Dilarang Memecahkan Masalah

Frase “memecahkan masalah” bagi saya adalah masalah besar. Dari kata “memecahkan” saja sudah terbersit kebrutalan. Mari kita lihat bagaimana gelas yang jatuh dan kemudian pecah berantakan. Serpihan pecahannya menjadi masalah tersendiri. Hati-hati terinjak karena bisa melukai kaki kita.

Bagaimana kita memecahkan celengan? Di film-film jadul, memecahkan celengan itu divisualisasikan dengan dibanting. Setelah dibanting, sang aktor mengumpulkan uang recehan tabungan yang tumpah berserakan. Namun sayangnya tidak diperlihatkan bagaimana dia harus membersihkan pecahan celengan yang juga berserakan.

Menurut saya, “memecahkan masalah” ini menimbulkan masalah baru yang tidak kalah pelik. Mungkin lebih tepat jika frase ini diganti menjadi “menyelesaikan masalah” atau “mengatasi masalah”. Mungkin “memecahkan masalah” ini terjemahan langsung apa adanya dari “problem solving”?

Seperti mengutip tag line dari Pegadaian: “mengatasi masalah tanpa masalah”. Mungkin Pegadaian sudah memahami bahwa kata “memecahkan” bukan suatu akhir, malah bisa menciptakan persoalan baru.

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Celoteh, Dewo, Opini dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s