Jembatan Penyeberangan

Jembatan Penyeberangan Nan Sepi

Jembatan Penyeberangan Nan Sepi

Di dalam foto nampak sebuah jembatan penyeberangan yang belum berusia setahun, jadi masih termasuk baru. Saya secara pribadi sudah merasakan beberapa kali menyeberang dengan jembatan ini terutama saat finishing pembangunannya dulu. Dan saya merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan ini karena saya merasa aman dan nyaman dalam menyeberang. Kini jembatan ini sudah berfungsi dengan baik.

Namun setelah beberapa bulan keberadaannya, saya lebih sering melihatnya sepi. Di sisi lain, saya lebih sering melihat orang-orang berlarian menyeberang menantang maut. Padahal ini termasuk jalur besar dan kencang.

Dalam hati, saya bertanya, mengapa para penyeberang ini ngotot dan nekad menyeberang jalan padahal sudah disediakan jembatan penyeberangan? Mungkin salah satu poin ini bisa jadi alasan mereka:

1. Kalau naik jembatan penyeberangan berarti lebih banyak energi yang digunakan untuk menuju jembatan dan menaikinya. Jadi membuat capek saja.

2. Merasa lebih praktis kalau langsung menyeberang dari mall ke seberang jalan. Mungkin repot kalau membawa barang belanjaan harus naik-turun tangga jembatan penyeberangan.

3. Ngepasin angkot yang menanti mereka di seberang jalan. Soalnya jembatan penyeberangan pas dengan traffic light yang tidak memperbolehkan angkot ngetem, jadi mereka harus lebih jauh menjangkau angkot yg ngetem.

4. Merasa cantik/ganteng kalau bisa menantang maut dengan menyeberang jalan yang rame banget.

5. Sudah berdoa dengan khusuk sebelumnya sehingga yakin tidak mungkin tertabrak kendaraan lain.

6. Sudah punya asuransi jiwa & kesehatan, sehingga apa pun yang terjadi tidak masalah. Toh, dijamin asuransi.

7. Dan lain-lain

Dan alasan-alasan bodoh ini pun mengesampingkan akal sehat. Seringkali saya miris melihat seseorang atau beberapa orang sekaligus menyeberang dengan berlarian padahal jelas-jelas nampak jembatan ini ada di dekat mereka.

Padahal berdasarkan catatan, banyak loh yang tertabrak karena menyeberang di jalur padat. Pengalaman saya bekerja di rumah sakit telah menorehkan ingatan akan duka orang-orang yang tertabrak karena menyeberang. Mereka tidak meninggal, tetapi mengalami kecacatan parah dalam usia belia. Dan kecacatan ini berlaku seumur hidup mereka.

Paling tragis saat mengetahui siswi SMA yang tertabrak trailer sehingga harus diamputasi kedua kakinya karena remuk. Jika demikian, nasi sudah jadi bubur. Dan waktu tidak bisa berputar terbalik untuk mengembalikan peristiwa ironis dan menyadarkan mereka bahwa jembatan penyeberangan sudah ada di sana untuk membantu mereka menyeberang jalan dengan aman dan nyaman.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Dewo, Foto, Ironis, Opini, Personal dan tag . Tandai permalink.