Satu Tambah Satu Tidak Selalu Dua

1 + 1 = 2

Rasanya semua sepakat dengan pernyataan ini. Pun anak TK yang baru belajar berhitung. Maklum, penjumlahan ini merupakan pelajaran pertama bagi anak-anak balita yang baru belajar berhitung.

Namun pernyataan matematis ini bisa menjadi berbeda ketika kita membawanya ke ranah belief system. Mari kita tengok sekali lagi contoh matematis di atas. Kalau di Kristen, hitungannya menjadi:

1 + 1 = 1

Tidak percaya? Silakan buka Kitab Matius 19. Nampak di sana hitungannya jadi beda.

Ini adalah salah satu contoh belief system yang mengacu pada religi yang ternyata berbeda dengan matematika secara umum. Namun jika kita teliti lebih lanjut, logika pengambilan keputusan dari ayat di atas yang menghasilkan angka 1 ternyata dapat diterima secara logika. Jadi walau pun di ranah matematika hitungan dari religi tersebut salah, namun secara logika ayat-ayat tersebut dapat diterima.

Tapi boleh jadi belief system berbasis religi di atas akan memicu kontroversi bagi pihak lain yang tidak sepaham.

Meskipun demikian kita memang tidak dapat memungkiri belief system dari seseorang. Bisa jadi dia akan mempertahankan belief-nya mati-matian. Yap benar, sampai mati pun bisa dilakukannya. Kalau perlu matinya pun ngajak-ngajak orang lain, baik secara persuasif mau pun secara paksa.

Saya tidak bisa menghakimi apa pun saat seseorang begitu percaya terhadap sesuatu hal. Sekali lagi karena itu adalah ranah “belief system.” Tapi bukan berarti saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena seperti biasanya, saya yang lebih banyak menggunakan ranah logika ini akan membuat suatu pernyataan berdasarkan ranah logika. Dan ini sudah banyak saya lakukan di beberapa blog sampai-sampai saya menjadi popular. Hehehe… tapi popular bukan dalam arti yang baik, namun menjadi popular karena tercemar, karena banyak tulisan atau komen saya yang cenderung miring bagi banyak orang, padahal sebenarnya tidak jika pembaca cukup jernih memilah antara ranah religi dengan matematis/logika. Padahal bisa jadi tambah runyam jika kita mencampurkannya ke dalam ranah politik. Hehehe… sekarang kan jamannya politik.

Itu satu poin.

Poin yang lain adalah jika ada seseorang berbuat kesalahan namun mencari-cari pembenaran dari ranah religi atau belief system. Seringkali seseorang memaksakan diri masuk ke ranah belief system dan enggan keluar dari sana untuk memahami suatu masalah dari sudut pandang berbeda. Baginya adalah: “belief-mu untukmu dan belief-ku untukku.” TITIK. Tidak ada koma. Tidak boleh ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada diskusi lebih lanjut. Bukan karena tidak bisa, namun tidak boleh.

Saya jadi teringat ketika berdiskusi dengan seseorang blogger wanita yang rajin menuliskan ajarannya. Namun ketika saya mengajaknya berpikir dengan ranah logika, beliau menjadi senewen dan marah kepada saya. Sungguh bukan teman diskusi yang baik. Seperti biasa, prinsip belief system-nya keluar bagai sebuah senjata maha dahsyat: “belief-mu untukmu, belief-ku untukku. Stop diskusi karena ini masuk ranah pribadi.”

Hahaha… Diskusi jadi mentok-tok-tok.

Jadi, poin kedua lebih menekankan bahwa belief system kerap kali dijadikan tameng bagi diri sendiri. Entah karena memang tidak mampu mempertahankan kepercayaannya atau pendapatnya, atau memang demi melarikan diri dari kenyataan bahwa dia salah. Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa belief system kerap kali menjadi permakluman bagi dirinya sendiri.

Entah ini suatu hal yang baik atau tidak, biarlah kita masing-masing yang memutuskan. Tentu berdasarkan pola pikir kita, apakah akan menggunakan belief system atau dengan otak dan hati nurani kita sendiri.

