Depkominfo vs Teroris

Woke, sepak terjang teroris memang sudah sangat mengerikan dan sekarang cenderung brutal, karena sudah berani menyerang polisi & masjid, di samping tentu saja target lamanya, yaitu gereja2. Rasanya tak habis2 membaca berita tentang terorisme ini.

Namun di antara berita2 tersebut tidak dijumpai peran serta depkominfo dalam mencegah & menanggulangi terorisme. Mereka malah sibuk dengan norma2 beraurat di dunia maya. Padahal depkominfo bisa turut aktif dalam pemberantasan terorisme dengan keahlian mereka di bidang IT. Dan daku rasa inisiatif ini pasti akan dapat meningkatkan prestise & kewibawaan depkominfo dari pada hiruk pikuk hujatan yang berlangsung saat ini, terutama yg tertuju langsung pada menkominfo.

Usaha ini tentu perlu mendapat dukungan & bantuan dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat & tim ahli. Dan itu pasti akan didapat secara otomatis kemudian.

Jadi, bagaimana nih Om Tif? Mau berinisiatif membantu & membentuk tim elit IT? Atau lebih suka bergumul dengan norma2 beraurat yg lebih mengasyikkan & menggiurkan?

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Anti Kristus, Dewo, Ide, Internet, Ironis, Keamanan, Konyol, Opini, Personal, Politik, Prihatin, Teknologi dan tag , , , . Tandai permalink.

24 Balasan ke Depkominfo vs Teroris

  1. Iksa berkata:

    He he he masa dia mau sih…
    Nanti berantem sama den dan grup itu

  2. bangaip berkata:

    Langkah konkrit apa yang sebaiknya Depkominfo mampu lakukan untuk menanggulangi terorisme Mas Dewo?

    Maksud saya begini, kalau tim elit IT terbentuk, terus mereka harus ngapain?

    • Pertanyaan yg bagus Bang. Contoh sederhana: mereka bisa mengendus komunikasi para teroris yg bisa digunakan utk mengungkap jaringan ini. Ini penting krn bisa mencegah & menangkal gerakan teroris.

      Salam

      DewoDroid

  3. Asop berkata:

    Saya bingung. Apa maksud “mereka sibuk dengan norma2 beraurat di dunia maya”? Saya ga ngerti… apa saya ketinggalan berita? Ah, padahal tiap hari saya buka kompas.com ama detik.com… :mrgreen:

    • Ayep berkata:

      @Asop
      Maksut mas dewo itu ngurusin masalah pornografi di dunia maya yg merusak JUTAAN GENERASI MUDA itu gak penting dibanding telorisme.

    • d e w o berkata:

      @mas Asop: itu sebenarnya kalimat yg diperhalus utk mengatakan bahwa menkominfo terlalu sibuk mengurusi pornografi.

      @Ayep: itu kan kesimpulan anda sendiri

    • Asop berkata:

      Hahaha… oh begitu… 😀

      Saya pikir bisa lebih baik ya depkomindo kalo bekerja sama dengan BIN. Intelejen digabung dengan badan komunikasi dan informasi, harusnya bisa sangat kuat.
      Eh iya, ini harusnya tugas BIN… :mrgreen:

    • @Mas Asop,

      Iya betul, itu tugas utama BIN. Tapi masalah terorisme ini masalah kita bersama. Pasti akan sangat powerful jika Depkominfo berinisiatif membantu BIN dengan bekal keahliannya di bidang IT.

      Salam

    • Asop berkata:

      Yah, tapi mungkin memang teknologi yang dipunyai depkominfo belum memadai… 🙂

    • Itulah tantangannya. Jika memang kurang memadai, pasti bisa diupgrade. Kalau perlu studi banding (hehehe) ke negara2 maju.

  4. Lidya berkata:

    tugas2nya harus jelas ya

  5. rahasia berkata:

    Ini contoh akun pendukung terror, harusnya bisa diusut dan diteliti kalau tifatul tidak menghabiskan waktunya untuk mengusili selangkangan orang lain.
    https://www.facebook.com/Azzam.Muttaqin100

  6. bangaip berkata:

    @Mas Dewo: Untuk bisa mengendus komunikasi jaringan teroris (atau mereka yang dicurigai sebagai teroris), pemerintah (entah namanya BIN, Depkominfo, Polisi atau apalah) butuh platform khusus yang disebut kalau tidak salah ‘Undang-Undang Intelejen Penyadapan’.

