Wajah Boros

Bruk…

“Eh, maaf Pak, saya tidak sengaja.” kata gadis yg baru saja menabrak lenganku.

“Jangan panggil saya ‘Pak’. Saya masih 23 tahun, tahu!” Hardikku sewot. Dan si gadis penabrakku lebih memilih buru-buru kabur melihat aku sewot dengan wajah ditekuk 120.

Aku sewot! Bukan karena sakit ketabrak, tetapi harga diriku terluka. Masak aku dipanggil “Pak”? Usiaku kan baru 23 tahun.

Memang sih, mukaku cenderung boros. Kata teman-teman wajahku seperti sudah berumur 35 tahunan. Padahal umurku baru 23 tahun, baru lulus kuliah dan kini baru saja memulai karir di perusahaan ini.

Dan lagi aku belum menikah dan punya anak sehingga bisa disapa dengan panggilan “Pak”. Ups, boro-boro menikah & punya anak, punya pacar pun belum. Hu-uh.

Aku jadi membayangkan mengapa bisa wajahku nampak boros umur. Tidak seperti teman-teman lain yang memang wajahnya normal, nampak seperti seusianya. Lha aku ini nampak seperti umur 30 tahunan ditambah tubuhku yang agak besar berisi. Begitu menyakitkan ketika manajer HRD memperhatikan wajahku sambil menampakkan mimik curiga karena di CV tertera umurku baru 23 tahun. Sampai-sampai aku harus menunjukkan Akte Kelahiran asli saat diterima di perusahaan. Menyebalkan sekali, kan?

Mungkin karena aku kurang senyum? Ah, padahal biasanya aku selalu senyum kepada setiap orang yang kutemui. Tapi saat aku bercermin kayaknya senyumku tidak mengubah penampilan wajahku, tetap nampak tua. Hu-uh.

Bruk…

“Eh, maaf Bu, saya tidak sengaja.” Kataku buru-buru menyadari kalau aku barusan menabrak lengan seorang ibu. Hu-uh gara-gara aku mencoba senyum semanis-manisnya sambil menoleh ke gadis manis resepsionis dan berharap wajahku tampak lebih muda.

“Heh! Jangan sembarangan panggil saya ‘Bu’. Saya masih 23 tahun, tahu!!!” Kata ibu-ibu yang barusan kutabrak itu dengan nada sewot dan wajah ditekuk 120.

Weks… rupanya dia masih muda juga. Lha kok tampak sudah tua sekali ya? Ah, mendingan aku kabur saja sebelum dia semakin sewot.

“Eh malah kabur! Dasar Pak Tua tidak tahu diri. Bantuin saya dulu, dong!” Omel si Ibu itu sambil memunguti berkas-berkas yang terjatuh akibat kutabrak. Ah, aku tambah mempercepat langkahku.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Cerpen, Dewo, Personal dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Wajah Boros

  1. nh18 berkata:

    Mas …
    Ini fiksi …
    atau cerita nyata …
    atau fiksi yang diilhami cerita nyata ?

    🙂

    apapun itu …
    saya mau bilang … muka saya juga termasuk yang “boros”
    qiqiqiqi

    Salam saya

    (dan mas dewo pun berkata … “Ya eyalah Ompakmas … hawong sudah 49 tahun jeh …”)

  2. opickaza berkata:

    wealah wajahnya boros ane kalau kemana mana dipanggil pak juga apalagi masih umur 23 sama seperti saya tapi sudah dibilang pak aduhh g mn yahhh karena wajahnya boros sihh
    sama itu kejadiannya sama saya

  3. Yos Beda berkata:

    apa mas dewo memelihara kumis atau jenggot seperti saya juga, kalau iya mungkin itu penyebabnya bisa dipanggil pak, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s