Akhir Hidup Mbah Kakung

Tulisan ini mengandung beberapa misteri bagiku. Yang saat itu tidak bisa kupahami. Di antaranya terungkap setelah bertahun-tahun kemudian, bahkan belum lama dari saat ini.

Masih cerita tentang Mbah Kakung, seseorang yang kami semua cintai. Bukan kisah hidupnya, tetapi kisah akhir hidup Mbah Kakung.

Mbah Kakung

Mbah Kakung

Di usia senjanya, Mbah Kakung menderita banyak komplikasi. Dari DM, stroke, dll. Dokter berkata dalam bahasa awam kalau itu adalah sakit tua. Mbah Kakung memang sudah sangat lanjut usianya, kalau tidak salah 85 tahun. Bagiku, Mbah Kakung sangat diberkati Tuhan sehingga bisa mencapai usia lanjut.

Mbah Tie sendiri juga sudah terlalu capai menunggu Mbah Kakung dan juga lemah secara fisik karena usia lanjut juga. Jadi kami, putera-puteri dan cucu-cucu bergiliran menjaga Mbah Kakung di RS. Tidak terkecuali diriku.

Malam itu giliran daku & Petrus (salah seorang saudara) menginap di RS untuk menjaga Mbah Kakung. Entah mengapa, malam masih muda, tapi daku sudah mengantuk sekali. Mata ini sudah berat sekali. Daku pun berdoa sebelum tidur mendoakan Mbah Kakung, memohon kepada Tuhan untuk yang terbaik bagi Mbah Kakung. Mbah Kakung terbaring lemah. Nafasnya lemah, tapi tampak teratur, tidak seperti sore sebelumnya yang sempat anfal. Setelah itu daku pun tertidur pulas di bed di samping bed Mbah Kakung.

Malamnya tiba-tiba daku terbangun. Kesadaranku dalam sekejap pulih. Kantuk pun 100% hilang. Daku terbangun tiba-tiba, tetapi bukan karena terkejut seperti halnya jika seseorang terbangun tiba-tiba karena mimpi buruk. Daku bangun, tapi terasa damai dan tenang.

Sekejap saja daku memalingkan pandangan ke arah Mbah Kakung. Tidak ada lagi hembusan nafas. Kuraih pergelangan tangannya untuk merasakan denyut nadi. Sangat lemah, semakin lemah dan kemudian denyut hilang sama sekali. Segera saja kubangunkan Petrus dan kemudian menyalakan tombol pemanggil perawat. Segera saja perawat datang dan memeriksa Mbah Kakung. Mbah Kakung dinyatakan wafat.

Sedangkan daku, hanya bisa tepekur, termenung membisu, terasa hampa sekali, entah apa yang bisa kuperbuat? Daku hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan jiwa Mbah Kakung, supaya arwah Mbah Kakung diterima di sisi kanan Bapa. Daku kemudian mengabarkan berita ini kepada ibu & keluarga yg lain.

Beberapa jam berlalu, keluarga berdatangan. Om dan beberapa kerabat menyalamiku, bukan tanda belasungkawa, tetapi menyelamatiku. Om dan kerabat berkata kalau daku orang yang beruntung. Bahkan om yang lain menyalamiku dan berkata, “Selamat, ya!”

Tentu saja daku takjub dengan hal ini. Di tengah kegalauan, kehampaan hatiku saat itu, mengapa justru daku mendapat ucapan selamat dan pujian beruntung? Justru dari putera-puteri Mbah Kakung yang seharusnya kehilangan Mbah Kakung?

Entah mengapa daku tercekat saat itu. Tidak mampu bertanya, “mengapa?” Daku memilih diam, membisu, dan hanya menyambut salam itu dengan senyum getir penuh tanda tanya. Daku lihat puteri-puteri Mbah Kakung menangis sedih. Sedangkan daku terlalu hampa untuk memutuskan bagaimana perasaanku saat itu. Nyaris bagai robot tak berperasaan.

