Kecewa Tayangan Erotis

( Cerpen Wedo Tesio )

Akhirnya Wedo menemukan meja bernomer 9 itu. Segera saja dia meletakkan ransel besar di salah satu kursinya.

“Posisi yang sangat strategis,” gumannya ketika menyadari bahwa meja itu terletak di sudut dan tempat duduknya menghadap ke pusat cafe. Sudut pandang yang lebar. Wedo dapat mengawasi setiap pengunjung cafe itu.

Sampai kemudian matanya tertumbuk pada seorang wanita cantik berwajah kusut yang rupanya memperhatikannya sejak tadi. Agak canggung juga dipandangi oleh seorang wanita berwajah kusut. Dengan kikuk Wedo pun melemparkan senyum kepadanya. Tapi sungguh tidak sopan, wanita itu malah melengos. “Huh…”

“Ah, masa bodohlah,” kata Wedo dalam hati. Wedo pun mulai mengeluarkan satu-satu pirantinya. Sebuah notebook berlayar 12 inchi yang ringan beserta pernak-perniknya. Dia memilih notebook seringan 1,4 kg ini demi menunjang mobilitasnya yang cukup tinggi. Tidak masalah ketika dia harus bekerja mendadak di mana saja.

“Ups, hampir lupa. Aku harus segera bekerja.” Dengan sigap Wedo menancapkan charger ke notebook kebanggaannya dan kemudian mencolokkannya ke outlet di bawah mejanya. Benar juga saran bos-nya yang menyuruh Wedo memilih meja nomer 9 ini. Selain strategis, rupanya ada colokan listriknya juga. Jadi aman deh kegiatan berkomputernya karena tidak perlu takut kehabisan baterai.

Selanjutnya Wedo memutar webcam terintegrasi notebooknya dan mengarahkannya ke wanita cantik berwajah kusut itu. Webcam notebooknya ini memang bisa diputar untuk menghadap ke belakang notebook. Tidak lupa Wedo mematikan lampu di webcam yang menandakan kalau webcam sedang aktif di control panel. Supaya perekaman tidak ketahuan. Hehehe…

Kemudian Wedo mengeluarkan microphone berbentuk aneh hasil rancangannya sendiri. Panjangnya yang 20 cm memang rada aneh. Tapi dengan bentuknya yang aneh ini justru tidak ketahuan kalau sebenarnya itu sebuah microphone. Sebenarnya itu adalah microphone dengan sensitivitas yang tinggi. Kemudian dibungkus dengan sebuah casing rancangannya sendiri yang berguna sebagai pengumpul suara yang fokus. Microphone-nya ini mampu mendengarkan seseorang yang berbisik dari jarak 10 meter tanpa terganggu suara lain dari sudut yang berbeda di sekitarnya.

Seharusnya pengumpul dan pemfokus suara ini berbentuk parabola, tapi dengan upaya trial and error berpuluh-puluh kali akhirnya dia menemukan bentuk yang tidak kalah efektif mengumpulkan suara dibanding bentuk parabola. Kuncinya adalah pembuatan sekat-sekat flexibel pemantul suara di dalam sebuah tabung berukuran 20 cm. Sekat-sekat pemantul ini didesain flexibel sehingga mampu memfokuskan suara dari sumber berjarak 5 sampai 10 meter.

Beberapa kali Wedo mencoba memfokuskan suara dengan menggeser-geser tuas pengendali sekat-sekat pemantul suara supaya dapat mendengarkan suara apa pun yang keluar dari bibir mungil milik wanita cantik berwajah kusut itu. Sayangnya wanita itu dari tadi berdiam diri. Matanya cuma nyalang memandangi jendela cafe. Sesekali dia melirik jam tangannya, tapi tidak ada ekspresi apa pun setelahnya. Dia memang tipe yang sabar rupanya. Beda dengan dirinya ketika harus menunggu seseorang yang terlambat dari janjinya. Lewat 5 menit saja sudah membuat Wedo ngomel-ngomel.

Ah, untunglah seseorang pria mendatangi wanita berwajah kusut itu dan mulai menyapanya.

“Selamat siang, Siska. Maaf saya terlambat. Saya harap kamu tidak terlalu lama menunggu saya tadi.” Kata pria itu sambil menyalami wanita itu.

“Oh, tidak apa-apa kok, Pak. Saya juga baru saja datang kok.” jawab wanita cantik berwajah kusut yang ternyata bernama Siska itu. Wedo tahu kalau Siska sudah lama menunggunya. Paling tidak sudah 45 menitan.

Dengan sigap Wedo telah berhasil mengeset microphone uniknya sehingga dapat mendengarkan percakapan tadi dari earphone-nya dengan baik tanpa terganggu suara di sekitarnya mereka. Dengan sigap pula Wedo menekan tombol Control+R di keyboard-nya yang berarti memulai merekam video dari webcam dan suara dari microphone uniknya itu.

