tombol Next. Loh kok error? Tenang saja, itu karena saya belum memasukkan file iso Ubuntu yang saya download ke direktori Ubuntu/install. Setelah disalin, maka jalankan lagi installer Wubi dan biarkan Wubi bekerja.

Selesaikah? Ternyata belum, Saudara-saudara. Kita perlu me-restart komputer kita dan memilih booting ke Ubuntu. Kemudian Wubi akan melakukan instalasi Ubuntu ke drive virtual yang sudah kita alokasikan. Pengalaman instal Ubuntu dengan Wubi di Lenovo gagal terus. Selalu macet. Itulah sebabnya saya menginstal Linux Mint secara khusus di partisi. Hehehe… Kayaknya saya perlu mencoba Wubi 8.04 di Lenovo.

Ketika semuanya berjalan baik, saya menjumpai drive yang dikenali oleh Ubuntu cuma 1, yaitu drive C. Lalu kemana drive D? Wah, sempat panik juga. Soalnya drive D yang sebagian dialokasikan untuk Ubuntu ini berisi data penting. Langsung saja saya restart dan masuk ke Vista. Syukurlah bahwa drive D masih utuh tidak kurang apa pun. Tetapi mengapa tidak bisa dikenali oleh Ubuntu ya?

Seperti biasa, hal-hal berkenaan dengan Linux adalah masalah kompatibilitas hardware. Syukurlah wifi bisa dikenali dan dijalankan. Hehehe… males kalau masih tergantung dengan kabel. Bisa-bisa keserimpet kabel. Duh, bahagianya dunia wireless. Woiii… kok ngelantur sih?

Tapi sejak awal mula Ubuntu di-instal kok TM 3045-nya tidak bersuara? Sound card dikenali. Volume sudah paling keras. Tapi suara itu tetap tidak keluar. Jangan-jangan kuping saya yang mulai soak. Ya sudah, saya korek-korek kuping dulu, siapa tahu memang masalahnya di telinga saya. Tapi kok masih tidak terdengar?

Hem… ya sudah, ngobrol-ngobrol dulu sama temen, siapa tahu telinga saya memang belum bener walau pun sudah dikorek-korek. Wah, suara temen-temen kok terdengar? “Tes-test-tes… satu-dua-tiga…”

Habis itu dicoba dengan head phone. Eee… ternyata keluar suaranya. Benar-benar ajaib. Rupanya Alsa gagal menyalurkan suara ke saluran yang benar.

Berarti yang bermasalah memang Ubuntu dan notebooknya. Rupanya karena Alsa driver tidak bekerja dengan benar di ALC883. Seharian ngoprek sambil coding dan googling sana-sini (Hehehe… rupanya saya bisa multi tasking juga). Dari cara sederhana menambahkan options snd-hda-intel model=acer sampai reinstall Alsa sudah dilakukan, tetapi suara itu tetap tidak keluar.

Ternyata ada cara bodoh yang pada akhirnya mampu menyalakan suara walau pun tidak bisa optimal, yaitu dengan mengaktifkan fasilitas surround di Alsa Mixer. Cara ini saya dapat dari sebuah forum di mana ada seseorang yang mengalami hal yang sama dan kemudian putus asa dan menemukan cara ini. Kesimpulannya Alsa masih gagal mengenali saluran dari ALC883 Azalia. Padahal Azalia ini memiliki spesifikasi yang tinggi dan disebut sebagai High Definition Audio. Padahal ketika didengarkan lewat speaker bawaan notebook, suaranya masih secempreng notebook lain. Hehehe…

Waktu saya mencolokkan head phone ternyata suara keluar dari head phone dan speaker. Hem… biarlah sementara begitu. Kalau mau pakai speaker external tinggal mematikan surround sehingga suara tidak keluar dari speaker notebook.

Untuk sementara ini saya cukup happy dengan Ubuntu 8.04. Malahan seharian ini saya lebih banyak menggunakan Ubuntu 8.04 ini dari pada Vista. Jangan-jangan benar klaim Ubuntu kalau kita bisa saja tidak akan kembali ke Windows.

10 pemikiran pada “Menginstal Ubuntu 8.04 Di Acer TM 3045

  1. @ Dear J4p (#1),

    Hehehe… senang rasanya jika bisa ngobrak-abrik gadget, walau pun cuma sistem operasinya.

    Salam & GBU juga.
    ~~~

    @ Dear Kabarihari,

    Tidak susah kok. Untuk tahap awal bisa pakai Wubi. Bener deh, gampang banget.

    Salam.

  2. @ Dear Forkomaras (#4),

    Hehehe… downloadnya lama karena disambi-sambi dan sering terputus karena banyak hal yg harus dikerjakan. Kalau nonstop sih paling beberapa jam saja.

    Salam.

  3. emang bener, saya juga baru install ubuntu 8.04 ini, dan tanpa sadar udah lama sekali saya pakai, seolah2 yg saya pakai ini windows, soalnya gampang makenya

    • @Yuli,

      Keunggulan yg paling utama adalah di security-nya. Linux lebih tahan terhadap serangan virus. Dan yg tidak kalah penting adalah harganya. Kebanyak distro linux adalah gratis, temasuk ubuntu yg sudah amat-sangat lengkap & powerfull.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.