Dobosan Elektro

Kemarin saat menunggu penerbangan yang delay 2 jam, daku mengisi waktu dengan ngobrol dengan seorang dokter obsgyn. Sang dokter curhat tentang anaknya yang tahun depan akan lulus SMA dan akan kuliah. Masalahnya sang anak ingin masuk jurusan teknik dan salah satu pilihannya adalah teknik pertambangan.

Karena beliau bertanya-tanya tentang jurusan teknik lain dan kemudian menanyakan latar belakang pendidikanku, maka sekalian saja daku ndobos tentang elektro. Kan daku lulusan program studi Elektronika dan Telekomunikasi. Pas… Xixixi…

Teknik elektro itu adalah jurusan yang ajaib. Dan kami diajari untuk berimajinasi. Jadi jangan heran kalau orang elektro itu kreatif.” kataku memulai dobosan.

“Kok bisa begitu, Mas?” Tanya Sang Dokter dengan sedikit mengernyitkan dahi. Dia berpikir daku mengada-ada. Xixixi…

“Coba saja Bapak lihat ponsel yang Bapak pakai. Itu termasuk barang ajaib karena bisa mengantarkan suara kita ke ponsel lain yang entah ada dimana.” Jawabku melanjutkan dobosan.

“Apakah kita bisa melihat medium yang digunakan untuk menghantarkan suara kita?” Cerocosku lagi. Kebetulan Sang Dokter mulai menampakkan ketertarikannya.

“Iya, ya?” Gumannya singkat.

“Belum lagi kita melihat TV yang dulu akrab disebut sebagai kotak ajaib karena mampu menayangkan gambar & suara. Orang awam bakal sulit memahami bagaimana itu bisa terjadi. Tapi orang elektro bisa mempelajarinya, memahaminya dan membuatnya.”

Sang Dokter semakin menampakkan ketertarikannya. Senyum mulai tersungging di bibirnya seolah menemukan sesuatu hal yang baru.

“Orang elektro harus belajar sesuatu yang tidak pernah dilihatnya, bagaimana arus listrik mengalir, medan elektromagnet, dan lain-lain. Bentuknya pun tidak ada, tetapi orang elektro bisa mengukurnya. Atau bisa memancarkan sinyal dan menangkapnya kembali.” Masih kulanjutkan dobosanku.

“Iya ya, Mas. Kalau dokter kan mempelajari yang bisa dilihatnya, misalnya organ-organ dalam manusia.” Kata Sang Dokter sambil manggut-manggut.

“Iya, Pak. Tapi itu belum seberapa. Bapak pernah punya radio tabung?” Tanyaku yang kemudian dibalas dengan anggukan penuh antusias. Daku yakin beliau pernah punya radio tabung, dilihat dari usianya yang mungkin sudah di atas 50an. Xixixi…

“Tabung yang kira-kira sebesar ini bernama transistor.” Kataku sambil membuat ukuran dengan jari telunjuk dan jempol. “Cukup besar. Dan sebuah radio tabung membutuhkan kurang lebih 4 tabung. Sekarang Bapak boleh terka seberapa banyak transistor yang ada dalam sebuah processor!”

Sang Bapak hanya terdiam menanti jawaban dengan mimik penuh penasaran.

“Jumlahnya ratusan juta! Padahal kemasan prosesor cuma segini.” Kataku lagi dengan membuat ukuran dengan jari telunjuk dan jempol yg besarnya sama dengan ukuran yang kutunjukkan sebelumnya.

“Coba bayangkan bagaimana cara pembuatannya?” Tanyaku retoris. “Mungkin untuk melihatnya pun perlu menggunakan mikroskop elektron.”

{Untuk jumlah yang tepat dari sebuah prosesor Intel bisa dilihat di SINI}

Sang Dokter nampaknya semakin terkagum-kagum dengan dobosanku sambil sesekali tersenyum dan mengangguk-angguk. Xixixi…

“Itulah hebatnya orang elektro, Pak. Dan biasanya orang elektro jadi kreatif dan mampu beradaptasi dengan baik di bidang dan lingkungan lain karena daya imajinasinya yg tinggi.” Demikian kata penutup dobosanku. Senang sekali bisa ndobos. Xixixi…

Setelah itu kami ngobrol lain-lain sampai akhirnya pesawat berangkat. Nampaknya Sang Dokter sangat terkesan dengan dobosanku. Yah, siapa tahu anaknya kelak bisa masuk elektro. Maklum, mahasiswa elektro sekarang sudah mulai menurun kuantitasnya. Belakangan banyak orang memilih jurusan IT dari pada elektro.

