Ikhlaskah?

Entah mungkin daku terlalu sensitif atau apa, tetapi ketika ditanyai apakah daku ikhlas saat memberikan sesuatu barang atau uang, daku kok malah jadi pedih ya? Misalnya ada seseorang meminta sumbangan dan setelah daku beri, seseorang itu kemudian menanyakan kepadaku: “ikhlas kan, Mas?”

Daku kok jadi bingung mau jawab apa? Karena prinsipku, apa pun yang daku berikan berarti itu suatu bentuk keikhlasan. Titik. Kalau tidak ikhlas tentu tidak akan daku berikan. Betulkan? Lha kalau sudah diberikan ternyata ditanyain begitu, lalu daku harus jawab apa? Belakangan pertanyaan seperti itu malah membuat pedih di hati.

Ketika daku balik tanya: “apa maksudnya tanya begitu?”, seseorang tsb malah tidak bisa menjawabnya dengan tepat. Lalu apa manfaatnya melontarkan pertanyaan tersebut? Bagiku itu adalah sesuatu yang tidak perlu sebenarnya.

Belakangan daku malah tertarik menyelidiki orang yang bertanya seperti itu, apakah dia terkondisi dengan masalah ketidak-ikhlasan atau hal-hal yang manipulatif (dari segi keuangan) atau hal-hal lain? Ehm… bisa jadi studi kasus yang menarik.

Anda punya pendapat lain?

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Curhat, Dewo, Iseng, Personal dan tag . Tandai permalink.

10 Balasan ke Ikhlaskah?

  1. Imelda berkata:

    hmm mungkin dia sering bertemu/menerima dari orang-orang yang tidak ikhlas… tidak pede jadinya. Cuma sebaiknya pilih orang dong kalau tanya begitu. Apalagi kalau sudah tahu kepribadian kita/sudah akrab 🙂

  2. Lidya berkata:

    mungkin krn tidak yakin, krn belum kenal. yg penting kitanya ikhlas sudah cukup

  3. Berita Artis berkata:

    Ikhlas adalah pelajaran yang paling sulit untuk dipraktekkan.

  4. Article Item berkata:

    Ayo kita sama2 belajar ikhlas.

  5. Devi Yudhistira berkata:

    woooww…mas dewo nyumbangnya ‘banyak’ kali mas….

    laen dr yg laen, jd orangnya heran…..

    makasih ya latam-nya…*ikhlas kan?* ngabuuurrrr……

  6. Pulau Tidung-aja berkata:

    Mungkin Mas Dewo saat memberi memajang wajah cemberut.

  7. Sugel berkata:

    Sekarang kita bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing, tetapi mengertilah apa yang kami tanyakan, siapa guru dari guru kalian tadi? Orang itu tidak akan tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Seseorang mungkin akan menjawab, “Kepercayaannya berasal dari ajaran mistik dari leluhur mereka yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.” Lalu bagaimana kondisi “pipanya” dalam kurun waktu ribuan tahun itu? Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan Guru Besar yang meneruskannya? Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu tidak ada lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s