Makan Makanan Tidak Enak

Kalau makan makanan enak pastinya semua orang juga senang. Ada juga yang walau pun kurang enak, tapi karena lapar, rasanya jadi wenak. Tapi pernah ngga makan makanan yang benar-benar nggak enak? Lalu bagaimana? Terus berusaha menghabiskannya atau ditinggal saja?

Dalam seminggu ini daku merasakan 2× makan tidak enak. Yang pertama adalah di warteg dekat kos. Sebenarnya waktu melihat jajaran makanannya sudah rada-rada curigation (baca: curiga). Pasalnya kok rada meragukan bentuk dan warnanya. Jadi illfeel deh. Tapi sudah kepalang tanggung masuk ke warteg-nya.

Ternyata benar juga, rasanya amburadul plus pedesnya amit-amit. Tadinya mau tidak dihabiskan dan langsung bayar saja dan ngeloyor pergi. Tapi kok si ibu penjaga warung ada di depan mata sambil makan juga dengan lahapnya. Sudah gitu sok ramah lagi.

Jadi mikir-mikir, seandainya tidak dihabiskan, bisa-bisa si ibu malah sakit hati. Ya sudah, daku dengan perasaan ditabah-tabahkan berusaha menghabiskan. Masalahnya porsinya termasuk besar, jadi ini adalah perjuangan yang berat. Hiks…

Kalau biasanya daku berdoa sebelum dan sesudah makan, kini daku berdoa sepanjang makan. Semoga bisa menghabiskan dan perut tidak sakit.

Tapi pada akhirnya daku harus menyerah. Jika dipaksakan bisa-bisa muntah. Untungnya sudah agak banyak yang dimakan. Keluar dari warteg rasanya mau nangis. Hihihi… *Lho kok malah tertawa sih?*

Mie Aceh

Kesempatan makan tidak enak kedua adalah saat makan bareng rombongan di Bandung. Tadinya mau nyobain Mie Aceh. Maklum, Bune sedang ngebet pengen ngerasain Mie Aceh. Katanya sih, Mie Aceh itu enak banget. Yo wis, kami pun menuju salah satu resto Mie Aceh di Cimahi.

Sampai sana diriku sudah mulai curigation lagi. Tempatnya memang nyaman, tapi kok sepi pengunjung. Biasanya resto yang sepi berarti masakannya kurang enak.

Ternyata memang benar, Saudara-saudara. Rasanya memang tidak enak. Dari bentuk dan warnanya pun sudah tidak menggugah selera. Sudah gitu ditambah roti plus kare. Hehehe… rada aneh juga sih, soalnya rotinya bukan roti biasa, dan cara makannya pun dengan kare. Rasanya juga aneh banget.

Syukurlah rasanya masih bisa ditolerir di lidah & perut. Berhubung lapar, akhirnya kami semua dapat menghabiskannya. Sedangkan Bune cukup bertanggung jawab dengan pilihannya. Kami pun dibebaskan dari kewajiban membayar karena ditraktir beliau.

Terima kasih Bune. Tapi lain kali kalau traktir yang enak, dong…

Iklan

8 respons untuk ‘Makan Makanan Tidak Enak

  1. Kalau mie Aceh di tempat saya rasanya memang agak pedas tapi masih enak koq dikonsumsi..

    Pak Dewo mungkin ga biasa kali ama bumbu masakan Aceh soalnya salah satu masakannya ada sayur ganja…

    hehehe… 🙂

  2. Aku setuju tuh …resto sepi pengunjung biasanya nggak enak.
    Tapi tergantung selera msg2 orang juga.

    Tahu bubur terkenal mas Tatang itu?..
    Banyak yang ngantri kalo makan disana. Tapi daku gak suka. Bubur yang aneh.. :mrgreen:

  3. wahhh..senangnya bisa nyobain makanannn..
    diriku disini masih merana pak dengan makanan yang aneh-aneh .. huhuhu…

    (masih kangen ama nasi padang+soto lamongan plus sayur asem..)

  4. makan roti cane memang pakai kuah kari, pak. ada ke malaysia, brunei, singapore juga akan begitu kko makan roti canai di kedai mamak, memang itu jodohnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.