Pengalaman Drop Out

Hari ini cukup leluasa untuk blogwalking dan menemukan beberapa blogger menuliskan banyak hal tentang pendidikan dan suka dukanya. Ada yang menuliskan tentang DO (drop out) dilihat dari sudut pandang dosen. Nampaknya memang cukup memprihatinkan jika membaca beberapa alasan yang ditulisnya.

Sekedar sharing yang mungkin berguna mungkin juga tidak, daku juga pernah mengalami DO. Ceritanya dulu semasa jadi dosen daku melanjutkan studi S2 di UGM, Yogyakarta. Cukup keren sebenarnya karena mengambil jurusan SKI (Sistem Komputer & Informatika) yang ada di bawah naungan Teknik Elektro. Jaman tahun 1997/1998 bidang ini amat besar potensinya.

Dalam perjalanan waktu, ternyata terjadi banyak hal. Dari pacaran, menikah, istri hamil, berhenti jadi dosen, dan lain-lain, hingga akhirnya diterima bekerja di Jakarta.

Masa kuliah yang sudah 1½ tahun terpaksa terbengkalai karena harus terdampar di Jakarta. Sejak saat itu daku tidak pernah lagi melanjutkan kuliah semester ke-3. Sebenarnya meninggalkan kuliah yang nanggung sangatlah menyedihkan hatiku. Sampai beberapa tahun kemudian surat DO dari UGM pun tiba. Hiks…

Shock? Jelas! Walau pun menyadari bahwa daku bakal DO karena bertahun-tahun meninggalkan kuliah tanpa ijin atau surat cuti, tapi menerima kenyataan bahwa daku tidak mampu meraih apa yang sudah kucita-citakan benar-benar menyakitkan.

Karena sedihnya, daku pun berdoa supaya Tuhan memberikan gantinya. Hihihi… mungkin ini doa yang kurang ajar. Lha yang membuat DO adalah aku sendiri tapi kok malah minta pertanggungjawaban Tuhan. Tapi kawan, rupanya Tuhan memberikan ganti padaku. Lihatlah, betapa Tuhan itu sangat baik padaku.

Empat tahun setelah meninggalkan bangku kuliah, daku pun diberi kesempatan untuk merasakannya lagi. Daku mendapat kesempatan emas yang luar biasa yang disediakan oleh Tuhan. Suatu saat daku ditawari beasiswa ½ dari biaya kuliah S2 MM. Maka daku pun tidak menyia-nyiakannya walau pun daku pada saat itu belum tahu dari mana harus menyediakan ½-nya lagi. Tapi rupanya Tuhan telah menyediakan segalanya hingga daku pun bisa kuliah dan lulus tepat waktu dengan hasil tidak mengecewakan.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Prof. Impianku untuk meraih jenjang S2 telah tercapai sudah (kurang lebih 5 tahun yang lalu). Ingin rasanya bisa berkarya secara maksimal dengan bekal pendidikan yang telah diberikan Tuhan kepadaku.

Iklan

9 respons untuk ‘Pengalaman Drop Out

  1. Puji Tuhan, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, sungguh setelah kesulitan ada kemudahan. Rahmat Tuhan di dunia ini untuk seluruh makhluk-Nya. Tanpa tebang pilih, hanya saja kadang bentuknya beda-beda dan kadang kitanya tidak sadar akan rahmat Tuhan tersebut.

    selamat Pak,
    semoga ilmunya bisa bermanfaat 😉

  2. Bill Gates juga drop outnya nyatanya juga jadi orang kaya. Einstein dibuang dari sekolah, Edison juga…

    Sekolah itu cuma salah satu sarana belajar. Lha yang namanya belajar bukan cuma di sekolah…

    Drop Out itu gak terlalu penting sehingga perlu sedemikian disesali….
    Gw setuju sama Dhani , kalo sekolah itu gak penting2 banget. Sekolah memang bermanfaat tetapi bukan satu2nya sarana belajar… Kalo memang DO ya dinikmati saja… Kalo tujuan hidup emang mau jadi pemain sepakbola lha ngapain sekolah sampe perguruan tinggi…Gitu kan…

    Jadi bagi yang saat ini sedang DO, baguslah jadi anda sekarang punya lebih banyak waktu luang… Bagi yang sedang kuliah ??? Kalo pengin jadi kayak Bill Gates cepetan DO saja.. Hi Hi Hi

    Salam,

  3. Mas love. .

    Hm aku kurang sreg kalau sekolah itu tidak penting seperti yang di bilang Ahmad Dhani.

    Ahmad Dhani kan sudah kaya dan punya usaha sendiri jadi wajar kalau dia bilang begitu. Banyak lho anak-anak yang orang tuanya miskin, tapi tetap ingin bersekolah untuk menggapai cita-cita.

