Papahanda, Tulus dan Ikhlas

Suatu saat kakak-kakak Papah membahas warisan dari kedua orang tua yang telah tiada. Kakak-kakak menawarkan bagian belakang areal rumah Sagan kepada Papah. Bagian belakang rumah Sagan ini adalah tempat kediaman Ibundanya Papah dan tempat Papah dibesarkan.

“Wis, ora usah, Yu. Aku iki cah lanang, iso tuku dhewe.” (“Sudah, tidak usah, Mbakyu. Saya ini anak laki-laki, saya bisa beli sendiri.”) Kata Papah sembari menyerahkan hak warisnya kepada kakak perempuannya. Selain area belakang rumah Sagan, Papah juga menyerahkan hak tanah di beberapa lokasi di Sagan.

Papah adalah pribadi yang penuh kasih sayang, tulus dan ikhlas. Tidak hanya kepada kakak-kakak perempuan yang membesarkan dan mengasihi Papah, tapi juga kepada Ibu dan kami putera-puterinya.

Papah juga banyak membantu adik-adik dan keponakan yang saat itu baru berkembang. Hampir semua adik-adik dan keponakan pernah nderek Papah & Ibu. Semuanya dibantu baik keuangan mau pun pekerjaan.

Tidak jarang Ibu menegur Papah karena memberikan uang tanpa berdiskusi terlebih dahulu sama Ibu. Ibu berprinsip kalau meminjamkan atau memberikan uang itu harus didiskusikan terlebih dahulu. Bukannya ibu tidak memperbolehkan, tetapi lebih baik jika menimbang keadaan keuangan keluarga terlebih dahulu. Ibu memang memiliki ketelitian dan perhitungan yang prima tentang pengelolaan uang. Sedangkan Papah lebih sering membantu saudara yang membutuhkan secara spontan.

Dalam berkarir pun Papah menjalani dengan tulus ikhlas. Seringkali Papah difitnah atau pun dijegal hanya karena Papah tidak mau terlibat korupsi yang saat itu marak dilakukan para pejabat.

Suatu saat Papah disingkirkan oleh Walikota Tegal pada masa itu dengan alasan Walikota tidak mau didampingi Sekwilda yang Katolik. Padahal di balik itu sebenarnya penyingkiran ini karena Papah tidak mau terlibat korupsi dan bancaan tanah. Akhirnya Papah tersingkir ke Pemalang sebagai Kepala BP7.

Papah pun sedih dan berkata kepada Ibu, “Maaf ya, Bu. Aku belum bisa membahagiakan dan menyenangkan Ibu dan keluarga.” Ibu hanya bisa tertunduk sedih. Ibu tahu kalau Papah sangat sedih karena tersingkir. Bukan karena tidak berprestasi, tetapi karena memang disingkirkan. Dan ironisnya yang dijadikan alasan penyingkiran adalah karena agama Papah.

“Papah menyesal ya karena beragama Katolik?” Tanya ibu kemudian.

“Tidak.” Jawab Papah tegas. Papah & Ibu dengan tulus ikhlas menjalani cobaan itu. Kami semua pun boyongan ke Pemalang dengan dibantu & diiringi para ex-staff Papah yang begitu menghormati Papah.

Semasa itu, era tahun 70-80an, pejabat beragama Katolik/Kristen adalah sesuatu yang langka. Sudah pasti bakal tersingkir. Hingga jamak sekali terjadi pejabat beragama Kristen/Katolik yang berpindah agama supaya karirnya lancar.

Dalam jabatan barunya itu, Ibu tahu kalau Papah sebenarnya sedih karena semua atasan di situ pangkatnya jauh lebih rendah dari Papah. Namun Ibu tetap berusaha menguatkan Papah. Syukurlah Papah bisa menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Dan papah tidak ada dendam atau pun niat untuk membalas orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya.

Namun Tuhan tidak tinggal diam. Seperti kata seorang sahabat, Tuhan mengangkat kembali Papah. Katanya, orang bisa merendahkan orang, tetapi Tuhan akan mengangkat orang pilihannya.

Dalam kurun waktu satu tahun kemudian, Papah ditarik ke kantor pusat propinsi dan menjabat sebagai Kepala Biro Perlengkapan. Bagi kebanyakan orang, jabatan ini adalah jabatan “basah” karena mengelola semua perlengkapan propinsi yang cakupannya seluruh Jawa Tengah.

