Say It with Light! (Redesign)

Ketika mendesain “Say It with Light!” pertimbangan saya adalah murah, meriah dan mudah. Namun ketika saya mau membuat PCB, saya baru sadar kalau ternyata “Say It with Light!” tidak murah dan mudah.

Tidak murah lantaran ternyata saya tidak menjumpai penjual ATtiny85 di pasaran lokal. MCU ini termasuk murah, tapi ketika tidak ada yang jual, maka kita perlu beli dari luar yang sudah pasti jadi mahal. Apalagi kalau belinya partai kecil, bisa-bisa mahalan di ongkir.

Dengan ATmega8 lebih stabil

Dengan ATmega8 lebih stabil

Selain masalah ketersediaan ATtiny85, saya baru sadar kalau saya menggunakan komponen tambahan yang mungkin menjadi kesulitan tersendiri bagi pemula atau ABG yang baru belajar elektronika, yaitu karena saya menggunakan 2 buah Shift Register. Dua buah Shift Register ini digunakan untuk mengatasi keterbatasan I/O di ATTiny85. Dan saya baru sadar kalau ini bisa jadi penghalang tersendiri. Jadinya rangkaian “Say It with Light!” menjadi tidak mudah lagi.

Kemudian seharian kemarin saya mencari alternatif pengganti ATtiny85 yang sekiranya tersedia di pasaran lokal dengan harga terjangkau. Saya menemukan chip alternatif yang masih satu kerabat dengan ATtiny85, yaitu ATtiny2313. ATtiny2313 ini punya 20 pin dan tesedia 18 I/O yang programmable (dikurangi 1 pin untuk reset jadi 17 I/O).

Bisa jadi alternatif yang bagus karena saya bisa mendesain rangkaian jadi sederhana. Dengannya saya bisa menggunakan 16 I/O untuk pengaturan display dot matrix secara langsung tanpa perlu shift register. Tersisa 1 I/O untuk tombol. Benar-benar pas.

Namun ternyata tidak murah! Sebuah chip ATTiny2313 (soket PDIP) di pasaran lokal berharga Rp 27.500 di harga terendah. Banyak penjual lokal lain menjual di atas itu. Harga segitu hanya untuk MCU bisa jadi kendala sendiri bagi remaja yang masih dijatah uang jajannya.

Saya langsung teringat ATmega8 yang harga di pasaran lokal lebih murah dengan harga termurah yang tersedia di pasaran lokal adalah Rp 20.000 untuk soket PDIP. Sedangkan harga termahal yang saya temukan Rp 25.000. Saya heran, kok ATmega8 lebih murah dari ATtiny2313 ya? Mungkin karena Attiny2313 bisa ngebut sampai 20 MHz? Ah kapan-kapan saja deh komparasinya.

Jadi pilihan saya pun jatuh ke ATmega8. Pilihan ini menjadikan proses desain lebih mudah karena saya telah familiar dengan ATmega8. Tantangan ngoprek chip keluarga ATmega adalah karena kita harus burn bootloader. Bukan hal mutlak sebenarnya, tapi kalau ini dilakukan, pemrograman dengan IDE Arduino menjadi lebih fleksibel.

ATmega8 memiliki 23 programmable I/O yang setelah dikurangi keperluan internal Arduino jadi hanya punya 20 pin bebas. Ini sudah lebih dari cukup. Sirkuit “Say It with Light!” tanpa Shift Register cuma butuh 16 pin I/O.

Dan akhirnya prototype “Say It with Light!” dengan ATmega8 berhasil saya buat. Kali ini benar-benar memenuhi prinsip murah, meriah dan mudah untuk situasi, kondisi dan lokasi di Indonesia.

Tapi di luar itu, saya juga sedikit bangga dengan desain “Say It with Light!” versi ATtiny85 karena saya telah membuktikan bahwa konsep murah, meriah dan mudah sebenarnya bisa dilakukan dengan ATtiny85 jika di pasaran lokal ada. Karena harga ATtiny85 sebenarnya cuma di bawah Rp 10.000. Sedangkan 2 buah shift register cuma Rp. 5.000. POC (proof of concept) berhasil.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di ATmega, ATtiny, Catatan, Dewo, Elektronika, Prototype dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s