Tapi satu hal yang perlu dicatat dan digarisbawahi, kadar belief system seseorang tentu akan berbeda dengan orang lain walau pun sebenarnya satu religi. Ini sejalan dengan bedanya kadar pemahaman dan kecerdasan seseorang dibanding dengan orang lain. Beberapa orang dengan religi yg sama bisa saja berbeda pendapat dalam memandang suatu hal. Lalu apa yang menyebabkannya? Sekali lagi, kadar belief system bukanlah satu-satunya yang menentukan.

~~~
Catatan: Tulisan ini didedikasikan untuk “TUHAN NDAK SAMA DENGAN KELAMIN…” dan “BELIEF SYSTEM MBELGEDEZ”. Dan tentu saja untuk GuhPraset Sang Pendobrak Belief System.

20 pemikiran pada “Satu Tambah Satu Tidak Selalu Dua

  1. .
    Sayah pikir, bila semua orang mau saling memaklumi apa ituh belief nya, maka ndak akan ada pertentangan boss…

    Ndak akan ada pertentangan dalam “satu” belief ituh sendiri, maupun dengan belief yang laen.

    Memang belief system berada di ranah pribadi boss, apakah ituh akan dipertentangkan ???

  2. @ Bro Mbel,

    Waktu Sibos nulis:

    Sayah pikir, bila semua orang mau saling memaklumi apa ituh belief nya, maka ndak akan ada pertentangan boss…

    Menurut saya, itu kurang tepat Bos. Saya berpendapat bahwa kita bukan saling “memaklumi”, tetapi saling “memahami.” Seperti Sibos saat berdiskusi dengan istri atau orang lain yang berbeda pemikirannya, yang diperlukan bukanlah saling memaklumi, tetapi saling memahami.

    Ndak akan ada pertentangan dalam “satu” belief ituh sendiri, maupun dengan belief yang laen.

    Menurut saya, sekedar “memaklumi” adalah seperti bom waktu. Apalagi jika dengan belief yg berbeda. Saya yakin tidak semua orang dapat “memaklumi” orang lain dengan mudah. Saya rasa Sibos juga tidak sebegitu mudah “memaklumi” seorang pengebom yang mengklaim tindakannya di ranah belief atau pun ranah pribadi.

    Memang belief system berada di ranah pribadi boss, apakah ituh akan dipertentangkan ???

    Begini Bos, saya tetap menghargai bahwa “belief system” itu di ranah pribadi. Tetapi ketika belief system ini di-ekspos ke ranah publik, maka itu bukan lagi ranah pribadi.

    Misalnya begini, ada seorang blogger yang menuliskan belief system-nya ke blog-nya, apakah kemudian dia tetap bisa mengklaim bahwa belief system-nya ada di ranah pribadi sehingga orang lain “harus memakluminya?” Tidak sesederhana itu Bos.

    Tetapi seandainya Sibos beranggapan bahwa itu tetap tinggal di ranah pribadi, ya silakan belief system itu menjadi konsumsi pribadi Sibos. Dan tentu saja belief system itu hanya beredar dalam lingkup pribadi Sibos saja. Tidak boleh lebih. Jika lebih, itu sudah masuk ke ranah publik.

    Dan ketika itu sudah masuk ke ranah publik, bersiaplah untuk mendapat perhatian & tanggapan dari publik.

    Salam.

  3. .
    Dalam posting sayah yang lalu, sayah cuman mencoba menjelaskan bahwa mempertentangkan belief ituh sia-sia, bukan untuk meyakinkan publik seperti yang boss Dewo pikir seolah, “inih belief sayah”.

    Bukan. Bukan ituh, boss…

    Posting ituh lahir dari hasil sayah diskusi dengan sesama Islam yang berbeda pandangan, dengan rekan kristen, dengan orang Islam karena turunan, dengan yang skeptis pada agama, dimana mengingatkan sayah pada memori masa lalu dan secuil ilmu jaman sekolah.

    Itu ajah.

  4. se7 deh ma bro dewo…

