Kamera Pengintai (2)

(Serial Wedo Tesio. Cerita ini lanjutan dari “Kecewa Tayangan Erotis” dan “Kamera Pengintai”)

“Ehm, apakah Ibu tidak mencurigai orang lain di dalam perusahaan? Mungkin saja… ini kemungkinan saja ya, mungkin ada staf-staf Ibu yang lain yang seperti Bu Siska.” Wedo berusaha mengutarakan kecurigaannya dengan bahasa yang berhati-hati. Dia takut membuat Bu Siska tersinggung karena Wedo sudah mulai masuk ke wilayah pekerjaan Bu Gina.

“Ya bisa saja begitu. Tapi dengan bantuan kamu, saya pun belum tentu bisa mempercayai kamu.” Kali ini Wedo menangkap nada datar & sinis dari Bu Gina.

“Hanya saja, saya tidak memiliki kepentingan bisnis dengan materi pengintaian saya, Bu. Jadi semuanya tidak berarti bagi saya.” Kata Wedo berusaha menyakinkan.

“Tidak meyakinkan. Dan tidak menjamin.” Kata Bu Gina masih datar. Aduh… bagaimana caranya menyakinkan Bu Gina ya? Tanya Wedo dalam hati.

“Kan semua hasil pengintaian akan saya laporkan ke Bu Gina. Tanpa ada yang saya tutup-tutupi. Jika perlu, saya akan menandatangani kontrak kerja secara profesional dengan Ibu.”

Bu Gina kemudian mengambil tas di sampingnya dan menaruhnya di meja.

“Lalu ini apa?” Tanya Bu Gina menunjukkan isi tasnya. Wedo melihat di dalamnya ada sepasang kamera pengintainya. Dan matanya tertumbuk ke sebuah pistol. Hah, Bu Gina punya pistol? Langsung saja Wedo mengkerut nyalinya. Ya karena kameranya yang ketahuan dan juga karena pistol itu. Tidak dinyana Bu Gina memiliki sebuah pistol. Melihat materialnya, nampaknya pistol itu pistol beneran. Seumur-umur Wedo belum pernah memegang pistol. Bahkan melihat pistol asli dalam jarak sedekat ini pun belum pernah.

“Erg…” Wedo pun agak gelagepan melihat barang-barang dalam tas Bu Gina. Mendadak kok rasanya café ini jadi hangat. Keringat pun mulai keluar sebulir di dahinya dan terasa mengalir di pelipisnya. Segera Wedo menyeka keringatnya dengan tissue. Wedo harus segera menemukan alasan yang tepat dan paling masuk akal. Tapi apa?

“Hem… ini pistol sungguhan. Saya punya lisensinya. Dan saya sangat terlatih menggunakannya.” Kata Bu Gina setengah berbisik sambil menutup bibirnya seolah mengarahkan suaranya ke Wedo. Mungkin supaya tidak ada orang lain yang mendengarkannya. Rupanya Bu Gina mengetahui kalau Wedo sedang mengkerut nyalinya saat melihat pistolnya.

“Seminggu sekali saya berlatih menembak di klub.” Tambah Bu Gina. Hu-uh, Wedo semakin mengkerut saja. Rasanya Wedo jadi semakin salah tingkah. Hem, apa kabur saja ya? Ah Wedo pun segera menepis ide konyol tersebut. Peluru pistol itu bakal bisa mengejarnya jika Wedo kabur secepat apa pun.

“9 dari 10 tembakan saya mengenai lingkaran tengah target. Memang sih, saya belum mengikuti kelas menembak target bergerak. Tapi rasanya prestasi 9 tembakan tepat di tengah sudah cukup hebat, kan?” Ah, Bu Gina ini kok malah pede (percaya diri) banget dengan prestasinya sih? Ini kan malah membuat Wedo semakin mengkerut lagi seperti bekicot atau siput yang diberi garam, mengkerut masuk ke cangkangnya. Jika saat itu Wedo membawa cangkang, pasti Wedo memilih mengkerut masuk ke dalam cangkangnya.

“Sebenarnya saya tidak memecat Siska tadi pagi.” Kata Bu Gina lagi sambil mengelus pistol di dalam tasnya itu. Nampaknya Bu Gina memang sengaja tidak mengeluarkan pistol itu dari tasnya supaya hanya mereka berdua yang tahu kalau ada pistol di situ.

“La-lalu?” Tanya Wedo tergagap penasaran.

“Saya cuma memberikan 2 opsi padanya. Dia boleh mengundurkan diri dengan baik-baik dan menyerahkan uang penjualan dokumen, atau…”

“A-atau?” lagi-lagi Wedo masih tergagap.