“Saya tidak bisa lama-lama Sis, karena setelah ini saya akan meeting lagi dengan BODs. Kamu bawa berkasnya kan?” Kata pria itu setelah mendaratkan pantatnya di kursi di depan Siska.

“Tentu dong, Pak. Sesuai janji saya.” Balas Sisca sambil mengambil sebuah map coklat dari tas kerjanya.

“Dengan berkas-berkas ini, dijamin Bapak dapat mengalahkan tender Bu Gina.” Kata Sisca lagi sambil menyerahkannya ke pria itu.

“Oh ya? Coba saya lihat dulu.” Pria itu pun segera membuka map itu dan mulai membaca berkas-berkas itu. Sementara itu Sisca tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke arah Wedo. Ah untung saja Wedo berpose sok sibuk di depan notebooknya. Wedo memang berpura-pura mengetik sesuatu padahal dia menyaksikan window rekaman di layarnya sambil mendengarkan percakapan mereka dari earphone-nya.

“Bagus. Dokumen ini memang sangat bernilai. Semua spesifikasi proyek sangat jelas tercantum. Semuanya detil. Rahasia perusahaan Bu Gina terungkap.” Guman pria itu ketika merampungkan membaca dokumen yang rupanya berisi proposal megaproyek.

“Tentu saja Pak. Seperti Bapak tadi bilang, dokumen tersebut sangat bernilai.” Kata Siska tegas seolah dia berada di atas angin.

“Ya-ya-ya, saya mengakui itu. Dan amplop ini saya rasa setara nilainya.” Kata pria itu sambil menyerahkan sebuah amplop putih yang diambilnya dari kantong dalam jas mahalnya.

Dengan malu-malu Siska menerimanya dan mengintip isi dari amplop tersebut. Rupanya berisi selembar cek. Sayang Wedo tidak dapat melihat angka di cek tersebut walau pun ia memperbesar zoom webcam 3 Mega pixel-nya. “Terlalu jauh. Seharusnya ada optical zoom-nya juga.” gerutu Wedo dalam hati menyesali kekurangan webcam-nya.

“Cukup kan?” tanya pria itu saat melihat senyum di bibir Siska.

“Untuk kali ini cukup. Tapi lain kali harus lebih besar ya?”

“Pasti.” Jawab pria itu singkat.

“Oh ya, saya tidak bisa berlama-lama. Terima kasih, Siska. Semoga lain kali kita bisa bekerja sama lagi.” Pamit pria itu.

Dengan segera Wedo menyimpan file video rekaman tadi dan menutup aplikasinya. Segera pula Wedo membereskan microphone dan memasukkannya ke ransel. Tidak lupa Wedo menjalankan MP3 player di notebooknya dan juga menjalankan browser kesayangannya. Mumpung Siska masih berpamit-pamit ria dengan pria tadi.

Dan benar, firasat Wedo benar, rupanya Siska curiga dengan dirinya. Setelah pria itu pergi Siska tidak duduk kembali, melainkan mendatangi meja Wedo.

“Sedang bekerja ya, Mas?” Sapa Siska sambil mengitari meja Wedo. Dengan posisi sejajar dengannya, Siska dapat melihat layar LCD notebooknya.

“Ah, tidak kok. Cuma surfing, nyari-nyari berita heboh di internet.” Jawab Wedo ngasal. Terus terang Wedo agak kaget karena disapa Siska. Rupanya wanita yang direkamnya tadi bukan sembarang wanita biasa. Sangat pemberani. Ya jelas seorang pemberani dong. Kalau tidak, mana mungkin dia berani membocorkan dokumen perusahaan?

“Owh…” guman Siska dingin sambil berlalu kembali ke mejanya. Tanpa senyum, huh…

Untungnya semua sudah dibereskan, kata Wedo dalam hati. Paling tidak, tidak ada aplikasi yang mencurigakan yang nampak di layarnya. Cuma player MP3 dan sebuah browser. Sialnya, browsernya kosong melompong. Wedo belum sempat mengetikkan URL di browsernya. Semoga saja Siska tidak curiga, kata Wedo lagi dalam hati.

Ah, syukurlah tidak berapa lama kemudian Sisca beranjak meninggalkan mejanya dan keluar dari cafee.

Wedo kemudian mengeluarkan cakram DVD di ranselnya. Dia harus mem-burn file rekaman tadi ke DVD itu. File tersebut sangat berharga.

***

“Tulalit-tulalit lit-lit-lit …” Wedo terhenyak mendengarkan bunyi bel pintu yang aneh yang baru pertama kali didengarnya itu. “Selera yang aneh,” guman Wedo dalam hati.

