Mental Sopir Taxi

Pernah mengalami masalah/kasus dengan taxi atau sopirnya? Daku yakin kita semua pasti punya catatan menarik tentangnya. Seperti juga daku yang kadang-kadang (*atau sering ya?*) menggunakan jasa transportasi ini. Ada beberapa hal yang daku amati yang mungkin jadi renungan bersama, yaitu tentang mentalitas sopir taxi. Woke, kita tidak perlu menggeneralisasi semua sopir taxi berlaku seperti itu. Tapi boleh dibilang sebagian besar sesuai dengan apa yang akan daku sampaikan di posting kali ini.

Mengeluh karena tujuan jauh & macet

Sungguh malang perasaan kita ketika masuk taxi dan memberikan alamat tujuan ke sopir taxi dan ditanggapi dengan keluhan kalau jalanan menuju ke sana macet atau terlalu jauh atau terlalu pelosok. Tambah illfeel jika sopirnya terus saja mengeluh di sepanjang perjalanan karena macet parah atau banyaknya motor yang lalu lalang yang dianggapnya mengganggu perjalanan. Ditambah kecap-kecap atau decakan tidak perlu sebagai bahasa tubuh kalau mengeluh.

Bukankah semakin jauh & lama perjalanan berarti semakin banyak pendapatannya? Mengapa masih mengeluh? Bukankah itu memang sudah pekerjaan sopir taxi?

Mengeluh karena tujuan terlalu dekat

Asli, daku sering banget mengalami kenaasan ini karena jarak dari Bandara ke rumah/RS dianggap terlalu dekat. Seringkali sopir taxi mematikan argo dan meminta tarif tertentu yang tentu saja lebih mahal jika argo dinyalakan. Pernah daku tetap bersikeras agar argo tetap dinyalakan, dan apa yang terjadi? Sopir taxi menyetir dengan ugal-ugalan!

Ironisnya, taxi merek terkenal juga begitu. Ketika dia kecewa dengan kecilnya nominal uang yang bakal dia terima, maka dia mengemudikannya dengan ugal-ugalan. Ini benar-benar daku alami ketika daku, Sisi dan Kirana (saat umur 1,5 tahun) naik taxi terkenal dari Bandara ke rumah. Benar-benar ugal-ugalan tanpa perasaan dan tanpa peduli bahwa ada penumpang bayi.

Paling apes ya saat si sopir menolak mengantarkan kita dengan alasan macam-macam: “terlalu dekat”, “saya mau pulang”, “sudah sore”, dll. Padahal di pintu jelas-jelas ada “Pembayaran Minimal” (minimal payment) jika jarak tempuh kurang dari Pembayaran Minimal ini.

Dan lagi, bukankah kalau dekat berarti bisa mengantarkan lebih banyak penumpang? Dari pada cuma nge-tem di suatu tempat, kan?

Mentalitas Sopir Taxi

Dua catatan di atas rasanya begitu melekat sampai sekarang. Mungkin ada sebagian dari Anda yang mengalami dan mengamati hal yang sama seperti saya. Bagaimana perasaan Anda? Tentu menyebalkan sangad, kan?

Tetapi sejatinya catatan saya di atas itu punya tujuan untuk mengajak kita merefleksikan pekerjaan kita juga, loh. Tidak dinyana, saya juga menemukan mentalitas seperti itu di bidang pekerjaan lain. Banyak orang yang mengeluh kalau pekerjaannya terlalu berat dan dianggap melebihi tanggung jawab yang seharusnya diembannya. Apalagi bagi para pekerja yang terbiasa bekerja sesuai jam kerja.

Namun ada juga yang meremehkan pekerjaan-pekerjaan kecil dengan menunda-nundanya atau bahkan menolaknya dan menghibahkan ke staf lain yang lebih yunior. Lha berarti kerja ringan malas, kerja keras uring-uringan. Hehehe… jadilah mentalitas sopir taxi ini merasuk ke setiap bidang.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Curhat, Dewo, Opini, Personal dan tag , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Mental Sopir Taxi

  1. nh18 berkata:

    Saya tidak mau banyak komentar Mas Dewo …
    Saya hanya ingin ngelink sesuatu disini …

    http://theordinarytrainer.wordpress.com/2009/09/29/selektif/

    Hahaha

    Salam saya

    • nh18 berkata:

      En BTW …
      waktu kejadian di tulisan tersebut … Mood saya lagi bagus …

      Kalau lagi biasa aja atau bahkan jelek …
      gebrak pintu mobil urusannya …
      huahahaha
      (halah … gayamu ner ner …)

    • Wah, Om… benar-benar pengalaman yg menyebalkan. Dan saya pun pernah mengalaminya. Benar-benar mental sopir taxi ya?

      Syukurlah Ompakmas masih sabar, hehehe…

      Salam hangat

  2. Lidya berkata:

    kalau sopir taksinya baik saya senang bahkan suka diberi tambahan. saya sering naik taksi dari carrefour ke rumah yang jaraknya dekat tidak sampai 15rb. tapi kalau sudah dapat supir taksi yang mengeluh males kasih lebih 🙂

  3. Asop berkata:

    Mas Dewo coba search “Taksi Gemah Ripah” deh, di google. Urutan teratas ada posting-an saya yang mengeluhkan taksi tersebut. 😆

  4. nh18 berkata:

    Saya setuju dengan pelajaran postingan kali ini …
    seringkali kita menafikan … ndak ngereken … take it for granted … pekerjaan-pekerjaan kecil … Dengan alasan kerjaan cemenlah … project nya kurang bergengsi … kurang strategis lah … dampaknya tidak significantlah dan yang sejenisnya
    padahal … apapun pekerjaan tersebut … jika itu dipercayakan pada kita … sudah seharusnya kita kerjakan dengan sebaik-baiknya

    Salam saya Mas Dewo

  5. Devi Yudhistira berkata:

    paling sebel kalo dpt sopir taksi kayak gitu….apalagi naiknya pas bareng anak2… (gbs ngomel2 jadinya hehehe)

    Jika ada sopit yg menyenangkan buat anak-anak (mau ditanya2 anak-anak dan njawab dengan ceria) dan layanannya bagus, kami biasanya akan tanya no hp-nya….dan suatu saat butuh taksi, pasti kami prioritaskan menelponnya terlebih dulu…

    Selama ini kami sering menggunakan Taksi Gamya, jarang sekali dapet sopir yg nggak beres….mungkin bisa dijadikan pilihan mas, selain taksi biru 🙂

  6. Ping balik: Parkir di Bandara | ♪ Emanuel Setio Dewo ♪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s