Di Batas Senja 2 : Generasi Muda

Index Trilogi:
1. Di Batas Senja 1 : Tlah Lekang Oleh Usia (Dik Ndaru)
2. Di Batas Senja 2 : Generasi Muda (Dewo)
3. Di Batas Senja 3 : Patah Tumbuh Berganti (Jeng Devi)

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan cerita dan nama pemeran, maka itu adalah kebetulan semata yang mungkin bisa jadi disengaja juga.

Ndaru melangkah keluar RS khusus rehabilitasi pecandu narkoba dengan langkah ringan. Tidak pernah seringan ini, pikirnya. Setelah hampir 6 bulan mendekam di sini seperti seorang pesakitan, mendadak pikirannya terbuka, bahwa untuk apa sih mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu? Yang didapat hanya kesenangan sesaat dan kemudian sepintas berlalu, menyisakan rasa ketagihan untuk terus menggunakan obat terlarang itu demi mengejar pelarian sesaat.

Kini dia sudah mulai mencoba mengatasi rasa itu. Walau pun di sisi lain, gejolak tubuh yang menagih obat-obatan itu masih merasuk jiwanya sehingga raganya pun sering bergidik menahan rasa. Namun seperti kata dokter Devi yang merawatnya, rasa itu bisa dialihkan ke hal-hal positif yang menyenangkan. Dengan bijak dr. Devi malah mengajak Ndaru melakukan beberapa kegiatan yang belakangan menyita perhatian & waktu Ndaru sehingga dia tidak lagi terkekang oleh narkoba.

Pertama kali datang, Ndaru sempat harus diseret oleh dr. Devi dan beberapa perawat saat tubuhnya menggigil keras menagih obat penenang. Walau pun tubuhnya lemah, Ndaru dipaksa untuk menggerakkan semua anggota tubuhnya. Ndaru dipaksa merasakan setiap bagian tubuhnya. Dari ujung jempol kaki, merambat ke dengkul, naik, naik dan naik terus sampai ke ujung kepalanya. Butuh konsentrasi tinggi, yang sejatinya tidak ingin Ndaru lakukan saat dirinya ketagihan dan kemudiah fly. Jika Ndaru menyerah, tidak segan-segan dr. Devi menyiramkan air dingin di beberapa bagian tubuhnya.

Ah, mendadak melintas wajah Dewo. Jika saja waktu itu tidak ada Dewo, mungkin Ndaru tidak tertolong karena over dosis. Sahabat sepermainannya itu memang sahabat sejati. Yang telah banyak sekali menolong dirinya. Ironisnya Ndaru telah beberapa kali mengajak Dewo untuk ikut berpesta obat-obat terlarang. Hal yang kontradiksi dengan yang dilakukan Dewo kepadanya.

Sayang Dewo hanya mendampingi Ndaru selama sebulan di RS rehabilitasi. Setelah itu Dewo menghilang, tidak pernah lagi menjenguknya, tidak ada kabar, bagaikan hilang ditelan bumi. Seandainya nanti bisa bertemu Dewo, Ndaru akan dengan tulus mengucapkan terima kasih, sekaligus meminta maaf kalau selama ini telah merepotkannya dan bahkan berusaha menjerumuskannya.

“Hai, Ndaru. Bagaimana kabar kamu?” Tiba-tiba sesosok tubuh dengan suara berat namun terdengar ringan itu membuyarkan lamunan Ndaru.

“Hai, Dewo. Rasanya tidak pernah sebaik ini. Dari mana saja kamu? Kok tidak pernah menjengukku lagi?” Sambut Ndaru. Kedua sahabat ini pun kemudian berpelukan.

“Oh aku sedang konsentrasi di tesis. Maklumlah, beasiswa cuma sampai tahun ini. Kalau lewat bisa-bisa aku harus membayar sendiri. Tahu sendirilah, biaya kuliah S2 tidak ada yang murah.” Kata Dewo sambil membimbing Ndaru berjalan keluar pintu RS.

Dilayangkannya pandangan ke sekitar. Tetapi mana papa dan mama? Bukannya kemarin Dr. Devi sudah telpon papa dan mama kalau hari ini Ndaru sudah boleh pulang?

“Ehm… mencari papa dan mama ya?” Tanya Dewo melihat Ndaru celingukan. Ndaru pun menangguk dengan sedikit rasa kecewa.

“Kemarin papa dan mama minta aku yang menjemput kamu. Kemarin mendadak papa dan mama harus terbang ke Singapura. Ada rapat komisaris yang sangat penting katanya.” Kata Dewo dengan hati-hati. Dia tahu bahwa sejak dulu Ndaru tidak pernah bisa dekat dengan kedua orang tuanya. Walau pun sebenarnya Ndaru ingin mencoba dekat, tetapi kedua orang tuanya terlalu sibuk, sibuk dan semakin sibuk. Sampai akhirnya Ndaru lebih sering bergaul dengan teman-teman band-nya. Dari situlah kemudian Ndaru terjerumus ke narkoba.

“Oh, tidak apa-apa. Yang penting ada kamu, sahabat terbaikku. Itu sudah lebih dari cukup.” Kata Ndaru lirih mencoba menghibur diri.

Di mobil keduanya hanya terdiam. Sangat bahaya sebenarnya, karena tanpa aktivitas atau pikiran yang bekerja, bisa-bisa Ndaru kembali teringat narkoba. Dan benar saja, tubuhnya mulai merinding. Tetapi tiba-tiba tangan Dewo menggenggam tangan Ndaru yang bergetar. Seolah turut merasakan kegalauan Ndaru. Ndaru pun merasakan hangatnya genggaman tangan itu. Dan hangatnya menjalar ke lengannya seolah bisa menetralisir dinginnya hati Ndaru.