    Bayangkan kalau semua orang nggak sekolah, siapa yang akan memimpin Indonesia kelak supaya lebih baik.

  4. Nggak…. Ahmad Dhani benar, dia juga dulunya geblek di sekolah toh sekarang juga bisa kaya…Salah satu musisi paling berpengaruh di Indonesia… Terlepas kontroversinya , Siapa yang bisa meragukan prestasi Dhani ?

    Tukul Arwana juga sukses. Bill Gates sukses, Einstein sukses, Edison sukses…Manusia semacam Bill Gates sengaja keluar dari sekolah, Eisntein dan Edison dibuang oleh gurunya dianggap geblek di sekolahnya… Bahkan gurunya setengah menghina berkata : Anak ini masa depannya suram ,entah dia bisanya apa…”
    Sekarang siapa yang nggak tahu Einstein tapi siapa nama gurunya mungkin cuma emak atau anaknya yang tahu….

    Saya tidak menyuruh orang nggak sekolah. Saya cuma meminta tempatkanlah sekolah pada tempat seharusnya yaitu sebagai sarana belajar. Sekolah adalah salah satu alat bantu belajar tetapi bukan berarti satu2nya alat bantu atau kalo gak sekolah dunia kiamat, gak lulus unas dunia kiaamat…Soal gak penting itu…

    Kalo ada yang pengin jadi penyanyi ya ndak usah sok heroik pengin sekolah tinggi2 kecuali memang ada yang mau dicapai dengan sekolahnya itu, mengapa ? Karena sekolah itu buang2 waktu dan biaya jika memang tidak ada tujuannya. Kecuali kalo kamu memang bercita2 pakar tertentu yang berhubungan dengan sekolah itu lain urusannya….. Nggak bisa kan misalnya jadi dokter kalo nggak kuliah kecuali jadi penyembuh alternatif. Tetapi untuk bidang lain, semisal komputer, mesin2 motor, seni , jadi pengusaha, jadi pemain sepakbola dsb, petinju dsb dsb yah tidak harus dicapai dengan sekolah2 formal ala SD, SMP, SMA…

    Bagi yang saat ini DO, nikmati saja DO kalian. Bayangkan saja kalian Bill Gates muda atau Edison muda yang berteriak ke langit : Go to hell with DO…
    Dunia toh masih berputar ….

    Bagi kalian semua yang saat ini sedang DO , nggak lulus UNAS atau sebangsanya gak usah berkecil hati …
    Nih tak kasih pidato gagah gendeng dari salah satu orag terkaya di dunia :

    http://kewaninter.wordpress.com/2009/02/01/larry-ellisons-speech-at-yale-university/

    DO-lah dan nikmati DO kalian…

    Bagi para guru, dosen, dsb… Santai saja, punya murid geblek itu nggak selalu mesti diartikan masa depan suram… Biasanya yang paling pinter paling banter jadi dosen itu . Meskipun dosen juga bisa kaya sih…, bahkan bisa jadi menteri 😀

    Nggak ada hubungannya keterampilan memimpin semacam jadi presiden dsb sama sekolah, kalo ada yang sok menghubungkan itu kan tingkah laku anak2 sekolah saja… Atau biasanya motifnya jegal menjegal,,,

    Biarpun IP gw 3 keatas juga saya tidak akan meremehkan anak2 yang gak sekolah. Ada produk sekolah yang pinter ada juga yang geblek secara substansial, begitu juga sebaliknya ada manusia yang gak sekolah yang hidupnya menyedihkan tetapi yang sukses juga banyak…

    SALAM semuanya…
    See You

    • @Lovepassword & Fitri,

      Kalian benar kok. Pendidikan (via sekolah) memang penting, tetapi tidak harus selalu begitu. Idealnya setiap orang butuh pendidikan.

      Jangan salah! Sekolah itu bukan berarti selalu eksakta, tapi bisa juga seni, seperti sekolah musik, menggambar, dll.

      Tapi pendidikan juga bisa diambil dari keluarga & lingkungan. Hanya saja tingkat keberhasilannya rendah. Memang ada yg sangat berhasil, tetapi tentu jumlahnya sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan keberhasilan melalui pendidikan formal.

      Salam.

  5. […] Walau pun Mbak Kakung di Yogyakarta dan kami sekeluarga di Semarang, namun kami tetap dekat dengan beliau. Karena kami semua pernah kost di sana. Dari kakak nomer 1 & 2 (Mbak Choco), daku sampai adik, karena kami pernah kuliah & sekolah di sana. Sayangnya daku tidak lulus UGM. (*DO nih ye? DO kok bangga*) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.