Ciuman Hangat

Hehehe… pasti kena deh. Dan benar, akhirnya sampur itu mendarat di blog ini. Padahal daku bukan pengarang yang baik, lho. Tapi amanat harus dijalankan. Jadi, beginilah ceritanya. Upsss… sebelum membaca dobosanku, mungkin perlu membaca dulu cerita-cerita sebelumnya:

  1. nyambung terussssssss…” dari Iyha
    (*Jumlah “s”-nya bener kok. Maklum, copas. Xixixi…*)
  2. Sebuah kisah tentang Dasrun.. (*sambungin lgi ya fren..” dari Usagi
    (*Kayaknya kurang kurung tutup ya? Atau sengaja?*)
  3. DINDING ITU BERTELINGA” dari Ompakmas
    (*Always konsisten dengan judul huruf besar semua*)
  4. Azizah….oh….Azizah” dari Mbak Choco
    (*Dari sini sudah mulai panik. Pasti bakal nyampe ke blog ini. Xixixi*)
  5. Awal Tak Terduga” dari Mbawi
    (*Nah kan bener… pasti deh mampir ke blog ini. Padahal daku masih hutang tulisan ya? Xixixi*)

~~~

Minggu pagi itu Dasrun bergegas kabur dari rumah. Setelah menenggak kopi yg disiapkan istrinya, Nting, dia langsung keluar rumah dan berteriak, “Aku pergi dulu sebentar yaaaa.”

Sengaja dia pamitnya dari luar sambil teriak. Soalnya kalau menunggu persetujuan Nting, pasti harus pake adu mulut. Mana dia barusan kecopetan, eh masih diomelin pula. Ibarat kata, sudah jatuh ketimpa tangga nada. Untung saja kemarin dapat uang dari Dewo. Ya paling tidak bisa menunda omelan Nting barang beberapa hari ini. Xixixi…

Tapi masalah ini harus segera dituntaskan. Mosok sebulan hanya berbekal uang Rp 50,000 plus sekarung beras? Bisa kurang gizi nih si Rama. Dan dari mana ongkos transport pergi-pulang kerja?

Sambil berjalan pagi yg konon bisa membuat body sehat itu Dasrun berpikir kemana dia bisa curhat. Syukur-syukur dapat pinjeman lunak. Kalau perlu pinjaman presto, sudah lunak seduri-durinya. Tapi kemana ya?

“Aha…” seru Dasrun tiba-tiba teringat sosok yang selalu nyanyi: “don’t worry, be happy” (*soundtrack: refrain dari lagu “Don’t worry, be happy”*). Siapa lagi kalau bukan Bunda Neverworry. Kebetulan rumahnya cuma sepelemparan granat. Ya sudah, Dasrun dengan segera menuju ke rumah Bunda Neverworry.

“Assalamualaikum…” seru Dasrun sambil mengetuk pintu kayu dari rumah yang asri. Asri banget malah. Karena tidak hanya bunga-bungaan penghias rumah, tapi juga ada kebun kangkung, tomat, wortel, cabe. Eh, kok ada pohon duren juga ya?

“Waalaikumsalam…” sahut suara yang sangat dikenal Dasrun. Dari suaranya, sangat kentara aura vitalitas-nya. Itu saja sudah menularkan efek positif. Tidak salah Dasrun bertandang ke sini.

“Eeeeh… Dasrun. Mari-mari masuk. Ada apa nih? Tumben pagi-pagi kemari.” kata Bunda Neverworry sambil mempersilakan Dasrun masuk.

Dasrun pun masuk dan menempatkan pantatnya di sofa terdekat.

“Meooooong…” upsss… Dasrun meloncat kaget karena hampir saja dia menduduki seekor kucing di sofanya.

“Wakakaka… Sini-sini, Pus.” tertawa renyah Bunda Neverworry. Hem… tidak hanya renyah sebenarnya, tapi rame juga. (*Hehehe… husss pengarang tidak boleh ketawa di balik panggung. Maaf Bunda, kena dampak ketawanya nih*)

Dengan tersipu-sipu malu, Dasrun memulai curhatnya.

“Begini Bunda. Saya ini mendadak bingung.” kata Dasrun yg kemudian terdiam sejenak seolah memang sedang bingung, bukan pada masalahnya, tapi bagaimana merangkai katanya.

“Bingung bagaimana to?” Tanya Bunda seolah tidak sabar, ini niat mau curhat ngga sih?