Bahkan sampai dengan pemakaman Mbah Kakung, daku masih mendapat salam & ucapan selamat. Entah mengapa bukan ucapan bela sungkawa. Dan entah mengapa daku tetap tidak memutuskan perasaanku. Daku memang tidak merasakan apa-apa, kecuali ketenangan di hati. Yang entah bagaimana, mengapa daku tidak merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh orang lain saat itu, yang kebanyakan menangis karena duka cita.

Hanya 1 yang kupikirkan saat itu, yaitu Mbah Kakung meninggal dalam damai. Dan daku yakin Mbah Kakung diterima Tuhan di Surga.

Tetapi dalam beberapa hal, bagiku tetap misteri… Sampai bertahun-tahun kemudian…

(to be continued…)

~~~

Tambahan: Bahkan ketika daku mem-publish posting ini, WP memberikan ucapan “Congratulation” kepadaku. Ini jadi misteri tambahan yang entah kebetulan yang disengaja atau tidak?

Congratulation

Congratulation

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Curhat, Dewo, Fenomena, Kehidupan, Keluarga, Keseharian, Opini, Personal, Religi dan tag , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Akhir Hidup Mbah Kakung

  1. Lidya berkata:

    jadi ingat dengan kakek ku sekarang nih sudah berumur 86 tahun, Allhamdulillah masih sehat. Ada sih sakit2 kecil sakitnya orang tua

  2. bundadontworry berkata:

    Mas Dewo…………….kejadian ini persis sperti yang aku alami, ketika ibu mertua pergi selamanya utk menghadapNYA.
    aku gak tau perasaan apa yang aku rasakan, cuma diam dan dingin di hati, sampai semua tetangga dan kerabat berdatangan, perasaan dingin ini tetap ada.
    mungkin krn aku yang menemani ibu mertua selama sakitnya (hampir 2thn) hingga akhir hayatnya.
    Aku hanya ikut mendoakan, semoga Mbah Kung berada di tempat yang indah disisiNYA,amin

  3. monda berkata:

    kenangan tentang mbah kakung yang lucu akan tetap hidup di hati anak dan cucu yang mencintainya
    semoga beliau ditempatkan di tempat yang terbaik di sisiNya

  4. chocoVanilla berkata:

    Waa, jadi gimana jawabannya?

    Aku ingat hari itu Sabtu aku mo minum, gak kenapa2 kok gelasku tergelincir dan jatuh pecah. Tapi aku gak ngrasa apa2 kecuali repot mbersihin. Ternyata boss manggil aku dan mengabarkan kalo ada berita duka cita. Aku langsung ijin pulang. Sepanjang jalan ke rumah Mbakayune aku tak henti menangis. Karena ternyata Mbah Kakung selalu menanyakan dan mencariku 😦

    Mbah Kakung meninggal Jumat malam kan?

  5. marsudiyanto berkata:

    Selamat ya Mas…
    (Ikut pada apa yang dilakukan oleh putra-putri Mbah Kakung)

  6. Prima berkata:

    ih, jadi misteri beneran…. kenapa ya????

  7. Sugeng berkata:

    Wah jadi penasaran dengan kelanjutan ceritanya, terus kenapa mas koq semua mengucapkan selamat ❓ jangan2 sampean yang mendapat limpahan “ilmu” dari mbah kakung. Selamat deh, semoga ilmu itu bisa berguna bagi orang banyak 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  8. Devi Yudhistira berkata:

    Mungkin selamat karena menemani terpilih saat terakhirnya, berarti bisa langsung menyaksikan kuasa Tuhan???

  9. Iksa berkata:

    Hm aku paling sering menemani keluarga saat akan pergi .. jadi gak enak kalau nengok apalagi jaga orang sakit ..

    Jadi kelanjutannya apa nih .. Mas Dewo?

    (yang keluar dari WP biasanya karena kita centang This post is super awesome dan Publish langsung, tidak dengan schedule)

  10. Ping balik: Perbatasan Hidup & Mati | ♫ Dewo ♪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s