Padahal asyik loh jurusan elektro itu. Ga percaya? Sini daku setrum. Kamu bisa merasakan setrum padahal tidak melihat arus listrik yang menyetrummu. Ajaib kan? Xixixi…

{Daku pernah kesetrum loh! Eh, sering ding. Tapi kesetrum yg paling berkesan ya saat SD. Syukurlah tidak terlalu lama & tidak parah. Terima kasih untuk Freddy dan mamanya yang telah membawaku ke dokter.}

~~~

Catatan: Gambar diculik dari Mbak Wiki, “Electronic Engineering”

22 pemikiran pada “Dobosan Elektro

    • @Mbak Joanna,

      Xixixi…
      Tapi gaya kucel ala kestrum sekarang malah jadi mode loh. Itu banyak rambut yg model jabrik, kayak jengger ayam, poni tinggi, dll. Mestinya itu gampang buatnya, tinggal disetrum aja. Hahaha…

      Salam

  1. Mas Dewo,

    aturan langsung promosi aja dong..

    “saya bisa loh bikin alat bedah kedokteran elektronik buat rumah sakit dimana bapak bekerja, ini kartu nama saya”

    kan lumayan tuh bisniss…

  2. Halah massss ojo GR disik…iku pak dokter mbatin ngene : “ki bocah ndobos kok pede tenan, la bojoku wae insinyur elektro”

    Berarti kalo anak elektro tahan setrum yo mas?

    awas suk nek ketemu tak gawakne raket nyamuk yo…

    • @Mbak Devi,

      Xixixi… jangan-jangan begitu ya?
      Eh, anak elektro tdk tahan setrum kok.
      Dulu pas daku kesetrum, setelah itu daku bisa jadi hero seperti Gundala Putera Petir. Ternyata ngga bisa. Xixixi…

      Waaaaa… jangan raket nyamuk… Sakiiiiiit…
      *kabuuuuuur*

  3. Saya harus angkat semua jempol yang saya miliki atas keajaiban orang elektro lho mas.
    Bayangkan dulu ketika saya kuliah di Magelang kalau memerlukan uang harus menunggu wesel dari emak. Kini hanya dengan rebahan di kasur, pake sarung tanpa celana (panjang) sambil nonton Sinetron Arini saya bisa mengirimkan uang kemana saja. Cukup klak-klik-kluk-ceklok tombol hape, uang dari ATM kok bisa ngluyur ke sasaran ya.

    Namun sayangnya saya dulu ambil STM jurusan mesin, setelah lulus Akabri malah masuk kecabangan Polisi Militer..weleh..weleh..gak pas banget. Makanya saya tidak pernah menyetrum tersangka ketika menjadi penyidik. Kasihan, tersangka kok di strum. Diajak makan dan merokok di kantin malah dia mengakui perbuatannya.

    Satu lagi, saya kok gak mudeng hitung-hitungan di pelajaran Tehnik Tenaga Listrik (TTL) yang pernah saya terima di Magelang. Apalagi melihat gambar kabel plungker-plungker itu. Saya lebih senang diskusi tentang strategi dan taktik bertempur deh mas.

    Salam hangat dari Plesiran- blog untuk mempromosikan pariwisata daerah anda secara gratis. Jika artikel dimuat maka pengirimnya akan mendapatkan tapi asih berupa sebuah buku yang menarik dan bermanfaat. Silahkan bergabung dengan Plesiran.
    Terima kasih

    • @Pakde yg Plesiran,

      Terima kasih atas apresiasinya terhadap keajaiban orang elektro. Hihihi… saya ini ge-eran ya Pakde.

      Tapi saya juga salut terhadap tentara. Dulu saya sering membayangkan bisa menjadi bagian dalam garis komando. Xixixi… dulu tapi.

      Mengenai hitungan TTL, dulu saya ngga mudheng, sekarang lupa. Xixixi…

      Kalau saya jalan2 lagi, akan saya kirim ke blog-Plesiran juga.

      Terima kasih Pakde. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.