Pintu apartemen itu kemudian terbuka. Sebuah wajah manis penuh senyum menyambut kedatangan Wedo. Wanita berumur 40an dengan wajah lembut keibuan itu kemudian bersuara: “Hallo, kamu Wedo ya? Silakan masuk.”

Dengan gelagapan Wedo pun kemudian tersenyum. Rontok sudah hatinya. Tidak dinyana bahwa pengirim email yang menyuruhnya memata-matai Siska rupanya seorang wanita berwajah lembut dengan tubuh sexy. Paling tidak itulah yang dapat dinilai oleh naluri kelelakian Wedo ketika wanita itu membelakangi Wedo untuk mendahuluinya masuk ke ruang tengah apartemen.

“Silakan duduk,” kata wanita itu menyilakan Wedo duduk di ruang tengahnya. “Maaf, saya belum memperkenalkan diri di email. Nama saya Gina. Memang agak menipu ya email saya?”

“Iya,” balas Wedo sambil duduk di sofa empuk di seberang ibu Gina. “Siapa menyangka kalau email berisi instruksi yang sangat tegas dan lengkap dengan nama email blekedet itu rupanya seorang wanita cantik yang lembut.”

“Ah, Mas Wedo ini bisa saja.” Kata Ibu Gina tersipu. “Bagaimana hasilnya?”

“Semua sudah saya rekam. Tidak hanya suara seperti yang ibu minta, tapi juga videonya.” balas Wedo sambil menyerahkan DVD rekaman tadi.

“Wah, bagus sekali. Jadi lebih meyakinkan ya?” Sambut Bu Gina sambil kemudian berdiri melangkah ke meja TV Plasma yang diperlengkapi dengan home theatre.

Penampakan yang indah, pikir Wedo ketika memperhatikan bentuk tubuh Bu Gina dari belakang. Apalagi ketika kemudian Bu Gina berjongkok untuk memasukkan DVD ke playernya. Betul-betul tubuh yang sangat terjaga keindahannya. Padahal usia Bu Gina sekitar 40an. Paling tidak segitulah taksiran Wedo. Atau jangan-jangan sebenarnya lebih dari 50 ya? Ah, Wedo pun menepis prasangkanya.

Bu Gina pun kemudian sibuk memperhatikan hasil rekaman pertemuan Siska dengan pria di cafee tadi.

“Bu, saya mau numpang ke toilet dulu.” Kata Wedo menyela kesibukan Bu Gina.

“Oh silakan. Kamar mandinya di sebelah sana.” Tunjuk Bu Gina.

Sebenarnya tidak usah ditunjuk pun Wedo sudah tahu letak toiletnya. Toh ada tulisan TOILET cukup besar di sebuah pintu. Itu pastilah toiletnya.

“Oke, hasil rekamannya bagus. Kamu berhak menerima ini.” Sambut Bu Gina ketika Wedo keluar dari toilet. Wedo pun kemudian menerima amplop yang disodorkan Bu Gina.

Wah, Wedo cukup terkejut mendapati angka yang tertulis dicek itu. Sepuluh juta. Ini bukan angka yang kecil baginya. Baginya ini angka yang sangat besar, padahal ia hanya bekerja ringan saja. Bisa buat experimen lagi nih. Dengan gembira Wedo pun mengangguk dan segera mengantongi amplop itu.

“Terima kasih, Bu.” kata Wedo. “Saya sekalian mau pamit. Sudah kemalaman rupanya. Sudah jam 23.”

“Oh ya, rupanya sudah larut. Saya dari tadi cemas menunggu hasil rekaman ini sampai lupa mandi. Baiklah kalau begitu. Terima kasih juga. Selamat malam.”

“Selamat malam.” Wedo pun kemudian melangkah keluar dari apartemen mewah itu.

***

Kemudian di mobil bututnya Wedo segera menyalakan notebooknya. “Mumpung ‘sampai lupa mandi’. Pasti habis ini langsung mandi. Hehehe…” seru Wedo kegirangan mengulangi kata “sampai lupa mandi” yang diucapkan Bu Gina.

Wah, 2 kamera mini lengkap dengan pemancar mininya dapat bekerja dengan baik. Dua kameranya ini dapat memancarkan gambar ke notebook Wedo dengan jernih. Tadi Wedo menyempatkan diri memasang kedua kamera mininya di lokasi tersembunyi di toilet. Baginya Bu Gina terlalu cantik dan sexy untuk dilewatkan begitu saja.

Wedo pun dengan sabar menunggu Bu Gina masuk ke kamar mandi. Lima menit telah berlalu, tapi sosok Bu Gina belum tertangkap dua kamera mininya.