“Kamu tahu akan kubawa kemana?” Tanya Dewo memecah suasana.

“Tidak tahu. Memang aku mau dibawa kemana?” Balas Ndaru.

“Kamu akan kubawa ke kakekmu. Tepatnya adik kakekmu.”

“Adik kakekku? Kok aku tidak pernah tahu?”

“Namanya Mbah Broto. Mungkin kamu tidak pernah bertemu dengannya. Karena dulu dia selalu sibuk menggubah lagu. Bahkan beberapa kali ikut konser ke luar negeri. Sekarang beliau sudah pensiun dan tinggal di desa.” Terang Dewo.

Ndaru berusaha mengingat-ingat nama itu. Tapi kok tidak teringat satu pun peristiwa dimana dia pernah punya kakek bernama Mbah Broto.

“Papa dan mama kamu kemarin bilang kalau kamu diantar ke sana saja. Jadi kamu dititipkan di sana sampai papa-mama kamu pulang dari Singapura. Mungkin kurang lebih 2 mingguan lagi pulangnya.”

Ah, mendadak Ndaru tidak suka ide papa mama ini. Apa enaknya tinggal di desa dengan seorang tua? Apa yang bisa dilakukan di sana?

“Eh, jangan cemberut begitu, dong. Aku rasa sih tidak ada salahnya dicoba. Pasti asyik deh. Soalnya kakek kamu itu hebat loh!” Kata Dewo berusaha mengalihkan pikiran buruk Ndaru. Ya, Dewo memang penuh perhatian. Dia tahu kalau Ndaru sedang berpikir buruk. Mungkin dia bisa membaca tarikan wajah Ndaru yang mulai berlipat-lipat.

“Apa hebatnya?” Sahut Ndaru sedikit ketus.

“Kakek kamu itu seorang DOKTOR loh. Iya sih, doktor honoris causa. Tapi beliau mendapatkannya dari universitas luar ternama di Jerman. Dan kamu pasti suka, karena dia memperolehnya di bidang musik. Bukankah kamu anak band? Cocok deh, pastinya!”

“Hayah… pasti lagu klasik nan membosankan. Kita pulang ke rumahku saja, yuk?”

“Ehm… di rumah sepi, Ndar. Papa mama kan ke Singapura. Begini saja, kita coba 1-2 hari ini di sana. Nanti kalau kamu tidak betah, aku akan jemput kamu. Oke?”

“Tapiiii…”

“Pssst… Cobalah dulu. Ini demi kebaikan kamu juga. Mungkin alam pedesaan akan membantu pemulihan kamu.”

***

Bagaimana nasib Ndaru di rumah Mbah Broto? Dan bagaimana rencana Mbah Broto tentang konsernya? Ikuti kisah selanjutnya di blog-nya Jeng Devi.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Cerita Pendek, Cerpen, Dewo, Personal dan tag , , . Tandai permalink.

20 Balasan ke Di Batas Senja 2 : Generasi Muda

  1. Iksa berkata:

    Wah ini Ndaru atau Dewo ….
    Seru …

  2. marsudiyanto berkata:

    Semoga kontesnya sukses…
    Pasangan yg pas, Dewo nDaru 😀

  3. Devi Yudhistira berkata:

    Semoga kontesnya sukses ya mas, saya dukung deh Tridi !!!

  4. Ping balik: Di Batas Senja 3 : Patah Tumbuh Berganti | Belajar dari anak-anak

  5. segokrawu berkata:

    moga sukses ikutan hajatannya pakdhe. saya ga sempet ikutan 😦

  6. Pakde Cholik berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Saya akan melanjutkan perjalanan ke kisah selanjutnya
    Daftar seluruh peserta dapat dilihat di page Daftar Peserta Kecubung 3 Warna
    di newblogcamp.com
    Salam hangat dari Markas BlogCamp Group – Surabaya

    ——-

    “….Ikuti kisah selanjutnya di sini..”. Tak rogoh2 kok gak nemu link-nya ya. Jadi balik kerumahku lagi deh

  7. bundadontworry berkata:

    mudah2an Ndaru bisa betah dan mengambil hikmah yg baik ketika tinggal bersama Mbah Broto

    semoga sukses di kontes K3W ini , Mas Dewo 🙂
    salam

  8. nia/mama ina berkata:

    wah seru nech, anak band ketemu sama musisi keroncong…lanjut ke TKP berikutnya….sukses utk kontesnya…

  9. Juri kecub 2 berkata:

    *Ngakak mbaca komennya pak Mars, DewoNdaru, seperti nama kembang*
    Anak muda dengan latar belakang rehabilitasi memang harus segera dikenalkan dengan dunia yang menjauhkan dari obat-obatan. Mungkin dengan ketemu mbah Broto bisa mengubah al itu, saya akan beranjak ke cerita selanjutnya.
    Cerita sudah dicatat dalam buku besar juri, terima kasih

  10. dani berkata:

    bukan dar tapi bunda apn sih ya kali ya sih ayayayaya sih yayaya kali y

  11. JURI KECUP 1 berkata:

    Ide yang sangat baik, mendekatkan anak yang baru sembuh narkoba, dengan kegiatan yang bermanfaat, moga musik dapat menyembuhkan ketergantungan akan narkoba, dan semakin kreatif.. 🙂

    walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua

    sukses peserta kecubung 3 warna.. 🙂

  12. Juri Kecub 3 berkata:

    Anak band selalu dikaitkan dengan narkoba. Saatnya mengubah image itu. Untuk berkarya tak perlu obat-obat perangsang!

    Kisah telah disimpan dalam memori untuk dinilai.
    Salam hangat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s