    belief system milik pribadi ya jadikan milik pribadi, tp belief system pribadi yang dijejalkan di ruang publik sudah bukan belief system pribadi lagi, tp bozzz mbel sayah kan lama diskusi sama penganut agama baru (seperti link yang kemarin sayah sampaikan) dan mereka selalu berlindung di kata belief system itu bozzzz…

    misal ada seorang “mengaku” muslim tp shalat/sembahyang sembari nyanyi ya silahkan saja selama tidak ngajak – ngajak atawa cari jamaah peserta tiu yang disebut belief system pribadi…

    perbedaan itu tidak bisa dinisbikan dan diskusi lintas agama adalah hal yang sudah biasa selama didasari keilmuan yang baik bukan asal waton ngotot…

    tetapi hati – hati deh sama penyeru kerukunan beragama tetapi mencaci maki orang yang menjalankan agamanya, biasanya type kaya ginilah pengusung agama baru…

  5. @ bro dewo…

    he.. he.. klo dilihat postingan diatas, itu juga kentara sendiri berfikir ala “belief system pribadi”…

    salah besar kalau kata “belief-mu untukmu dan belief-ku untukku.” dianggap sebagai tameng untuk menutup diskusi… “belief-mu untukmu dan belief-ku untukku.” adalah panduan bahwa masing – masing sudah memiliki ketetapan hati kalaupun ada diskusi anggaplah sekedar knowledge tambahan dan bukan untuk mencari titik temu… karena sampai kapanpun gak akan ketemu kecuali ya itu menjadi pengikut agama baru he.. he..

  6. @ Bro Mbel,

    Hehehe… kalau tidak salah tangkap, Sibos kan mengungkapkan belief system di sana (di blog: ranah publik). Wajar seandainya kemudian seorang “public” bernama “Dewo” memberikan perhatian & tanggapan.

    Tapi jika Sibos sudah punya belief system bahwa “mempertentangkan belief itu sia-sia”, ya itu sejalan dengan “permakluman” seperti yg diungkap Sibos. Padahal “permakluman” itu sendiri salah satu tameng belief system, seperti yg sudah kutuliskan di artikel di atas.

    Artinya selama “permakluman” itu dipaksakan, ya diskusi selalu sia-sia.

    Sekali lagi menurut pendapatku, yg dibutuhkan itu bukan maklum atau permakluman, tetapi “pemahaman”. Dari sini kita sudah jelas tahu bahwa latar belakang pemikiran kita sudah berbeda 😀

    ~~~

    @ Bro Ferry,

    Hihihi… kita akhirnya setuju di satu poin ya? Yaitu ranah pribadi tempatnya ya pribadi. Jika sudah masuk ke ranah publik, maka itu jadi konsumsi publik.

    Tapi aku ndak begitu paham tentang “agama baru” loh. Hihihi…

    ~~~

    @ Bro Ferry,

    Nah itu dia, bro. Banyak orang yg menuliskan “belief system”-nya di ranah publik, namun begitu mendapat perhatian & tanggapan langsung marah2 dengan tameng bahwa “belief system”-nya adalah area pribadi. Dan segera saja kalimat sakti itu muncul untuk menutup diskusi atau pun “suara2” dari belief system yg lain.

    Ini pengalaman pribadi beneran loh. Sudah pernah kuangkat juga di blog “agamaku” 😀

    Salam.

  7. Wah, hal seperti ini ndak habis-habis ya mas.
    Kadang, saya pikir toleransi palsu itu kabur.
    Suatu saat orang mengira dirinya toleran dan mampu memahami orang lain yang berasal dari “sumur” yang berbeda.
    Namun seringkali hanya sebatas memaklumi, dengan tanpa sadar masih berpendirian bahwa saya lebih baik dari yang dia. Saya bisa memaklumi pendapatnya karena saya maklum, dia itu kan hanya masih tidak sebaik saya :mrgreen:
    Memang memahami itu lebih bijaksana yah ..

  8. @ bro dewo,

    barangkali orang yang bro dewo sebutkan belum kuat ketetapan hatinya he.. he.. sehingga ketika menemui gesekan malah lari… kalau sayah siy malah seneng tuh selama diskusi menarik dan bukan caci maki…

    @ sigid,

