Cerita Konyol Minggu Ini

Kurasa setiap orang pasti pernah (atau bahkan sering) berbuat konyol. Yang membedakan antara satu orang dengan orang lain adalah:

1. Seberapa sering kita berbuat konyol?
2. Apakah kita sadar berbuat konyol?
3. Apakah kita belajar & memperbaiki diri dari perbuatan konyol?
4. Mampukah kita mentertawakan diri ketika berbuat konyol?
5. Dst… (silakan tambahkan sendiri)

Nah, dalam seminggu ini daku banyak berbuat konyol. Dan di sinilah daku mau berbagi cerita konyol. Silakan mentertawakan cerita-ceritaku karena daku sudah mentertawakannya terlebih dulu. Hihihi…

Menyerah Kepada Sakit

Hari yang tidak terlalu cerah itu berhasil kulalui dengan penuh semangat. Target pekerjaan hari itu pun berhasil diselesaikan. Memang sih hari itu kondisi fisikku sedang tidak fit karena daku terserang flu.

Masalahnya adalah ketika sampai di kos daku langsung menggeletakkan diri di kasur dan menyerah pasrah. Habis itu malah langsung meriang dengan hidung mampet-pet-pet. Padahal sebelumnya masih bisa berjalan dengan gagah plus nyetir sendiri dengan penuh percaya diri.

Apakah karena daku menyerah sehingga akhirnya sakit itu menguasai diriku? Bagaimana seandainya daku tidak menyerah ya?

Mandi Praktis Ala Dewo

Setelah menyerah sakit rasanya badan jadi lemes-mes-mes. Mau bangun saja harus mengumpulkan tenaga & semangat plus berdoa. Apalagi kalau harus mandi? Hu-uh… bukan saja dibutuhkan tenaga & semangat, tapi harus ada yang mandiin. Hehehe…

Sayangnya tidak ada yang bakal memandikan daku saat itu. Jadi harus mandi sendiri, alias mandiri. Hehehe…

Syukurlah daku tidak kehilangan akal. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, kupaksakan daku duduk di tempat tidur dan mengambil tisu basah di tas. Dan mandilah daku dengan tisu basah.

Sangat praktis bukan? Selain bersih, badan jadi wangi. Hehehe…

Mencari Menunggu Taxi

Malam-malam sehabis meeting di client daku baru sadar kalau daku ada di suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana itu. Berangkatnya sih santai saja karena daku naik taxi. Yap, daku memutuskan naik taxi dari pada nyetir mobil sendiri karena daku memang tidak tahu dimana lokasi tempat meeting.

Daku cuma menyebutkan alamat & wilayah tersebut pada supir taxi dan sampailah daku di sana. Sudah beberapa kali daku menggunakan trik ini. Maksudnya setelah diantar taxi barulah aku mengerti jalan menuju ke sana dan jika suatu saat harus ke sana lagi, maka daku bisa bawa mobil sendiri tanpa perlu khawatir tersesat.

Masalahnya daku masih sakit flu dan di dalam taxi tadi daku tidak konsen memperhatikan jalan. Boro-boro inget, lha wong daku merem di mobil… Hehehe…

Pertama-tama yang daku cari adalah jalan raya. Pasti bakal banyak taxi yang lewat.

Menemukan jalan besar memang bukan perkara mudah karena daku ada di pedalaman, eh, perkampungan yang daku tidak tahu arahnya. Salah arah bisa-bisa malah semakin masuk ke perkampungan. Mana ini sudah malam jadi jarang ada orang yang bisa ditanyain. Bisa-bisa yang ditanyain malah bukan manusia… Hiiii…

Setelah nyasar akhirnya daku berhasil menemukan jalan besar. Yap, akhirnya daku benar-benar menemukan “jalan besar” alias “jalan raya.” Hehehe… sengaja kuberi tanda kutip karena daku tadinya sempat mengira telah menemukan jalan besar padahal ternyata jalan gang biasa. Memang sih cukup ramai, jadi kukira jalan besar.

Ternyata mencari taxi bukanlah hal yang gampang. Kali ini daku merasa dipermainkan oleh para taxi. Kalau dari kejauhan daku melihat banyak taxi kosong sliwar-sliwer, maka daku jalan ke sana menunggu taxi. Tapi ternyata setelah kutunggu malah tidak ada taxi yang lewat. Justru kemudian di seberang sana taxi kosong sliwar-sliwer. Masalahnya daku tidak bisa menyeberang karena jalan dipisahkan oleh sungai. Hiks…

Bayangkan sendiri ketika daku harus pindah tempat beberapa kali hanya untuk mencari taxi. Kalau di sana terlihat banyak taxi bersliweran, maka daku ke sana. Tapi setelah ke sana ternyata tidak ada taxi kosong yang lewat.

Sampai pada akhirnya daku berdiri lunglai di sebuah bunderan antah berantah. Tidak ada taxi kosong melintas. Ada sebuah yang melintas tapi tidak mau berhenti. Mungkin sudah ada yang memesannya. Sedangkan di seberang sana malah sudah kulihat beberapa taxi kosong melintas.