“Begini Bunda, istri saya, Nting, mendadak kok aneh gitu. Kalau awalnya manis dan penuh pengertian, kok mendadak menjadi suka emosi dan matre ya? Bayangkan saja, kemarin hari dia sampai melabrak Azizah. Kalau terdengar orang lain kan malu saya ini. Mau ditaruh dimana muka saya ini?”

“Wakakaka…” kali ini tawa Bunda tidak lagi sekedar renyah, tapi terbahak-bahak. Kalau diukur kekuatannya, mungkin setara dengan tawa 10 orang. Hampir saja Dasrun melompat kaget. Nah tuh, Si Kucing saja langsung lari terbirit-birit. Benar-benar mirip ketawa Devi yang dulu selalu bikin kaget teman-teman band. Malahan dulu sering diledek kalau ketawanya lebih bergemuruh dari pada snare drum plus cymbal yang dipukuli ramai-ramai.

“Ya mukanya ditaruh di tempatnya tho. Masak bisa dipindah di dengkul? Wakakaka…” canda Bunda lagi.

“Hehehe, iya sih, Bunda.” kata Dasrun kemaluan, eh, penuh malu.

“Coba diingat-ingat lagi, apa yang menyebabkan Nting bisa berubah begitu?” Kata Bunda sambil menghapus air mata karena tertawa geli.

“Jadi ceritanya saya habis gajian. Tapi kecopetan di bis. Ya setelah itulah saya merasa Nting berubah perangainya. Dari yang penuh pengertian & sabar mendadak jadi emosional dan matre. Atau jangan-jangan saya salah pulang ya?” kata Dasrun sambil berpikir keras. “Eh, engga ding. Saya memang benar pulang ke rumah saya. Ada Enting & Rama. Tapi kok rasanya ada yg aneh ya?”

“Hem…” Bunda mengernyitkan dahinya. Ini kasus yang aneh, pikirnya. Atau pengarangnya yang aneh?

“Sebenarnya pemecahannya sangat simple.” kata Bunda sambil mengelus-elus dagunya yang sama sekali tidak ditumbuhi jenggot itu.

“Apa itu, Bunda?” Tanya Dasrun antusias.

“Ciuman.” kata Bunda sambil menjentikkan tangannya.

“Ciuman?” tanya Dasrun mengernyitkan dahinya. “Maksudnya saya harus mencium Bunda?”

“Weh… ya bukan saya dong. Tapi Nting istri kamu itu.” Nyaris saja Bunda berdiri dan mengambil sapu untuk jaga-jaga kalau Dasrun nekad mau mencium Bunda.

“Oh, eh, iya” Mendadak Dasrun jadi kikuk, salah tingkah. Tidak hanya salah tingkah, tapi salah otak, salah bibir, salah wajah, salah pose. Pokoknya kalau sedang casting pasti langsung diterima, jadi pemeran yg sial terus. (*hehehe… husss, penonton ketawanya jangan keras-keras, bisa mengganggu shooting*)

“Ada satu hal kecil yang bisa kamu lakukan untuk meluluhkan dan meraih kembali hati Nting, yaitu sebuah ciuman hangat. Berikan satu ciuman padanya sebelum tidur di malam hari. Berikan pula ciuman hangat (*dan bau*) di pagi hari untuk menyambut si dia ketika matahari mulai terbit.” Kata Bunda sambil menggerakkan tangannya seolah sedang berpuisi. Oh iya, kata-kata ini diambil dari posting “Ciuman Dari Surga” dengan sedikit adaptasi supaya lebih mendramatisir dan lucu.

“Tapi, Bunda…”

“Tidak ada tapi-tapian. Lakukan saja. Setelah terbangun kemesraan itu, coba mulailah berkomunikasi lebih intens lagi. Bangun komunikasi yang baik dan penuh pengertian. Saling mendengarkan. Saling memberi dan menerima.”

“Tapi, Bunda…”

“Pssst… just do it. Don’t worry for the rest…” kata Bunda sambil mengibas-kibaskan tangannya mengusir Dasrun.

~~~

Di perjalanan pulang Dasrun masih memikirkan nasehat-nasehat Bunda Neverworry. Ada yang salah nih. Seharusnya dia tadi meneruskan kata-katanya.

