Papahanda, Misa 7 Hari Wafatnya Papah

Hari Kamis (29/11/2012) kemarin adalah Misa 7 hari wafatnya Papah. Temanya adalah penguatan iman. Setelah Misa aku merasa lega dan lapang. Mungkin Tuhan mengangkat kesedihanku. Dan aku pun merasa kalau Papah sudah diterima Tuhan dan tenang di Surga.

Sorenya sempat khawatir karena setelah menata & mempersiapkan tempat untuk Misa, hujan turun dengan derasnya. Aku khawatir jika seandainya hujan berlangsung sampai malam saat Misa sehingga umat yang datang sedikit. Namun nampaknya Tuhan telah merencanakan segala sesuatunya. Sebelum jam 19:00 hujan reda. Suasana jadi sejuk dan nyaman.

Romo Thomas Peng An telah lebih dulu datang. Kami ngobrol banyak hal, termasuk penguatan iman. Kebetulan tahun depan temanya re-katekisasi bagi umat Katolik. Dan Romo meminta agar lagu-lagu yang digunakan dalam Misa diubah ke tema penguatan iman.

Misa berjalan dengan baik sekali. Koor dadakan dari Maria Mediatrix juga baik sekali. Romo Peng An membawakan Misa dengan sangat baik. Khotbahnya tentang kesaksian orang mati juga baik. Secara singkat dari yang dapat aku peroleh adalah bahwa:

1. Manusia itu lemah/ringkih

Kematian adalah suatu kesaksian bahwa manusia itu lemah. Kita semua diingatkan pada saat ada seseorang yang meninggal. Sekuat atau sehebat apa pun manusia tidak ada yang mampu menahan ketika Tuhan berkehendak.

Lalu buat apa orang itu merasa dirinya kuat? Buat apa sombong? Buat apa merasa diri hebat? Semuanya tidak ada apa-apanya ketika Tuhan berkehendak.

Di dalam kekuatan ada kelemahan. Setiap orang yang merasa kuat, justru sebenarnya dia lemah. Karena sehebat-hebatnya manusia tidak ada artinya dibanding kekuatan Tuhan.

Di dalam kelemahan ada kekuatan. Karena Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita yang rendah hati mengakui segenap kelemahan dan menyerahkan diri kita kepada kehendak Tuhan.

2. Sekarang saya, besok kamu

Kematian seseorang juga memberikan peringatan, “sekarang saya, besok kamu.” Di dalam agama Katolik, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Karena kita telah diselamatkan Sang Juru Selamat sehingga beroleh kehidupan kekal di Surga.

Yang jadi poin utama adalah, apakah kita sudah mempersiapkan diri? Karena kematian itu datang tidak terduga seperti pencuri, maka sudah selayaknya kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Mempersiapkan diri itu berarti kita harus mempersiapkan sikap dan kehidupan kita sehingga kita layak diterima Tuhan. Jangan sampai kita hidup dalam kesia-siaan yang berakibat tidak layak dihadapan Tuhan.

Sungguh kesaksian yang mencerahkan sekaligus melegakan. Aku yakin Papah telah siap lahir dan batin, terlebih karena aku yakin Papah langsung dijemput oleh Tuhan. Dan aku yakin segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan sehingga semuanya berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali.

Dan setelah Misa hatiku terasa lega dan lapang. Aku yakin Tuhan tidak ingin Ibu dan kami putera-puterinya terlalu larut dalam kesedihan dan Tuhan menegaskan bahwa Papah telah baik dan bahagia di Surga dengan menunjukkan bahwa semua rencana kami mengiringi kepergian Papah berlangsung dengan baik dan lancar.

Selesai acara, aku dan Mas Tinon mengantarkan Romo Peng An kembali ke Pastoran. Romo bercerita kalau dia mengosongkan hari Kamis. Romo mengatur ulang permintaan Misa dari umat yang telah meminta jadwal Romo. Hingga kemudian Mas Tinon meminta agar Romo membawakan Misa bagi Papah. Dan Romo menyanggupi membawakan Misa bagi Papah.

Mungkin Tuhan telah mempersiapkan Romo Peng An untuk menghunjukkan Misa bagi Papah sehingga menjadi penguatan bagi kami yang ditinggalkan.

Terima kasih Tuhan atas segala sesuatu yang telah Engkau rencanakan bagi kami, terutama bagi Papah yang pada saat ini telah bahagia di samping-Mu. Dan terima kasih karena telah memberikan kelegaan bagiku. Aku yakin kelegaan juga hinggap di hati Ibu dan kakak-kakak dan adik karena kami yakin bahwa Engkaulah yang empunya kehidupan.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Dewo, Keluarga dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke Papahanda, Misa 7 Hari Wafatnya Papah

  1. Lidya berkata:

    semoga kelegaan hinggap disemua anggota keluarga ya mas. rasa duka pasti agak susah ya hilangnya

  2. budiwiyono berkata:

    Om, aku masih ingat jaman Bapak lagi di Yogya dan kita naik holden mu dari Smg ke Ygy 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s