    hmmm “toleransi palsu itu kabur” maksudnya apa koq terlalu absurd buat saya yaaaa…

    seperti apa siy “toleransi” yang “diinginkan” ?

    apakah “toleransi” berarti simpan saja agama di laci lemari rumah dan jangan dibawa dalam kehidupan bersosialisasi ?

    Poin utama dari “belief system” ya “belief” itu sendiri, lha wong klo gak yakin yang kita “belief” paling bener ngapain kita punya “belief” mending agnostik aja gitu ?….

  9. @ Bro Sigid,

    Nah, itu dia, Bro. Toleransi yg didengungkan memang baru sebatas “memaklumi” belief system yg berbeda. Namun yg terjadi adalah belief system lain harus “memaklumi” suatu belief system tertentu. Jadi ada “pemakluman” yang dipaksakan di sini.

    Dan banyak tameng2 seperti yg sudah saya sebutkan di atas untuk bisa orang lain “maklum” terhadap suatu belief system tertentu.

    Dan benar, kita harus lebih jauh dari pada sekedar “memaklumi”, tetapi harus juga “memahami.” Kita memang harus menekankan “empati” di sini.

    ~~~

    @ Bro Ferry,

    Sayangnya masih banyak yang “belum kuat ketetapan hatinya” Bro. Kalau boleh dibilang: masih mayoritas.

    Bro Ferry tentu sudah tahu banyak dimana saya dicaci maki hanya karena “sentimen belief system.” Tapi itu salah satu yang membuatku popular. Hehehe…

    Salam.

  10. @ Ferry

    Eh, justru sebaliknya mas, kepercayaan itu bisa melandasi hubungan sosial, membentuk cara pandang manusia terhadap lingkungan.

    Saya sendiri ndak tahu essensi agama itu sebenarnya yang kaya apa namun saya yakin itu adalah “hal yang baik-baik”. Kerendahan hati, kesopanan, sabar, penuh kasih dan semacamnya.

    Bahkan filosofi kejawen saja menganjarkan kalau manusia itu jauh dari sempurna dan penuh kesalahan. Namun bukan untuk pembenaran berbuat salah. Tapi implikasi yang diharapkan adalah bahwa tidak ada orang yang bermegah diri, merasa selalu lebih baik dari yang lain, merasa paling benar, sombong dan semacamnya. Larinya adalah kepada kerendahan hati.

    Dari hal seperti inilah mungkin saling “memahami” dapat dilakukan.

  11. @ sigid,

    => “kepercayaan itu bisa melandasi hubungan sosial, membentuk cara pandang manusia terhadap lingkungan.”

    se7, justru itu yang jadi keheranan sayah kenapa ada ide menyimpan agama jika berada di area umum, bukankah agama bisa melandasi hubungan sosial ?….

    => “Saya sendiri ndak tahu essensi agama itu sebenarnya yang kaya apa namun saya yakin itu adalah “hal yang baik-baik”. Kerendahan hati, kesopanan, sabar, penuh kasih dan semacamnya.”

    disitu letak perbedaanya masss… buat kami ummat muslim wabil khusus sayah pribadi essensi agama adalah jalan keselamatan, karena sayah mengimani essensi hidup itu sendiri sebagai ujian untuk kehidupan berikutnya sehingga buat sayah agama adalah lentera untuk menjalani hidup yang sebenarnya hanya sekedar ujian ini…

    => “Bahkan filosofi kejawen saja menganjarkan kalau manusia itu jauh dari sempurna dan penuh kesalahan. Namun bukan untuk pembenaran berbuat salah. Tapi implikasi yang diharapkan adalah bahwa tidak ada orang yang bermegah diri, merasa selalu lebih baik dari yang lain, merasa paling benar, sombong dan semacamnya. Larinya adalah kepada kerendahan hati.”

