Belajar dan Mengajar Tidak Pernah Mudah

Pembaca pasti pernah nonton film kungfu kan? Nah, daku jadi teringat film-film kungfu ketika sedang berintrospeksi mengapa daku tidak dapat melakukan alih pengetahuan kepada anak buah dengan baik. Sudah berkali-kali diajarkan pun tidak ada yang nyanthol di kepala mereka. Apakah caraku yang salah? Apakah ada yang salah ketika aku mengajarkan mereka?

Nah, di saat interospeksi inilah daku kemudian teringat pada film-film kungfu tersebut. Seringkali dalam film tersebut dikisahkan seorang pemuda yang sombong dan suka nantangin orang lain untuk berkelahi. Hingga suatu saat (seperti biasanya) pemuda sombong tadi kalah oleh seorang tua yang dari sosoknya saja tidak meyakinkan untuk bisa berantem. Tapi kenyataannya berbeda, si pemuda dengan tubuh atletis ternyata dapat dengan mudah dikalahkan tubuh renta tersebut.

Dan ternyata walau pun si pemuda ini adalah pemuda yang sombong, dia rupanya punya hati besar untuk menyadari kesalahannya dan kesombongannya. Si pemuda akhirnya memohon untuk dapat berguru kepada si tua yang ternyata adalah pendekar terkenal pada masanya.

Di sinilah kemudian alur cerita menarik digulirkan, yaitu tentang alih pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan oleh si pendekar tua kepada pemuda yang bertobat tersebut. Tidak pernah mudah. Dan tidak pula dapat dilakukan dengan cepat. Semuanya selalu melalui proses yang menarik.

Dalam film biasanya ditampilkan betapa sulitnya alih pengetahuan & keterampilan tersebut dilakukan. Dan biasanya ditunjukkan betapa untuk melakukan hal tersebut si pemuda harus belajar/bekerja extra keras. Selalu ditampilkan betapa babak belurnya si pemuda ketika harus belajar dari si pendekar tua yang pada awal proses digambarkan selalu pose dengan santai.

Sayangnya adegan ini tidak pernah detail dan selalu difilmkan dalam rentang waktu yang singkat. Mungkin saja sebenarnya proses alih ini berlangsung bertahun-tahun. Atau bisa saja memang dalam rentang waktu yang singkat karena si pemuda dapat belajar dengan waktu yang singkat. Tapi singkat kata, proses alih ini dapat berlangsung dengan baik dan si pemuda dapat menyerap semua keahlian gurunya yang diukur dengan sebuah tes akhir, yaitu test perkelahian untuk mengalahkan gurunya. Dan itu dapat dilakukan oleh si pemuda di akhir masa pelatihannya.

Yah, itu hanyalah sebuah cerita dari banyak film kungfu. Dan cerita pembelajaran seperti ini memang seringkali jadi menu wajib di film kungfu jadul. Walau pun hanya sebuah film, tema ini daku yakini sebagai cerita yang sebenar-benarnya, dimana sebuah keahlian tidak pernah diraih dengan mudah. Dan keahlian dapat dialihkan dan dikembangkan.

Dalam cerita-cerita kungfu ini paling tidak dapat diambil moral cerita bahwa

1. Seringkali kita merasa cukup dengan segenap pengetahuan/keterampilan kita. Kita pun seringkali jumawa dan menganggap diri kita ahli alias pakar. Tapi yakinlah bahwa di luar sana banyak sekali orang yang lebih brilian dari pada kita.

2. Ketika kita menemukan seseorang yang brilian, berbesar-hatilah! Rendahkan hatimu dan belajarlah darinya. Ini adalah sebuah langkah yang sangat berat terutama jika ego kita sangat besar. Tetapi menemukan guru adalah sebuah kesempatan yang sangat langka. Para pendekar kungfu jaman dulu walau pun punya karakteristik yang keras dan kaku, tetapi mereka juga memiliki jiwa besar dengan mengakui kekalahannya dan mau merendahkan dirinya untuk menjadi murid dari pendekar hebat lainnya.

3. Belajarlah dengan segenap hatimu. Belajar tidaklah pernah mudah, terutama jika belajar adalah sebuah paksaan alias perintah dari ortu atau atasan. Tetapi ketika kita memiliki dedikasi yang tinggi untuk belajar, tingkat keberhasilan akan sangat tinggi.

4. Mengajar juga bukan perkara mudah. Mengajar kepada banyak orang akan memberikan hasil yang banyak pula. Yang tersulit adalah ketika pengajar harus menjamin bahwa proses pembelajaran ini dapat dilakukan dengan baik sehingga semua muridnya berhasil. Untuk itulah dalam dunia pendidikan dikenal kurikulum untuk berusaha agar ilmu pengetahuan dapat diberikan ke muridnya dengan sistematika dan metode yang paling baik.

5. Ukurlah hasil belajar kita. Tentu metodenya macam-macam. Bisa dengan evaluasi seperti ujian, tes berkelahi, ups… kita kan tidak sedang belajar kungfu ya? Hehehe… Pokoknya kita harus memiliki metode untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar kita.

6. Kembangkan terus keahlian kita. Seperti di film-film kungfu, kelak kita akan menemukan seorang tokoh jahat yang sakti yang ternyata keahlian yang kita pelajari dulu tidak mampu digunakan untuk mengalahkannya. Tapi karena tokoh jahat ini bukan tempat yang baik untuk belajar, maka kita harus berusaha mengalahkannya dengan meningkatkan keterampilan kita. Biasanya si pemuda kungfu mengembangkan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Ada improvisasi yang dilakukan si pemuda untuk dapat mengalahkan tokoh jahat. Dan biasanya sih berhasil.

