Ironi Mobil Listrik Indonesia

Pak Dahlan Iskan belakangan sedang heboh dengan proyek mobil listriknya yang digadang-gadang bakal menjadi mobil listrik nasional. Beliau pun memberikan kelas-kelas berdasarkan nama mobil yang sudah ada, seperti “sekelas Avanza”, “sekelas Ferrari”, dll. Sayangnya dari beberapa uji coba yang dilakukan beliau sendiri mobil listrik ini masih belum bisa berjalan dengan lancar (baca: mogok).


(Foto dipinjam dari Mbak Wiki)

Terlepas dari euforia mobil listrik ini, daku justru kontra produktif dengan berpendapat bahwa kebijakan mobil listrik nasional ini sebagai ironi. Bukan karena daku tidak setuju dengan kebijakan ini, namun karena beberapa fakta, yaitu:

1. Kesiapan supply listrik untuk pengisian.
Bayangkan saja jika di Jakarta ada seribu mobil listrik nasional. Lalu bagaimana mengisi baterai-nya (a.k.a nge-charge)? Sebagai gambaran, mengisi batere mobil listrik ini tidak cepat. Pengisian tercepat dengan teknologi batere terbaru baru sanggup mengisi 80% untuk waktu 30 menit (fast charge). Jika pun dibuatkan stasiun pengisian baterai, mungkin antrian bakal panjang. Dan tidak semua orang suka menunggu lama untuk pengisian baterai ini. Apalagi bagi masyarakat yang super sibuk atau diburu waktu (baca: deadline atau appointment).

Jalan satu-satunya adalah mengisi baterai di rumah di malam hari. Ini pun menjadi tidak produktif karena banyak orang masih memiliki kegiatan malam hari. Atau mungkin belum pulang rumah. Bagaimana jika sudah kehabisan daya baterai di jalan?

Ada pula kendala jika pemiliknya tinggal di apartemen yang tidak mungkin menjulurkan kabel untuk mengisi baterai dari lantai 22 ke mobilnya yang diparkir di basement. Atau di daerah yang masih terkendala kontinuitas aliran listriknya. Dan sebagai tambahan, pengisian ini mungkin butuh daya besar (watt).

2. Kemampuan supply listrik PLN
Hiks, ini masalah klasik. Selain karena sering mati-nya pasokan listrik dari PLN, juga masalah kemampuan besaran supply listrik oleh PLN. Sebagai catatan, pada kebutuhan puncak, PLN masih membutuhkan pasokan dari swasta. Dengan bertambahnya beban listrik untuk pengisian baterai mobil listrik, apakah pasokan saat ini mencukupi?

3. PLTD
Nah ini ironi berikutnya, yaitu fakta bahwa PLN masih dibantu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel pada beban puncak. Jika PLN ditambahi beban pengisian mobil-mobil listrik, mungkin bakal semakin sering menggunakan PLTD ini. Pada gilirannya bakal kembali bergantung kepada bahan bakar minyak.

Jika mobil listrik terkenal dengan rendahnya polusi, maka PLN justru akan menambah polusi dengan PLTD atau PLTBB (batu bara).

4. Mahalnya Mobil Listrik
Entah mengapa, mobil listrik nasional lebih mahal dari pada mobil konvensional dengan mesin combustion. Walau pun Pak Dahlan Iskan bilang mobil listrik lebih murah sedikit karena lebih simple, kenyataannya produsennya bilang lebih mahal. Nah loh, yang bener Pak Dahlan atau produsennya? Mungkin jika skala produksinya besar, harga mobil listrik ini bisa turun.

Tapi produsennya bilang kalau biaya operasionalnya ditaksir Rp 1,000/km. Ini ironi lain dimana berdasarkan test yang daku lakukan pada Marooney dan Mbakvega hasil teririt tercatat Rp 281/km. Kalau mobilnya mahal dan biaya operasionalnya lebih mahal, mungkin masyarakat lebih sulit mempertimbangkan untuk memilih mobil listrik ini.

5. Alternatif Minyak Bumi (biofuel)
Rasanya terlalu ambisius jika menggantikan semua mesin combustion (konvensional) dengan motor listrik. Memang sih 10 tahun ke depan pun masih sulit, mengingat sudah berapa banyak investasi yang dikeluarkan untuk mendukung operasional mobil konvensional ini.

Namun harus diingat bahwa Minyak Bumi telah memiliki alternatif dari minyak nabati, misalnya dari pohon jarak, sawit, dll. Produknya seperti biodiesel, etanol, dll. Dan konon penggunaan minyak ini menjadikan pembakaran mesin lebih bersih dan polusinya rendah. Banyak negara yang lebih mempertimbangkan solusi ini. Ingat kontrak Jepang kepada Indonesia untuk perkebunan sawit/jarak untuk biofuel?

