IQ Atau Keahlian?

Rekrutmen di tempat kami melalui beberapa tahap. Dari wawancara awal, psikotest, tes pemrograman, tes kesehatan dan kemudian dilanjutkan dengan wawancara akhir.

Yang menarik adalah saat kami menjumpai beberapa kandidat yang memiliki IQ tinggi tapi ternyata tidak berhasil menyelesaikan soal pemrograman yang sederhana. Sedangkan beberapa kandidat yang lain yang IQ-nya tidak terlalu tinggi malah bisa menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.

Lalu kami pun berdiskusi, lebih baik merekrut yang mana? Yang IQ-nya tinggi tapi harus dilatih atau yang IQ-nya sedang tapi sudah ahli dalam pemrograman? Pilihannya adalah pintar tapi tidak siap pakai atau yang sedang-sedang saja tapi siap pakai?

Kenyataannya sungguh di luar dugaan. Kami pernah merekrut orang yang IQ-nya tinggi, namun hanya bertahan sebentar saja untuk kemudian mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Yang terakhir malah cuma bertahan 3 hari kerja.

Di lain pihak kami memiliki karyawan yang IQ-nya biasa-biasa saja namun jangan ditanya pemrogramannya. Boleh dikata okelah. Dan yang saya acungi jempol adalah karena tekun, rajin, loyal dan sudah bertahan setahun lebih.

Tapi ini tentu pengalaman kami saja. Variasi kenyataannya tentu tidak bisa diprediksi dan digeneralisasi berdasarkan IQ dan keahlian semata. Tapi tidak dapat dipungkiri, paling asyik jika mendapatkan karyawan yang cerdas, terampil, loyal, bersemangat, dan… cantik. Hehehe… ideal banget, terutama kriteria terakhir…

4 pemikiran pada “IQ Atau Keahlian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.