Sepuluh menit pun berlalu. Apakah Bu Gina tidak mandi malam itu? Memang sih, jam telah meninggalkan angka 11 dan mendekati angka 12. Tapi tolonglah beri Wedo kesenangan menikmati tayangan erotis itu barang sejenak. Paling tidak itu sudah dapat menghiburnya malam ini setelah bekerja memata-matai Siska tadi. Pekerjaan memata-matai ini memang baru pertama kali bagi Wedo. Dan itu sangat menegangkan sekaligus menyenangkan. Apalagi imbalannya sangat besar.

Iklannya di internet rupanya efektif. Ya, dia memang memasang iklan untuk tugas memata-matai siapa saja. Dan Bu Gina adalah klien pertamanya. Klien pertama yang cantik dan sexy. Tidak ada keberatan sedikit pun di diri Wedo ketika memasang dua kamera mini-nya yang sebenarnya termasuk mahal itu.

Hampir saja Wedo tertidur di jok sampai kemudian dia terbangun ketika mendapati sosok Bu Gina masuk kamar mandi. Bu Gina menggunakan piyama bunga-bunga berwarna merah. Ah, warna eksotis, pikir Wedo. Kemudian Bu Gina menyalakan kran di bathtub-nya. Bu Gina memadukan kedua kran untuk mendapatkan komposisi air hangat yang paling sesuai.

Dan tibalah saatnya ketika Bu Gina akan membuka piyamanya. Saat yang paling menegangkan bagi Wedo. Jauh sangat menegangkan dari pada pekerjaan memata-matainya tadi malam. Karena ada bagian dari tubuhnya yang menjadi sangat tegang.

Tapi kemudian tiba-tiba notebooknya mati. Notebooknya tanpa dinyana mati mendadak. Rupanya baterai notebooknya sudah soak. Padahal belum ada 1 jam pengintaian terlalui. Belum sempat pula menikmati tubuh indah Bu Gina.

Piranti receiver kamera mininya memang sangat memboroskan baterai notebook. Apalagi Wedo menggunakan 2 receiver sekaligus.

Segera saja Wedo mencari kabel charger khusus yang bisa disambungkan ke pemantik api di mobil. Tapi sayang notebooknya terjatuh ke dek sebelah saat Wedo mencoba meraih laci di seberangnya. Rupanya Wedo terlalu ceroboh. Ya bagaimana tidak, Wedo ingin segera dapat melanjutkan tayangan erotisnya itu.

Ketika Wedo berhasil mengambil kabel chargernya dan memasangnya di pemantik api mobil, dia segera meraih notebook dan menyalakannya. Tapi notebooknya tidak mau menyala. Ada pesan error yang menyatakan kalau sistem operasinya invalid. Rupanya harddisk rusak karena terjatuh tadi.

“Brengsex!!!” teriak Wedo memecah kesunyian malam itu.

15 pemikiran pada “Kecewa Tayangan Erotis

  1. @ Dear bro Mbelgedez,

    Emang hanya Mbelgedez yang bisa mesum? Wedo Bond juga bisa kok. Hehehe…

    ~~~

    @ Dear Mbak Chocovanilla,

    Weh, imajinasinya terlalu liar tuh.
    Hehehe… iya nih, Wedo lagi belajar jadi mata-mata.

    ~~~

    @ Dear Mbak Puak,

    Hehehe… Wedo adalah sisi imajinasinya Dewo. Seperti Lousiana dengan Mbak Puak gitu.

    Eh, justru laptop yang baru berbeda dengan yang dipakai Wedo. Wedo justru pake notebook model lama, yaitu: TM 3045. Hehehe…

    Salam

  2. yah ngga jadi ngintip deh…..

    makanya mas, lain kali kali mau ngintip mandi bu gina bawa 2 batre cadangan… hohoho….

    btw, microphon kayak gitu ada yang juwal ga ya?

  3. @ Dear BocahBandar,

    Iya bener, untung ga jadi ngintip. Kalau betulan jadi, ceritanya malah jadi tidak lucu. Hehehe…

    Salam hangat juga.

    ~~~

    @ Dear Mas Dwiprayogo,

    Lha ya itu. Sejatinya nobie-nya Wedo punya 2 baterai. Cuma yg satunya tidak dibawa.

    Microphone kayak gitu cuma Wedo yang punya. Soalnya murni rancangannya sendiri. Hehehe…

    Salam.

  4. Hue..he..he..se7 ama Chocovanilla…seru tuh kalo ternyata Bu Gina bencong…emang enak nonton yang udah familiar saben hari??…ditunggu crita Wedo Bond- nya lagi…btw kalo dah ada seri terbaru, kabari yakkk???

  5. masih ada hari esok wedo!, akan ada ketika2 yg lainnya #alah , ..,
    masih penasaran yang di kafe, selanjutnya bagaimana ? #aurapenasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.