Jalan-jalan Ke Bukit Tinggi

Asyiknya dinas luar kota adalah bisa jalan-jalan. Hore… Sabtu-Minggu kemarin kami berjalan-jalan ke Bukit Tinggi. Sungguh perjalanan yang menyiksa karena beratnya kondisi jalanan. Tidak hanya naik turun, tapi juga berkelok-kelok. Sampai-sampai ada daerah yang bernama “Kelok 9″ karena ada 9 kelokan maut di situ. Bagaimana tidak, kelokannya benar-benar dahsyat. Tidak berlebihan jika daku & tim IT Corp mabuk darat. Hahaha…

Jam Gadang

Jam Gadang

Rasanya penyiksaan di jalan nan berkelok-kelok itu terbayarkan ketika kami tiba di Bukit Tinggi. Karena setelah istirahat semalam, kami pun berkesempatan menikmati keindahan alam Bukit Tinggi. Pertama kali yang kami singgahi adalah Jam Gadang. Rasanya belum ke Bukit Tinggi jika belum ke Jam Gadang. Jam yang terletak di tengah kota Bukit Tinggi ini menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Jam yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda ini menyimpan keunikan sendiri, yaitu tertulisnya angka IIII untuk merepresentasikan angka IV (angka 4).

Pada perkembangannya, atap Jam Gadang ini juga sudah berubah. Jika pada awalnya berbentuk kubah bulat dengan patung ayam jantan, dan pada jaman penjajahan Jepang berubah bentuk menjadi klenteng, maka pada masa kemerdekaan berubah menjadi ornamen rumah adat Minangkabau. Sejarah lengkapnya bisa dibaca di Mbak Wiki.

Kemudian kami meluncur ke Danau Maninjau yang terletak kurang lebih 36 km dari Bukittinggi dan sekitar 140 km dari kota Padang. Untuk ke sana kami melewati jalan pintas menerabas perbukitan. Di perbukitan ini terdapat banyak gua peninggalan jaman penjajahan. Beberapa di antaranya tertutup pagar. Mungkin karena kondisinya sudah berbahaya jadinya harus ditutup. Melihat dari luar saja sudah terasa aura kengerian. Apalagi kalau sampai masuk ya? Oh iya, kami memutuskan tidak mampir ke gua ini karena terbatasnya waktu.

Perjalanan ke Danau Maninjau tidak kalah dahsyat karena tantangan terbesar adalah saat kami harus goyang dombret di “Kelok 44.” Kelok 9 saja sudah membikin kami mabok darat apalagi kelok 44? Hihihi… Syukurlah hari itu kami sudah lebih fit sehingga tidak mabok darat.

Danau Maninjau

Danau Maninjau

Danau yang dimanfaatkan juga sebagai PLTA ini memang sangat indah dan asri. Hanya saja memang banyak sampah di sekitar. Kalau menengok ke pinggiran danau, tampak pula banyak sampah yang tenggelam di situ. Sungguh sangat disayangkan sebenarnya.

Kami pun sempat prihatin saat melihat banyak ikan mati terhanyut di pinggiran danau. Entah mengapa ikan-ikan ini mati. Mungkinkah karena pencemaran? Tapi kok yang mati cuma 1 jenis ikan ya?

Ikan Mati

Ikan Mati

Kami pun tidak melewatkan keindahan alam Danau Maninjau untuk berfoto-foto narsis. Wakakaka…

Anak-anak

Anak-anak

Puas berkeliling-keliling, kami pun kembali meluncur ke Pekanbaru. Kali ini siksaannya komplit, dari Kelok 44 plus Kelok 9 plus kelok-kelok lain yang tidak kalah menyiksa. Hempfff…

Seninnya baru diberi tahu kalau lebih praktis naik pesawat dari Pekanbaru ke Padang baru kemudian jalan-jalan dari situ. Hiks…

About these ads

Tentang Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Tulisan ini dipublikasikan di Dewo, Jalan-jalan, Makan-makan, Personal dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Jalan-jalan Ke Bukit Tinggi

  1. nh18 berkata:

    Ah …
    saya jadi kangen ingin ke Sumatera Barat lagi nih …

    Taragak jo kampuang bundonya anak-anak …

  2. Genta berkata:

    welcome to my home sweet home :)

  3. Ping-balik: Trans Metro Pekanbaru (busway) | ♫ E • S • D ⚡

  4. chocoVanilla berkata:

    Wakakaka, emang pemabok ya susah lewat jalan bakelok-kelok :D

  5. reza aprilda berkata:

    welcome my town :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s