    se7 bahkan dalam keyakinan kami merasa paling benar, sombong dan semacamnya adalah perbuatan yang diharamkan, tetapi kembali kepasal paling awal bahwa agama adalah lentera hidup tentu lentera itulah yang menjadi pembimbing terhadap segala aspek kehidupan dan sudah tentu tidak merasa agama yang sayah anut sebagai agama yang paling benar justru di haramkan masss, bagaimana bisa jadi lentera kalau kita tidak yakin bahwa lentera yang kita pegang adalah lentera terbaik untuk menerangi perjalanan kita ?…

    jadi kembali kepada esensi sombong tadi massss, kalau sombong merasa paling benar tentu haram, tapi yakin agama yang dianut paling benar apakah termasuk kesombongan masss ???… kalau iya berarti memiliki agama juga kesombongan dong massss ??? coz agama kita anut karena kita yakin akan kebenaranya…

  12. jadi gini bro sigid…

    buat kami ummat muslim tujuan hidup adalah keselamatan dan ridha dari ALLAH yang kami yakini sebagai Tuhan semesta alam, so buat kami agama yang kami anut adalah petunjuk atau lentera agar mendapat ridha dan keselamatan dari Tuhan semesta alam.

    jadi “hal yang baik-baik”, kerendahan hati, kesopanan, sabar, penuh kasih dan semacamnya adalah bagian dari jalan keselamatan bukan tujuan !, karena tujuan agama buat kami tentu keselamatan dan ridha dari ALLAH.

    bila “hal yang baik-baik”, kerendahan hati, kesopanan, sabar, penuh kasih dan semacamnya tidak ditujukan untuk mendapat keselamatan dan ridha dari ALLAH tentu tidak ada artinya disisi ALLAH kami…

  13. ( kemaren sayah susah banget masuk WP. Udah sempat komen, tapi ndak isa save. Siyaaalll… )

    @ BOSS DEWO :
    Boss Dewo kok aneh, yah. Memaksakan kehendak dengan kata “memahami”. Menurut pemikiran sayah, yang pas memang “memaklumi”, boss…

    Sebab, bagaimana mungkin sayah harus “memahami” belief situh yang mengatakan Yesus sebagai “anak tuhan” ???

    Apakah boss Dewo juga bisa “memahami” tentang Muhammad. S.A.W ???

    Sedangkan situh ndenger orang Islam sholat mbaca kalimat arabian ajah kegelian… 😆

    Wekekekekek…. Si boss sangat aneh…

    Sampai jaman kuda nggigit prosesor sekalipun, orang Islam ndak akan bisa “memahami” belief situh boss, juga sebaliknya. Untuk itulah kita harus saling memaklumi apa yang menjadi “belief system” masing-masing….

    ( sayah out untuk case inih )

    .

    @ FERRY :
    Boss,…
    Cognitive System ituh hanyalah salah satu teori untuk mengupas apa ituh konsep “kepercayaan, keyakinan, ato agama” dalam antropologi kognitif.

    Adalah diluar kuasa sayah kalo ternyata ada yang menggunakan teori ituh untuk – katakanlah seperti boss Ferry bilang – membuat agama baru/ agama universal.

    Apa yang bisa kita lakukan ketika orang Jerman mbuat per daun untuk mobil biar empuk, tetapi sesampai di Indon per daun ituh sama pande besi dibikin pedang, arit ato rencong ???

    Apakah kita akan menyalahkan si pembuat per daun tsb, boss ??? 😉

    Agaknya boss Ferry ndak memahami sepenuhnya postingan sayah….
    .

    @ BOSS FERRY & DEWO :
    Untuk kesekian kali sayah ulang; kalo seseorang mempublish “belief” nya di ranah publik, memang benul sesiapapun juga bisa meng iyakan, mempertanyakan, maupun membantah.

    Ituh sayah akuin. Monggo… Silakan….

    Tetapi, dalam posting sayah disanah, sayah sama sekali TIDAK SEDANG mempublish tentang My Belief.

    Tapi sayah sedang mengatakan, bahwa, Agama, kepercayaan, keyakinan adanya di dalam Cognitive System manusia.

    Maka, manakala seseorang meyakini sesuatu, adanya dalam Cognitive System ituh. Ituh masalah pribadi. Ndak mungkin dan ndak usah merasa paling bener.

    Kok situh semua lari kemana-mana ???
