Papahanda, Telah Siap Dipanggil

Papah berusia 73 tahun dan sekitar 22 tahun menderita kelumpuhan separo badan akibat stroke. Usia lanjut adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Dan kami percaya bahwa penderitaan di dunia ini merupakan silih bagi api pencucian di alam baka.

Selama 22 tahun menderita Papah beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk mati karena putus asa akibat penderitaan. Aku tahu bahwa Papah tidak hanya menderita karena fisiknya, tapi juga perasaannya. Papah yang dulunya memiliki fisik kuat, stamina yang baik, didukung jabatan pemimpin mengakibatkan perubahan fisik karena stroke menjadi palu godam bagi kehidupannya. Papah merasa hidupnya sia-sia. Semuanya hilang terampas dan tidak menyisakan apa pun untuk dibanggakan.

Kami semua sedih dengan kejatuhan Papah. Tidak hanya karena fisiknya, tetapi juga kesehatan jiwanya. Papah menjadi pribadi yang tertutup dan sangat kaku dan keras. Jauh dari karakter yang humoris dan menyenangkan saat sebelum sakit.

Namun belakangan perangai Papah berubah. Dalam seminggu sebelum dipanggil, Papah menjadi pasrah. Ibu mengamati perubahan ini. Papah jadi lebih sabar.

Saat ditemukan Ibu, Papah nampak dalam posisi bersiap untuk bangun, kakinya tampak akan turun, namun posisi tubuh tetap terbaring. Mata Papah terpejam seperti sedang tidur.

“Pah, mau duduk atau tiduran?” Biasanya kala Ibu menyapa lembut, Papah akan segera terbangun. Tapi saat itu Papah tidak terbangun sehingga Ibu mengangkat kaki Papah untuk mengembalikannya ke atas tempat tidur.

“Pah, kok diam saja tho?” sapa Ibu lembut sambil memegang pundak Papah. Namun Papah tidak menjawab. Sampai beberapa kali ibu menyapa namun tetap tidak dijawab. Ibu pun memeriksa denyut nadi Papah, namun sudah tidak ada denyutnya. Ibu sedih dan menelepon Mas Tinon yang rumahnya hanya terpaut 1 blok.

Ibu, Mas Tinon dan Mbak Choco yang datang tidak lama kemudian mengatakan bahwa mata Papah sudah tertutup dan wajahnya damai seperti tidur. Mbak Choco yang memeluk Papah mengatakan kalau badan Papah masih hangat.

Kata Rina ART (Asisten Rumah Tangga), dia mendengar Papah berseru “Tuhan” dengan tangan terangkat ke atas, namun dia tidak curiga apa pun. Kami menduga bahwa Papah telah dijemput oleh Tuhan dan telah berpasrah diri.

Setelah dokter menyatakan Papah tiada, kemudian Papah dimandikan. Mbak Choco membantu merapikan kuku, memotong kumis dan jenggot. Papah hanya pipis agak banyak. Belakangan kami baru menyadari kalau Papah tidak mengeluarkan apa pun dari hidung, telinga atau dari yang lain seperti jenazah yang lain. Kami percaya kalau Papah telah berpasrah kepada Tuhan sehingga Papah nampak damai dan tenang. Bahkan jenazah Papah tidak merepotkan siapa pun.

Semua pihak membantu urusan administratif, baik dari tetangga, saudara/kerabat, lingkungan, rekan kerja dan perusahaan tempat kami bekerja, dan lain-lain. Semuanya berjalan dengan baik. Misa Arwah berjalan dengan baik. Pemberangkatan Papah ke Yogyakarta lancar. Rombongan juga tiba selamat sampai Yogyakarta.

Lokasi makam telah disiapkan. Papah mendapat tempat tepat di bawah Ayahandanya, tidak jauh dari makam Ibundanya. Mungkin Tuhan telah menyiapkan tempat itu khusus bagi Papah. Karena semua tempat sudah penuh sesak dan hanya menyisakan tempat tersebut. Ketika posisi itu digali, lubang bersih, tidak ada sisa-sisa tulang. Para saudara yang mengupayakan lokasi makam pun heran. Namun kami percaya bahwa Tuhan telah mengatur segalanya bagi Papah. Kami percaya kalau Tuhan sangat menyayangi Papah.

Upacara dan prosesi pemakaman pun lancar. Semuanya terasa damai walau pun kami merasakan kesedihan karena ditinggal Papah.

Aku sangat sedih sekali karena tidak dapat membahagiakan Papah, padahal Papah telah banyak memberikan kebahagiaan bagiku. Jika Papah berkeluh kesah kalau merasa tidak berguna setelah stroke, aku membuktikan bahwa Papah tetap berjasa begitu besar dalam membantu aku, kehidupanku dan bahkan keluargaku dalam banyak hal. Papah begitu tulus dalam membantu, tidak ada pamrih sama sekali. Seringkali aku berpikir, tidaklah pantas bagiku karena selalu merepotkan Papah.

Papah tercinta, kini aku tahu bahwa Papah telah berpasrah dan menyerahkan hidup kembali kepada Bapa. Terima kasih, Papah, atas segalanya yang telah Papah berikan kepadaku. Tidak hanya materi, namun teladan yang berharga dan mulia. Ketulusanmu telah menamparku untuk bisa juga berlaku tulus.

Maafkan aku jika selama ini salah mengerti, salah bersikap, salah sangka kepada Papah. Dan aku yakin Papah akan memaafkan aku seperti yang sudah-sudah jika aku berbuat salah. Dan di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, Papah tetap ayahku yang baik. Aku ingin bisa menjadi tegar, tulus, bersih dan lurus seperti Papah.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Dewo, Keluarga dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke Papahanda, Telah Siap Dipanggil

  1. chocoVanilla berkata:

    Aku kangen Papa 😦

  2. Vicky Laurentina berkata:

    Dear Mas Dewo, saya ikut berbelasungkawa. Turut berduka cita ya.. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s