Belajar Dari Sinetron (?)

Weks… belajar dari sinetron? Mengapaaaa? Mengapa tidaaaaak!? Lebay deh. Hehehe… Yang jelas, sebagai seorang ayah yg baik harus bersedia mendampingi keluarga dalam menonton TV, termasuk menonton sinetron. (*Hayah, ini sih pembelaan diri yg aneh*)

Tapi ada beberapa hal yg bisa daku tarik dari pengalaman menonton sebuah sinetron yg mungkin bisa jadi renungan bersama. (*hayah, jijay bajay*)

1) Belajar perlu diulang

Asyiknya, daku bisa menikmati menonton sinetron karena setiap pergantian episode ada cuplikan cerita sebelumnya. Jadi saat nonton episode selanjutnya, kita jadi teringat cerita sebelumnya tentang apa.

Bahkan dari sebuah sinetron, setelah jeda iklan, ada beberapa detik cuplikan adegan dari bagian sebelum jeda iklan.

Coba saja seandainya metode belajar-mengajar kita juga begitu, tentu siswa/mahasiswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan dapat mengingat apa yang dipelajarinya lebih baik lagi. Well, beberapa guru/dosen memang sudah begitu, tetapi mungkin belum semuanya begitu, dan belum menerapkannya secara disiplin. Atau menyerahkan semuanya kepada siswa/mahasiswa untuk mempelajari lagi di rumah? Yakin deh, tidak banyak siswa yg melakukannya. Kecuali pas mau ujian baru diulang. Ya tho?

2) Orang yang baik selalu bodoh

Dalam sinetron, entah mengapa, selalu saja orang yang baik (atau sangat baik?) selalu digambarkan sebagai orang yang bodoh, yang menerima apa adanya, yang hanya bisa ditindas oleh si jahat.

Ya, itu cuma cerita. Kenyataannya tentu sangat berbeda. Namun apa yang bisa kita pelajari dari kenyataan buatan ini?

Kalau kita nonton bersama-sama, tentu kita malah lebih sering diskusi dan mencela para tokoh tersebut. Benar? Benaaaaar!!! Padahal dengan demikian kita bisa belajar kritis dan turut memikirkan apa yang seharusnya dilakukan oleh para tokoh. Kita bisa membayangkan seandainya jalan cerita itu mengikuti apa yang kita pikirkan, pasti ending-nya akan berbeda. Dan demikianlah kehidupan kita saat ini, yaitu berdasarkan apa yang kita pikirkan, pilih dan lakukan!

Bisa jadi akhirnya bahagia. Atau malah menyedihkan? Simulasikan dengan menonton sinetron. Asahlah kemampuan berpikir Anda. Xixixi… (*antik beneeeer…*)

3) Sinetron yang durasi tayangnya sangat panjang

Sebuah sinetron ada yang masa tayangnya sampai ratusan episode. Bayangkan, jumlah ratusan itu. Itu bisa lebih dari setahun penayangannya.

Dan bayangkan betapa kerasnya kerja pengarang, kru film dan juga pemainnya. Tapi yang daku salut adalah: pengarangnya. Betapa sulit membuat sebuah cerita yang bisa sepanjang itu. Dan sinetron yang bagus selalu bisa menguras emosi penontonnya di setiap episode dan membuat penonton selalu menunggu episode berikutnya. Paling heboh adalah jika cerita di episode berikutnya tidak dapat kita tebak sama sekali.

Harus diakui dan dipahami bahwa ini adalah sebuah kerja keras. Kerja yang sangat keras! Tidak hanya keras, tapi juga diperlukan kepandaian dan daya imajinasi yang tinggi di samping tentu saja ketekunan!

Mengapa kita tidak belajar demikian? Ingat bahwa sebuah masterpiece tercipta berkat unsur-unsur di atas! Bukan karena keberuntungan belaka!

Penutup

Hem, sejatinya daku pengen ndobos lebih lanjut. Tapi sesuai kaidah dari Ompakmas yang cukup 3 jurus metal, ya daku akhiri saja dengan 3 jurus. (*padahal males mikir lebih lanjut ya? Husss… iya*)

Yang penting daku bisa menuliskan sesuatu yang tidak terlalu serius dan sudah cukup berusaha bisa membanyol kayak Pakdhe. Namun maafkan daku jika ternyata tidak bisa selucu kakakku. Hihihi…

Salam

14 pemikiran pada “Belajar Dari Sinetron (?)

