Bagaimana Mengawali Harimu

Bagaimana mengawali hari ini adalah murni sebuah keputusan. Apakah saya akan mengawalinya dengan buruk atau dengan baik. Saya yakin semua orang menginginkan hal yang sama, yaitu hari yang baik. Sayangnya keadaan tidak selalu berpihak kepada kita.

Seperti yang saya awali pagi ini. Ketika pagi ini saya harus sedikit mepet berangkat ke kantor karena pekerjaan rumah tangga. Sayangnya saya menjumpai mobil saya ditutupi oleh sebuah mobil yang parkir paralel dan ternyata di-rem tangan. Saya tidak bisa mendorongnya.

Ada emosi yang meluap di hati, saya pun segera lapor ke satpam. Syukurlah satpam segera bertindak dan tidak melakukan provokasi apa pun sehingga emosi saya terjaga untuk tidak tersulut lebih lanjut.

Sekelompok satpam segera mengurus masalah ini, dari mencari data pemilik kendaraan hingga memanggilkan pemilik mobil. Sayangnya ada seorang satpam yang menurut saya berkata tidak bijak walau pun mungkin maksudnya baik, yaitu: “mobilnya jangan dipakai dulu, Pak!”

Menanggapi usul ngasal itu saya pun sekedar senyum sambil geleng-geleng kepala. Sambil menunggu satpam memanggilkan pemilik mobil, otak saya berpikir liar memainkan emosi jiwa. Apakah lebih baik saya emosi? Apakah lebih baik mobil ini saya baret-baret saja? Dan jika pemilik mobil datang, apakah saya akan marah-marah?

Jujur, memainkan emosi sendiri seperti ini sungguh menarik. Namun hati kecil saya menegur, “Dewo, kamu bukan orang dengan tipe seperti itu!” Wah, iya juga ya? Buat apa merusak hari saya dengan hal tidak penting seperti ini? Jadi saya pun menyiapkan emosi jika nanti pemilik mobil datang.

Tidak lama kemudian pemilik mobil datang. Jika saat bermain emosi tadi saya membayangkan seorang bapak-bapak yang turun, ternyata pemilik mobil tersebut seorang ibu-ibu. Ehm, cantik juga (*hayah*). Namun kenyataan ini malah merusak persiapan emosi saya. Karena ketika si ibu tadi meminta maaf, saya malah bingung mau menanggapinya bagaimana. Masak berubah jadi manis manja gitu? Padahal tadi saya sudah menyiapkan setelan emosi dingin walau pun tidak pakai emosi.

Akhirnya saya cuma menanggapi dengan senyuman termanis (*bletaaak*) yang bisa saya berikan.

Anehnya, semesta nampaknya masih ingin memainkan emosi saya. Karena jalan ke kantor yang biasanya lancar mendadak macet. Syukurlah saya tidak terpancing emosi oleh pengendara lain yang ugal-ugalan. Dan saya pun telat 10 menit, hehehe…

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Celoteh, Curhat, Dewo, Opini dan tag , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Bagaimana Mengawali Harimu

  1. zedeen berkata:

    yang macet cantik2 juga mas?

  2. Lidya berkata:

    Yang penting bukan Mas Dewo yang ugal-ugalan 🙂 Maaf mas baru mampir nih udah beberapa hari blognya Mas Dewo gak bisa aku buka. Ada beberapa blog WP yang gak bisa aku buka juga

    • Halloooo, Mbak Lidya, senang jumpa lagi di blog… Gapapa, Mbak. Tempo hari saya juga bermasalah dengan koneksi (pake smartfren soalnya).

      Kalo sayanya sih enggak ugal-ugalan. Kan sudah insyaf, hehehe…

      Makasih atas kunjungannya

  3. Pulau Tidung berkata:

    Untung Ibu-ibu, cantik pula…

  4. Devi Yudhistira berkata:

    jiaaaahhh, gubrak deehh ….

    cantiiik yaaa? hilang deh keselnya, sempet tukeran pin apa ga mas?

    qiqiqiqi

  5. Ping balik: Parkir Sembarangan | Emanuel Setio Dewo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s