Memaafkan Dan Berdamai

Terinspirasi oleh tulisan Ompakmas NH18 di “FORGIVE AND FORGET”, daku jadi ingin menuliskan pengalaman pribadi tentang pengalaman-pengalaman dalam memaafkan, tetapi tidak melupakan. Ya, di sini daku perlu menebalkan kata tidak melupakan yang sedikit berbeda dengan tulisan Ompakmas. Karena yang pasti, banyak peristiwa yang terekam di otak tetapi tidak mungkin dengan mudah dilupakan.

Lagi pula mengapa harus dilupakan kalau pengalaman atau peristiwa tersebut dapat menjadi guru yang berharga bagi kita?

Dari pengalaman pribadi (sesuai ajaran Kristiani), ternyata kita dituntut untuk bisa MENGAMPUNI dan BERDAMAI. Suatu kombinasi yang indah menurutku. Tetapi memang tidak mudah untuk dilakukan.

Mungkin ada orang yang berbuat salah atau jahat kepada kita. Mungkin sangat sulit bagi kita untuk dapat mengampuninya. Seringkali orang lebih mudah berusaha melupakan dari pada mengampuni. Padahal dengan tidak memaafkan, itu sudah dapat menjadi luka batin bagi kita. Karena peristiwa atau pengalaman tidak menyenangkan itu akan mengendap dalam alam bawah sadar dan bisa saja akan bermanifestasi menjadi trauma atau berbagai penyakit, baik sakit jiwa mau pun fisik.

Namun jika sudah berhasil memaafkan paling tidak kita sudah melangkah 1 step di depan. Untuk kemudian langkah berikutnya adalah kita juga harus mau berdamai dengan orang tersebut. Karena dengan berdamai, peristiwa menyakitkan itu akan dimaklumkan dan diperdamaikan, dan pikiran kita pun menjadi damai.

Daku pernah punya teman semasa SD yang entah mengapa, selalu saja setiap bermain kami akhiri dengan berantem. Hampir setiap tahun semasa SD ada pengalaman berkelahi di antara kami.

Dan entah mengapa pula, setiap kali berantem, besoknya kami berbaikan, bersalaman dan saling mengucapkan kata maaf. Dan kemudian semasa SMP kami menjadi sahabat karib. (*jadi pengen nyanyi lagunya Kepompong*)

Kami tidak pernah melupakan peristiwa berantem ini. Bahkan sampai sekarang daku masih ingat detail perkelahiannya. Nekadnya, daku pernah berantem dengannya di rumahnya. Xixixi…

Tapi tidak ada dendam di antara kami. Sampai sekarang kami pun masih sering kontak via bbm. Dan ketika kami membicarakan perkelahian itu, kami jadi tertawa geli.

Kami tidak pernah melupakannya. Tapi tidak pernah ada dendam di hati kami. Kami selalu mengingatnya sampai sekarang karena itu pengalaman yang mendebarkan dan menegangkan saat itu. Semuanya campur aduk, tetapi kami memaknainya sebagai upaya pencarian jati diri sekaligus ajang pembelajaran dan penempaan diri. Kami telah berdamai, dan hati kami telah menjadi damai.

Kami mengingatnya sebagai peristiwa yang menggelikan dari pada menyakitkan. Hati kami telah berdamai dengan pengalaman menyakitkan itu dan mengubahnya menjadi menggelikan. Hahaha…

Jadi… Ketika Alkitab mengajarkan pengampunan & perdamaian sebagai wujud kasih kepada sesama, dan ketika kita mampu melakukannya, rasanya benar-benar damai di hati. Ketika damai hadir di hati kita, maka berkat sejahtera akan melimpahi kita.

God bless you all…

~~~

Catatan:
~ Gambar “The Return of the Prodigal Son” karya Rembrandt diculik dari Mbak Wiki: Forgiveness
~ Salam untuk sahabatku Freddy di Surabaya

24 pemikiran pada “Memaafkan Dan Berdamai

  1. dan ini adalah pelajaran buat saya, dan bukankah kita memang harus banyak belajar dari orang lain, sebelum kita jadi pelajaran bagi orang lain. salam damai… 😀

  2. Wok,..aku ingat waktu kita SD, kamu pindah dr Tegal, aku antar kamu sampai kamu pergi..aku sedih banget..you are my best friend..GBU Wok..

    • saya jadi rindu teman-teman di SD, kebanyakan mereka sudah pada menikah, karena saya tinggal didesa, jadi kebanyakan dari mereka tidak terlaru mementingkan pendidikan formal… lulus SD langsung pada berprofesi jadi tukang tas *membuat tas*… saya jadi bahan lelucon mereka “kapan nikah…”, “keburu tua”, dan lainnya… hihihih, tapi masa masa itu tak akan terlupakan….

      main di sawah… sama kerbau… dan sering juga adu jotos… wkwkkwk…

      ya….ya… saya rindu mereka…..

    • hahahha… pernah lah, kalau tidak dia yang nangis, kadang saya. wkwkwkkw….

      hah, nikah? waduh… 😆 ada deh… ntar diundang kok… 😉

  3. Karena tanpa memaafkan maka damai tak akan datang.

    Jangan biarkan amarahmu sampai matahari terbenam, itu adalah kata kata yang manis, sehingga tak perlu menunda untuk memaafkan dan membuat hati kita damai.

    sulit sekali..tapi memaafkan dan menumpulkan kesalahan sehingga tidak menusuk akan membuat jiwa ini selalu tersenyum.

    thanks mas dewo

  4. teringat lagunya mas

    kasih pasti lemah lembut
    kasih pasti murah hati
    kasih pasti memaafkan

    jadi ….kalau udah ada hati yang benar-benar mengerti kasih, akan bijak dalam mengambil keputusan yang baik

  5. Anak Kecil bagai kepompong…dan yang besarpun rindu masa2 kepompong, mungkin karena itulah Sindentosca laris dengan kepompongnya…

    • @Ndaru,

      Iya, benar. Bisa jadi begitu.

      Tapi kalau sejak kecil sudah diajarkan “Memaafkan” dan “Berdamai”, mungkin saat besar juga akan terus mempraktekkan hal ini. Karena sejak kecil sudah diajarkan berhati besar/lapang.

      Salam

  6. Wah…bandel juga ya mas Dewo ternyata.

    berantem kenapa tuh mas?

    kalo cewek sih biasa mas berantem…tp adu mulut n lomba prengat prengut gitu…padahal ya nanti baikan lagi.

    Proses yang sangat panjang n butuh niat yg kuat ya untk bs memaafkan dan melupakan….

    • @Mbak Devi,

      Hihihi… entah kenapa ya waktu itu berantem? Pokoknya sepele2 deh… Kalau sekarang pasti malu deh, hanya gara2 sepele trus brantem.

      Hihihi… iya ya, cewek biasa berantem juga. Tapi proses memaafkan & berdamainya sebisa mungkin dipersingkat, supaya bisa segera baikan lagi.

      Eh, saya kok jadi sok tahu gini ya? Xixixi…

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.