  1. Mbanyol itu memang sukar apalagi di depan orang yang jarang bisa tertawa, kita bisa malu sendiri. Makanya pelawak akan keringat dingin jika lawakannya tak laku alias tidak bisa membuat tertawa orang lain atau penonton. Jika acara lain ada gladi resik sebelum pementasan, maka group lawak tak akan pernah ikut gladi resik-mereka akan bicara2 sendiri secara terpisah.

    Dilingkungan pertempuran ada yang disebut dengan KIRPAT alias Perkiraan Cepat. Ini dilakukan jika suatu pasukan menghadapi keadaan yang diluar perkiraan mereka. Hah, seorang penulis skenario sinetron harus juga membuat Kirpat jika ditengah perjalanan sinetronnya ada kejadian yang tak terduga misalnya : meninggalnya Oma (Ida Kusumah) akan merubah skenario yang sudah siap sebelumnya, bukan. Makanya episode lanjutannya belum ditayangkan dan pasti akan bersambung di Cinta Fitri 7.

    Pelajaran pokok yang bisa dipetik dalam film, sinetron, ketoprak,wayang,ludruk,dll pasti ” kebenaran mengalahkan kebatilan “.
    Jika pelajaran utama ini tidak ditampilkan maka penulis skenarionya minta diantemi wong sak kampung ha ha ha ha ha.

    salam hangat dari Surabaya

    • @Pakde,

      Saya kalo mbanyol maksa, Pakde. Kalau orang yg sudah saya banyolin ngga ketawa, ya kemudian saya gelitikin biar ketawa.

      Biasanya mereka jadi paham kok, Pakde. Kalau aku mbanyol kemudian ngga lucu, mereka rela menggelitikin diri mereka sendiri supaya ketawa. Hihihi…

      Mengenai “kebenaran mengalahkan kebathilan” sayangnya belum bisa dipelajari, Pakde. Soalnya sinetronnya belum tamat. Xixixi…

      Salam hangat juga, Pakde.

    • sepertinya memang belum ada yang berani menawarkan sebuah sinetron atau film yang akhirnya buruk. ha ha ha… rata-rata sinetron akhirnya selalu…. happy… ckckck

  2. Hahahaha…… tapi kan di sinetron banyak adegan jeleknya? Kadang bahkan terlalu kasar ngomongnya. That’s why di rumah dilarang keras nonton sinetron, soale anak2 suka niru 😀

    Ee, tapi sinetron jaman dulu masih bagus2 sih. Dulu kalo nonton bareng temen kos pasti aku banyak komen, akhirnya malah cekakan gak konsen 😀 Kalo sinetron sekarang terlalu lebay dan dibuat-buat, sing penting panjaaaaaaaaaanggg…. 😀

    Satu lagi, mestinya ada peringatan “Penderita sakit jantung dan hipertensi dilarang menonton sinetron”. Soalnya Mom sering naik tensi klo nonton 😆 I love you, Mom…

  3. bener tuh kata mbak choco, mamaku juga suka emosi…

    kalo aku sih malah suka sok-sokan jadi sutradara…hihihi…sok tau episode berikutnya gitu…

    di rumah ga pernah nonton sinetron mas, btw sinetron apa yg njenengan tonton to?

    • @Mbak Devi,

      Hihihi… jadi malu nih sama Mbak Devi. Ketahuan kalau penonton setia sinetron. Daku baru-baru ini aja ngikutin sinetron kok. Cuma 1 saja. Itu pun sudah mulai gregetan karena ngga selesai2 dan kesannya bertele-tele.

      Dan judulnya adalah… (*suara genderang*)

      “Putri yg Ditukar”

      Hayah, lebay banget ya? Hihihi…

      Salam

  4. wew….

    asyiikkk gue dapet nih… ckckckkc

    saya bukannya tidak pernah nonton, suka, hanya saja, baru beberapa episode langsung malas, karena pengennya cepet tamat mulu. wkwkwkkwk….

    selamat nonton…..

    aMIRA…. oh Amiraaaaa

  5. wkwkwkwkwkwk

    terakhir saya nonton sinetron pas kuliah semester awal, cinta fitri episode I, habis itu g pernah lagi, 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.