Misteri Di Balik Layar (Bagian 2)

{ Kisah ini diikutsertakan dalam kontes Misteri di Balik Layar yang diselenggarakan oleh Pakde Cholik. }

Inspektur Suzana seolah tidak percaya, dia kembali memeriksa denyut nadi Mudhoiso. Ketika tidak dijumpai denyut nadinya, Inspektur Suzana pun menitikkan air matanya. Direbahkan kepalanya di dada Mudhoiso tanpa menghiraukan lagi kerumunan kru Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang kini mengelilinginya sambil berbisik-bisik satu sama lain namun tidak berani bertindak. Mereka tahu kalau Inspektur Suzana lebih mengetahui apa yang harus dilakukan saat ini.

“Tangkap pelaku Arjuna dan hubungi polisi segera!” Seru Inspektur Suzana tiba-tiba memecah keriuhan. Dan semuanya pun berserak melaksanakan perintah Inspektur Suzana yang selama ini terkenal tegas dan cekatan.

“Mas, bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri!” Seru Inspektur Suzana lagi sambil terisak. Tidak ada lagi sosok inspektur tegas dan cantik nan cekatan yang selama ini menjadi stigma positif bagi Suzana.

“Aku juga mencintaimu, Mas. Sungguh! Jangan ragukan cintaku. Aku menyesal jika selama ini aku mengabaikanmu. Selama ini aku seolah menganggapmu tidak ada. Tapi sebenarnya cintaku hanya untukmu. Maafkan pertengkaran kita tempo hari, Mas!” Tangis Suzana seolah tidak terbendung lagi menyadari suaminya kini telah tiada. Suzana tidak bisa menerima keadaan ini.

“Mas, yakinlah aku telah berubah. Lihatlah aku telah hadir di sini menyaksikan pentasmu. Mungkin ini yang pertama setelah 5 tahun kita menikah, tapi aku tidak mau ini menjadi yang terakhir. Mas… bangunlah!” Suzana benar-benar tidak menghiraukan lagi suasana sekitar. Dia ingin melepaskan semua perasaannya yang terpendam selama ini namun ragu dia ungkapkan. Sementara polisi mulai datang memeriksa situasi dan kondisi. Termasuk menangkap Rikmo Sadhepo sang pelaku Arjuno. Gadis ayu itu nampak galau sekali, tidak menyadari kalau perannya sungguh-sungguh mematikan.

“Inspektur Suzana…” Sapa seorang petugas. Namun Suzana tidak menghiraukannya. Suzana malah semakin erat mendekap Mudhoiso. Petugas itu pun memilih undur diri memberi ruang dan waktu bagi Suzana.

“Mas, bangunlah! Aku berjanji akan memprioritaskan Mas. Aku rela meninggalkan jabatanku. Rupanya karirku tidak lebih berharga dari padamu. Aku ingin memperbaiki keluarga kita, Mas. Aku mau hamil dan punya anak darimu. Maafkan kalau selama ini aku selalu menunda punya anak hanya demi karirku. Aku tidak mau lagi karirku, aku mau kamu! Mas, bangunlaaaah!!!” Isak Suzana seolah tidak bisa dibendung lagi.

5 tahun pacaran, Mushoiso dan Suzana dikenal sebagai pasangan yang penuh cinta. Mereka saling menyayangi. Namun semenjak menikah, karir Suzana semakin melaju di kepolisian. 5 tahun pernikahan dilalui dengan penuh kehambaran ketika karir Suzana semakin menanjak. Prestasinya dalam mengungkap banyak kasus menjadikannya tumpuan instansinya. Dia memang cerdas. Kasus demi kasus terungkap. Prestasi demi prestasi diraihnya. Dia pun semakin haus akan prestasi. Pencapaiannya menjadi jati dirinya. Waktunya semakin habis demi tugas negara, sementara itu suaminya terabaikan.

Di sisi lain, Mudhoiso adalah pria yang sederhana dan tidak begitu cerdas di bidang akademi. Bahkan dia tidak lulus kuliah pendidikan guru. Namun dia sangat menonjol dalam pentas. Berbekal kelompok drama di kampus, dia pun mulai menekuni seni peran. Hingga akhirnya dia bergabung dengan kelompok Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang kini melambungkan namanya. Perannya sebagai cakil, walau pun peran antagonis, namun memerlukan penguasaan peran yang luar biasa. Tidak mudah bagi kebanyakan orang untuk berperan sebagai cakil yang lincah dan penuh muslihat. Belum lagi intonasi suara yang mungkin memerlukan teknik vokal yang njelimet. Dari semua anggota WO BlobCamp Budhoyo hanya Mudhoiso-lah yang mampu melakoni peran cakil dengan sempurna.

Sejak saat itulah Mudhoiso selalu identik dengan cakil. Walau pun wajahnya tidak pernah tampil nyata karena selalu menggunakan topeng, namun setiap penonton dan penggemar WO BlogCamp Budhoyo selalu mengenali Mudhoiso. Bagi penonton, Mudhoiso adalah sosok sentral dalam pagelaran ini. Sang Cakil, peran antagonis yang justru disukai oleh penonton!

“Mas, bangunlah! Aku mencintaimu. Maafkan aku jika selama ini lebih sering bertugas dari pada mendampingimu. Pertengkaran kita tempo hari telah menyadarkan aku bahwa sebenarnya kamulah hidupku kini dan yang akan datang. Bangulah, Mas!”

Suzana tetap terisak tidak menghiraukan petugas yang semakin sibuk menjalankan tugas mereka. Seorang polwan merangkul Suzana sambil mengusap air mata Suzana.

“Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintamu dengan segenap hatiku.” bisik Suzana lembut. Diciumnya bibir suaminya untuk terakhir kali.

Mudhoiso pun membuka matanya. Dengan lembut dia pun berkata, “Aku pun mencintaimu, Sayang.”

Sontak Suzana pun terkejut dan berteriak, “Maaaas!!!” Tidak dinyana kalau Mudhoiso telah berakting mati demi menggali perasaan Suzana yang sesungguhnya.

Seluruh kru pun berseru bahagia dan bertepuk tangan. Mereka merayakan ending yang happy dari pagelaran ini. Mereka menyaksikan dua pasangan itu berangkulan dengan erat. Sesekali mereka berciuman.

Beberapa di antara mereka turut menangis haru. Happy ending…

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Cerita Pendek, Cerpen, Dewo dan tag , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Misteri Di Balik Layar (Bagian 2)

  1. chocoVanilla berkata:

    Hahahahaha….dasar artis Pak Cakil itu 😛 Nek aku mesti wis gringgingen 😆

    Suskes yaa, ending yang berbeda tapi manis 😀

  2. Pakdhe Cholik berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Akan dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

  3. opickaza berkata:

    moga menang untuk GAnya yah heheheheh

  4. Lidya berkata:

    ternyata pinter buat cerpen toh mas

  5. Orin berkata:

    hohoho….ending yg manis mas 😉

  6. Miss Rochma berkata:

    memang butuh kejadian yang spektakuler dulu buat ngakui kalau mau perhatian sama pasangannya. sip..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s