Namun ini adalah batu ujian bagi Papah, karena jabatan ini menuntut kejujuran. Papah mengemban jabatan ini dengan penuh kejujuran dan penuh tanggung jawab. Tidak pernah ada batu sandungan yang terjadi selama Papah menjabat. Papah dikenal sebagai orang yang tegas, berwibawa, berkharisma dan jujur. Dalam masa berkarir sebagai Kepala Biro Perlengkapan, Papah tidak memiliki mobil pribadi. Dari pada korupsi, lebih baik hidup jujur seadanya saja, demikian prinsip Papah dan Ibu.

Hingga suatu saat Papah terkena stroke. Selama 3 bulan harus dirawat di rumah sakit. Setelah itu Papah menderita kelumpuhan setengah badan sebelah kiri. Sungguh penderitaan yang luar biasa bagi Papah. Tidak hanya karena fisik, namun juga perasaan Papah. Terutama ketika Papah harus pensiun dini karena dinilai tidak bisa lagi mengemban tugas. Ada suatu masa kala itu dimana Papah depresi berat. Karena Papah tidak hanya kehilangan segalanya dan cita-citanya, juga karena merasa tidak mampu menopang hidup keluarganya lagi.

Lambat laun, Papah bisa menerima penderitaan itu dengan tulus ikhlas. Sungguh bukan perkara yang mudah. Ibu dan kami putera-puterinya pun menjadi berubah. Kami juga berusaha ikhlas menerima keadaan Papah & menjalani kehidupan ini dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Papah, mohon maaf jika pada masa awal penderitaan Papah aku tidak banyak membantu Papah. Malahan menambah penderitaan Papah. Sungguh aku tidak bisa berpikir benar menghadapi perubahan kondisi Papah. Dan aku tidak mengerti bagaimana bersikap yang seharusnya.

Namun semenjak Papak sakit, aku selalu mendoakan Papah di setiap doaku. Di masa itu, aku selalu menangis berdoa kepada Tuhan bagi kesembuhan Papah. Aku berdoa supaya Tuhan memindahkan sakit Papah ke aku. Aku membujuk Tuhan untuk memindahkan sakit Papah karena aku tahu kalau Papah lebih dibutuhkan di keluarga dari pada aku yang saat itu masih kelas 2 SMA.

Namun Tuhan tidak mengabulkan doaku. Mungkin Tuhan punya rencana sendiri yang indah bagi kami semua.

Hingga akhirnya Papah bisa menerima keadaannya dengan ikhlas. Kami putera-puterinya pun bisa melangsungkan kehidupan dan menuntaskan kuliah hingga akhirnya bisa mendapat pekerjaan yang baik dan membangun rumah tangga masing-masing.

Papah pun berhasil mendampingi kami semua sampai kami bekerja mapan dan berkeluarga dan mempunyai anak-anak. Papah sangat bahagia saat ditengok cucu-cucunya. Seringkali kami mengamati (dan memotret) Papah saat tertawa bahagia bersama cucu-cucu.

Selesai sudah tugas Papah membesarkan dan mendampingi kami semua tumbuh dan berkembang dengan baik. Papah ikhlas menyerahkan kembali hidupnya kepada Tuhan.

Selamat jalan, Papah. Semoga damai bersama Yesus Kristus di Surga. Terima kasih atas segenap kehidupan yang telah engkau berikan kepada kami sehingga kami pun tumbuh dan berkembang dengan baik. Aku mencintai Papah.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Dewo, Keluarga dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke Papahanda, Tulus dan Ikhlas

  1. chocoVanilla berkata:

    Karena Papa tidak pernah mempermasalahkan tanah, maka raga Papa pun diterima dengan baik oleh bumi (tanah). Terbukti tak ada kendala apapun pada prosesi pemakaman Papa, termasuk lubang tanah yang bersih sama sekali. Rest in peace, Pah.

  2. Lidya berkata:

    yang jujur malah yang tersingkir. itu juga yang terjadi sama bapak mertuaku mas, karena kejujurannya dsingkirkan sampai sakit dan meninggal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s