    🙄

  14. @ Bro Mbel,

    Hihihi… nampaknya Sibos masih rancu dengan istilah “memahami” yg saya maksud. Memahami yg saya maksud memang ada unsur “pengertian” tentang suatu belief sehingga karena paham, maka akan ada unsur pengertian yang timbul.

    Namun bukan berarti bahwa Sibos harus mengimaninya. Kan terbukti bahwa Sibos tidak pernah bisa menerima bahwa Yesus adalah “Anak Tuhan.” Tetapi Sibos paham & mengerti bahwa ajaran Kristiani memang memiliki ajaran demikian.

    Dengan memahami ini, maka Sibos jadi bisa menerima ketika umat Kristiani banyak menggunakan simbol salib ini. Dan jika Sibos benar-benar memahami kepercayaan umat Kristiani ini dengan baik, maka Sibos tentu tidak akan bermain-main dengan simbol kepercayaan Kristiani ini. Itulah “pemahaman” yang saya maksud.

    Sekali lagi, Sibos tidak perlu “mengimani” apa yang diyakini belief system yang lain. Tidak perlu juga belajar sampai katham tentang ajaran Kristiani. Lha wong saya saja yg orang Kristiani belum katham juga. Hehehe…

    Tapi kalo Sibos memang ingin “mendalami” (memahami lebih dalam), ya silakan sekolah ke seminari atau belajar teologi. Di sana akan diajari ajaran ketuhanan sampai benar-benar paham sepaham-pahamnya.

    Saya harap Sibos sudah dapat titik terang di sini bahwa “memahami” bukan berarti ikut “meyakini.” Seperti Sibos berusaha memahami seorang koruptor atau manipulator, mengapa mereka bisa berbuat demikian, namun tentu saja Sibos tidak perlu menjadi koruptor atau manipulator. Iya tho?

    Atau ketika Sibos memahami mengapa seseorang menangis sedih. Mengapa dia menangis sedih seperti itu? Tentu Sibos akan berusaha memahami mengapa dia menangis seperti itu. Dari pemahaman ini kemudian timbullah “empathy”.

    Oh iya menanggapi sanggahan Sibos bahwa Sibos “TIDAK SEDANG mempublish tentang belief”, memang benar bahwa Sibos memang tidak sedang mempublikasikan belief-nya Sibos. Namun nyatanya Sibos melakukan “generalisasi” terhadap beberapa religi. Justru di situlah poin yg ingin saya tunjuk. Karena di situlah “simpul” itu saling terbelit. Terlepas apakah Sibos sedang mempublikasikan belief-nya Sibos atau bukan.

    Jadi, sebenarnya tulisan saya tidak “lari kemana-mana” kok. Toh Sibos sudah “menyimpulkan” (sebut saja istilahnya sebagai generalisasi) suatu belief tertentu. Hehehe…

    Salam.

  15. Kalo 1+1=1 kalo 1-1=?
    Yang sudah jelas jangan di buat gak jelas..! Dasar logika kalian gak jelas.

  16. @ bozzz mbell,

    => “Cognitive System ituh hanyalah salah satu teori untuk mengupas apa ituh konsep “kepercayaan, keyakinan, ato agama” dalam antropologi kognitif.”

    se7 bozzz tp justru kita sebagai muslim harus mempertegas bozzz bukan malah ikut – ikutan, tentu adanya teori “Cognitive” berawal dari si bule itu bingung koq “bisa” orang memiliki “kepercayaan, keyakinan, ato agama” sementara barangkali menurutnya “sesuatu yang menggelikan”, coba deh telusuri sapa si pemilik pemikiran “Cognitive” tsb. 😛

    => “Maka, manakala seseorang meyakini sesuatu, adanya dalam Cognitive System ituh. Ituh masalah pribadi. Ndak mungkin dan ndak usah merasa paling bener.”

    bener sekali bozzzz, saya tidak meragukan ente dalam hal ini, tp koq gaya “bahasanya” mirip orang liberal bozzz…

  17. Terus terang capek bacanya 😛
    muter2 akhirnya ke “agamaku…eh…belief system-ku ya bukan belief system-mu”

    WAKAKAKAKA˙!!! :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.