Hem… apa lagi ya? Kalau pembaca ada ide lebih lanjut, silakan ditambahkan…

Salam.

Iklan

6 pemikiran pada “Belajar dan Mengajar Tidak Pernah Mudah

  1. sebagai orang yang ampir 16tahun belajar secara formil di TK ampe Perguruan Tinggi, bisa dihitung pake jari berapa guru/dosen yang bisa nyampein materi pas banget nyangkutnya!

    Ketika menerima suatu materi, otomatis itu masuk di short-term memory kita, klo kita ulangi secara rutin dan konsisten baru bisa masuk di long-term memory. Tapi kenapa hal-hal yang menyangkut peristiwa penting emosi dan perasaan kita, justru langsung masuk ke Long-term memory, sulit dilupakan. Dan sistem ini yang baru aku temuin di salah satu dosen aku sekarang. Cara beliu mengajar memnyangkut pautkan 2 jenis memory itu. Mengajarkan materi yang membosankan dengan sesuatu yang filosofis yang berkenaan dengan emosi, peristiwa tergress di kalangan pelajar, dan perasaan.
    Hasilnya, beliau sukses menghandle mahasiswa2nya meskipun dalam satu waktu beliau harus mengajar 100an mahasiswa di ruangan yang sama.

  2. .
    Kalo ngajarin kung fu kepada orang laen yang juga memiliki dasar beladiri, bisa jadi lebih mudah walopun tetap ajah perlu waktu…

    Tapi ngajarin IT kepada lulusan sastra mesin, jelas lebih sulit nyambung daripada yang sama-sama berbasis IT…

    ***ngasih contohnya ekstrim banget…***

    😆

  3. Dear Indah Parmalia,

    Wah, nampaknya kita harus belajar dari beliau yg mampu mengajarkan ke seratus mahasiswanya dengan sukses. Kalau mau sharing, Mbak Indah dapat menceritakan metode pengajarannya.

    Salam.

    ~~~

    @ Dear Bro Mbel,

    Lha ya itu.
    Makanya jangan ambil jurusan yang aneh-aneh tho. Mosok ngambil jurusan sastra mesin sih? Mbok ya ambil FISIP jurusan komunikasi biar bisa jadi pakar telematika kayak Oy Uyo gitu.

    *kabur*

  4. ketika di sekolah dasar dulu, guru guru sering mengata ngatai bodoh murid muridnya dan memang di sekolah itu kurang berhasil mengantarkan para siswa ke dunia prestasi. Saat itu Sekolah Dasar kami dengan Guru Kelas.

    Di jenjang selanjutnya, di SMP ternyata banyak siswa siswa yang tadinya dianggap sang guru SD bodo menjadi pinter. Mungkin karena pengaajaran di SMP lebih variatif dengan guru Mata pelajaran

    Dari situ bisa kelihatan ternyata masalahnya ada pada sang guru yang sebenarnya lebih bodoh daripada potensi siswa siswi.

  5. Tulisan ini baik, semoga penulis dan pembaca dapat menerapkan apa yang tersari dalam moral stori. Saya hanya mau menanggapi perihal cara mengajar nyambung komentarnya teman yang lain

    Mungkin ini idealis…tapi ya memang harus begini
    Guru yang baik tidak hanya mengajar materi tanpa melihat aspek psikologis dari murid. Apalagi kalau si guru sering meng-goblok2 kan murid nya… ya… jelaslah si murid akan tambah goblok. Karena di dalam kepala si murid akan selalu terngiang perkataan gurunya bahwa dirinya goblok… (ingat the power of word and mind)
    Saya pernah diajar oleh guru yang kayak gitu… dalam hati saya hanya berpikir “kasihan sekali guru ini, karena dia jadi stress menganggap muridnya goblok…padahal mungkin dialah yang goblok”.. Saya mengambil sikap masa bodo dengan kata2 guru itu dan tidak peduli dengan nilai yang akan saya dapatkan karena saya akan belajar sendiri dengan metode yang lain… Itu kalau saya lho… kan ga semua murid kayak saya…hehehe (nyombong dikit ya)

    Juga dalam menghadapi murid yang arogan, keminter, maka tidak bisa kalau si guru berdebat kusir. Karena dalam hal ini aspek psikologislah yang harus diperhatikan. Kalau kita perhatikan si guru kungfu tidak pernah emosi menghadapi murid yang seperti itu. Karena dia sedang mempelajari si murid, dan si guru tidak pernah menganggap enteng si murid…siapa tau muridnya memang punya ilmu lain yang gurunya tidak punya.

    Duh…cape ah..jadi kepanjangan… pokoknya intinya setiap orang baik itu guru, pimpinan, bawahan, murid… JANGANLAH SOMBONG…MILIKILAH SIKAP RENDAH HATI…dan MILIKILAH TANGGUNG JAWAB…
    gitu aja kali ya…..

    mohon pamit…pakde

  6. @ Dear Mas Jarwadi,

    Hehehe… kalau saya kebalikan. Dulu waktu SD-SMP sering dibilangin guruku “anak pintar.” Tapi ternyata salah, ternyata aku bukanlah anak yg pintar. Nilaiku selalu pas-pasan. Hehehe…

    ~~~

    @ Dear Bune,

    Iya bener, Bune. Harus rendah hati, besar hati, belajar dengan sepenuh hati, dan hati-hati juga. Hehehe…

    GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.