Papahanda, Bung Kecer yang Lurus

Sebelum prosesi pemakaman, Mbak Chocovanilla bertemu dengan seseorang bernama Helan Supardi. Dia adalah teman se-gank Papah. Dia pun bercerita.

“Di Sagan ini ada 3 orang yang bernama Helan, yaitu Helan Suparman (kakaknya Papah), Helan Supadi dan Helan Sukasno (Papah). Kasno (panggilan masa kecil Papah) itu orangnya lurus. Kalau kami ketemu wanita dan mulai menggoda, Kasno selalu memisahkan diri. Makanya kami meledeknya sebagai Bung Kecer karena tercecer dan tidak ikut menggoda.”

“Sampai kemudian bertemu dengan Mbak Bud (panggilan Ibu semasa muda). Rupanya Mbak Bud adalah cinta pertama dan sejatinya Kasno.”

Sungguh terharu ketika menyadari kalau Ibu adalah sosok cinta sejati Papah. Terbukti sampai sekarang Papah hanya terpaut ke Ibu. Ibu pernah bercerita kalau Papah semasa mudahnya itu cakep & modis. Banyak wanita yang mengejar-ngejar, terutama teman kuliah. Namun rupanya Papah hanya melabuhkan hatinya ke Ibu.

Beberapa hari sebelum Papah dipanggil Tuhan, Papah pernah memberi nasehat kepada Mbak Choco, “Kalau sama pasangan itu harus hormat & sayang. Yang diingat yang baik-baik dan indah saja. Seperti saat Papah dan Ibu mau makan mie. Ternyata uangnya Papah tidak cukup, jadi akhirnya bayar sendiri-sendiri.” Papah pun tersenyum-senyum saat bercerita kenangan indah masa pacaran sama Ibu.

Rupanya itu resep jitu Papah tetap langgeng mencintai Ibu sampai akhir hayatnya.

Di dalam karirnya sebagai seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil), Papah dikenal sebagai pejabat yang lurus. Walau pun sebagai pejabat daerah yang posisinya dianggap basah, Papah tidak pernah menyalahgunakan wewenangnya. Sudah beberapa kali kontraktor berusaha menyuap, namun malah berakhir kontraktor tersebut dimaki-maki. Aku pernah mendengarkan saat Papah memarahi kontraktor yang berusaha menyuap Papah dengan 10% dari nilai kontrak yang miliaran.

Hubungan dengan atasan yang korup pun seringkali menjadi renggang karena Papah menolak untuk turut terlibat. Bahkan cenderung berusaha menggagalkan.

Selama berkarir, Papah termasuk pejabat yang sederhana dalam hidupnya. Tidak punya rumah mewah atau mobil mewah. Mobil pribadi pun seadanya, bahkan di masa karir terakhirnya, Papah tidak punya mobil pribadi. Beda dengan rekan kerja Papah yang punya beberapa rumah dan mobil mewah. Papah lebih mengutamakan kepentingan dan keperluan rumah tangga, di mana saat itu anak-anak banyak membutuhkan biaya untuk sekolah dan kuliah.

Papah orang yang lurus, tidak mau korupsi atau pun terlibat korupsi. Karenanya Papah beberapa kali difitnah dan disingkirkan. Namun Tuhan selalu menolong Papah dalam karir sehingga walau pun disingkirkan, Papah tetap mendapat tempat kerja yang lebih baik. Dan pangkatnya naik dengan lancar hingga di pensiun dininya akibat sakit, Papah telah mencapai golongan IV/d. Papah juga tidak pernah mendendam atau berusaha membalas perbuatan buruk orang-orang yang berusaha menyingkirkan Papah.

Papah adalah pribadi yang lurus dalam berkeluarga dan berkarir. Aku bangga atas kelurusan dan ketulusan Papah. Ingin rasanya bisa seperti Papah yang berprinsip kuat dan tetap konsisten sampai akhir hayatnya. Dan kami, putera-puteri Papah, berjanji akan menjaga dan membahagiakan Ibu, cinta pertama dan sejati Papah.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Dewo, Keluarga, Personal dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Papahanda, Bung Kecer yang Lurus

  1. Lidya berkata:

    cinta papanya ke ibu benar-benar sampai mau memisahkan ya.pasti banyak kenangan yang tidak terlupakan ya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s