Tidak dapat disangkal bahwa kehidupan mesin konvensional masih panjang, sepanjang riset mengenainya untuk efisiensi, daya tahan, kekuatan dan alternatif bahan bakarnya.

6. Ngotot Listrik
Jika pun ngotot berlistrik-ria, mestinya bakal lebih asyik jika kita memiliki PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) yang memiliki efisiensi tinggi. Sekali lagi ini ironi karena walau pun Indonesia penghasil uranium/plutonium tetapi tidak memiliki PLTN.

7. Usia Baterai
Wah, dari diskusi di FB malah dapat tambahan poin dari Mas Lulik Kurnianto, yaitu mengenai umur aki. Jika menggunakan aki konvensional (aki basah), maka bakal jadi masalah tersendiri, yaitu dari umur hidupnya yang rendah dengan kemampuan yang menurun seiring waktu pemakaian, juga karena limbahnya yang berbahaya karena beracun.

Syukurlah kebanyakan mobil listrik menggunakan baterai kering dari lithium-ion polymer yang konon lebih kuat dan tahan lama dengan ukuran lebih ringkas dari baterai sebelumnya. Tetapi bukan berarti tidak beracun loh. Tetap saja beracun. Baterai teknologi baru ini juga beracun, tidak bisa dibuang sembarangan, dan ada kasus meledak juga.

~~~

Jadi, walau pun program listrik itu bagus, tetapi memiliki ironi tersendiri bagi bangsa ini.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Otomotif, Teknologi dan tag , , , . Tandai permalink.

13 Balasan ke Ironi Mobil Listrik Indonesia

  1. Lidya berkata:

    bisa kesetrum gak kalau naik mobil ini? 🙂

  2. nadiananda berkata:

    Waahh,, seru juga nih ternyata baca artikel sambil rokok_an n ngopi.. Ahihihihi..

  3. jarwadi berkata:

    begitu melihat di tv one, kalau untuk charger battery pada mobil listrik memerlukan waktu, saya jadi tidak berminat dengan mobile listrik.

    hanya angan angan sih, mengenai pengisian, mungkin kelak bila mobil listrik marak. orang-orang menjadi tidak akan parkir mobil sembarangan, tetapi di tempat parkir resmi yang menyediakan fasilitas pengisian, eh

    atau begini saja. mobil listriknya tidak pakai battery, tapi menggunakan cemically assisted neuclear reaction/LEN, hihi, yang masa aktif nya isa seratus tahun lebih seperti di terminator

    • Untuk pengisian baterai ada beberapa alternatif sebenarnya, yaitu:

      1. Dengan induksi. Jadi tidak perlu mencolokkan charger ke mobil, tapi cukup melewati jalur pengisian yg bisa dipasang di sepanjang jalan dan baterai akan terisi secara otomatis.

      2. Penggantian baterai di stasiun pengisian. Jadi dari pada nge-charge, mending ganti baterainya. Seperti air galon atau tabung gas gitu. Konsekuensinya baterai harus standard utk semua mobil listrik.

      Salam

  4. ratna widiyanti berkata:

    hehehehe… mudah-mudahan ane pertamax!! Wahh ,, kalah cepet dah.. Hihihi..

  5. chocoVanilla berkata:

    Mending yg pake minyak sawit/jarak itu ya. Secara kepulauan kita sgt luas dan punya perkebunan sawit yg luarbiasa luas. Polusi rendah lagi.
    Pak Dahlan, coba baca ini danpertimbangkan lagi yaaa 🙂

  6. Ping balik: Alternatif Mengisi Baterai Mobil Listrik | ♪ Emanuel Setio Dewo ♪

  7. silver price berkata:

    “Mudah-mudahan jika semua lancar, mobil listrik dapat diproduksi massal mulai April 2013 dengan jumlah produksi awal sebanyak 10.000 unit,” kata Dahlan usai meninjau PT Nipress Tbk produsen baterai (accu), di Narogong, Cileungsi, Jawa Barat, Selasa. Menurut Dahlan, prototipe mobil listrik nasional akan diluncurkan pada 10 Agustus 2012 bertepatan dengan Hari Kembangkitan Teknologi Nasional.

  8. hendysp berkata:

    kalo yang pertama itu saat ini sudah menjadi fitur dari motor listrik sendiri mas Dewo, seperti golden motor, istilahnya regenerative brake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s