“Dia boleh menentukan di bagian mana peluru pistol ini mau bersarang.” Jawab Bu Gina dingin sambil menutup tasnya dan menaruh tasnya di samping tempat duduknya. “Saya sih berharap dia tidak memilih bagian tubuh yang mematikan. Kamu tahu kan bagian mana saja dari manusia yang sangat cepat membuatnya mati?”

“Glek” Terdengar lirih suara Wedo menelan ludah.

“Kamu tahu mana yang dipilih Siska?” Tanya Bu Siska sambil menyondongkan dirinya maju ke depan sehingga mendekati wajah Wedo yang tampak salah tingkah. Syukurlah bau parfum mahal dari tubuh Bu Gina segera menyadarkan Wedo. Jika tidak, mungkin Wedo masih terpaku bengong.

“Ti-tidak tahu, Bu.” Jawab Wedo segera. Rasanya Bu Gina yang mempesona itu berubah jadi ular kobra yang sedang mengembangkan lehernya. Layak untuk ditakuti dan dijauhi.

“Pilihannya bijaksana. Dia mengundurkan diri dan menyerahkan cheque hasil penjualan dokumen. Jumlah yang lumayan. Dan dia bersumpah secara tertulis kalau tidak akan membeberkan kejadian ini kepada client-nya atau ke orang lain.” Kata Bu Gina lagi dengan senyumnya yang lebar. Ah senyum manis dari bibir merah itu tidak lagi membuat Wedo terpesona. Kalau pun Wedo tetap memperhatikan bibir indah itu, Wedo hanya menunggu keluarnya jilatan lidah ular. Ah, menyeramkan.

“Erg, terus terang, Bu…” kata Wedo terbata.

“Ya? Sebaiknya memang harus berterus terang.” Sergah Bu Gina memecahkan keberanian Wedo lagi.

“Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.” Duh, ngomong apa sih Wedo ini? Tapi Wedo memang berniat untuk berterus terang, apa pun yang terjadi.

“Owh?” Seru Bu Gina sambil menyandarkan tubuhnya ke kursinya. Mata coklatnya yang berhias bulu mata lentik menyorot tajam bagaikan mata elang kepada Wedo seolah ingin menggali lebih lanjut pernyataan Wedo.

“Ibu mengingatkan kepada wanita impian saya.” Kata Wedo sambil menyeruput minumnya yang sebenarnya merupakan upaya untuk menenangkan dirinya.

“Dulu saat semester 2 saya pernah pacaran dengan seorang gadis yang saya cintai. Namun rupanya gadis itu mengkhianati saya dan memilih beralih ke sahabat saya sendiri. Hati saya sangat terpukul dan sedih. Selama semester itu saya putus asa dan nyaris tidak pernah kuliah lagi.”

“Lalu?” Tanya Bu Gina seakan penasaran dengan cerita Wedo.

“Suatu saat ketika saya sedemikian putus asanya, seorang wanita anggun mendatangi saya dalam mimpi. Dia menghibur saya, dia berkata bahwa gadis itu memang bukan untuk saya. Dan kelak saya akan menemukan seorang wanita yang benar-benar diciptakan untuk saya. Tapi tidak dalam waktu yang dekat.”

Bu Gina pun memiringkan kepalanya sambil menyilangkan tangannya seolah menyelidiki cerita Wedo.

“Wanita anggun itu selalu datang dalam mimpi setiap kali saya sangat sedih memikirkan gadis itu. Dan kedatangannya sangat menguatkan saya. Namun sayangnya setelah saya bisa menerima kepergian gadis itu dari hati saya, wanita anggun itu tidak pernah lagi hadir kembali dalam mimpi saya.”

Kali ini Wedo menundukkan kepalanya dan agak ragu untuk menceritakan kelanjutannya. Namun ketika dilihatnya Bu Gina nampak serius menyimak, maka dia pun melanjutkan ceritanya.

“Sosok wanita anggun itu seperti Ibu. Saat pertama kali melihat Ibu, hati saya berdegup kencang seolah saya bertemu dengan wanita anggun yang pernah menenangkan hati saya dulu.”

“Agak tidak masuk akal. Kamu mengarangnya?”

“Memang terdengar tidak masuk akal. Namun seperti itulah yang saya rasakan. Dan saya tidak mengarangnya.”

“Lalu untuk apa kamera-kamera tersebut kamu pasang di kamar mandi?” Tanya Bu Gina menyelidiki. Kali ini suaranya sedikit melembut, tidak sedingin sebelumnya.

“Saya ingin memiliki rekaman sosok Ibu. Saya merindukan kehadiran wanita anggun itu lagi dalam kehidupan saya. Bagi saya itu sangat menguatkan. Apalagi bertahun-tahun sejak saat itu sampai sekarang saya tidak berpacaran lagi. Kehadiran Ibu di kehidupan saya seolah mengingatkan janji wanita anggun itu. Atau apakah Ibu perwujudan dari janji dalam mimpi saya itu?”

