Inspirasi Hari Ini: Maaf Proaktif

Sebagai manusia sosial yang tidak sempurna, tentu ada kalanya kita menghadapi suatu masalah dengan sesama yang membuat hubungan menjadi renggang atau malah putus sama sekali. Dan hilanglah harmoni di antara sesama. Kalau di posting sebelumnya kita membahas “Maaf” dalam konteks kita yang bersalah dan kemudian mengucapkan kata “maaf”, maka kali ini kita akan membahas “Maaf yang Proaktif.”

Maaf yang proaktif adalah ucapan maaf dari kita saat kita menghadapi suatu masalah dengan sesama walau pun sebenarnya kita tidak bersalah. Maaf yang proaktif ini merupakan upaya pendamaian karena terjadi masalah pada hubungan dengan sesama.

Mungkin orang lain yang bersalah atau memusuhi kita, dan akibatnya hubungan kita dengannya menjadi tidak sehat. Namun apa salahnya kita meminta maaf duluan? Inilah “maaf yang proaktif.”

Mengapa?

1) Maaf yang proaktif merupakan upaya pertama yang perlu dilakukan untuk memperbaiki hubungan yang renggang atau putus. Ini adalah upaya untuk membangun kembali komunikasi dengan sesama. Ibaratnya kita sedang membangun jembatan kepada sesama di ujung sana sehingga ke depannya hubungan dapat lebih lancar terjalin. Membangun jembatan ini mesti dimulai dari bawah, yaitu dengan memasang tonggak-tonggak jembatan yang dibangun dengan kerendah hatian.

2) Kata “maaf” selain sebagai bentuk kerendah hatian kita, juga sekaligus berguna untuk mengetuk hati sesama. Konon ketukan dengan bentuk kerendahan hati akan lebih masuk di sanubari dari pada ketukan dengan kekerasan hati. Sama seperti nasehat yang diutarakan dengan baik dan tulus akan lebih merasuk dari pada nasehat yang dibarengi kemarahan.

3) Upaya proaktif ini sekaligus ujian untuk mengikis hati orang lain yang sedang bermasalah dengan kita. Jika tadinya dia sebel atau marah atau sirik/dengki dengan kita, bisa jadi semuanya itu akan dinetralkan oleh kerendahan hati & ketulusan hati kita. Ingat bahwa negatif perlu dinetralkan dengan positif. Berikanlah suasana positif selalu sehingga akan menetralkan negatif, atau bahkan menjadi positif semua.

4) Maaf yang proaktif juga merupakan teguran lembut bagi sesama yang bersalah atau memusuhi kita. Bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Namun alih-alih teguran diucapkan dengan kemarahan, kita justru melakukannya dengan sebuah kata yang lembut: “maaf”.

5) Maaf yang proaktif sekaligus upaya “pemberian maaf” secara aktif, bahwa kita telah memaafkannya walau pun dia belum meminta maaf. Dan sekaligus dapat membuat dia berinterospeksi dan menyadari bahwa apa yang dia lakukan & rasakan untuk kita adalah tidak tepat.

6) Maaf yang proaktif adalah suatu bentuk kebesaran hati kita dan sekaligus menunjukkan bahwa kita memiliki dada yang lapang dan panjang sabar.

7) Maaf yang proaktif sekaligus bentuk pembelajaran bagi sesama yang sudah sepantasnya diteladani. Sungguh memprihatinkan ketika melihat begitu banyak konflik terjadi di masyarakat karena hilangnya kata “maaf”, “pengampunan” dan “perdamaian.”

8 ) Maaf yang proaktif merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan yang sangat besar kepada Tuhan, yang telah memberikan berkat kepada orang benar dan orang tidak benar; yang telah menerbitkan matahari bagi orang benar dan yang tidak benar; yang telah mencurahkan hujan bagi orang benar dan yang tidak benar. Sudah sepantasnyalah kita menirunya, dengan memberikan berkat & pengampunan bagi orang yang bersalah kepada kita.

Karena bagaimana kita dapat mengampuni sesama kita, demikianlah Tuhan akan mengampuni kita. Bagaimana Tuhan dapat mengampuni kita kalau kita tidak mau mengampuni sesama?

Dan…

Sekali lagi, tulisan ini bukan hendak membuktikan kalau saya memiliki kualitas yang baik, bukan! Tetapi ini adalah tulisan yang saya sarikan dari ajaran Kristus semata. Sedangkan saya masih jauh dari semuanya itu. Dan ini merupakan tantangan bagi saya, yang telah begitu banyak mendapatkan pelajaran berharga, dan hendaknya saya pun bisa menghayati & melakukannya bagi sesama.

Maka dari itu, perkenankanlah saya mengucapkan “MAAF” kepada Anda semua yang merasa bahwa saya bukanlah orang yang patut dikenal, disukai, disayangi, dicintai; dan lebih merasa bahwa saya patut dihindari, dimusuhi, disiriki, dilukai, disakiti, dll.

Dengan penuh kerendah hatian, marilah kita membangun perdamaian di antara kita. Kita maafkan masa lalu yang kurang berkenan, yang suram, yang kelam. Dan kita nyalakan terang yang akan menerangi jembatan perdamaian di antara kita.

Tuhan memberkati kita semua.

~~~

Catatan: Simbol perdamaian diculik dari Mbak Wiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.