    Ada dua hal yang cukup membingungkan saya saat ini:

    1. Sisi etis: Undang-undang tersebut sedang digodok dan mungkin akan disahkan, tapi karena UU itu memakai bahasa dengan cakupan yang amat luas (setahu saya semua UU begini, mohon koreksi kalau salah), apakah tidak ada kemungkinan disalahgunakan juga untuk menyadap komunikasi orang-orang yang dicurigai sebagai ‘musuh pemerintah’? (*Sebab jika itu terjadi, maka sudah ada pelanggaran terhadap hak sipil. Sudah bukan rahasia umum lagi jika pemerintah RI gemar melanggar hak sipil*)
    Salah satu acuan yang saya pikir oke antara lain adalah tulisan Mas Anggara di sini http://anggara.org/2011/04/11/tangkap-dan-sadap/

    2. Sisi teknis: Penangkapan terhadap tersangka terorisme yang dilakukan pemerintah RI melalui DenSus88 dalam beberapa tahun belakangan ini membuktikan bahwa monitoring komunikasi terhadap teroris (atau calon teroris) di RI sebenarnya sudah cukup manjur. Ditambah lagi resource dari pemerintah AU dan US yang amat mendukung. Jika dari sisi teknis sudah mendukung, apakah ada baiknya Depkominfo justru melakukan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat buat warga?
    (*Selama ini yang kebanyakan terdengar adalah blokir pornografi. Walaupun setahu saya mereka juga punya sisi plus seperti bekerja sama dengan Departemen Pendidikan untuk menyebarkan ebook pada anak sekolah*)

    Setahu saya, kalau gerakan teroris itu biasanya sudah bisa diendus oleh hidung intelejen. Tapi kalau kasus di Cirebon, ada kemungkinan besar pelakunya adalah lone wolf.

    • @BangAip,

      Benar, Bang. Yg berhak menyadap adalah perangkat hukum, berarti bisa polisi atau pihak lain yg disyahkan oleh lembaga hukum.

      Mengenai sisi etis, saya sama sekali ngga paham. Apalagi UU-nya masih simpang siur. Hehehe…

      Mengenai teknis, kita memang patut memberikan applaus bagi Densus 88 dan bantuan intelijen luar. Namun seperti kita tahu, jaringan teroris ini belum tuntas diberantas. Otaknya belum tertangkap. Mata rantai belum diputuskan.

      Selain menjadi lembaga kontra teroris, saya membayangkan peran depkominfo juga sebagai lembaga yg memberikan informasi atau edukasi bagi masyarakat tentang bahayanya ideologi terorisme ini. Syukur-syukur bisa menjadi wacana kontra ideologi teroris. Mungkin bisa dilakukan dengan cara yg sama dengan yg saat ini dicanangkan sebagai anti pornografi.

      Begitu kira-kira pemikiran sederhana saya.

      Salam

  7. syelviapoe3 berkata:

    Mas Dewo gak ikutan mengajukan diri untuk masuk tim IT depkominfo ? ^_^

    • Hehehe… enggak, Mbak. Daku bukan orang yg ahli & kompeten untuk itu. Cuma prihatin saja kalau depkominfo tidak ada gaungnya sama sekali di tengah terror teroris ini.
      Salam

  8. Sura berkata:

    Tolong… Depkominfo memberangus pornografi saja pun masih bolong2, tidak seheboh propagandanya dimana2
    Bagaimana mau menghadang terorisme jika ternyata:
    1. no skill
    2. no motivation

  9. jarwadi berkata:

    hehehe, tentu saja otak yang ada di dekominfo yang perlu di upgrade total, hehehe, di format dulu, kemudian di fresh install. gimana?

  10. Prima berkata:

    waduh berat nih urusannya… aku gak ngerti sih ya bagaimana tugas2 badan itu, yang pasti kayanya tugas keluarga untuk menajaga anak2nya biar gak jadi teroris, ya kecuali anaknya udah bakat jadi teroris… *emang ada ya bakat gt? >,<

  11. ade pane berkata:

    seharusnya juga undang undang ITE dapat ditingkatkan dalam bidang ini, jadi hal hal yang berbau cyber crime apa lagi jenis teroris dan jaringan nya di dunia maya dapat di tekan perkembangannya, apa tenaga alhi kurang ya dalam bidang ini. ga ngerti juga deh mas ~_~

  12. Ping balik: Akhirnya Pemblokiran Depkominfo 90% | ♫ Dewo ♪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s