Dalam hati daku membulatkan tekad, pokoknya ini yang terakhir. Lalu daku melangkahkan kaki menyeberang. Baru saja daku mau naik ke trotoar, tiba-tiba ada taxi kosong menyongsong diriku. Bluebird pula. Hehehe… Langsung saja daku naik dengan perasaan lega.

Sampai deh daku di kos. “Uang kembaliannya buat Bapak saja…” Begitu kataku dengan lega.

Seperti Baru Belajar Nyetir

Sudah sebulan ini aki mobil bermasalah. Kalau mobil ngendon 2 malam tidak dipakai, maka keesokannya mobil tidak bisa distarter. Kalau berangkat dari kos sih tidak masalah walau pun aki soak, soalnya kontur parkiran agak menurun sehingga bisa distarter gelinding tanpa perlu ada yang mendorong.

Keadaan jadi lain ketika suatu hari daku pulang kemalaman. Wah, untung mobil masih bisa distarter karena sore tadi sempat dipanasin. Sore tadi memang sempat dipanasin karena sopir mengecek pengisian aki sekaligus memompakan ban belakang kanan yang rada kempis.

Cuma daku jadi dag-dig-dug juga. Maklum, jalan malam berarti menyalakan lampu-lampu plus AC yang kesemuanya memakan daya listrik. Bisa-bisa tekor nih.

Masalahnya karena tahu ada masalah dengan aki, daku jadi kikuk nyetirnya. Seandainya tidak tahu malah tidak apa-apa ya? Hehehe…

Daku jadi takut klakson walau pun banyak yang harus diklaksonin (halah). Juga takut kasih lampu besar saat ada yang ngawur jalannya atau mau menyalip. Menyalakan lampu sein pun dihemat. Bahkan ngerem pun harus mikir dulu. Maklum, lampu rem kan watt-nya lumayan besar. Bisa-bisa aki cepat tewas dan mobil mogok dengan sukses.

Tapi kekhawatiran yang terbesar adalah menjaga agar putaran mesin cukup tinggi supaya tidak mati. Jadi kayak baru belajar nyetir mobil. Padahal daku sudah bisa nyetir mobil sejak SD. Dulu waktu pertama kali belajar nyetir memang fokus utamanya adalah mempertahankan mesin supaya tidak mati. Kini seolah daku belajar nyetir lagi karena takut mesin mati. Maklum kalo mesin sampai mati berarti tidak bisa distarter lagi. Hihihi…

Syukurlah daku bisa sampai di kos dengan selamat.

Ketinggalan

Sampai di kos dengan selamat ternyata belum cukup bagiku. Masih ada cerita yang tersisa…

Seperti biasa mobil diparkir di ruko seberang. Jarak antara ruko ke kos lumayanlah, mungkin sekitar 200 meteran. Tapi malam itu daku harus melakoninya 4 kali plus naik turun tangga lantai 3 dua kali.

Ceritanya begini, setelah parkir dengan sukses daku langsung bergegas jalan ke kos dan langsung naik ke kamar di lantai 3. Saat semua gadget dikeluarkan, ternyata ada 1 gadget yang kurang, yaitu Soner G502. Wah, rupanya tertinggal di mobil. Langsung saja daku turun lagi dan berjalan cepat menuju parkiran. Ini berarti sudah satu rit sendiri. *Hihihi… emang angkot?*

Sampai mobil langsung mendapati ponsel yang tergeletak dengan tak berdosa itu. Masalahnya daku jadi merasa sia-sia jika turun ke jalanan hanya untuk ambil ponsel. Akhirnya daku sekalian saja jalan ke mini market terdekat untuk beli roti dan coklat.

Menurutku ini termasuk konyol karena daku jadi beli sesuatu yang sebenarnya ga perlu bin ga penting hanya gara-gara ponsel ketinggalan di mobil.

Penutup

Nah, hari ini daku tersenyum-senyum sendiri menuliskan kekonyolan-kekonyolan yang kubuat dalam seminggu ini. Sebenarnya ada beberapa cerita konyol yang lain, tapi rasanya kok terlalu sensitif sehingga tidak perlu diceritakan. Karena bagiku konyol belum tentu konyol bagi orang lain. Hehehe…

Sudahkah Anda mentertawakan kekonyolan Anda sendiri?

8 pemikiran pada “Cerita Konyol Minggu Ini

  1. gara2 membaca cerita ini rasanya aku udah melakukan perbuatan konyol dan terpaksa harus aku tuliskan dalam buku harianku 😀

  2. Saya kira konyolnya kayak gimana gitu. Taunya, ya sama seperti komen teman2 yg lain kurang seru ah…
    Soalnya konyolnya kamu cuman buat kamu sendiri doang, maksudku tidak melibatkan orang lain sebagai korban atau objek tak berdosa yg harus ngerasa malu ngeliat kekonyolan yg kamu buat…
    Jangan dimasukin hati ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.