“Huss, jangan ngawur kamu.” Seru Bu Gina sambil tersenyum. Kali ini Wedo merasakan kehangatan dan keakraban dari senyum Bu Gina. Jauh berbeda dari kesan senyum ular sebelumnya.

“Maaf, Bu. Saya memang memiliki masalah dengan kehidupan saya. Dan dalam kasus dengan Ibu ini, saya mengakui kalau saya sangat nekad dan tidak etis. Tapi tidak ada maksud apa pun kecuali karena saya terpesona dengan ibu. Dan mungkin itu memang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ibu adalah malaikat dalam mimpi saya yang mewujud menjadi seorang wanita yang indah.”

“Hahaha… kamu ini bisa saja becandanya.” Tawa Bu Gina. “Kamu tahu berapa umur saya?”

“Empat puluh tahun?” Tebak Wedo.

“Ya, benar. Tahun ini umur saya genap 40 tahun.” Kata Bu Gina sambil terus tersenyum. “Kamu tahu berapa beda umur kita?”

“Lima belas tahun, Bu” jawab Wedo jujur.

“Bukan pasangan yang ideal kan?” Kata Bu Gina pasti.

“Kalau pun kita bukan pasangan, biarkan saya mengagumi Ibu. Dan saya ingin menagih janji Ibu!” kata Wedo tegas.

“Menagih janji?” Tanya Gu Gina heran.

“Ibu sudah hadir dalam mimpi saya bertahun yang silam. Ibu telah setia menghibur saya walau pun hanya dalam mimpi. Dan ibu pernah berjanji tentang kehadiran gadis yang merupakan pasangan sejati saya!”

“Hahaha… Saya bukan wanita anggun dalam mimpi kamu, Wedo!” Kali ini Bu Gina tertawa lepas. Mungkin Bu Gina menganggap Wedo gila?

“Tapi saya sangat terpesona kepada Ibu. Dan saya menyadari bahwa Ibulah yang hadir dalam mimpi saya!”

“Hahaha… nice try, Wedo. Saya meragukan cerita kamu. Tapi saya harus akui kalau kamu pengarang cerita yang sangat hebat! Saya menyukainya!” Seru Bu Gina.

“Tapi ini bukan cerita omong kosong, Bu.” Kata Wedo sambil meraih tangan Bu Gina dan menggenggamnya lembut. “Jika itu tidak benar, mungkin saya tidak perlu menghubungi Ibu lagi. Tapi saya ke sini dan ingin sekali bertemu Ibu.”

“Hahaha…” Dengan agak jengah Bu Gina menarik tangannya perlahan-lahan.
Wedo pun jadi tambah salah tingkah. Kenapa kok tiba-tiba pakai acara pegang tangan juga sih? Tapi sebenarnya Wedo menikmatinya. Rasanya kedinginan Bu Gina berubah menjadi kehangatan yang selama ini hanya menjadi dambaan saja.

“Erg, maaf… Saya kira saya sudah terlalu kurang ajar. Mungkin lain waktu kita bisa bekerja sama. Saya mohon pamit dulu.” Kata Wedo berpamitan segera, mumpung suasana sudah membaik.

“Oke, Wedo. Sampai jumpa lagi. Ceritanya bagus.” Kata Bu Gina sambil tersenyum hangat.
Wedo pun mencoba tersenyum sebaik-baiknya untuk mengimbangi senyum indah Bu Gina dan segera beranjak keluar café.

***

Di mobil Wedo pun tercenung.

“Itu memang bukan cerita bohong, Bu.” Kata Wedo sendiri seolah ingin menjelaskan kepada Bu Gina bahwa ceritanya adalah cerita yang sebenarnya. “Makanya sampai sekarang aku tidak pernah pacaran lagi. Karena aku merasa belum ditolong oleh wanita anggun itu untuk menemukan pasangan sejatiku.”

“Ups… tadi aku belum bayar kopinya. Wah, nggak keren nih.” Guman Wedo yang tiba-tiba teringat kalau dia belum membayar kopi dan tersadar kalau sebaiknya dia yang mentraktir Bu Gina. Kan harus belajar jadi pria gentleman.

“Next time…” tekad Wedo sambil tersenyum penasaran. “Ya, next time…”

~~~

Catatan: Ikuti terus serial Wedo. Yang pasti bakal semakin seru & heboh dengan kehadiran tokoh-tokoh baru yang tidak kalah seru!

14 pemikiran pada “Kamera Pengintai (2)

  1. Sepertinya kita harus mempersiapkan diri dgn jejak deteksi alat perekam di toilet-2 di Plaza , Mall .. Sehingga saat kita memasuki toilet maka alat tsb akan mengeluarkan bunyi tit tit tit …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.