“Tapi Bunda, saya selalu bangun lebih siang. Kalau pun saya berusaha bangun lebih pagi, entah mengapa dia bisa bangun lebih dulu. Jangan-jangan Nting tidak pernah tidur ya?” Guman Dasrun.

Dan lagi, sebenarnya Dasrun sekalian mau pinjam uang. Karena kayaknya itu lebih penting untuk membungkam omelan Nting dalam beberapa hari ini.

Aha… bagaimana kalau pinjem ke Pakde Cholik ya? Sebagai pensiunan Jendral yang baik hati, tidak sombong, dan gemar menabung itu dikenal sebagai orang yang gemar memberi tali asih. Saking seringnya, sampai-sampai talinya ruwet bunded. Perlu dicoba sih. Lagi pula rumahnya tidak jauh, hanya sehisap rokok saja.

Semoga saja nanti sore masih sempat ngumpul bareng teman-teman band di studionya Pak Nanang.

~~~

Jadi… berikutnya granat dilempar ke Pakde Cholik untuk diteruskan ceritanya. Diterima ya, Pakde.

~~~

Disclaimer:
Mohon maaf jika ada kesamaan nama pemain, lokasi dan jalan cerita. Cerita ini hanya fiksi belaka. Kalau pun ada kemiripan, ya itu memang disengaja juga sih. Tapi tentu bukan merupakan karakter atau latar belakang para tokoh yang sesungguhnya.

Dan mohon maaf jika cerita ini mengakibatkan rasa tidak nyaman, tidak enak, atau tersinggung. Namun tidak ada maksud apa pun untuk menyinggung atau membuat rasa tidak nyaman bagi siapa pun.

Iklan

37 pemikiran pada “Ciuman Hangat

  1. Huahahahahahahaha…..(lebar tur kenceng suaranya)…
    Pemerhati tulisan n komen yg jitu nih 🙂
    Sip sip sip…judulnya itu lo qiqiiqiqiqi
    Kenapa dasrun ga tiap hari aja ketemu dewo, kan bs dpt 50rb tiap hari ….ya gaaaa?

  2. mas Dewo, anaknya Dasrun kn Rama…
    Hafiz itu anaknya Azizah tetangga Dasrun…
    kau bisa makin didamprat Nting kalo Dasrun bertanggung jawab thdp hidup Hafiz..
    Lha wong Nting itu cemburunya naudzubilah kl sm Azizah…
    hehehe…

  3. whuahahaaha……….
    asli ngakak sampai 100 desibel …….. 😀 😀 😀
    (karena barengan dgn Devi ketawanya) 😀 😀

    jadi, obat judesnya Nting, hanya ciuman ya Mas Dewo ? 😛
    salam

  4. kisah Dasrun makin seru dan lucu nih. Sudah berapa versi yah yang aku baca, kayaknya cukup banyak dan semuanya menarik. Sukses untuk penggagas ide ini, dan sukses pula untuk perima tongkat estafet yang selalu bisa menghidupkan kisah ini dengan kejutan2 yang menyenangkan

  5. Ehhhhhh dasrunnnnnnn
    Gw gak butuh lo cium,,,,
    Gw butuh duitttt coyyyy
    Moneyyyy,,, Moneyyyyyyy
    Ciuman mah kagak bikin kenyanggg
    Uang yang bikin kenyanggg
    (* si nting ngomel sambilll bawa-bawa golok buat ngejar dasrunn

  6. Ngantri ciuman dasrun ah.. hehehehe… 😛
    keren dan tak terduga..!! begitu saja komen saya, haiyah… hahah…

    sip mas, ayo kita tengok lanjutannya di pakdhe, pasti makin ora karuan nih,,, hahahha,..

    makasih banyak ya mas, dah mau ikut2an gila2annya saya, hehehe,,,
    semoga persahabatan kita terus terjalin erat,,, 🙂

    • @Advertiyha,

      Xixixixi… rupanya banyak yg ngantri ciuman Dasrun ya?
      Iya Mbak, di jalur ini memang semakin lama semakin ngga karuan. Hahaha…

      Terima kasih juga, Mbak. Ternyata ceritanya Mbak Iyha sukses banget disambung-sambung. Ditunggu program selanjutnya.

      Salam persahabatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.