Kamera Pengintai

(Cerpen Wedo Tesio. Baca cerita sebelumnya: “Kecewa Tayangan Erotis” Start-Finish: 08/08/2010)

Semalaman Wedo tidak bisa tidur. Pikirannya terganggu dengan peristiwa kemarin. Agak menyesal juga dia karena telah memasang 2 kamera pengintai yang harganya termasuk mahal itu. Tapi yang lebih mengganggu pikirannya adalah karena jika kamera itu ditemukan Bu Gina. Bisa-bisa jadi kasus. Bisa-bisa dia dituntut Bu Gina. Maka Wedo pun memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan kembali kameranya.

Terbersit di pikirannya untuk kembali ke apartemen Bu Gina. Tapi apa alasannya ya? Yang jelas sih tidak mungkin jika dia masuk ke sana diam-diam. Kan penjagaan di sana cukup ketat. Jadi Wedo harus memikirkan alasan supaya bisa masuk ke sana lagi.

Maka dengan nekad Wedo pun mengampil ponselnya dan menghubungi Bu Gina.

“Selamat pagi, Bu Gina,” sapa Wedo saat telponnya tersambung ke ponsel Bu Gina.

“Selamat pagi juga. Wedo ya?” Terdengar suara Bu Gina ringan, seolah tanpa beban. Mungkin Bu Gina belum mengetahui kamera pengintai Wedo? Ah, kesempatan, pikir Wedo.

“Iya, Bu. Bagaimana kabar ibu di sana?” Tanya Wedo basa-basi. Walau pun sebenarnya jarang sekali Wedo berbasa-basi, namun kini saatnya Wedo harus mulai belajar basa-basi.

“Baik, Wedo. Ada apa ya?” Tanya Bu Gina to the point.

“Begini Bu, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan ibu, terutama mengenai pekerjaan. Apa saya bisa bertemu dengan Ibu sekarang?”

“Ehm… penting ya?” Tanya Bu Gina seolah ingin mengetahui maksud Wedo dengan bahasa yang tidak terlalu kentara.

“Bisa jadi sangat penting untuk Ibu dan perusahaan Ibu. Akan sangat menyenangkan jika kita bisa berjumpa langsung dan membicarakan hal ini.” Entah dari mana Wedo bisa berdiplomasi. Yang jelas untuk urusan basa-basi dan diplomasi, Wedo sebenarnya bukanlah ahlinya.

“Oke, saya ada waktu pagi ini. Saya tunggu di café lantai 1 apartemen ya?”

“Baik Bu, saya akan berangkat ke sana sekarang.” Tapi… kok di café ya? Wah alamat tidak bisa mengambil kamera nih, sesal Wedo. Tapi Wedo berpikir kalau pengambilannya bisa lain waktu. Yang penting adalah pendekatan dulu ke Bu Gina.

***

Wedo pun mengitari lantai 1 apartemen Bu Gina untuk mencari café yang dimaksud. Dan matanya pun tertumbuk pada sebuah café. Rasanya Wedo tidak perlu menelpon Bu Gina untuk memastikannya karena dia melihat sosok Bu Gina di dalam café tersebut. Maka Wedo pun bergegas melangkah ke café tersebut.

“Selamat pagi, Bu Gina” Sapa Wedo sambil mengulurkan tangannya.

“Selamat pagi, Wedo. Silakan duduk.” Sambut Bu Gina sambil menyalami Wedo.

Wedo pun duduk di kursi di hadapan Bu Gina. Saat waitress datang, Wedo pun memesan Cappuccino kesukaannya.

“Begini Bu, kalau boleh berterus terang, pekerjaan dari Ibu kemarin adalah pekerjaan pertama saya di dunia penyelidikan. Saya rasa ibu cukup senang dengan pekerjaan saya kemarin.” Wedo berharap kata pendahuluan ini dapat meluluhkan hati Bu Gina. “Dan saya ingin menawarkan kerja sama lain yang berkelanjutan.”

“Hem… bisa dijelaskan lebih lanjut?” Tanya Bu Gina sambil meminum kopinya. Ah lagi-lagi kenapa Wedo masih saja terpesona? Tidak lepas matanya dari bibir merah Bu Gina yang sedang menghirup kopi. Nampaknya merah bibir itu bukanlah merah lipstick, tapi asli merah bibir.

“Silakan.” Kata Bu Gina karena belum mendapatkan jawaban dari Wedo.

“Oh iya, maaf…” gelagepan juga Wedo menyadari kalau dia telah terdiam beberapa saat.

“Saya merasa kalau Ibu ada masalah di dalam perusahaan Ibu. Kebetulan saya memiliki beberapa keahlian dalam hal teknologi dan penyelidikan. Mungkin saya bisa membantu Ibu dengan keahlian-keahlian saya ini.”

“Hem… misalnya untuk apa?” Nampaknya Bu Gina ingin menyelidiki pemikiran Wedo. Jadi Wedo harus punya ide yang bagus. Tapi apa ya?

“Misalnya untuk menyadap telepon dan email Siska. Atau jika perlu saya bisa mengintai pertemuan-pertemuan rahasia Siska.” Sebenarnya ide ini asal ketemu saja. Dan ini pasti ide yang sederhana. Kalau Bu Gina sering nonton film-film tentang detektif atau spionase, pasti usulan ini sudah basi. Namun sejatinya Wedo memang tidak tahu harus memberikan usul apa.

“Rasanya sih tidak perlu lagi.” Jawab Bu Gina singkat.

“Oh, padahal kebocoran-kebocoran seperti kemarin itu seharusnya tidak perlu terjadi, Bu. Pasti Ibu bisa mengalami kerugian besar jika ibu dikalahkan dalam tender-tender besar.”

“Iya, betul. Tetapi sumber kebocoran itu sudah tidak ada lagi.”

“Maksud Ibu?” Tanya Wedo penasaran.

“Karena Siska sudah saya pecat tadi pagi.”

“Owh…” seru Wedo singkat. Wedo pun menyeruput kopinya, sekedar mengulur waktu supaya dia bisa punya ide.

Sayangnya Bu Gina juga memilih diam. Semestinya kan Bu Gina bisa mengusulkan sesuatu. Atau paling tidak membeberkan masalah-masalah yang dihadapi di perusahaan sehingga Wedo bisa menawarkan bantuannya. Suasana pun jadi agak hening.

~~~

Catatan: Asli, lanjutannya seru abis. Ngga dinyana loh ceritanya! Nantikan lanjutannya ya? Mohon doa supaya bisa naik cetak ya? Salam…

Update: Lanjutannya sudah di-upload di: “Kamera Pengintai (2)”. Silakan menikmati.

10 pemikiran pada “Kamera Pengintai

  1. Thanks for taking the time to discuss this, I feel strongly about it and really like learning more on this topic. If possible, as you gain expertise, would you mind updating your blog with more details? It?s extremely helpful for me.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.